Blue (Part 26)

Title : Blue

Author : Mr. Lim

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Seo Joohyun

Genre : Yuri, Romance, Family, Tragedy, Crime, PG 17+

POV : Tiffany

 

This Misunderstanding was Killing Me

“Miyoung-ah!”

Itu suara Taeyeon.

“Miyoung-ah!”

Dia memanggilku.

“Saranghae..”

Aku membuka mataku. Taeyeon berdiri di pinggir balkon. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin. Ia tersenyum padaku.

2.30 dini hari. Apa yang dilakukannya di luar sana selarut ini? Ck, dia tidur sambil berjalan lagi. Aku harus melakukan sesuatu pada kebiasaan buruknya itu. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Kebiasaan itu bisa membuatnya terluka.

“Taeyeon-ah!” Aku berjalan menghampirinya. “Masuklah! Kau akan masuk angin jika berdiri di luar sana.”

“Hm..” Ia meraih tanganku. Sedikitpun tatapannya tak lepas dariku. “Disini memang sedikit dingin tanpamu. Mau menemaniku?”

Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya kemudian menyandarkan kepalaku di bahu kecilnya. Masih merasa mengantuk. Dan rasanya nyaman setiap kali aku berada di dekatnya. “Kemana?”

“Surga.” Jawabnya. Ia menarikku agar lebih dekat dengannya. Mencoba melindungiku dari udara dingin.

Aku terkekeh. Tidak peduli apakah itu surga atau neraka, selagi Taeyeon berada disisiku, aku akan merasa bahagia.

“Aku bahkan bertemu dengan seorang bidadari.” Lanjutnya. “Mau kukenalkan padanya?”

“Mwoya!” Aku mencubit perutnya, membuatnya terbatuk.

“Lihat!” Ia menunjuk gedung yang berada tepat di depan apartemenku. Sebuah poster raksasa menutupi salah satu sisinya. “Namanya Tiffany Hwang.”

Jadi ia datang kemari di tengah malam begini hanya untuk melihat posterku? Aku tidur tepat di sampingnya dan ia masih merasa tidak cukup. Dia lucu sekali.

“Bukankah dia sangat cantik?” Tanyanya.

“Ani.” Aku mengangkat kepalaku untuk memberikan kecupan singkat di pipinya. “Kau lebih cantik.”

“Apa kau mencintaiku?” Tanyanya lagi.

“Tentu…”

“Kenapa?”

“Apa aku butuh alasan?”

“Tentu.”

“Lalu apa alasanmu?”

“Alasanku mencintaimu?”

Aku mengangguk.

Ia berpaling dari poster besar itu dan kini menatapku. “Awalnya aku jatuh cinta padamu karena kau cantik.”

“Ya!” Aku memukul bahunya pelan. “Itu artinya jika aku tidak cantik lagi, jika aku sudah tua dan keriput, kau tidak mencintaiku lagi?”

Ia menanggapinya dengan tertawa. “Apa itu artinya kau berencana menghabiskan hari tuamu bersamaku?”

“Kau tidak?”

Wajahnya berubah murung. “Aku tidak memiliki waktu selama itu Miyoung-ah.”

“Kau akan meninggalkanku?”

“Kau yang lebih dulu meninggalkanku Miyoung-ah.” Kebahagiaan lenyap darinya. Ia kini tampak begitu sedih. “Kau berjanji tidak akan meninggalkanku, tapi kau melanggarnya. Kau tidak bisa percaya padaku. Kau mengusirku dari kehidupanmu. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu, tapi kau tidak menginginkanku.”

Aku termenung. “Apa aku telah kehilanganmu?”

“Tidak, Miyoung-ah!” Ia mengusap wajahku lembut dengan tangannya yang dingin. “Aku yang kehilanganmu.”

 

Aku membuka mataku.

Mimpi..

Aku menarik nafas dalam. Satu hari lain yang harus aku lewati tanpa Taeyeon. Ini mulai terasa berat bagiku. Terbiasa dengannya membuatku merasa tersiksa saat tidak bisa melihatnya. Dimana dia sekarang? Apa yang ia lakukan? Mengapa dia tidak bisa dihubungi? Apa dia baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya kan?

Joohyun masih tidur dengan nyenyak sambil memeluk dinding. Ada celah kosong di tengah ranjang yang sengaja aku tinggalkan. Karena terbiasa. Aku menatap hampa celah kosong itu kemudian meringis. Rasanya sakit mengingat bagaimana kesalah pahamanku telah membuat Taeyeon pergi. Lalu bagaimana dengan Taeyeon. Aku menyakitinya. Dia pasti merasa jauh lebih sakit dibandingkanku.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sungguh menyesal dan ingin Taeyeon kembali. Tapi bagaimana aku melakukannya saat Taeyeon sedikitpun tidak bisa dihubungi. Dimana dia sekarang? Apa dia berada di rumah ayahnya? Tapi.. Dia melarikan diri dari ayahnya.

Terdengar suara kesibukan dari arah dapur. Aku menajamkan telingaku. Yuri sudah mengembalikan kunci apartemen milikku begitu manajemen memutus kontrak denganku. Satu-satunya yang memilikinya hanya Taeyeon.

“Taeyeon!” Aku bersorak di dalam hati. Dia kembali.

Aku turun dari ranjang dengan hati-hati karena tidak ingin membuat Joohyun terbangun. Kemudian bergegas keluar menuju dapur. Disana seorang wanita sedang memasak sesuatu.

“Mom?” Panggilku pada wanita itu.

Satu hal lain yang aku lupa. Jauh sebelum aku memberikan kunci apartemenku pada Taeyeon, aku memberikan satu pada Mom dan Dad. Jadi jika mereka datang ke Seoul, mereka tidak perlu beristirahat di hotel sambil menungguku selesai dengan pekerjaanku.

“Kau sudah bangun nak?” Dad juga ada disana. Ia sedang menonton televisi sambil menikmati secangkir kopi hangat.

“Kapan kalian datang?” Aku mendekati Mom di dapur. Ia sedang sibuk menyiapkan sarapan. “Mengapa tidak memberitahuku?”

“Kami ingin memberi kejutan.” Jawab Mom. Wanita itu tersenyum memperlihatkan kerutan di wajahnya. Berapa lama aku tidak melihatnya?

“Lagi pula kami tidak ingin merepotkanmu.” Dad mengangkat cangkirnya kemudian pindah ke ruang makan dan duduk disana. “Lihat! Kau bahkan tidak tampak senang kami datang.”

“Bukan begitu Dad…” Memang aku merasa sedikit kecewa. Itu karena tadinya aku pikir Taeyeon yang datang. “Aku hanya sedang ada masalah.”

“Oh, sayang.” Mom mengusap punggungku. “Kami sudah melihat beritanya. Bagaimana keadaanmu?”

“Benar! Berita!” Dad tampaknya marah padaku. “Anak ini tidak pernah menganggap kita sebagai orangtuanya. Untuk sesuatu yang sepenting ini, kita harus mengetahuinya dari media.”

“Sudahlah.” Mom mencoba untuk membelaku. “Dia pasti punya alasan. Benarkan?”

“Dengar Tiffany Hwang!” Dad menatapku tajam. Dia benar-benar marah. “Kau adalah putri kami. Itu artinya kami adalah orangtuamu. Jika kau ada masalah, jika kau dalam kesulitan, beritahu kami. Meski kami mungkin tidak bisa melakukan banyak untuk membantumu, tapi kau tidak sendirian. Kita bisa melewatinya bersama-sama sebagai keluarga.”

Dad memang marah, namun kata-katanya membuatku terharu. Dia benar. Selama ini aku tidak pernah menanggap mereka orangtuaku. Bagiku, mereka hanya orang baik yang mau mengadopsiku. Karena itu aku berusaha keras untuk tidak merepotkan mereka. Karena aku takut mereka juga akan membuangku seperti yang dilakukan oleh orangtua kandungku.

“Sekarang bereskan barang-barangmu! Kita kembali ke Amerika.” Perintahnya.

“Tidak Dad!” Bantahku cepat. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa?” Dad berdiri dari tempat duduknya. “Aku dengar orang-orang itu melemparimu. Disini tidak aman Fany-ah. Suatu hari nanti mereka mungkin bisa melukaimu. Kau tidak bisa bersembunyi di apartemenmu selamanya.”

“Aku benar-benar tidak bisa pergi Dad.” Jika aku pergi, bagaimana dengan Taeyeon? Bagaimana jika dia kembali dan menemukan aku tidak ada? “Aku sudah menikah.”

Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Dad begitu marah hingga ia menamparku. Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya. Aku mengerti. Aku pantas menerimanya. Dad pasti merasa kecewa padaku. Aku melihat Mom. Dia hanya diam. Tak lagi berusaha untuk membelaku. Bukan hanya Dad yang telah aku kecewakan. Tapi juga Mom.

“Kau pikir apa yang kau lakukan hah?” Suaranya meninggi. “Tadinya aku pikir itu hanya gosip tidak jelas. Aku percaya padamu. Kau tidak akan melakukan ini pada kami. Jika kau benar menikah, setidaknya kau memberitahu kami. Meskipun kau tidak membutuhkan restu, setidaknya kau memberitahu kami. Tapi apa yang kau lakukan? Kau tidak memberitahukan apa-apa!” Saking maranhnya, ia mengulang-ulang kalimat yang sama.

“Maafkan aku Dad, Mom.” Aku menunduk karena merasa bersalah. “Aku melakukan kesalahan.”

“Aku butuh udara segar.” Dad pergi meninggalkan aku dan Mom berdua saja. Sebelum melewati pintu apartemen ia bicara lagi. “Pastikan barang-barangmu sudah dibereskan saat aku kembali nanti. Ajak suamimu. Kau tidak bisa tinggal disini lagi.”

Mom mencoba tersenyum padaku meski ia tidak bisa menghilangkan raut kekecewaan dari wajahnya. “Jadi dimana suamimu? Apa dia masih belum bangun?”

“Lebih tepatnya istriku.” Aku kembali merasakan sakit saat teringat bagaimana aku telah menyakitinya. “Dia tidak disini. Dia sudah pergi Mom.”

“Pergi?” Dahi Mom berkerut menandakan keheranan. “Kau mau menceritakannya padaku, sayang?”

Aku mengangguk. Mom mengajakku duduk di ruang makan.

“Mengapa istrimu pergi?” Tanyanya. Ia kini duduk tepat di hadapanku. “Apa dia orang brengsek?”

“Tidak, Mom. Dia tidak seperti itu.” Jawabku cepat. Tidak ingin Mom salah paham terhadap Taeyeon. “Namanya Kim Taeyeon. Dia orang baik. Sangat baik.”

“Lalu bagaimana dia pergi?” Tanya Mom lagi.

“Aku memintanya pergi. Aku salah paham terhadapnya. Kesalah pahaman yang begitu mengerikan hingga aku menyakitinya.”

“Kalau begitu kau harus minta maaf padanya.”

“Tentu, Mom.” Seandainya aku bisa menghubunginya, seandainya aku bisa menemukan keberadaannya.

“Dan.. Ada satu hal lagi yang aku ingin tahu.” Mom bicara lagi setelah beberapa saat berlalu. “Dad-mu tidak sempat melihatnya. Tapi aku merasa penasaran. Terlebih setelah kau mengakui bahwa kau telah menikah. Tadi malam, saat kami datang, ruang tamu sedikit berantakan. Aku membantu membereskan sedikit dan menemukan peralatan menggambar anak-anak. Apa mungkin… Kau menikahi seorang janda? Kau tidak merebut istri orang kan?”

“Tidak Mom. Bukan begitu.” Aku sudah melakukan kesalahan dengan tidak memberitahukan tentang pernikahanku pada Mom dan Dad, dan aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi dengan menyembunyikan hal lain. Jadi aku memutuskan untuk menceritakan segalanya pada Mom. “Aku tidak menikah dengan seseorang yang sudah memiliki anak, jika itu maksud pertanyaan Mom barusan. Barang-barang itu milik putriku.”

“Putrimu?” Nada suara Mom sedikit meninggi menunjukkan betapa kagetnya dia.

Aku mengangguk. “Aku mengadopsinya.”

Mom menghela nafas lega setelah aku melanjutkan kalimatku.

“Namanya Joohyun. Anak itu adalah putri Hyojin Eonni. Aku pernah menceritakannya pada Mom dulu.” Aku memulai ceritaku. Mom mendengarkannya dengan seksama. “Hyojin Eonni dan suaminya tewas beberapa waktu lalu karena kecelakaan mobil. Sebelum meninggal, Hyojin Eonni sempat memintaku menjaga Joohyun. Karena itu aku ingin mengadopsinya. Tapi, di korea aku tidak bisa mengadopsi seorang anak jika aku belum menikah. Kemudian aku bertemu dengan Taeyeon. Dan pikiran itu begitu saja muncul dari kepalaku. Aku meminta Taeyeon menikahiku agar aku bisa mengadopsi Joohyun.”

“Astaga Fany-ah! Apa kau gila?” Kekecewaan di mata Mom tampak jauh lebih besar daripada saat ia mengetahui bahwa aku menikah dan tidak memberikan kabar padanya. “Sebuah pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa kau permainkan seperti itu.”

“Aku tahu Mom.” Aku menunduk. Tidak berani menatap Mom yang begitu kecewa terhadapku. “Aku tahu.”

“Jadi karena itu dia pergi?” Tanya Mom. “Karena sejak awal kalian tidak ‘benar-benar’ menikah.”

“Bukan Mom.” Aku ingin menjelaskan semuanya. Namun ini sedikit rumit. Tentang Kim Yougho dan Kim Taeyeon. Aku tidak tahu harus memulainya darimana. “Awalnya aku memang memanfaatkannya untuk mendapatkan hak asuh Joohyun. Tapi seiring dengan berlalunya waktu, aku mendapati diriku jatuh cinta padanya. Begitu juga dengannya. Aku tidak bisa kehilangannya, Mom.”

“Tetap saja aku tidak mengerti dirimu.” Mom mengusap kepalanya yang terasa pening. “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Entahlah Mom. Aku tidak tahu.”

“Aku setuju dengan ayahmu. Tidak aman bagimu jika tetap tinggal disini.”

“Tidak masalah bagiku untuk meninggalkan tempat ini. Masalahnya adalah aku tidak bisa meninggalkannya. Aku tidak ingin pergi tanpanya.”

“Kau sudah mencoba menghubunginya?”

Aku mengangguk. “Aku akan menemukan cara.”

Aku telah melakukan kesalahan besar terhadap Taeyeon. Keadaan membuatku salah paham terhadapnya. Kebencianku pada Kim Youngho telah membutakan mataku. Apakah orang itu benar telah membunuh Ilhyun Oppa dan Hyojin Eonni atau bukan, aku melupakan satu hal penting karena kebencianku. Taeyeon mencoba lari dari ayahnya. Ia selalu dihantui mimpi buruk karena ayahnya. Satu hal yang tidak mungkin adalah ia berkomplot dengan ayahnya untuk mendapatkan Joohyun. Satu hal yang aku sadari namun menolak menerimanya karena terlanjur membenci Kim Youngho adalah Taeyeon sangat mencintaiku.

Tapi bagaimana aku bisa meminta pengampunannya saat aku sama sekali tidak bisa menghubunginya? Setelah aku mengusirnya, ia tidak mungkin pergi ke rumah ayahnya karena ia takut pada orang itu. Lalu dimana ia sekarang?

Oh ya! Yuri! Bukankah Sooyoung mengatakan bahwa ia dekat dengan Taeyeon. Mengapa tidak aku tanyakan saja padanya? Mungkin ia tahu sesuatu.

Setelah pamit pada Mom untuk menelepon Yuri, aku kembali ke kamar dan mengambil ponselku. Joohyun masih tertidur jadi aku berbicara sepelan mungkin agar tidak membuatnya bangun.

“Yuri-ah!” Ujarku begitu ia mengangkat teleponku. “Apa kau sibuk?”

“Eoh Fany-ah. Aku sedang dalam perjalanan mengantar Sica. Dia ada pemotretan untuk majalah.” Sepertinya ia tidak marah lagi padaku. “Waegurae?”

“Ini tentang Taeyeon. Aku mencoba menghubunginya, tapi tidak bisa.” Ceritaku.

“Aneh! Aku juga tidak bisa menghubunginya sejak kemarin.” Terdengar ia berbicara dengan orang lain dengan ponsel yang dijauhkan sehingga aku tidak terlalu jelas mendengarnya. “Mungkin dia ada di rumah sakit menemani ayahnya. Aku berencana pergi malam ini. Jika kau mau ikut, kita bisa pergi bersama.”

Bodoh! Aku tidak mengerti mengapa aku bisa sebodoh ini. Tidak terpikir olehku bahwa Taeyeon mungkin saja berada di rumah sakit. Yuri mengatakan bahwa ayahnya, Kim Youngho sekarat. Mungkin terjadi sesuatu pada orang itu sehingga Taeyeon tidak menjawab ponselnya.

“Tapi aku tidak bisa menunggu hingga malam.” Aku harus segera meluruskan ini. Aku harus minta maaf padanya. “Aku akan pergi sekarang. Aku bisa pergi sendiri.”

Yuri bicara lagi dengan seseorang itu. Samar aku menangkap suara Jessica. “Berbahaya jika kau keluar seorang diri Fany-ah. Aku akan datang ke tempatmu. Tunggu aku. Kita pergi bersama. Sica tidak keberatan.”

Aku tidak ingin menolak karena Yuri menawarkan sebuah pilihan yang jauh lebih baik. “Baiklah, aku akan menunggumu.”

 

***

 

Aku menceritakan pada Dad semua yang telah aku beritahukan pada Mom lebih dulu. Untunglah emosinya sudah agak mereda dan dia bisa mengerti. Memang dia masih bersikeras membawaku kembali ke Amerika, tapi kini ia mau menunggu aku menyelesaikan masalahku dengan Taeyeon. Aku juga memberitahukan tentang Joohyun padanya. Awalnya ia kaget dan kemudian berubah senang. Sepertinya seorang cucu adalah hal yang memang dinantikannya. Setelah ia bertemu Joohyun, ia sibuk bermain dengan bocah itu.

Yuri datang setelah beberapa jam sejak aku meneleponnya. Aku tadinya berencana untuk langsung pergi karena sebelumnya aku sudah bersiap-siap. Hanya menunggu kedatangannya saja. Namun ia menghentikanku. Ia menyerahkan sebuah bungkusan padaku.

“Pakai ini!” Katanya.

“Apa ini?” Aku memeriksa bungkusan yang ia berikan itu. Isinya pakaian formal untuk laki-laki, wig, dan juga kacamata.

“Sica yang memberikan ide ini. Jika kau menyamar menjadi laki-laki, tidak akan ada yang mengenalmu. Dan kau tidak perlu mengubah suaramu karena kau sudah terdengar seperti laki-laki.” Jelasnya.

“YA!” Aku tidak tahu apa ia sedang menghina atau memuji.

“Cepat ganti pakaianmu.” Lanjutnya tidak sabaran.

“Baiklah.” Aku menurut. Harus aku akui itu bukan ide yang buruk. Aku tidak ingin dilempari lagi. “Masuklah!”

Aku membukakan pintu lebih lebar agar ia bisa masuk. Ia masuk dan menemukan Mom, Dad, dan Joohyun sedang duduk-duduk di depan televisi. Ia menghampiri mereka sambil memberi salam. Yuri memang mengenal kedua orangtuaku. Karena kami dekat, ia selalu bertemu dengan kedua orangtuaku setiap kali mereka datang.

“Mom, Dad! Kapan kalian datang?” Sapanya.

“Tadi malam.” Mom Yang menjawab. Wanita itu menawarkan sesuatu yang berada di piring di atas meja. “Kau mau camilan nak?”

“Tentu.” Yuri ikut bergabung dengan mereka.

“Aku ganti pakaian dulu.” Ujarku yang dijawab dengan anggukan oleh Yuri.

Pakaian yang Yuri berikan sedikit longgar untukku. Ditambah wig dan kacamata, aku terlihat seperti pria kutu buku penyakitan. Yeah, pakaian ini membuatku tampak ceking. Jika Taeyeon melihatku seperti ini, dia akan menertawaiku habis-habisan. Itu jika ia bersedia memaafkanku dan menerimaku kembali.

Aku berharap bisa bertemu dengannya.

Setelah selesai mengganti pakaianku, aku keluar dari kamar. Joohyun tampak sedikit melompat karena kaget sementara Yuri memilih untuk tidak menanggapinya.

“Kita berangkat sekarang?” Tanya Yuri.

“Ok.” Aku mengangguk.

Sebelumnya aku sudah mengatakan pada kedua orangtuaku untuk menjemput Taeyeon. Mereka bahkan memberikan dukungan untukku dan bersedia mengawasi Joohyun sementara aku pergi sebentar.

Kami tiba di rumah sakit menjelang siang. Seperti yang Yuri prediksi sebelumnya, tidak ada yang mengenaliku. Kami langsung menuju kamar tempat Kim Youngho dirawat kemarin. Penjagaannya juga sama ketatnya dengan kemarin, namun hari ini orang-orang itu tidak mengenaliku. Dan mereka orang yang berbeda saat Yuri datang bersama Taeyeon. Jadi mereka tidak memperbolehkan kami masuk dengan alasan Kim Youngho barusaja selesai melakukan operasi. Jadi ia butuh istirahat dan tidak boleh diganggu.

“Hei, kalau tidak percaya pada kami, kau bisa meminta Kim Taeyeon kemari dan mengkonfirmasinya.” Yuri masih berusaha bernegosiasi. “Kami bukan orang jahat.”

“Maaf, nona. Tidak bisa.” Sepertinya tidak mudah untuk membujuk penjaga ini.

“Ada apa ini?” Terdengar suara lain dari belakang. Aku menoleh dan mendapatkan seorang dokter pria paruh baya berdiri di belakang kami.

“Kami ingin menjenguk tuan Kim.” Jawab Yuri.

“Sebenarnya kami ingin bertemu Kim Taeyeon.” Aku menambahkan. “Dia tidak bisa dihubungi.”

“Dan.. Kalian adalah…” Dokter itu menatap aku dan Yuri bergantian.

“Teman.” Yuri yang menjawab lebih dulu. “Namaku Yuri. Aku pernah datang sebelumnya.”

“Aku is..” Kalimatku terhenti saat teringat penampilanku saat ini. “Aku suami Kim Taeyeon. Anda bisa memanggilku. Mr. Hwang.”

“Kau?” Dokter itu lebih memperhatikanku lebih seksama lagi dan tampak sangsi. “Aku memang mendengar kabar dia menikah, tapi aku pikir dia menyukai wanita. Bahkan ayahnya juga berpikir begitu. Pantas saja dia menolak putriku.” Ia melanjutkannya dengan tertawa.

Putrinya. Apa…”Sunny-ssi itu putri anda?”

“Sebaiknya kita bicara di dalam saja.” Dokter Lee membuka pintu ruang rawat Kim Youngho kemudian mempersilahkan kami masuk. “Tuan Kim masih di ruang pemulihan pasca operasi. Kalian bisa menjenguknya setelah kondisinya stabil dan dibawa kemari.”

Aku dan Yuri mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruang rawat Kim Youngho. Dia benar. Ruangan itu kosong. Lalu untuk apa penjaga di luar sana? Pamer?

“Silahkan duduk.” Dokter itu mempersilahkan kami duduk di sofa tunggu yang berada di dalam ruang rawat. Kami menurutinya. “Kalian bisa memanggilku Dokter Lee. Selain dokternya, aku juga teman tuan Kim.”

Jadi orang ini adalah temannya Kim Youngho. Mereka tidak terlihat sama. Yeah.. Maksudku seperti gangster.

Lalu dimana Taeyeon. Aku tidak melihatnya disini. Apa ia menemani ayahnya?

“Mengenai pertanyaanmu tadi, kau benar Sunny adalah putriku.” Dokter Lee memulai pembicaraan setelah ikut duduk. “Tapi kau jangan khawatirkan dia. Anak itu memang sedikit ambisius, tapi dia tidak jahat.”

“Aku minta maaf. Perjodohan yang anda dan tuan Kim atur gagal karena keberadaanku.” Ujarku. Yuri yang tidak mengerti menyikutku untuk meminta penjelasan tanpa suara. Dan aku tidak melakukan itu. Bagaimana bisa aku menjelaskannya sementara ada Dokter Lee bersama kami.

“Tidak! Tidak! Aku tidak mengatur perjodohan itu.” Pria itu buru-buru menyangkalnya. “Putriku mengajukan dirinya, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mendengar rencana pernikahan itu batal, aku justru senang. Kau tahu Kim Taeyeon kan? Orang tua mana yang senang anaknya menikah dengan seseorang yang tidak waras sepertinya.”

Orang ini.. Mudah sekali dia bicara seperti itu tentang Taeyeon. Meskipun itu benar, tapi aku tidak suka mendengarnya. Ingin rasanya aku menyumbat mulutnya itu dengan vas bunga.

“Jangan bicara sembarangan tentang temanku tuan dokter!” Yuri yang lebih dahulu marah.

Melihat perubahan raut wajah kami, Dokter Lee buru-buru menambahkan. “Maaf, bukan itu maksudku. Aigoo.. Aku tidak tahu mengapa mulutku begitu lancar akhir-akhir ini.”

“Anda pasti mengenalnya dengan baik hingga berani bicara seperti itu.” Sindirku.

“Tentu saja aku mengenalnya dengan baik.” Dokter Lee tidak peduli dengan sindiranku barusan dan terus bicara. “Aku sudah mengenalnya sejak lahir. Aku melihatnya tumbuh. Aku juga mengetahui penyakitnya dan juga ayahnya. Mereka sangat mirip hingga memiliki penyakit yang sama. Mereka memiliki masalah pada kejiwaan.”

Jadi penyakit ini yang dimaksudkan oleh Sunny.

Meski Dokter Lee mengatakan ia mengenal Taeyeon dengan baik, aku tidak ingin membahas hal ini lebih lama. Karena pria itu menganggap Taeyeon tidak waras.

Walaupun itu adalah kebenaran.

Tepat saat Dokter Lee akan membuka mulutnya lagi, pintu terbuka. Seorang pria lain masuk. Aku mengenal yang satu ini. Dia biasa mengekor di belakang Kim Youngho.

“Eoh! Ahjussi!” Yuri yang diluar dugaan juga mengenalnya memberi salam yang dibalas dengan senyuman yang tampak aneh di wajah mengerikan itu.

“Dokter! Apa Hyung-nim sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat?” Pria itu bicara pada Dokter Lee.

“Aku akan periksa dulu keadaannya.” Dokter Lee bangkit dari duduknya. Ia kemudian melihat ke arah aku dan Yuri. “Kalian tidak keberatan menunggu sebentarkan? Kita lanjutkan ngobrolnya nanti.”

Setelah Dokter Lee pergi, pria berwajah menakutkan datang menghampiri kami. “Ngobrol huh?”

Pria itu sempat beberapa lama memperhatikanku. Mungkin ia merasa mengenaliku. Setelah memutuskan bahwa ia tidak mengenalku, akibat penyamaranku tentunya, ia kembali pada Yuri.

“Aku harap dia tidak ‘ngobrol’ sesuatu yang aneh.” Lanjutnya. “Meskipun terpelajar, tapi Dokter Lee benar-benar tukang gosip.”

“Seperti Ahjussi.” Yuri tertawa. Sepertinya mereka cukup dekat. Sulit untuk dipercaya. Yuri dan pria mengerikan ini tertawa bersama.

“Jadi ada apa kalian datang?” Tanyanya kemudian. “Tidak bersama Agassi?”

Yuri menggeleng. “Kami datang justru karena Taeyeon. Dia tidak bisa dihubungi. Mungkin Ahjussi tahu sesuatu.”

“Aku juga tidak melihatnya dua hari ini. Dia bahkan tidak datang saat operasi Hyung-nim.” Jawab pria itu.

Taeyeon tidak bisa dihubungi. Dia bahkan tidak ada di rumah sakit saat ayahnya melakukan operasi besar. Jadi dimana dia berada? Tiba-tiba saja aku memiliki firasat bahwa terjadi sesuatu yang buruk.

Aku menatap Yuri yang terlihat sedang berpikir keras. “Mungkin sebaiknya kita lapor polisi.”

“Kau benar. Ini sudah dua hari.” Ujar Yuri.

“Kalau begitu biar aku saja yang melaporkan pada polisi.” Sahut pria berwajah mengerikan itu. “Mereka akan lebih cepat memprosesnya jika kami yang melaporkan.”

Aku meremas kedua tanganku dengan cemas. Jadi dimana dia selama ini? Apa yang terjadi? Ponselnya masih aktif namun ia tidak menjawab setiap panggilanku. Ia juga tidak datang ke rumah sakit.

“Jangan khawatir. Mungkin dia kembali ke Amerika.” Pria itu bicara lagi. “Selama ini dia selalu berusaha melarikan diri. Saat Hyung-nim sakit dan kami tidak terlalu mengawasinya, aku rasa ia mengambil kesempatan itu untuk kabur.”

Aku harap itu benar. Taeyeon hanya kembali ke Amerika. Tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Aku kembali ke apartemen dengan tangan kosong. Tanpa Taeyeon. Bahkan tanpa kabar darinya. Yuri hanya bisa mengantarkanku sampai di depan pintu karena ia harus segera menjemput Jessica yang sudah selesai dengan pemotretannya.

Saat aku masuk ke rumah, ternyata ada beberapa orang tamu. Tiga orang pria dan salah satunya memakai seragam polisi lalu lintas. Apa mereka semua polisi? Mungkin mereka datang karena Piljoo Ahjussi sudah melaporkan masalah menghilangnya Taeyeon.

Mereka sedang mengobrolkan sesuatu yang sepertinya serius di ruang tamu bersama Dad. Begitu aku masuk, mereka semua berdiri. Jelas sekali mereka menunggu kedatanganku.

“Anyeonghaseo.” Aku yang belum membuka penyamaranku, bergabung dengan mereka karena tampaknya ada yang ingin mereka bicarakan denganku.

“Anyeonghaseo.” Salah satu dari mereka menjawab salamku. Ia menatapku ragu kemudian beralih pada Dad. “Nona Hwang?”

“Eoh! Yeah!” Dad menggaruk kepalanya. Ia sepertinya bingung harus menjawab apa. “Putriku memang agak tomboy.”

Setelah kami semua duduk di sofa ruang tamu. Pria lainnya memulai pembicaraan. “Apa apartemen ini milik anda, Nona Hwang?”

“Ne..” Aku mengangguk tidak mengerti.

“Apa anda sudah lama tinggal disini? Apa ada orang lain yang tinggal disini?” Tanyanya lagi.

“Aku sudah tinggal disini selama tiga tahun. Selain aku, juga ada putri dan istriku yang tinggal disini. Juga orang tuaku yang baru datang tadi malam.” Aku melirik Dad, dan dia sama tidak mengertinya denganku. “Apa ada masalah?”

“Begini, Nona Hwang.” Pria berseragam bicara. “Terjadi kecelakaan lalu lintas tepat di depan gedung ini dua malam yang lalu. Korbannya adalah seorang gadis muda berusia sekitar 15-18 tahun. Gadis itu tidak membawa identitas apapun bersamanya saat terjadi kecelakaan. Hanya ini.”

Polisi itu mengeluarkan sebuah ponsel yang dibungkus plastik. Layarnya sudah hancur sangat parah namun itu sangat mirip dengan milik Taeyeon. Tapi itu bukan Taeyeon. Usia mereka tidak cocok. Lagipula aku sudah mendengar cerita Sooyoung kemarin. Gadis muda korban tabrak lari itu tewas di tempat. Aku sungguh tidak ingin jika ia adalah Taeyeon. Dia bukan Taeyeon kan?

“Ponselnya masih berfungsi, namun tidak bisa digunakan karena kerusakannya. Jadi kami tidak bisa mendapatkan kontak siapapun dari dalamnya.” Pria itu menjelaskan. “Kami terus mencari identitas korban hingga salah satu petugas kebersihan gedung ini mengaku sering melihat korban keluar masuk dari apartemen anda. Apa mungkin anda mengenal seseorang gadis remaja yang sering datang ke tempat anda?”

Aku menggeleng. Mungkin mereka salah alamat. Mungkin itu apartemen sebelah. Aku tidak mengenal gadis remaja manapun. Apalagi yang sering datang ke tempatku.

Pria itu mengeluarkan sesuatu yang lain. Sebuah foto. “Sebaiknya anda lihat dulu.”

Dengan takut aku melihat foto yang disodorkan oleh pria itu. Itu adalah seorang gadis dengan darah membanjiri sebagian wajahnya. Tidak salah lagi. Itu adalah Taeyeon.

 

-TBC-

Aphrodite! Adhæsit in Amore (Part 16)

Title : Aphrodite! Adhæsit in Amore

Author : Mr. Lim

Main Cast : Kwon Yu Ri, Kim Tae Yeon, Jessica Jung, Tiffany Hwang

Genre : Romance, Yuri

 

Yu Ri POV

 

Aku baru saja mengantar Tae Yeon keluar saat kembali dan mendapati Jessica sedang mengacak-acak rambutnya frustasi di ruang tamu. Kenapa lagi dengannya? Apa karena aku pura-pura pingsan tadi? Atau karena dia sedang datang bulan?

“Ada apa sayang?” Aku duduk di dekatnya. Aku membelai rambutnya, mencoba untuk merapikannya sedikit. Namun ia segera menepisnya dan menjaga jarak dariku.

“Mengapa kau melakukan itu?” Ia berdiri agar semakin jauh dariku. “Mengapa kau mengatakan pada Tae Yeon aku adalah kekasihmu? Kapan aku setuju untuk menjadi kekasihmu?”

Apa mungkin karena itu dia menangis? Hanya gara-gara aku belum memintanya secara resmi untuk menjadi kekasihku? Kalau begitu, ini memang salahku. Tapi aku sudah mengatakan perasaanku padanya. Kami juga sudah berciuman. Tidak salah jika aku mengenalkannya sebagai kekasihku pada orang-orang.

“Dia salah paham padaku.” Lanjutnya. “Dia tidak percaya padaku. Dia membenciku.”

“Hei..” Aku ikut berdiri. “Apa yang sedang kau bicarakan ini?”

“Kim Tae Yeon adalah tunanganku Yu Ri-ssi.” Ia mencoba bernafas agar lebih tenang.

Apa yang.. Maksudnya Kim Tae Yeon yang tadi? Aku terbengong beberapa saat. Mencoba berpikir. Mungkin aku salah dengar. Atau aku terlalu bodoh untuk langsung mengerti kata-katanya.

“Dan kau mengatakan padanya bahwa aku adalah kekasihmu. Dia akan berpikir bahwa aku menghianatinya.” Lanjut Jessica lagi.

Tapi sepertinya ini benar. Aku tidak salah dengar. Aku juga tidak salah paham. Kim Tae Yeon, sahabatku memang tunangannya. Itu artinya..

Astaga!! Untung saja aku belum tidur dengannya. Jika tidak, Tae Yeon pasti akan membunuhku.

“Kau tidak bercandakan?” Aku menatapnya tajam. Berharap ia akan tertawa atau semacamnya.

“Apa aku bisa bercanda untuk hal seperti ini?” Ia berbalik dan kembali mengacak rambutnya. “Oh Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?”

“Ayo!” Aku menariknya menggunakan tanganku yang sehat. “Aku harus mengembalikanmu pada Tae Yeon!”

Ia menepis tanganku dengan keras. “Mengembalikan? Apakah aku semacam barang bagimu?”

“Bukankah kau mengatakan kau adalah tunangan Kim Tae Yeon? Karena itu aku akan mengembalikanmu padanya.”

“Bukankah kau mengatakan kau menyukaiku?”

Aku tidak mengerti dengan gadis ini. Dia takut Tae Yeon berpikir ia menghianatinya. Dan disaat bersamaan ia masih mempermasalahkan aku yang pernah mengatakan menyukainya. Apa itu penting sekarang? Aku bahkan tidak serius saat mengatakannya. Aku hanya ingin tidur dengannya. Tidak lebih.

“Apa yang kau inginkan?” Aku balik bertanya padanya.

“Aku tidak tahu.” Ia kembali duduk. Ia menumpukan kepalanya pada kedua tangan. “Aku tidak tahu.”

Mengapa Tae Yeon tidak memberitahuku bahwa Jessica adalah tunangannya? Dia pasti tahu. Tae Yeon pasti mengenalinya. Aku harus bicara padanya.

Aku menelepon Tiffany karena ponsel Tae Yeon hilang dan aku tidak bisa menghubunginya langsung. Tidak dijawab. Aku mengirim pesan, menunggu beberapa menit dan tetap tidak ada jawaban. Aku menghubunginya sekali lagi namun ponselnya sudah tidak aktif. Gadis ini sepertinya sengaja.

“Sial!” Aku membanting ponselku. Membuat Jessica kaget. “Mengapa kau tidak mengatakannya saat ada Tae Yeon disini? Mengapa kau baru bicara sekarang saat dia sudah pergi? Dia pasti kecewa padamu. Pada kita!”

“Mengapa kau malah menyalahkanku?” Ia bicara dengan nada tinggi. “Kau yang lebih dulu mengatakan aku adalah kekasihmu padahal aku tidak pernah setuju menjadi kekasihmu.”

“Kapan aku menyalahkanmu?” Aku ikut meninggikan suaraku. Aku tidak terima disalahkan. Aku tidak tahu jika dia adalah tunangan Tae Yeon. Sementara dia yang mengetahuinya sejak awal memilih untuk diam. Jika ingin menyalahkan seseorang, maka itu adalah dirinya. Meski ia tidak tahu Tae Yeon adalah sahabatku, tapi ia tahu bahwa dirinya memiliki tunangan. Jika ia adalah orang yang setia, kenapa ia mau digoda olehku? Ia bahkan membalas ciumanku dengan penuh gairah. “Aku hanya bertanya mengapa diam saja saat ada Tae Yeon disini? Bukan berarti aku menyalahkanmu.”

“Kau tidak memberiku kesempatan.” Ia bicara dengan emosi yang meluap-luap. “Kalian tidak memberiku kesempatan.”

Jadi baginya ini semua adalah kesalahanku? Baiklah. Aku mengerti. Aku bisa melihat sifat asli gadis di depanku ini. Untung saja aku belum menjalin hubungan yang lebih jauh dengannya. Kasihan sekali Tae Yeon. Tujuh tahun lamanya menghabiskan waktu bersama rubah betina ini.

Daripada aku meladeninya berdebat, lebih baik aku mengejar Tae Yeon. Aku harus bicara padanya. Aku harus menjelaskan padanya bahwa aku sama sekali tidak bermaksud merebut tunangannya. Dia bisa mengambilnya kembali.

Aku memungut ponselku dari lantai kemudian mengambil kunci mobilku.

“Kau mau kemana?” Tanya Jessica ganas sambil menahan ujung bajuku.

“Tentu saja menemui Tae Yeon. Aku harus menjelaskan ini padanya.” Aku menjawab tak kalah sinis darinya.

“Aku ikut.” Lanjutnya.

Benar juga. Rubah betina ini harus ikut menjelaskannya pada Tae Yeon. Jika tadi dia langsung bicara, masalahnya tidak akan jadi seperti ini.

“Kalau begitu, kau yang menyetir!” Aku meletakkan kunci mobilku di tangannya.

Tapi kemana aku harus mencari Tae Yeon? Aku tidak bisa menghubungi Tae Yeon langsung, dan aku juga tidak bisa menghubungi Tiffany. Oh ya! Sunny. Mungkin dia tahu Tiffany dimana.

“Eoh! Tumben kau menghubungiku.” Sunny menjawab telepon dariku dengan nada tidak bersahabat. Kenapa semua orang tiba-tiba berubah menjadi menyebalkan?

“Apa kau tahu Tiffany dimana?” Tanyaku langsung.

“Aku tidak tahu. Mungkin dia di apartemennya karena pekerjaannya berakhir sore ini. Wae? Apa kau membuat masalah lagi?”

“Terima kasih.” Aku memutus sambungan telepon tanpa menjawab pertanyaannya. Aku harap Tae Yeon masih bersama Tiffany. Dan semoga saja mereka ada di apartemen gadis itu.

Aku menunjukkan jalan yang harus dilalui pada Jessica. Ia lebih banyak diam sekarang. Apa ia kehabisan kata-kata untuk menyalahkanku?

Kami tiba di apartemen Tiffany menjelang malam. Aku menekan bel, namun tidak ada jawaban. Sebenarnya aku bisa langsung masuk karena aku tahu kode apartemennya. Tapi mengingat hubungan kami sudah berakhir, tidak pantas rasanya jika aku masuk begitu saja ke dalam apartemennya.

“Sepertinya tidak ada orang.” Jessica yang bicara. “Apa yang akan kau lakukan?”

“Tentu saja menunggunya.” Aku menyandarkan punggungku di sebelah pintu apartemen Tiffany. Melihatku, Jessica pergi ke bagian lorong yang lain dan menunggu disana. Setelahnya kami kembali menghabiskan waktu tanpa bersuara.

Sunny mengatakan kalau Tiffany tidak memiliki jadwal lain hari ini, lalu mengapa dia belum kembali? Kemana mereka pergi? Apa mereka tidak pulang? Atau.. Apa mereka pergi ke Jeolla-do untuk mengantar Tae Yeon? Sepertinya tidak juga. Jika Tae Yeon bisa kembali ke rumahnya, ia bisa kembali sejak jauh-jauh hari. Dia tidak perlu tinggal bersama Tiffany dan mencari sepupunya.

“Jadi.. Bagaimana dia bisa disini?” Aku yang pertama kali membuka pembicaraan setelah beberapa waktu kami habiskan dalam keheningan. “Tae Yeon tidak pernah menyukai Seoul.”

Jessica mendongak untuk menatapku kemudian kembali menunduk dan berbicara dengan suara yang sangat pelan. Membuatku sulit untuk menangkap kalimatnya. Terlebih jarak kami cukup jauh. “Bukannya dia tidak menyukai Seoul. Tapi.. Aku yang tidak suka Seoul.”

Ck, apa yang ia katakan?

“Kau benar-benar tidak mengenaliku? Aku Kwon Yu Ri.” Sejak tadi aku sudah sangat penasaran dengan hal ini. Sungguh sulit dipercaya kebetulan seperti ini bisa terjadi. Dari semua gadis, mengapa aku harus bertemu dengan gadis di hadapanku ini? Tunangan Tae Yeon. “Aku bahkan sering berkunjung ke rumah Tae Yeon. Apa dia tidak pernah cerita?”

“Kau sering datang?” Ia tampak terkejut. Dahinya berkerut. “Tidak.. Tae Yeon tidak pernah cerita apapun tentangmu.”

“Bagaimana dengan seorang pemain bisbol hebat yang dikenalnya?” Aku bertanya lagi. Tidak terima jika Tae Yeon tidak menceritakan apapun tentangku.

“Aah..” Ia seperti ingat sesuatu. “Ia pernah menyebutmu sebagai pemain favoritnya.”

“Lalu?”

“Lalu?” Jessica kini tampak bingung.

“Apa lagi yang ia katakan tentangku?”

“Hanya itu.”

“Hanya itu?” Woaah.. Aku tidak percaya ini. Bertahun-tahun aku mengenalnya, tapi ia tidak pernah menceritakan tentangku pada tunangannya. “Lalu bagaimana dia bisa berada di Seoul?”

“Aku yang membawanya.” Ia merosot duduk di lantai lorong apartemen. “Orang-orang itu mengejarku, aku tidak bisa tinggal disana sementara aku tidak punya tempat lain. Selain orang-orang di Jeolla-do, aku tidak mengenal siapapun lagi. Aku dengar Tae Yeon memiliki sepupu di Seoul. Jadi kami datang kemari.”

“Orang-orang itu?”

Ia mengangguk. “Hm.. Orang-orang itu yang melukai tanganmu.”

“Apa kau mafia atau sejenisnya?” Karena orang-orang yang melukai tanganku tempo hari tidak terlihat seperti berandalan biasa. Oh ya, aku ingat aku belum melaporkan orang-orang itu ke polisi. Mereka harus mendapatkan ganjaran karena melukai seorang Kwon Yu Ri. Aku pasti akan membuat mereka mendekam di penjara untuk waktu yang lama. “Mereka bahkan mengejarmu sampai ke Seoul.”

“Sebenarnya… Ada sebuah perusahaan yang akan membangun pabrik besar di Jeolla-do.” Ia melanjutkan penjelasannya. “Aku dan beberapa orang disana menemukan bahwa proses pembangunan yang sedang berlangsung menyebabkan kerusakan lingkungan. Lalu kami berusaha menghentikan pembangunan. Tapi orang-orang itu malah mengancam kami satu persatu. Mereka juga mengejarku. Aku tidak tahu mereka akan terus mengejarku hingga Seoul.”

“Itulah akibatnya jika kau terlalu ikut campur urusan orang lain.” Sindirku.

“Mengapa kau menjadi begitu menyebalkan?” Ia memelototiku, membuatku bergidik.

“Kau yang lebih dulu bersikap menyebalkan.” Aku menggerutu sepelan mungkin hingga Jessica tidak bisa mendengarnya.

Gara-gara rubah betina ini, Tae Yeon-ku harus berada dalam kesulitan. Jika dia tidak membuat masalah seperti itu, aku tidak akan bertemu dengannya dan aku tidak perlu menjelaskan apapun pada Tae Yeon. Semoga Tae Yeon tidak membenciku. Aku bisa kehilangan tanganku, tapi aku tidak bisa kehilangan Tae Yeon.

Hal lain yang tidak aku mengerti adalah mengapa Tae Yeon tidak mengatakan apapun? Tidak mungkin dia tidak mengenali tunangannya sendiri. Tapi.. Apa mungkin dia tidak mengenalinya? Tidak! Tidak! Tae Yeon mengenalinya, tapi memilih untuk tidak bicara. Hanya saja.. Apa alasannya? Apa ia marah karena harus terusir dari rumahnya dan terombang-ambing di Seoul karena ulah tunangannya? Seperti yang ia katakan sendiri.

“Berapa lama kau mengenal Tae Yeon?” Jessica bicara lagi setelah emosinya reda. Lucu sekali. Biasanya ia tidak banyak bicara seperti hari ini.

Aku tertawa. “Biasanya mulutmu terkunci rapat meskipun aku sudah bertanya ini dan itu. Kau tidak akan bicara jika tidak ditanya. Kenapa? Kau sudah selesai datang bulannya?”

“Ya! Kau!” Jessica mengancamku dengan sebuah tinju. “Kau sendiri, tadinya bersikap begitu manis padaku. Setelah kau tahu aku tunangan Tae Yeon, kau jadi begitu menyebalkan!”

Benarkah? Aku tidak menyadari itu.

“Mengapa?” Lanjutnya. “Kau tidak jadi menyukaiku? Itu hanya omong kosong?”

“Itu tidak penting sekarang.” Aku menolak untuk menjawabnya.

“Bagaimana jika itu penting bagiku?” Ia menatapku. Tidak lagi bengis. Justru matanya kini berkaca-kaca. “Kau terluka karenaku. Benar kau menyukaiku atau tidak, tentu saja itu menjadi hal penting bagiku.”

Apa arti pertanyaan itu? Mengapa aku menyukainya menjadi penting baginya? Jangan katakan ia menyukaiku dan lebih memilihku. Lalu bagaimana dengan Tae Yeon? Kalau begitu harusnya ia tidak usah aku ajak menemui Tae Yeon.

“Bisa kita tidak usah membahasnya sekarang?” Ini bukanlah tempat dan waktu yang tepat untuk membahas mengenai hal ini.

“Tapi aku ingin membahasnya sekarang!” Ia bersikeras.

“Bagaimana dengan Tae Yeon?”

“Dia baik-baik saja.” Ujarnya. “Kau bertanya mengapa aku tiba-tiba menjadi banyak bicara. Baiklah, aku akan memberitahukan jawabannya padamu. Tadinya aku terus memikirkan Tae Yeon. Dia tidak bisa melihat dan dia sendirian tanpa memiliki apa-apa di Seoul. Aku begitu mengkhawatirkannya. Dan kini, ia muncul dan keadaannya baik-baik saja. Aku tidak perlu khawatir padanya lagi.”

“Apa kau tidak khawatir lagi pada Tae Yeon?” Ck, dia benar-benar rubah betina. Setelah mengetahui bahwa aku adala super star Kwon Yu Ri, ia kini lebih memilihku dibandingkan Tae Yeon yang cacat. “Kau juga tidak mengkhawatirkan perasaannya? Apa dia sedih, apa dia kecewa? Bagaimana jika ia tidak baik-baik saja? Bagaimana jika ia merasa begitu sedih hingga ingin mati? Ia bahkan pernah mencobanya sekali. Dan kau malah begitu yakin dia baik-baik saja.”

“Apa maksudmu?” Ia beranjak dari tempatnya. Mendekatiku. “Apa yang pernah dicobanya?”

“Mati.” Jawabku. Memang ini adalah masalah yang berbeda. Tae Yeon adalah orang yang kuat. Setidaknya dia menjadi lebih kuat. Dia tidak akan melakukan itu lagi hanya karena hal ini. “Dia pernah mencoba bunuh diri.”

“Tae Yeon?” Jessica tampak kaget. Biarku tebak. Dia tidak tahu. Jadi apa saja yang ia lakukan selama ini? Menjadi aktifis lingkungan dan tidak mempedulikan tentang tunangannya?

“Benar! Tae Yeon, tunanganmu.” Aku menekankan kata terakhir agar ia tidak lupa siapa Tae Yeon baginya. “Dia pernah mencoba bunuh diri saat kehilangan penglihatannya.”

Ia diam. Menungguku melanjutkan kalimatku. Sayangnya tidak ada lagi lanjutannya. Aku hanya memberitahu sejauh itu.

“Aku pikir…” Jessica bersandar di dinding tepat di sebelahku. “Aku pikir dia sudah begitu sejak lahir.”

“Jangan dekat-dekat!” Aku mengambil beberapa langkah menjauh darinya. “Jika Tae Yeon datang, dia akan salah paham. Mungkin dia tidak lihat, tapi Tiffany pasti akan mengadu.”

“Kau benar-benar menyebalkan!” Ia memukili bahuku tanpa ampun.

“Aah… Appo!” Aku merengek meski pukulannya tidak terasa menyakitkan. “Tanganku baru di operasi! Teganya kau memukuliku!”

“Mianhe.. Mianhe..” Jessica berubah panik. Ia meniup tanganku dari kejauhan. Seolah itu ada pengaruhnya saja. Kemudian ia kembali mendekat untuk memeriksa keadaan tanganku. “Apa sakit sekali?”

“Tidak usah menyentuhku!” Sekali lagi. Aku menjauh darinya. Dan ia bahkan sudah lancar menggunakan banmal denganku. “Sudah aku katakan Tae Yeon akan salah paham.”

“Tae Yeon..” Ia menatapku nanar. “Lagi-lagi Tae Yeon. Kau hanya peduli padanya. Kau hanya memikirkan perasaannya. Lalu bagaimana denganku? Kau juga menyakitiku dengan bersikap seperti ini!”

Sebenarnya apa yang ia harapkan dariku? Tentu saja peduli pada Tae Yeon. Aku akan selalu peduli padanya.

“Kau mengatakan kau menyukaiku. Kau bahkan melukai dirimu untuk menyelamatkanku. Mengapa kau berubah secepat ini?” Ia terus mendesakku dengan hal yang itu-itu lagi.

Tentang aku yang terluka. Perlu dicatat bahwa aku tidak melukai diriku untuknya. Itu terjadi karena kecelakaan. Bagaimana bisa aku tahu akan terluka saat menyelamatkannya?

“Sekarang, aku ingin kau mengatakan yang sejujurnya. Apa benar kau menyukaiku? Atau itu hanya omong kosong?” Ia bertanya untuk yang kesekian kalinya.

“Aku menyukaimu, Sica-ah.” Aku menatap matanya. Menjawab dengan jujur seperti yang ia inginkan. “Tapi aku mencintai Tae Yeon.”

 

***

 

Jessica POV

 

“Tapi aku mencintai Tae Yeon.”

Tae Yeon? Aku diam beberapa saat lamanya. Mencoba mencerna apa yang ia katakan. Aku yakin aku tidak salah dengar. Ia mencintai Tae Yeon.

“Wae?” Tanyaku. Bukan karena aku tidak mengerti melainkan aku mengharapkan sesuatu yang berbeda.

Aku tahu aku keterlaluan. Aku sadar akan hal itu. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku bisa seperti ini. Tadinya aku yakin mencintai Tae Yeon. Aku mengkhawatirkannya. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk saat aku tidak mendengar kabar apapun tentangnya. Tapi, setelah ia muncul di depanku, bersama seorang super model yang begitu cantik, dan ia bahkan terlihat begitu bahagia -sebelum ia menyadari aku berada disana- aku kehilangan keyakinanku.

Sedangkan Yu Ri berada tepat di hadapanku. Bayangan bagaimana ia terluka karena menyelamatkanku tak pernah hilang dari kepalaku. Ia menyukaiku. Tidak, aku yakin itu bukan hanya sekedar rasa suka belaka. Ia melukai tangannya yang begitu berharga hanya untuk menyelamatkanku. Ia mencintaiku.

Tapi Yu Ri mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa ia mencintai Tae Yeon. Dan ia tidak menyangkal ia menyukaiku. Bagaimana bisa ia mencintai dua orang di saat yang bersamaan? Apa mungkin.. Apa mungkin ia mencintai Tae Yeon hanya sebagai sahabat? Ya! Pasti begitu. Yu Ri pasti hanya mencintainya sebagai sahabat.

“Wae?” Yu Ri mengulangi pertanyaanku sambil tertawa sinis. “Apa itu sesuatu yang pantas ditanyakan?”

Sejak ia mengetahui siapa aku, sejak ia mengetahui aku adalah tunangan Tae Yeon, ia menjadi sinis terhadapku. Perubahan yang tiba-tiba ini begitu tidak masuk akal bagiku. Ia pasti memiliki alasan lain kan?

“Untuk apa aku peduli hanya untuk sekedar kepantasan?” Aku memberikan tatapan memohon padanya. Memohon agar ia berhenti memperlakukanku seperti ini. “Sedangkan aku mendapati diriku telah jatuh cinta padamu.”

Tadinya ia akan kembali mendebatku, namun ia terhenti mendengar kalimat terakhir yang aku katakan padanya. Ia menatapku dengan dahi mengernyit. Mencoba memikirkannya. Kemudian ia menoleh ke arah Lift. Ku rasa takut jika Tae Yeon tiba-tiba datang.

“Jatuh cinta padaku?” Yu Ri mencengkeram lengaku dengan keras. Membuatku meringis sakit. “Untuk sesuatu yang keji dan kotor, kau menyebutnya cinta?”

Keji dan kotor. Aku tidak bisa menahan cairan hangat jatuh ke pipiku setelah mendengar Yu Ri mengatakan dua kata itu. Memang apa yang aku lakukan terhadap Tae Yeon yang tulus mencintaiku tidak termaafkan. Aku berpaling pada sahabatnya disaat ia sangat membutuhkanku. Tapi mendengar Yu Ri mengatakan itu, benar-benar menyakitiku. Seolah menyatakan bahwa hanya aku yang bersalah atas semua ini padahal ia yang memulainya.

Tapi.. Tidakkah kalimat itu berlebihan untukku? Aku bukannya sengaja menelantarkan Tae Yeon. Dan bukannya aku sengaja berpaling dari Tae Yeon yang cacat. Semua terjadi di luar perhitunganku. Mana bisa aku menentukan kepada siapa aku akan jatuh cinta.

Yang terpenting adalah Tae Yeon baik-baik saja. Bahkan saat Yu Ri memperkenalkanku sebagai kekasihnya, Tae Yeon masih terlihat baik-baik saja. Dia cukup kuat menerimanya. Atau justru Tae Yeon telah lebih dulu melepasku karena aku meninggalkannya begitu lama. Dia bahkan tidak butuh penjelasanku. Dia lebih suka pergi dengan teman modelnya yang cantik daripada mendengarkanku, tunangannya.

“Meski itu keji dan kotor, bukankah itu tetap cinta?” Apa yang aku harapkan darinya? Apa yang membuatku jatuh cinta pada orang ini? Tae Yeon jauh lebih baik darinya.

“Apa kau sungguh tidak peduli pada Tae Yeon?” Ia balik bertanya.

“Lalu bagaimana denganku?” Aku tidak bisa menahan ini lagi. Pada akhirnya semua akan meledak dan menghancurkan kami berdua. “Mengapa kau hanya peduli pada Tae Yeon? Lalu bagaimana denganku?”

Ia menatapku lekat. Mencari sesuatu dalam mataku yang hanya penuh dengan air mata dan emosi. “Tidak cukupkah kau menyakiti Tae Yeon? Dan kini, haruskah kau membuatku bingung juga?”

Aku menyakiti Tae Yeon? Apakah ini hanya salahku seorang? Apakah hanya aku orang jahat disini?

“Yu Ri-ssi..” Aku menyebut namanya dan itu membuat dadaku terasa sesak. Mengapa aku jadi begini? “Siapa yang menyakiti Tae Yeon? Siapa yang mengatakan bahwa aku adalah kekasihmu? Itu kau, Yu Ri-ssi. Kau yang menyakitinya, bukan aku!”

“Jadi kau menyalahkanku?” Ia bergerak mundur kemudian berbalik dan memberikan punggungnya padaku. Saat ia kembali menatapku, ia terlihat marah. “Lalu apa yang kau lakukan saat aku mengatakan itu pada Tae Yeon? Kau tidak menyangkal. Kau mengatakan bahwa aku tidak memberimu kesempatan, tapi apa kau berusaha keras untuk meluruskannya? Tidak! Saat Tae Yeon menolak untuk mendengar penjelasanmu, apa yang kau lakukan? Apa kau berusaha keras untuk membuatnya mendengarmu? Tidak! Kau menyerah dengan mudah karena kau tidak lagi menginginkan Tae Yeon.”

Apa benar aku tidak lagi menginginkan Tae Yeon? Itukah alasannya aku menyerah atasnya? Aku tidak lagi mengkhawatirkannya. Aku tidak lagi peduli padanya. Aku tidak lagi mencintainya.

“Dengar, Sica-ah.” Ia bicara lagi. “Mungkin kau kurang jelas dengan apa yang aku katakan sebelumnya. Aku akan mengulanginya sekali lagi. Orang yang aku cintai adalah Tae Yeon. Orang yang aku pedulikan hanyalah Tae Yeon. Bukan kau! Kau terus menuntutku untuk juga peduli padamu. Tidakkah kau sadar? Tidakkah kau bisa berpikir dengan waras? Satu-satunya orang yang disakiti disini adalah Tae Yeon. Bukan aku, juga bukan kau! Jadi, bisakah kau berhenti memikirkan dirimu sendiri? Bisakah kau berhenti bersikap egois?”

“Bukannya aku bersikap egois. Aku hanya..” Aku terus membela diri. “Aku hanya ingin kau juga peduli padaku. Sebelum Tae Yeon datang, sebelum kita harus meminta maaf dan menjelaskan semua padanya, bisakah? Bisakah kau juga peduli pada perasaanku?”

Tae Yeon tidak mau mendengarkanku. Jika Yu Ri tidak peduli padaku, bagaimana denganku?

Yu Ri hanya menyalahkanku. Bukannya aku tidak menyadari kesalahanku. Aku sadar bahwa aku juga bersalah disini. Aku bersalah pada Tae Yeon. Namun itu bukan kesalahanku seorang. Yu Ri juga memegang andil yang besar. Kami sama-sama bersalah. Tidak bisakah kami melewati ini dengan saling mendukung satu sama lain? Bukannya saling menyalahkan seperti ini.

Dan mengapa ia begitu sinis terhadapku? Aku tidak meminta ia memilihku dan mengacuhkan Tae Yeon. Kami bahkan datang kemari untuk menjelaskan pada Tae Yeon, untuk minta maaf padanya. Aku mengerti posisinya sebagai sahabat Tae Yeon. Aku juga mengingat statusku yang masih menjadi tunangan Tae Yeon.

“Jadi apa sebenarnya yang kau inginkan?” Yu Ri bertanya setelah menarik nafas dalam untuk menenangkan diri. “Jika Tae Yeon datang, kemudian kita menjelaskan padanya apa yang terjadi dan juga meminta maaf padanya. Lalu ia memaafkan kau dan aku. Ia masih menginginkanku sebagai sahabatnya, dan kau sebagai tunangannya. Apa yang akan kau lakukan?”

Jadi itukah yang ia cemaskan selama ini? Apa yang akan terjadi nantinya. Aku sama sekali tidak memikirkannya. “Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika dia tidak memaafkan kita?”

“Sica-ah, jika Tae Yeon tidak memaafkanku, aku akan bersujud di bawah kakinya dan tidak akan pergi hingga ia memaafkanku.” Ia kembali terlihat frustrasi. “Tidak bisakah kau hanya menjawab pertanyaanku saja tanpa mengajukan pertanyaan lainnya?”

Jika Tae Yeon memaafkan kami.. Bagaimana bisa aku kembali padanya sementara hatiku terlanjur aku berikan pada Yu Ri? “Aku.. Aku tidak bisa bersama dengan Tae Yeon lagi, Yu Ri-ssi.”

“Itu yang akan kau katakan padanya?” Ia kembali melihat ke arah lift dengan khawatir. “Oh Tuhan! Harusnya aku tidak membawamu kemari.”

“Kau mau kemana?” Aku menahan tangannya saat ia akan beranjak pergi.

Yu Ri mengangkat tangannya untuk menyingkirkannya dariku. “Aku tidak mau berada disini bersamamu saat kau akan menghukum mati Tae Yeon seperti itu.”

Itu bukanlah hukuman mati melainkan kejujuran. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri dan juga Tae Yeon. Justru aku akan menyakiti kami berdua jika bertahan disisinya saat aku tidak lagi mencintainya.

Setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkanku. Siapa yang baru saja mengatakan tidak akan pergi hingga Tae Yeon memaafkannya? Dan teganya ia meninggalkanku sendirian disini. Tidakkah ia ingat bahwa tanpanya, aku terlantar di Seoul? Aku tidak punya apapun.

Dengan perasaan yang campur aduk, aku keluar dari gedung apartemen itu. Tae Yeon tidak ada dan Yu Ri benar-benar meninggalkanku. Kini aku tahu. Ia tak lebih dari seorang brengsek. Ia hanya menyelamatkan dirinya dan mengabaikanku.

“Hei!” Aku terkejur saat seseorang menyentuh bahuku dari belakang saat aku berjalan di trotoar seorang diri. Aku berbalik dan lebih terkejut lagi. “Oraemanieyo.”

Orang itu.. aku tidak akan pernah melupakan wajahnya. Memang penampilannya berbeda dengan saat itu. Pakaiannya lebih rapi dan bersih. Namun aku yakin mereka adalah orang yang sama. Pria tuna wisma itu. Orang yang membuat Seoul terasa begitu menakutkan. Orang yang telah menghancurkan hidupku. Orang yang telah mengambil sesuatu yang paling berharga dariku.

 

-TBC-

Aphrodite! Adhæsit in Amore (Part 15)

Title : Aphrodite! Adhæsit in Amore

Author : Mr. Lim

Main Cast : Kwon Yu Ri, Kim Tae Yeon, Jessica Jung, Tiffany Hwang

Genre : Romance, Yuri

 

 

Normal POV

 

Seo Hyun menyadari ia berada di tempat asing saat ia membuka matanya. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah seseorang yang duduk di sisinya. Menatapnya dengan khawatir. Kwon YoonA.

“Kau sudah sadar?” Tanya gadis itu.

Seo Hyun berusaha untuk duduk. Ia merasa begitu tidak memiliki tenaga. Sangat lemah. YoonA akan membantunya namun Seo Hyun menolak tindakan itu dengan mengangkat tangannya. Ia tidak ingin YoonA menyentuhnya. Ia ingat dengan apa yang terjadi terakhir kali. Ia juga ingat apa yang YoonA katakan padanya. Ia masih tersinggung.

Ia mengedarkan pandangannya berkeliling. Mereka sedang tidak berada di rumah sakit. Terakhir kali ia pingsan. Ia juga ingat itu. Tadinya ia berpikir YoonA membawanya ke rumah sakit. Namun ia salah. YoonA membawanya ke tempat lain.

Ruangan itu cukup luas dan panjang. Namun tidak ada sekat atau pembatas. Di bagian kiri paling ujung ada sebuah panggung kecil dengan layar putih di belakangnya dan lampu-lampu sorot yang telah padam mengarah kesana. Kemudian ada semacam ruang kerja dengan beberapa perangkat komputer tak jauh dari panggung. Tepat di bagian tengah ruangan ada semacam ruang duduk yang terdiri dari sebuah Sofa panjang tempat Seo Hyun tadinya berbaring, dan beberapa lebih pendek. Jauh di bagian kanan ia melihat mini bar dengan deretan tempat duduk tinggi.

“Dimana ini?” Tanya Seo Hyun dingin. Masih marah dengan apa yang YoonA lakukan terakhir kali. Meski ia tahu YoonA tidak memiliki niat jahat. Gadis itu hanya ingin menyelamatkannya dari bahaya walaupun kenyataannya tidak begitu. Ia justru lebih senang jika YoonA tidak datang.

“Tadi kau pingsan. Jadi, aku membawamu ke rumahku.” Jawab YoonA. Ia tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Seo Hyun karena gadis di depannya itu tampak benar-benar pucat. “Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa sakit di suatu tempat?”

“Bukankah ini penculikan?” Seo Hyun meraba sakunya namun ia tidak membawa ponsel bersamanya. Ia merutuki kesalahan itu. “Kau menyeretku dari rumah dan membawaku ke tempat ini. Aku bisa menuntutmu.”

YoonA menghirup nafas dalam untuk menjaga agar kesabarannya tetap disana. “Dengar nona Seo, kau pingsan. Karena itu aku membawamu ke tempatku. Aku tidak mungkin membawamu kembali ke rumahmu sementara sudah pasti orang-orang jahat itu masih berkeliaran disana.”

“Dan dengar nona Kwon, jika orang normal menemukan seseorang pingsan di jalan, mereka akan membawanya ke rumah sakit. Atau jika mereka terlalu sibuk, mereka bisa melakukan panggilan darurat. Mereka tidak membawa orang pingsan ke rumah mereka.” Sindir Seo Hyun.

Tidak terpikir oleh YoonA. Setelah Seo Hyun menyebutkannya, ia baru terpikir mengapa tidak membawa gadis itu ke rumah sakit saja. Sindiran Seo Hyun sukses membuatnya kehilangan kata-kata. “Tidak bisakah kau hanya berterima kasih padaku?”

“Jadi itu alasanmu?” Seo Hyun tertawa miris. Ia merasa tidak enak badan dan ia merasa sedang tidak ingin berdebat saat ini. “Kau melakukan semua ini agar aku berterimakasih padamu? Baiklah. Terima kasih. Aku sangat berterima kasih padamu nona Kwon.”

YoonA mengernyit. Bukan itu maksudnya. Ia sama sekali tidak memiliki niat seperti itu. Dan juga.. Ucapan terima kasih Seo Hyun barusan lebih seperti sindiran baginya.

“Sekarang.” Seo Hyun bangkit dan berdiri. “Bisakah kau melepaskanku? Aku mohon!”

YoonA tidak mengerti. Ada yang salah disini. Sikap Seo Hyun tidak seperti Seo Hyun yang ia kenal. Gadis itu biasanya tenang dan berwibawa. Ia lebih sensitif hari ini. Ada masalah yang tidak ia ketahui hingga membuat gadis itu menjadi lebih emosional.

“Dan bisakah kau berhenti melakukan itu?” Ia bicara lagi kali ini dengan nada marah.

“Mwo?” YoonA mengerjap bingung.

“Menatapku.” Lanjutnya. “Bisakah kau berhenti menatapku seperti… Seperti.. Yah.. Seperti itu.”

YoonA tertawa melihat Seo Hyun yang berubah menjadi salah tingkah. Ia kemudian mendorong Seo Hyun pelan agar kembali ke tempat duduknya. “Kau mau teh? Atau mungkin kopi?”

Seo Hyun diam sambil berpikir. Melihat YoonA yang tertawa barusan membuatnya berpikir kembali. Ia sudah bersikap begitu dingin pada YoonA yang tidak melakukan kesalahan apapun selain tidak mengetahui apa-apa. Dan gadis itu masih mau tertawa bahkan menawarkan minuman. Gadis itu tetap bersikap ramah padanya. Apakah ia sudah keterlaluan? YoonA adalah orang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Tidak pantas jika ia bersikap kasar.

Masalah yang terjadi belakangan ini membuat emosinya tidak terkontrol. Terlebih setelah kemunculan orang itu.

“Apa kau punya bir?” Sahutnya dengan suara yang sangat pelan. Merasa ragu karena ia baru saja marah-marah.

“Tentu.” YoonA tersenyum. Merasa sedikit lega karena Seo Hyun tidak marah-marah lagi. “Tapi.. Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat.”

“Aku baik-baik saja.” Jawab Seo Hyun. Ia kemudian segera menambahkan. “Aku hanya merasa kurang enak badan.”

“Kalau begitu tunggu disini.” YoonA beranjak pergi menuju mini bar. Ia membuka lemari pendingin untuk mengambil sesuatu disana. Tak lama ia kembali dengan dua kaleng bir dan sepotong cheese cake di tangannya. Ia meletakkan satu kaleng bir dan cake itu di depan Seo Hyun lalu meminum yang satunya lagi sebelum duduk di tempat semula. “Jangan sungkan. Aku tidak membelinya khusus untukmu. Aku memang selalu memiliki persediaan yang seperti itu.”

Seo Hyun mengambil bir di atas meja kemudian membukanya. “Bir?”

“Aniyeo.” YoonA tertawa. “Aku bicara tentang cakenya. Ayo dimakan!”

Seo Hyun sempat ragu sejenak. Kemudian ia mengambil kue itu dan memakannya. Ia memang belum sempat makan sejak pagi. Mungkin karena itu kepalanya sedikit pening.

“Hyun-ssi. Boleh aku memanggilmu begitu kan?” YoonA mulai bicara lagi saat Seo Hyun memakan kuenya. “Aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi.. Kau tahu kan, waktu itu di kafe, itu bukanlah sebuah kecelakan. Itu adalah penyerangan. Mereka sengaja menabrakmu. Terlebih orang-orang yang menyerangmu dibebaskan oleh polisi. Tidakkah kau merasa janggal dengan itu? Dan saat aku tidak menemukanmu di rumah sakit. Aku benar-benar merasa khawatir.”

“Aku tidak bisa tinggal di rumah sakit lebih lama.” Seo Hyun meletakkan kembali piring cake-nya yang baru dimakan sedikit. “Kau benar. Orang-orang itu mengincarku. Tapi mereka tidak berusaha menyakitiku karena siapa istriku. Melainkan karena pekerjaanku. Aku sengaja menjelaskan ini padamu karena tidak ingin kau berpikiran buruk tentang istriku.”

“Pekerjaanmu? Menarik.” YoonA meneguk kembali bir miliknya. “Selama ini aku perhatikan kau bekerja dengan laptop di kafe. Aku pikir kau seorang ahli forensik.”

“Aku memang bekerja untuk Forensik. Karena itu mereka mengincarku.” Lanjut Seo Hyun. “Salah satu rekan kerjaku sudah menjadi korban. Dan sekarang mereka menginginkanku.”

“Kalau begitu tempat itu tidak aman bagimu. Mereka akan kembali untuk menyakitimu.” YoonA terlihat benar-benar khawatir.

Seo Hyun memikirkannya. Mungkin itu benar. Tapi.. Karena ada orang itu, Seo Hyun tidak yakin mereka akan kembali.

 

***

 

Tae Yeon POV

 

Soo Yeon bersama dengan Yu Ri. Aku tidak perlu penjelasan apapun lagi karena kenyataan sudah sangat jelas dihadapkan padaku. Ia bahkan kembali menggunakan nama Jessica. Apa menurutnya nama yang kuberikan untuknya kampungan hingga dia tidak mau memakainya lagi?

Itulah yang tadinya ingin Soo Yeon lakukan. Menjelaskan apa yang terjadi. Sungguh aku tidak membutuhkannya saat aku tidak mungkin salah paham pada apa yang terjadi. Aku menepis tangannya saat ia memohon agar aku mendengarkan penjelasannya. Aku menyelanya setiap kali ia menyebut namaku. Aku tidak ingin mendengar apapun darinya. Aku takut mendengar apapun yang akan membuatku semakin sakit hati.

Yu Ri tidak tahu. Si bodoh itu tidak tahu siapa tunanganku. Si bodoh itu tidak tahu siapa orang yang ia sukai. Si bodoh itu tidak tahu jika mereka adalah orang yang sama. Ia tidak tahu dan ia melukai dirinya sendiri demi menyelamatkan Soo Yeon. Ia melukai lengan yang baginya jauh lebih berharga dari hidupnya untuk melindungi Soo Yeon. Itu artinya baginya kini Soo Yeon lebih berharga dari hidupnya. Dia benar-benar jatuh cinta pada tunanganku. Si bodoh itu tidak tertolong lagi. Aku tidak tertolong lagi.

Aku merasakan sesuatu menghimpitku. Membuatku seolah tercekik. Apakah itu kekecewaan, sedih, atau kemarahan. Aku tidak tahu yang mana penyebab rasa menyakitkan ini. Atau justru ketiganya.

Satu hal yang membuatku masih mampu bernafas. Sebuah kelegaan. Lega karena Soo Yeon baik-baik saja. Ia tidak bertemu dengan orang jahat. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Ia aman bersama Yu Ri. Yu Ri jauh dari sekedar mampu untuk menjaganya. Tidak sepertiku. Selama tujuh tahun bersama, hanya Soo Yeon yang menjagaku. Aku tidak memiliki kemampuan untuk melindunginya.

Kalau begitu.. Haruskah aku merelakannya untuk Yu Ri? Yu Ri sepertinya sangat mencintainya hingga rela terluka demi Soo Yeon. Sementara bagi Soo Yeon, Yu Ri lebih segala-galanya dibandingkan aku yang cacat.

Tapi aku merasa tidak rela. Soo Yeon adalah milikku. Kami bahkan berencana untuk menikah. Aku bisa memberikan apapun pada Yu Ri karena aku menyayanginya. Dan Soo Yeon adalah pengecualian. Aku tidak bisa memberikan yang satu itu pada Yu Ri.

Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak bisa menyakiti Yu Ri. Sama seperti aku tidak bisa mengabaikan perasaan Soo Yeon. Ini bukanlah cinta bertepuk sebelah tangan. Seperti yang Mi Young katakan. Mereka tampak saling mencintai. Aku manyayangi keduanya. Aku ingin mereka bahagia.

Ah.. Aku baru teringat tentang Mi Young. Ini sudah terlalu lama aku membuatnya menunggu. Aku meraba-raba letak klakson mobil kemudian menekannya beberapa kali setelah aku menemukannya. Aku menunggu beberapa saat. Dia tidak datang. Aku membunyikan klakson itu sekali lagi dan menunggu. Mi Young masih tidak datang. Mungkin dia menunggu agak jauh hingga tidak mendengar suara klakson yang aku bunyikan.

Sebaiknya aku menunggu di luar saja. Aku membuka pintu mobil kemudian keluar. Aku berjalan ke bagian depan mobil kemudian berjongkok untuk duduk disana. Jika Mi Young kembali nanti, dia bisa langsung melihatku berada di sini.

“Tae Yeon-ssi!” Belum lama aku berjongkok disana, terdengar suara Mi Young. Nada suaranya terdengar panik. “Tae Yeon-ssi.”

Aku berdiri. “Ne, mengapa berteriak, Mi Young-ssi?”

“Eoh, kau disana?” Terdengar suara langkahnya mendekatiku. Ia memegang tanganku untuk membantuku kembali ke mobil. “Mengapa bersembunyi?”

“Aku.. Menunggumu.” Jawabku.

“Maaf, aku tadi membeli ini sebentar.” Ia meletakkan sesuatu di genggaman tanganku. “Untukmu.”

Benda yang ia berikan padaku memiliki aroma yang khas. Aku mendekatkannya ke hidungku untuk menghirup baunya. Wangi. Ini seikat bunga. “Gomawo, Mi Young-ssi.”

“Kajja, kita pulang.” Mi Young membukakan pintu mobil lalu membantuku masuk.

“Pulang? Aku pikir kau mau mengajakku kencan.” Celetukku asal. Aku tidak bermaksud apapun. Hanya ingin mengalihkan pikiranku dari Soo Yeon. Untuk sejenak, aku ingin berhenti memikirkannya. “Kau bahkan sudah memberiku bunga.”

“Kau..” Mi Young diam. “Kau ingin pergi kencan denganku?”

Aku tahu maksud pertanyaannya barusan. Mengapa ia harus pergi berkencan dengan orang buta sepertiku? Selain memalukan, aku juga akan merepotkannya.

“Maaf, Mi Young-ssi.” Lanjutku. “Bisa aku merepotkanmu lagi?”

Ia tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menutup pintu mobil. Apa ia marah? Tentu saja. Mi Young memang orang baik. Tapi tetap saja kesabaran seseorang ada batasnya.

Terdengar suara pintu mobil di sisi lainnya terbuka. Ia masuk kemudian menutup kembali pintu itu. “Jadi, kemana kau ingin pergi berkencan?”

Aku tersenyum kecil. Mi Young bahkan terlalu baik untuk ukuran orang baik. “Jika kau tidak keberatan, bagaimana jika menonton film?”

“Maksudmu ke bioskop?” Tanyanya yang aku jawab dengan sebuah anggukan. “Kau yakin?”

“Tidak masalah jika kau keberatan.” Aku menunduk sambil memeluk bunga di tanganku kemudian bergumam pelan. “Aku cukup tahu diri.”

“Bukan itu maksudku.” Ia tertawa. Membuatku tidak mengerti. “Hanya saja.. Tadi aku baru saja berbicara dengan Sunny di telepon. Aku mengatakan padanya bahwa aku berencana mengajakmu menonton film. Tapi Sunny bilang itu bukanlah ide yang bagus. Maksudku adalah.. Mengapa tidak? Sungguh aku akan senang sekali pergi kencan denganmu Kim Tae Yeon-ssi.”

Sekali lagi, aku memaksakan senyumku. Entah mengapa sebanyak apapun aku mencoba tersenyum, rasa perih ini tidak mau pergi.

“Kita pergi sekarang?” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

 

***

 

Tiffany POV

 

Kencan?

Aku nyaris tersedak udara yang kuhirup saat mendengar Tae Yeon menyebutnya. Kemudian aku sadar. Tae Yeon mengajakku berkencan bukan karena ia menyukaiku atau ingin menjadi kekasihku. Melainkan karena.. Entahlah. Aku tidak tahu. Tae Yeon sepertinya memiliki masalah berat. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikannya. Ia memang tersenyum. Namun itu adalah senyuman yang dipaksakan. Ia bahkan tidak terlihat baik.

Bukannya aku tidak kapok memulai kencan dengan seseorang yang jelas-jelas tidak akan menyukaiku. Aku pernah melakukannya dengan Yu Ri dan itu tidak berakhir baik. Tapi ini berbeda. Tae Yeon tidak brengsek seperti Yu Ri. Aku hanya ingin menghiburnya.

“Apa yang ingin kau tonton?” Tanyaku begitu kami tiba di bioskop. “Disini ada action, horor, animasi komedi, dan romance. Kau mau yang mana?”

Tae Yeon berpikir sejenak dengan tatapan kosongnya. “Apapun dengan bahasa korea. Aku tidak ingin menambah tugasmu dengan membacakan teksnya untukku.”

“Kalau begitu.. Horor?” Sayangnya hanya itu satu-satunya film korea yang sedang tayang.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan film horor. Mereka selalu berhasil membuatku mimpi buruk selama beberapa malam. Tapi tak apalah. Aku mungkin tidak akan memiliki kesempatan lain menonton film berdua saja dengan Tae Yeon.

Aku membawa Tae Yeon membeli tiket kemudian kami membeli kopi dan pop corn. Terpaksa Tae Yeon harus ikut mengantri denganku. Aku merasa berat meninggalkannya sendirian untuk menungguku. Bagaimana jika terjadi sesuatu?

Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum filmnya mulai. Aku mengajak Tae Yeon duduk di bangku tunggu yang ada di sana. Tidak ada yang menyadari kehadiranku disini karena aku kembali memakai masker untuk menutupi wajahku. Kalau diingat-ingat, sudah lama sekali aku tidak pergi nonton ke bioskop. Jika memiliki waktu luang, aku lebih suka menyewa DVD dan menonton sendirian di kamarku. Aku tidak terlalu suka duduk diam selama berjam-jam bersama seseorang. Itu membosankan.

Berbeda jika pergi bersama Tae Yeon. Aku rela melakukan apapun asalkan bisa bersama dengannya.

“Apa ramai?” Tae Yeon yang pertama kali membuka pembicaraan.

“Hmm..” Aku melihat sekitar. “Tidak juga. Mungkin karena ini bukan akhir pekan.”

Ia mencoba tersenyum lagi. Dan itu malah membuatnya tampak menyedihkan. “Ini pertama kalinya aku pergi ke bioskop.”

“Benarkah?” Meski aku tidak terlalu suka bioskop, tapi aku terkadang pergi dengan beberapa orang teman jika ada film yang bagus. “Apa Soo Yeon tidak pernah mengajakmu?”

“Tidak.” Ekspresi wajahnya berubah semakin muram. “Dia tidak suka membawaku ke tempat ramai. Katanya aku mudah terluka.”

Ck, gadis licik itu pasti merasa malu membawa Tae Yeon. Memang Tae Yeon memiliki kekurangan, tapi meski penampilannya sederhana, ia memiliki wajah yang cantik. Kalau aku jadi dia, aku justru bangga menggandeng Tae Yeon sebagai tunanganku.

“Kalau begitu, kemana saja kalian pergi kencan?” Dan kemudian aku menyesali telah menanyakan pertanyaan itu. Jika gadis itu tidak suka membawa Tae Yeon ke tempat umum, mungkin ia memiliki hobi yang sama dengan Yu Ri. Berkencan di atas ranjang.

“Soo Yeon menyukai ketenangan.” Ia menarik nafas dalam setelah menyebut nama kekasihnya. “Dia juga tidak suka kepanasan, dan kelelahan. Ia paling suka pergi memancing di sungai, atau ke pantai melihat matahari tenggelam saat musim dingin. Ia akan memberitahuku seperti apa ikan yang aku tangkap, seperti apa indahnya matahari tenggelam itu. Ia akan menggambarkannya dengan kata-kata hingga aku bisa melihat sendiri bagaimana itu di dalam kepalaku.

“Ia sudah mengorbankan banyak hal untukku. Bisa dikatakan masa remajanya ia habiskan hanya untuk merawatku. Sebelum bertemu denganku, ia selalu memiliki seseorang untuk menyiapkan segala keperluannya. Namun setelah bertemu denganku, justru ia yang harus menyiapkan untuk orang lain. Untukku. Ia tidak pernah mengeluh. Ia melakukannya dengan tulus. Dan apa yang bisa aku berikan padanya? Aku bahkan tidak bisa berhenti menjadi benalu baginya.”

Air matanya jatuh. Apa ia begitu merindukan tunangannya itu?

“Mi Young-sii.” Ia bicara lagi. “Menurutmu, haruskah aku melepaskannya?”

“Ne?” Aku tidak mengerti dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu. Sementara air matanya semakin deras mengalir. Seolah ia telah begitu lama menahannya.

“Orang itu adalah Soo Yeon, Mi Young-ssi.” Ia terisak semakin keras. Orang-orang yang tidak seberapa mulai melihat ke arah kami. Pandangan menuduh mereka tujukan padaku. Ayolah, bukan aku yang membuatnya menangis.

“Orang itu?” Aku sama sekali tidak mengerti siapa yang Tae Yeon maksud.

“Gadis yang bersama Yu Ri. Dia adalah Soo Yeon, Mi Young-sii.” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya kemudian membenamkan semuanya pada pangkuannya. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku lakukan?”

Maksudnya.. Gadis itu? Gadis yang bersama Yu Ri… Apa maksudnya.. Gadis yang bersama Yu Ri tadi? Kekasih baru Yu Ri? Orang itu Soo Yeon? Tunangan Tae Yeon? Oh Tuhan!

Mereka tidak waras. Apa yang mereka lakukan pada gadis sebaik Tae Yeon? Bersama-sama mereka menikamnya dari belakang. Para gadis jahat itu.. Bagaimana mungkin mereka tega melakukan hal seperti ini pada Tae Yeon? Yang satu adalah tunangannya, sedangkan satunya adalah sahabat baiknya.

“Tae Yeon-ssi..” Aku menyentuh bahunya membuat ia mengangkat kepalanya kembali. Wajahnya basah kuyup karena air mata. Aku tidak tega melihatnya. Kedua orang itu benar-benar menghancurkan gadis malang ini. Aku bahkan tidak berani mengumpati mereka. Takut itu akan membuat Tae Yeon semakin sedih.

“Tolong beritahu aku apa yang harus aku lakukan sekarang.” Ia menatapku dengan pandangan memohon bantuan. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuknya? “Aku menyayangi mereka. Aku tidak ingin mereka terluka karenaku.”

Terbuat dari apa sebenarnya benda bernama Kim Tae Yeon ini? Dia yang disakiti, tapi justru dia yang tidak ingin melukai orang yang telah menyakitinya. Dia terlalu baik. Terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini.

“Yu Ri tidak tahu ini.” Tae Yeon bicara lagi meskipun ia sesegukan karena menangis. “Tapi Soo Yeon akan memberitahunya. Dia pasti sudah tahu sekarang. Dia pasti merasa sangat hancur.”

Ck, andai itu bisa menghancurkan orang seperti Yu Ri. Makhluk tidak punya hati itu tidak mudah untuk dihancurkan. Dia bahkan tega mengambil tunangan sahabatnya yang sebaik Tae Yeon.

“Mungkin kau salah orang. Bukankah gadis itu bernama Jessica?” Meskipun Tae Yeon buta, aku tahu Tae Yeon bukanlah orang bodoh. Dia tidak perlu melihat untuk mengenali tunangannya. Aku hanya mengatakan itu untuk menghiburnya.

“Jessica adalah nama aslinya. Soo Yeon hanya nama yang aku berikan untuknya.” Tae Yeon menjawab kemudian kembali menangis deras. “Lalu apa yang harus aku lakukan, Mi Young-ssi? Haruskah aku melepaskan Soo Yeon?”

Ia menanyakan kembali pertanyaan yang tak kunjung ku jawab.

“Bagaimana aku tahu jawabannya?” Aku memilih untuk menjawab jujur. Karena aku benar-benar tidak tahu. “Kau yang harusnya lebih tahu. Jika kau ingin melepaskannya, maka kau bisa melepasnya. Namun jika kau ingin mempertahankannya, kau bisa merebutnya kembali dari Yu Ri. Tanyakan pada dirimu sendiri apa yang paling kau inginkan.”

“Benarkah?” Ia memaksakan diri untuk tidak menangis lagi. “Aku bisa melakukan apa yang aku inginkan?”

Aku menatapnya lekat meskipun ia tidak menyadarinya. Aku membantunya menghapus air matanya dengan ujung bajuku. “Tentu saja kau bisa melakukan apa yang kau inginkan.”

Ia menunduk, mengalihkan matanya dariku. Ia sudah tidak sesegukan lagi, tapi air matanya masih jatuh satu persatu. Ia bergumam pelan seolah bicara pada dirinya sendiri. “Jika aku melakukan apa yang aku inginkan…”

“Tae Yeon-ssi.. Maukah kau memelukku?” Aku memberanikan diri untuk menyentuh wajahnya dengan telapak tanganku. Ia sedikit terkejut saat aku melakukannya namun ia memilih untuk membiarkanku. “Saat aku sedih, kau membiarkan aku menumpahkan kesedihanku di bahumu. Bolehkah aku melakukan hal yang sama untukmu?”

Tae Yeon mengangguk.

Aku menariknya untuk bersandar di dadaku. Ia sudah lebih tenang sebelum aku memeluknya namun ia kembali terisak di dalam dekapanku. Hatiku ikut remuk melihatnya seperti ini. Seandainya aku bisa menarik semua kesedihannya, semua kekecewaannya, aku bersedia menampung semua rasa sakit itu menggantikannya.

Saat menonton film, untuk pertama kalinya aku tidak merasa ketakutan dengan film horor. Itu karena sepanjang film, aku hanya menonton Tae Yeon menangis. Ia mencoba untuk berhenti, namun air matanya terus mengalir. Aku harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa begini terus. Tapi apa yang harus aku lakukan?

“AAAA!” Aku sengaja berteriak keras kemudian memeluk lengan Tae Yeon. Aku tidak peduli mata-mata yang menatapku karena merasa terganggu karena adegan di film bukan bagian yang cocok untuk berteriak.

“Kau takut?” Tae Yeon menghapus air matanya menggunakan tangannya yang bebas. “Apa begitu mengerikan?”

“Ne!” Aku mengangguk. Aku masih menahan lengannya dan pura-pura bersembunyi di balik bahunya.

“Apa kau mau kita keluar saja?” Tanyanya. Tangisannya sudah sepenuhnya reda. Berarti caraku cukup berhasil.

“Jangan! Ini sedang seru.”

“Bukankah kau takut?”

“Benar. Tapi aku juga ingin tahu kelanjutan ceritanya.”

Sepanjang sisa film, aku terus berusaha menarik perhatiannya dengan bersembunyi di balik bahunya. Terkadang aku melihatnya tersenyum kecil setiap kali aku berteriak terlalu keras.

Setelah keluar dari gedung bioskop, Tae Yeon memiliki mata sembab dan aku memiliki suara yang serak karena terlalu banyak berteriak. Bahkan lebih banyak dibandingkan saat naik roller coaster.

“Kau ingin kemana lagi?” Tanyaku saat kami sudah berada di dalam mobil.

“Mi Young-ssi saja yang tentukan.” Jawabnya. Memang ia masih terlihat murung, tapi setidaknya dia tidak menangis lagi.

“Bagaimana jika ke hotel?” Usulku sambil bercanda dan ia terlihat kaget.

“Hotel?” Tae Yeon mengerutkan dahinya dengan ekspresi tidak setuju. “Aku tidak mau pergi kesana.”

“Waeyeo?” Aku menahan senyumku walaupun Tae Yeon tidak melihatnya. “Meski ini sudah terlambat, kita bisa menikmati makan malam disana. Aku sangat kelaparan karena berteriak tadi. Apa kau tidak lapar? Atau kau lebih suka kita pergi ke restoran di pinggir jalan yang ramai? Tapi itu tidak akan nyaman karena orang-orang akan mengenaliku dan kita akan dikejar-kejar seperti waktu itu. Aku tidak mungkin makan dengan penutup wajah.”

“Makan malam?” Tae Yeon bergumam seiring dengan lenyapnya kerutan di dahinya.

“Ya, makan malam. Memangnya apa yang kau pikirkan?” Godaku sambil tertawa. “Aku tidak akan membiarkan kau kelaparan jika berkencan denganku.”

“Baiklah, kita makan malam.” Sekali lagi ia memaksakan sebuah senyuman yang tampak menyedihkan. Aku tahu apa yang ia alami begitu menyakitkan. Tidak akan mudah melupakannya dalam waktu singkat. Tapi tetap saja aku tidak suka melihatnya begini.

“Tae Yeon-ssi..” Aku menggenggam tangannya. “Tadinya aku merasa ingin mati. Kemudian aku bertemu denganmu. Berkatmu, aku lebih menghargai hidupku. Dan kini aku menemukan kau jauh lebih berharga dari apapun.

“Aku ingin menghiburmu seperti kau pernah menghiburku. Aku ingin membuatmu melupakan kesedihanmu seperti yang kau lakukan padaku. Aku tidak suka kau larut dalam kesedihanmu. Apa yang harus aku lakukan agar kau merasa lebih baik?”

“Mi Young-ssi.” Ia mendongak mengangkat wajahnya. “Boleh aku ‘melihat’ wajahmu?”

“Tentu saja.” Aku meletakkan telapak tangannya di wajahku.

Ia meraba wajahku dengan menggunakan kedua tangannya. Memeriksa setiap inchi tanpa melewatkan sedikitpun. Mata, hidung, mulut, dagu, semuanya.

Aku tak melepaskan pandanganku darinya saat ia ‘melihat’ wajahku. Matanya yang hanya melihat kegelapan seolah menatapku dalam. Bagaimana bisa sepasang mata yang tak melihat apapun menjebakku seperti ini? Kim Tae Yeon, aku ingin merawatnya, aku ingin melindunginya dengan segala yang aku miliki. Aku ingin memilikinya.

“Kau sangat cantik Mi Young-ssi.” Gumamnya pelan. Ia menurunkan tangannya. Membuatku kecewa karena ia tidak lagi menyentuhku.

“Kau juga.”

“Kau sudah terlalu banyak membantuku, Mi Young-ssi. Kau bahkan selalu menjagaku dan tidak membiarkanku terlantar di Seoul. Jika kau tidak datang, mungkin aku sudah mati sekarang. Orang yang memiliki hutang adalah aku.” Lanjutnya. “Dan aku akan salah paham jika kau bersikap terlalu baik padaku, Mi Young-ssi.”

“Salah paham apa yang kau maksudkan.”

Ia tampak ragu untuk menjawab, dan kemudian berkata. “Aku mungkin berpikir kau menyukaiku.”

“Bagaimana jika kau tidak salah paham?” Kini giliranku menyentuh wajahnya. “Aku memang menyukaimu, Kim Tae Yeon-ssi.”

Aku mendekat untuk mencium bibirnya. Gerakanku yang tiba-tiba membuatnya terkejut dan terdiam di tempat. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin memilikinya.

 

-TBC-

Blue (Part 25)

Title : Blue

Author : Mr. Lim

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Seo Joohyun

Genre : Yuri, Romance, Family, Tragedy, Crime, PG 17+

POV : Tiffany

 

A Mistake I Made

“Gwaenchana?” Hyoyeon datang menghampiriku setelah kepergian Taeyeon.

Aku menggeleng. Aku tidak merasa baik-baik saja. Saat Taeyeon membodohiku, aku merasa terluka. Dan luka itu lebih sakit lagi saat aku mengusirnya lalu ia pergi begitu saja. Aku membencinya. Benar. Namun sampai detik ini, aku tidak bisa untuk berhenti mencintainya. Yang aku inginkan adalah penjelasan darinya. Aku ingin ia membela dirinya dengan mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa. Atau Kim Youngho yang memaksanya. Meski sedikit, aku ingin ia mempertahanku.

Tapi apa yang ia lakukan? Meminta maaf? Sekaligus mengakui bahwa ia memang bersalah. Ia bahkan tidak perlu membela dirinya karena ia sudah mendapatkan hak asuh Joohyun.

Joohyun!

Astaga! Gadis kecil itu tidak ada di sofa.

“Taeyeon membawa Joohyun!” Ujarku panik.

“Ani..” Sooyoung yang masih duduk di lantai menunjuk ke arah sofa dan pintu dengan wajah bingung. “Aku melihat ia keluar sendirian.”

Hyoyeon mengangguk membenarkan. “Dia keluar sendirian.”

“Joohyun-ah!” Aku berlari panik mencari gadis kecil itu di setiap sudut apartemen. Berharap Taeyeon tidak membawanya. Dan aku menemukannya di dalam kamar. Masih terlelap dengan damainya. Syukurlah Taeyeon tidak membawanya.

Aku kembali ke ruang tamu dimana Sooyoung dan Hyoyeon menungguku.

“Aku rasa Taeyeon memindahkannya ke kamar.” Ujarku karena mereka sepertinya menunggu aku mengatakan sesuatu.

“Aneh!” Sooyoung menggaruk dagunya.

“Dia baik juga.” Imbuh Hyoyeon. “Tidakkah kau merasa dia perhatian pada Joohyun? Dia pasti menyayanginya.”

“Ck, dia hanya memanfaatkan kami.” Aku tidak percaya orang itu menyayangi Joohyun. Dia bahkan berbohong mengatakan bahwa ia mencintaiku. Kim Taeyeon adalah pembohong besar.

“Syukurlah Joohyun baik-baik saja.” Hyoyeon menepuk bahuku kemudian kembali duduk bersama Sooyoung. “Tadinya aku sempat berpikir Taeyeon benar-benar membawa pergi Joohyun saat kau mengatakan Joohyun tidak ada.”

“Aneh!” Sooyoung masih belum selesai menggaruk dagunya. Aku rasa dia perlu mandi. “Bagaimanapun aku memikirkannya, ini terasa aneh.”

“Mungkin kau belum sadar dari tidurmu.” Hyoyeon mengambil sisa ayam goreng yang kami pesan tadi lalu menyuapinya ke mulut Sooyoung. Sooyoung menerimanya dengan mulut terbuka.

Aku ikut bergabung dengan mereka. Rasa kantukku hilang seketika. Mabukku juga. Aku mengambil wine lagi dan meminumnya.

“Tidakkah menurutmu aneh?” Sooyoung bicara dengan mulut penuh. Menggunakan sudut mata, ia melirik Jessica yang masih betah berada di alam mimpinya. “Bagaimana ia bisa bertahan dengan keributan barusan. Berapa banyak dia minum?”

Hyoyeon menuang wine ke gelasnya. Menemamaniku minum. “Dia bahkan belum minum sedikitpun saat pergi tidur.”

“Aigoo..” Sooyoung menggigit tulang ayam seolah itu adalah cumi kering.

“Dia pasti lelah.” Aku membelanya. Dulu saat aku masih terkenal, aku juga akan jatuh terlelap begitu selesai dengan aktivitas yang padat.

“Dimana tisu?” Sooyoung yang tangannya penuh minyak mencari kotak tisu yang tadinya berada di bawah meja. Ia mengambil sesuatu yang menarik perhatiannya. “Ini apa?”

Aku melihat setumpuk berkas di genggaman tangannya. “Surat-surat yang dikirim kemari. Aku belum sempat mengeceknya.”

Sooyoung memeriksanya satu persatu setelah membersihkan tangannya seadanya pada permukaan karpet. “Harusnya kau segera mengeceknya. Bagaimana jika ada tagihan penting?”

Tagihan penting? Apa itu penting saat ini?

“Fany-ah!” Sooyoung menunjukkan sebuah amplop besar. “Kau tahu ini ada disini?”

Aku mengambilnya dari tangan Sooyoung kemudian menggeleng. Aku membaca bagian luar amplop tersebut. Dari Pengadilan Negeri. Untuk Seo Joohyun. Pengadilan?

“Ya! Fany-ah! Ini keputusan tentang hak asuh Joohyun. Harusnya kau menyimpannya.” Sooyoung merebut kembali amplop itu dari tanganku. Ia membukanya lalu memeriksa isinya.

“Tapi aku sudah mendapatkannya bulan lalu.” Aku ingat saat surat yang Sooyoung maksudkan itu datang. “Aku menyimpannya di kamar.”

“Astaga.. Tolong tampar aku! Apa aku bermimpi atau terlalu mabuk?” Ujar Sooyoung pada Hyoyeon setalah ia membaca dokumen itu sekilas. Hyoyeon memukul kepalanya dan ia bersikap seolah sedang mengumpulkan kesadarannya. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja agar aku dan Hyoyeon bisa melihatnya. “Lihat ini! Coba kalian baca. Aku tidak salah lihat kan?”

Aku membacanya. Sebuah dokumen hukum. Bla.. Bla.. Bla.. Terlalu bertele-tele dan banyak kalimat yang rumit. Aku tidak mengerti. Aku memandang Sooyoung. “Memangnya apa ini?”

“Itu tentang pengalihan aset. Sebuah perusahaan.” Jawab Sooyoung. Wajahnya kini tampak antusias.

“Seo Corp?” Tebakku.

Sooyoung menggeleng. “Jauh lebih besar dari itu.”

“Genie.” Hyoyeon yang menjawab.

Genie? Satu-satunya Genie yang aku tahu adalah sebuah brand fashion raksasa. Mereka juga punya pusat perbelanjaan dan hotel dengan brand yang sama.

“Lalu mengapa itu ada disini?” Jika itu memang surat penting, bukankah seharusnya mereka punya tim pengacara untuk memberitahukannya secara langsung? Bukan malah mengirim lewat pos. “Mungkin Genie yang lain.”

“Aku rasa tidak.” Masih merasa belum puas, Sooyoung menggapai satu-satunya ayam yang masih tersisa lalu melahapnya tanpa ampun. “Lihat nilainya. Joohyun bisa membeli seratus Seo Corp dengan ini. Apa kau kenal seseorang dari Genie? Atau mungkin Joohyun yang kenal?”

Aku mengangguk kemudian menunjuk tubuh yang tertidur pulas di lantai. “Orang ini. Dia brand ambassador Genie.”

Sooyoung melambaikan tangannya. “Aiih.. Kau tahu bukan itu maksudku.”

“Ada salinan surat wasiat disini.” Hyoyeon yang sejak tadi membaca dokumen itu dengan seksama, menarik secarik kertas dari dalamnya. “Apa Kim Youngho adalah pemilik Genie?”

Kim Youngho? “Kau bercanda.”

“Disini tertulis bahwa Kim Youngho memberikan 75 persen aset beserta sahamnya kepada putri tunggalnya Kim Taeyeon dan 25 persen kepada keponakannya Seo Joohyun.” Hyoyeon menjelaskan apa yang ia baca.

“Tidak mungkin.” Kim Youngho bukan orang seperti itu. “Ini mungkin palsu. Orang itu akan melakukan segala cara untuk menjebakku.”

“Apa Kim Youngho mati?” Tanya Sooyoung. “Jika dia mati, artinya dokumen ini asli.”

Hyoyeon memberikan pukulan di kepala atas pertanyaan Sooyoung barusan. “Jangan malas! Lakukan pekerjaanmu dengan benar! Kau harus periksa apa dokumen itu asli atau tidak.”

“Itu pasti palsu.” Aku yakin.

“Jika itu asli, mereka tidak punya alasan menipumu.” Ujar Sooyoung. “Dia memang mengambil Seo Corp, tapi dia memberikan jauh lebih banyak. Lalu mengapa ia harus repot-repot membunuh adiknya untuk sesuatu yang kecil seperti Seo Corp?”

Sooyoung benar. Meski aku benci mengakuinya, namun kata-katanya itu benar. Jika orang itu membunuh Ilhyun Oppa dan Hyojin Eonni, maka ini jauh lebih aneh lagi. Mengapa ia melakukannya?

“Fany-ah!” Hyoyeon memanggilku. “Kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk. Aku hanya merasa ada yang tidak benar disini. Kim Youngho adalah orang jahat. Dia gangster. Lebih masuk akal jika dokumen itu adalah palsu.

“Kau tidak keberatan kan jika aku membawa ini?” Tanya Sooyoung. “Aku akan memeriksanya.”

“Tidak masalah.”

Tapi.. Mengapa aku merasa seperti ini? Menyesal? Ya aku merasa menyesal. Bagaimanapun aku membenci Kim Youngho, aku berharap banyak pada Taeyeon. Aku berharap jika ini adalah benar. Berharap bahwa Kim Youngho tidak jahat demi sebuah alasan. Menerima Taeyeon kembali. Apa aku sudah kehilangan kewarasanku? Apa aku sudah kehilangan loyalitasku terhadap Joohyun? Juga Hyojin Eonnie.

 

***

 

Pagi datang beberapa saat yang lalu. Sooyoung dan Hyoyeon sudah pulang karena ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan. Sementara Jessica belum bergerak sedikitpun sejak tadi malam. Aku sempat khawatir apakah ia pingsan atau mati. Aku memeriksanya dan lega saat tahu ia masih bernafas. Dia pasti benar-benar lelah.

Joohyun sedang menikmati segelas susu dan cereal sambil menonton berita pagi di bawah kaki Jessica. Aku sudah membereskan kekacauan setelah ‘pesta’ semalam sebelum Joohyun bangun. Aku tidak ingin ia melihatnya. Itu tidak baik untuk pertumbuhan mentalnya.

Bel berbunyi saat aku sedang mencuci piring di dapur. Bergegas aku mengeringkan tanganku kemudian membuka pintu. Itu Yuri. Aku tidak mengharapkan orang lain kan?

“Annyeong Fany-ah!” Sapanya. “Aku datang untuk menjemput Sica. Berkali-kali aku meneleponnya tapi tidak ada jawaban. Dia ada di dalam kan?”

“Ne..” Aku membukakan pintu lebih besar agar Yuri bisa masuk. “Dia masih tidur di dalam.”

“Ck, si tukang tidur itu.” Ia menggeleng sambil masuk. “Bagaimana keadaanmu? Maaf aku tidak bisa datang.”

“Gwaenchanha.” Aku mengikutinya masuk setelah sebelumnya menutup pintu.

Yuri datang menghampiri Jessica. Ia berlutut di dekat Jessica kemudian menepuk pipinya lembut. “Sica-ah! Ayo bangun. Kau harus siap-siap.”

“Eonnie!” Joohyun beringsut mendekat karena merasa tertarik. “Joohyun sudah mencoba membangunkan Sica Eonnie. Tapi dia tidak peduli.”

“Apa ada jadwal penting pagi ini?” Tanyaku. Aku bergabung duduk bersama Yuri, Joohyun, dan tentunya Jessica.

“Tidak juga.” Yuri mengambil tempat duduk yang lebih nyaman di sebelahku. “Manajemen heboh besar pagi ini. Kim Youngmin tiba-tiba mengundurkan diri. Itu kabar yang beredar. Padahal kenyataannya dia dipecat.”

“Mwo?” Aku bisa mengerti jika artis bermasalah sepertiku dipecat, tapi Kim Youngmin. Aku tidak pernah tahu jika kata dipecat juga berlaku untuk orang sekelasnya.

“Benar.” Yuri tertawa sambil menggelengkan kepalanya seolah itu adalah hal paling gila di dunia. “Taeyeon yang memecatnya. Oh ya, dimana si pendek itu?”

“Taeyeon?” Aku rasa aku belum sadar dari mabukku.

“Ne..” Yuri mencoba berhenti tertawa. “Aku tidak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit kemarin. Aku ikut untuk menjenguk ayahnya yang sakit parah. Dan disana aku bertemu Kim Youngmin. Kau harusnya datang untuk melihat reaksinya. Ekspresinya menunjukkan seolah ia rela menjilat sepatu Taeyeon. Dia bahkan menahanku saat keluar. Dia bertanya ini itu tentang Taeyeon. Aku katakan saja aku tidak tahu. Dia malah marah-marah dan mengatakan akan memecatku. Tapi lihat siapa yang dipecat sekarang. Bukankah lucu sekali?”

“Apa yang kau bicarakan?”

Yuri terdiam. “Ups! Apa Taeyeon belum memberitahumu?”

“Aku rasa dia tidak perlu memberitahukan apapun.” Orang itu bahkan tidak merasa perlu membela dirinya. Dia hanya minta maaf dan pergi. “Kami akan bercerai, Yuri-ah. Aku ingin bercerai dengan Kim Taeyeon.”

“Mwoya!” Kini giliran Yuri yang kaget. “Haruskah kau melakukannya di situasi seperti ini? Taeyeon pasti sangat tertekan sekarang. Ayahnya sekarat di rumah sakit dan kau malah ingin berpisah darinya. Mengapa kau begitu tega padanya?”

“Ya! Aku punya alasan. Harusnya kau menanyakan alasanku bukannya langsung membela orang itu.” Suaraku sedikit meninggi. Aku yang telah dibodohi. Aku yang disakiti. Tapi mengapa malah aku yang tega? “Sebenarnya siapa temanmu? Aku atau dia?”

Yuri bangkit dari duduknya. “Maaf mengatakan ini, tapi aku lebih suka berteman dengan Taeyeon dibandingkan orang egois sepertimu.”

“Ya! Kwon Yuri! Kau keterlaluan!” Aku ikut berdiri.

Joohyun menarik ujung bajuku karena merasa takut mendengar suara kami yang mulai meninggi dan kemudian menangis. “Eomma.”

“Ya! Seo Joohyun! Bisakah kau diam? Aku sedang tidur.” Jessica bangun mendengar tangisan Joohyun. Akhirnya.

“Saat ia sibuk mengurusi ayahnya yang sakit parah, ia masih memikirkanmu. Ia tidak mengajakmu ke rumah sakit dan mengurus segala hal seorang diri karena kau tidak bisa berada di keramaian. Padahal sebagai istrinya, sudah menjadi tanggung jawabmu untuk menemaninya, dan memberikan dukungan padanya. Tapi dia lebih peduli pada apa yang baik untukmu. Saat bertemu dengan Kim Youngmin, dan tahu bahwa orang itu adalah dalang yang memutus kontrakmu, ia langsung memecatnya. Dan saat ia begitu kelelahan karena mengurusi ayahnya hingga wajahnya pucat dan matanya cekung, bahkan berjalan saja ia seperti akan tumbang, ia masih mengkhawatirkanmu. Ia buru-buru pulang karena kau tidak menjawab teleponnya. Ia takut terjadi sesuatu. Dia sangat mencintaimu Fany-ah! Dan apa yang kau lakukan? Ingin berpisah darinya?” Yuri masih bicara dengan suara keras tidak mempedulikan tangisan Joohyun dan Jessica yang sudah bangun.

“Taeyeon? Melakukan apa?”

“Memang aku mengenalmu lebih lama. Tapi aku bisa melihat dan merasakan ketulusan Taeyeon terhadapmu.” Lanjut Yuri.

“Hei! Ada apa ini? Kalian bertengkar?” Jessica tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.

“Eomma!!” Joohyun menangis karena takut.

Tapi aku tidak peduli. “Apa yang kau katakan tadi? Taeyeon melakukan apa?”

“Karenamu, dia memecat Kim Youngmin.” Ujar Yuri.

“Kim Youngmin apa? Taeyeon apa?” Jessica bertanya. Dan aku yakin ia melakukannya bukan karena ia tidak mendengar yang Yuri katakan melainkan karena ia tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Sama sepertiku. “Tapi bagaimana bisa?”

“Aku baru tahu kemarin bahwa Taeyeon adalah putri tunggal Hoejang-nim Genie. Karena itu dia bisa memecat Kim Youngmin.” Jelas Yuri untuk menjawab pertanyaan kekasihnya.

“Eomma!” Joohyun menarik ujung bajuku lebih keras. Mencoba untuk mendapatkan perhatian dariku.

“Shh.. Sudah.. Tidak apa-apa.” Aku menggendong gadis kecil itu. Ia memeluk leherku dan berhenti menangis.

“Genie yang itu? Tapi bagaimana bisa?” Jessica masih melanjutkan keheranannya. “Kim Youngmin, dan Genie. Dia kan tidak bekerja di Genie.”

“Sebagian besar saham SM di beli oleh Genie beberapa tahun yang lalu. Saat itulah Kim Youngmin mendapatkan posisinya. Dia dekat dengan Hoejang-nim. Tapi karena Taeyeon tidak suka padanya, jadi si pendek itu memecatnya.” Ujar Yuri lagi.

“Aku rasa aku perlu membasuh wajahku dulu.” Jessica pergi ke kamar mandi. Kemudian ia berteriak dari dalam. “Aku akan memintamu menjelaskannya nanti.”

“Joohyun-ah, bisa kau pergi ke kamar sebentar sayang?” Aku mengusap wajahnya kemudian meletakkannya kembali ke lantai. Ia mengengguk mengerti dan pergi ke kamar seperti yang aku minta. Setelah hanya tinggal aku berdua dengan Yuri di ruangan itu, aku kembali bicara padanya. “Jadi, kau sudah bertemu dengan Kim Youngho?”

“Kim Youngho? Siapa lagi dia? Mengapa kau mengganti topik begitu drastis?” Yuri tampaknya masih merasa emosi padaku.

“Kim Youngho. Orang yang membunuh kedua orang tua Joohyun.” Jawabku sinis. Kecewa dengan perlakuan Yuri barusan. Ia begitu cepat menilaiku tanpa tahu apa yang terjadi. “Dan orang itu juga adalah ayah Kim Taeyeon.”

“Apa yang…” Yuri menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. “Kim Taeyeon? Putri orang itu?”

Aku mengangguk. “Karena itu aku ingin bercerai darinya. Karena ia membohongiku. Karena mereka menipuku. Karena mereka berencana merebut Joohyun dariku.”

Yuri menggeleng. Masih tidak percaya. “Kau pasti bercanda.”

Harusnya aku yang tidak percaya. Harusnya aku yang sulit menerima kenyataan. Aku yang mencintai Taeyeon. Aku yang telah ditipu olehnya.

Tapi.. Yuri mengatakan bahwa ia mengkhawatirkanku. Ia meninggalkan ayahnya dan buru-buru kembali karena merasa khawatir padaku. Tidakkah kini aku memiliki alasan untuk membelanya?

Tidak! Selama ini ia telah berbohong. Ia juga bisa berbohong untuk yang satu itu. Ia hanya berpura-pura di hadapan Yuri. Buktinya saat aku menangkap basah dirinya, ia tidak merasa perlu untuk melakukan pembelaan diri. Ia hanya pergi begitu saja.

“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu tentangnya?” Diluar dugaanku, Yuri masih berada di pihaknya.

“Apa kau lupa? Kim Youngho yang membunuh kedua orangtua Joohyun.” Aku kembali meninggikan suaraku.

“Benar. Kim Youngho. Ayahnya.” Yuri ikut menaikkan nada suaranya. “Dan Taeyeon tidak sama dengan ayahnya. Kau istrinya. Harusnya kau lebih tahu bagaimana selama ini Taeyeon melarikan diri dari ayahnya.”

Aku melupakan satu fakta itu. “Mungkin saja itu salah satu sandiwaranya.”

“Kau dibutakan oleh kebencian Fany-ah.”

Dibutakan kebencian? Mudah mengatakannya saat ia tidak mengalaminya sendiri. Apa aku dibutakan kebencian saat orang itu telah membunuh Eonni yang sangat aku sayangi dan disaat bersamaan membuat Joohyun menjadi yatim piatu? Aku justru buta jika tidak membenci orang itu.

“Kau tidak mengerti.”

“Benar! Aku tidak mengerti dirimu, Fany-ah!”

“Mengapa kau begitu gencar membelanya? Apa karena dia pewaris Genie? Apa karena dia lebih berguna dibandingkan seorang artis sepertiku yang tidak hanya telah kehilangan pamornya tapi juga dibenci oleh seluruh negeri?” Tuduhku.

“Kau bahkan memandang rendah diriku.” Ia tampak terluka dengan kalimatku barusan.

“Kalian benar-benar bertengkar?” Jessica yang sudah kembali dari kamar mandi menatap kami bergantian.

“Aku tidak tahu apa kau lupa atau sengaja melupakannya.” Yuri terus bicara padaku tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan Jessica. “Taeyeon begitu peduli padamu. Orang itu rela dilempari batu untuk menggantikanmu. Dia melakukannya agar kau tidak terluka. Dia juga harus berurusan dengan polisi karena menghajar orang yang ingin menyakitimu. Saat remaja ia meninggalkan ayahnya dan pergi seorang diri ke Amerika untuk menyusulmu karena ia mendengar kau diadopsi dan dibawa kesana. Apa ia juga merencanakan itu? Kau masih bersikeras mereka merencanakan semua itu untuk merebut Joohyun darimu? Dami Tuhan Fany-ah! Buka matamu lebar-lebar! Joohyun bahkan belum lahir saat ia mengejarmu hingga ke Amerika.”

Dia melakukan semua itu? Kim Taeyeon. Aku tidak tahu dengan yang terakhir tapi aku ingat jelas dengan dua lainnya. Apa yang Taeyeon lakukan untukku. Melindungiku.

“Kajja Sica-ah!” Yuri menghampiri Jessica. Ia sempat menatap sinis padaku sebelum menyeret Jessica keluar dari apartemenku. “Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan disini karena ada orang yang tidak mau mendengarkan orang lain.”

Aku masih terdiam di tempatku saat mereka telah lama pergi. Yang Yuri katakan benar. Ayahnya yang membunuh orangtua Joohyun dan Taeyeon bukan ayahnya. Meskipun ia lebih sering membuatku kesal, aku bisa merasakan setiap perhatiannya padaku. Ia menyiapkan makanan untukku setiap harinya. Saat aku mabuk, ia membuatkan minuman hangat untukku. Dan jika aku sakit, ia membuatkan obat herbal padahal lebih mudah baginya jika mengambil obat yang sudah ada di kotak penyimpanan. Dia bahkan menggantikanku mengurus Joohyun karena aku tidak memiliki keterampilan untuk merawat seorang anak. Ia memandikan Joohyun, menggantikan pakaiannya, menemaninya ke kamar kecil, juga mengajaknya bermain. Ia melakukan semua itu tanpa pernah protes sekalipun padahal aku yang bersikeras mengadopsi Joohyun namun malah tidak melakukan apapun. Dia tidak hanya mencintaiku, tapi juga Joohyun.

Ini bukan hanya alasan yang kubuat untuk menerimanya kembali kan? Ah! Aku tidak bisa begini terus. Aku harus menanyakannya langsung pada Taeyeon. Aku butuh penjelasannya. Apapun itu, meski ia berbohong, aku akan percaya padanya.

Aku mengambil ponselku dan langsung menghubungi Taeyeon. Tidak dijawab. Aku mencoba sekali lagi. Masih tidak dijawab. Kemana dia? Mengapa tidak menjawab teleponku? Apa mungkin ini masih terlalu pagi? Apa ia belum bangun?

“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Segera hubungi aku!” Aku mengirim pesan pendek padanya.

Beberapa jam berlalu. Tidak ada jawaban dari Taeyeon. Dia juga tidak meneleponku kembali. Ck, aku merasa bodoh karena masih berharap padanya. Jika yang Yuri katakan benar, jika dia peduli padaku, bukankah seharusnya ia langsung menjawab teleponku? Tapi tidak. Ia merasa tidak perlu menjelaskan apapun karena aku tidak cukup berharga baginya.

Lalu apa alasan ia melakukan semua itu jika bukan hanya sekedar sandiwara? Ia sering mengolok-olokku dan olokan terbesarnya adalah ini. Dia pasti merasa puas sekarang.

“Eomma! Dimana Taeyeon Eomma? Mengapa Joohyun tidak melihatnya seharian?” Joohyun bertanya. Sekaligus membuatku tersadar dari lamunanku.

Kami berada di dapur. Aku sedang memasak makan malam sementara Joohyun duduk di lantai dengan crayonnya. Gadis kecil itu sibuk mewarnai lantai. Aku membiarkannya karena aku sungguh merasa tidak fokus dengan segala hal yang aku lakukan hari ini. Aku terus mengecek ponselku setiap menit. Masih berharap ada balasan dari Taeyeon.

“Ouch! Shit!” Buru-buru aku memadamkan kompor saat mendapati telur di atas penggorengan menghitam dan mengeluarkan bau busuk.

Tadinya aku berencana memasak omurice karena Joohyun memintanya. Aku pikir itu tidak terlalu sulit. Aku pernah melihat Taeyeon membuatnya dan itu tampak mudah. Tapi jadinya malah seperti ini karena aku memasak sambil melamun.

Melihat aku yang panik mengurusi telur gosong, Joohyun yang ingin tahu berdiri untuk melihat apa yang terjadi. “Eomma, ada apa?”

“Eoh, Joohyuna-ah!” Aku menyingkirkan telur itu sebelum Joohyun sempat melihatnya. “Bagaimana jika kita makan sandwich saja? Eomma sangat suka sandwich tuna.”

Joohyun buru-buru menggeleng. “Joohyun tidak mau makan sandwich lagi. Kita sudah makan itu tadi siang. Sandwich tidak enak.”

Baiklah, aku akui aku tidak ahli dalam memasak. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku memiliki seorang gadis kecil yang harus diberi makan sementara aku tidak bisa membuat apapun. Aku bahkan tidak bisa membuat sesuatu yang layak.

“Apa Joohyun mau susu dan sereal?” Aku mencoba menawar. “Itu baik untuk pertumbuhanmu.”

“Hmm…” Joohyun mengerjap beberapa kali sambil memikirkan tawaranku. “Tidak bisakah kita makan sesuatu yang layak?”

Benar! Sesuatu yang layak. Bahkan anak seumuran Joohyun menyadari bahwa aku memberikan sesuatu yang tidak layak untuk ia makan. Apa aku masih pantas disebut sebagai orang tua?

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan di luar?”

“Ok!” Joohyun setuju tanpa harus memikirkannya.

“Tunggu disini sebentar. Eomma siap-siap dulu. Ne?” Aku membuka celemek yang aku kenakan kemudian pergi ke kamar untuk mengambil jaketku dan Joohyun. Setelah itu aku keluar dan menggandeng Joohyun. “Kajja!”

Aku baru saja membuka pintu saat melihat Sooyoung berdiri di depan pintu apartemenku. Ia sepertinya akan menekan bel namun terkejut karena melihatku. Penampilannya sedikit kusut seperti orang yang baru saja selesai mengantri sembako selama berjam-jam.

“Kau mau keluar?” Tanyanya saat melihat aku dan Joohyun yang sudah siap.

Aku mengangguk. “Kami mau makan di luar. Kau mau ikut?”

“Sebaiknya jangan.” Ia berjalan masuk melewati aku dan Joohyun. “Kita pesan saja. Di luar ramai sekali. Aku bahkan kesulitan untuk masuk.”

“Benarkah?” Aku menutup pintu kemudian mengikutinya dengan Joohyun yang mengekor di belakangku. “Apa yang terjadi?”

“Ada tabrak lari tadi malam tepat di depan gedung ini. Korbannya tewas di tempat. Seorang gadis muda. Identitasnya belum diketahui jadi banyak polisi di luar. Juga orang-orang yang ingin tahu. Jika kau keluar, mereka akan melihatmu.” Sooyoung duduk di ruang tamu. Ia mengeluarkan ponselnya bersiap untuk menelepon. “Joohyun-ah! Kau mau makan apa sayang?”

“Apapun selain sesuatu dengan roti, dan sesuatu dengan susu.” Jawab Joohyun. Ia langsung membuka kembali jaketnya setelah menyadari bahwa kami tidak jadi keluar.

“Kebetulan aku juga ingin pesan yang sama denganmu.” Sooyoung menghubungi restoran Jepang terdekat lalu memesan makanan untuk lima orang. Ia bahkan tidak menanyakan apa yang aku inginkan. Tidak masalah bagiku. Aku sedang tidak memiliki selera makan.

“Kau ingin minum?” Tanyaku karena ia tampaknya sangat kelelahan.

“Tidak! Terima kasih.” Ia mengayunkan tangannya. “Tapi jika kau punya soda dingin boleh juga. Aku benar-benar haus.”

Aku tersenyum kemudian mengambilkan pesanan Sooyoung. Sekaleng soda dingin. Aku memberikan minuman itu padanya dan ia menghabiskannya dalam sekali teguk.

“Eonni! Kau minum seperti ikan!” Joohyun menertawakannya.

Sooyoung meletakkan kaleng yang sudah dikosongkannya ke atas meja. “Silahkan tertawa anak muda. Tapi pastikan kau tidak akan jadi pengacara saat sudah dewasa nanti.”

“Kau pengacara?” Sindirku. Setahuku selain bermain-main di hotel milik orang tuanya, dan menjadi pengacaraku tentunya, ia tidak pernah mengurusi kasus hukum orang lain. Aku satu-satunya klien yang ia miliki.

“Aku pengacaramu.” Ia mengingatkan sambil menggeram. Namun suara geraman itu datang dari perutnya. “Aah… Aku lapar. Aku belum makan sedikitpun sejak siang.”

“Wah itu tidak biasanya terjadi.” Aku memasang ekspresi takjub.

“Aku seperti ini karena tugas yang kau berikan padaku.” Sooyoung menyandarkan punggungnya di sofa. Tampak sangat kelelahan.

“Tugas?” Aku tidak ingat memberikan tugas apapun padanya.

“Ini!” Sooyoung mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tasnya yang ia ambil dengan malas. Surat dari pengadilan tentang pengalihan aset untuk Joohyun. “Kau tidak akan menduga apa yang aku lalui gara-gara ini.”

Joohyun tertawa lagi karena menurutnya tingkah Sooyoung lucu.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku.

“Aku pergi ke kantor tim pengacara Kim Youngho. Disana aku bertemu dengan salah seorang seniorku dulu saat di Harvard. Dia pengacara junior disana. Jadi aku meminta bantuannya. Dia dengan senang hati bersedia membantuku asalkan aku juga membantunya. Dia mengatakan bahwa ia perlu pendapatku tentang suatu kasus yang ia tangani. Sebuah kasus perceraian. Karena aku pikir itu bukanlah hal yang sulit, jadi aku bersedia membantunya. Ia kemudian membawaku ke ruangannya. Ternyata disana sudah ada pasangan yang akan bercerai itu. Mereka bertengkar hebat di hadapan kami. Mereka yang akan bercerai, tapi malah aku yang stress dibuatnya.” Ceritanya. “Jika nanti kau berencana memakai pengacara untuk perceraianmu dan Taeyeon, pastikan orang itu bukan aku Fany-ah.”

Aku memaksakan diri untuk tertawa. Apa yang Sooyoung katakan sama sekali tidak lucu. Itu mengingatkanku pada Taeyeon. Mengingatkanku bahwa aku akan bercerai darinya.

“Tapi syukurlah itu tidak sia-sia.” Ia menunjukkan raut antusias seperti tadi malam. “Ini asli. Mereka sudah mengkonfirmasinya. 25 persen Genie adalah milik Joohyun. Chukkae Joohyun-ah!”

“Yeay!” Joohyun bertepuk tangan dengan gembira meski aku yakin bahwa ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Bocah itu kemudian berlarian mengitari apartemen.

“Dan aku tidak hanya mendapatkan informasi itu saja.” Sooyoung memperbaiki duduknya. Tidak lagi bersandar pada sofa. “Selama ini aku dengan susah payah menyelidiki tentang Kim Youngho. Padahal seharusnya bisa mendapatkannya dengan mudah. Itu karena aku melakukan kesalahan. Aku mencari tahu tentang Kim Youngho si gangster. Bukan Kim Youngho si chaebol. Kau ingin mendengarkan apa yang aku dapatkan?”

Aku mengangguk. “Hmm.. Katakan saja.”

“Kim Youngho! Dia tidak waras!” Sooyoung berkata separuh berbisik.

“Dia memang tidak waras.” Aku setuju dengannya. Ikut berbisik karena tidak ingin Joohyun mendengar apa yang aku katakan. “Dia bahkan tega membunuh saudaranya sendiri.”

“Ani.. Ani.. Bukan itu maksudku.” Sooyoung mengeluarkan berkas lain dari dalam tasnya. “Ini beberapa artikel yang aku kumpulkan tentang Kim Youngho si chaebol. Dia sudah dua kali masuk rumah sakit jiwa. Yang pertama saat ia masih remaja. Ia masuk rumah sakit jiwa setelah ayahnya meninggal. Yang kedua kalinya, setelah istrinya meninggal. Juga ada gosip bahwa ia membunuh dengan sadis seorang guru privat. Tapi kasus tersebut tidak sampai dibawa ke jalur hukum entah karena statusnya sebagai konglomerat atau karena memang itu hanya gosip mengada-ada.”

“Aku rasa itu bukan hanya gosip.” Aku menanggapi. “Dia juga membunuh Ilhyun Oppa dan Hyojin Eonni.”

“Aku belum selesai. Masih ada lagi.” Ujar Sooyoung. “Ayah Kim Youngho adalah pendiri Genie. Pria itu kaya raya namun meninggal di usia muda. Istrinya, yaitu ibu Kim Youngho kemudian menikah lagi dengan seseorang yang dulunya adalah supir keluarga. Orang itu adalah ayah Ilhyun Oppa. Mereka sempat hidup dalam kesulitan ekonomi selama beberapa tahun hingga kemudian Kim Youngho yang saat itu baru saja keluar dari rumah sakit mendirikan Seo Corp untuk suami ibunya. Ia bukannya bertindak sebagai investor namun memberikan seluruhnya untuk ayah tirinya. Ia mengeluarkan jumlah yang sangat banyak. Ia juga selalu membantu Seo Corp dari balik layar seperti menyuntikkan modal setiap perusahaan itu dalam kesulitan. Itu artinya sejak awal Seo Corp adalah milik Kim Youngho.”

“Apa kau mendapatkannya dari sumber terpercaya?” Aku merasa sedikit ragu dengan cerita itu karena yang Sooyoung ceritakan sama sekali tidak mirip seperti Kim Youngho.

“Tentu saja. Kau tahu, tidak ada yang bisa disembunyikan dari kehidupan seorang chaebol. Sama seperti kehidupanmu. Aku sudah mengkonfirmasinya. Ini sangat akurat.” Sooyoung tampak sangat yakin.

Tapi aku masih tidak yakin. Yang sedang kami bicarakan adalah Kim Youngho.

“Dan masih ada lagi.” Sooyoung beringsut mendekatiku. “Ini adalah bagian yang paling penting.”

Aku memperhatikan sekeliling untuk mencari keberadaan Joohyun. Gadis kecil itu tidak lagi terlihat. Mungkin ia sedang bermain di kamar. Aku ikut beringsut mendekati Sooyoung karena penasaran. “Apa?”

“Saat Kim Youngho masuk rumah sakit jiwa untuk yang kedua kalinya, ia tidak sendirian. Ada orang lain yang juga dirawat bersamanya.” Kini Sooyoung memasang ekspresi horor seperti di film hantu. “Coba kau tebak.”

“Err…” Aku tidak tahu. Apa ia sedang bermain tebak-tebakan atau bercerita?

“Kim Taeyeon.” Sooyoung mundur setelah menyebutkan nama itu. “Dia juga tidak waras.”

Kim Taeyeon?

“Jadi aku punya kesimpulan.” Lanjut Sooyoung. “Mereka membohongimu bukan untuk merebut Joohyun. Joohyun tidak berguna bagi mereka. Mereka melakukannya karena mereka gila. Karena mereka tidak waras, makanya mereka dengan kurang kerjaannya bekerja sama untuk membohongimu.”

“Ya! Choi Sooyoung! Jaga bicaramu!” Meski aku membenci Kim Taeyeon, aku tidak suka Sooyoung bicara seperti itu tentangnya. Aku tidak suka Sooyoung menyebutnya gila.

“Itu jika benar mereka menipumu.” Sooyoung tersenyum. “Melihat bagaimana reaksimu, sepertinya kau sudah berubah pikiran.”

“Aku.. Entahlah Sooyoung-ah!” Aku sendiri tidak tahu. Aku tidak bisa memutuskan dalam waktu singkat.

Jika memang benar mereka tidak berencana mengambil Joohyun, lalu apa tujuan mereka? Saat aku memintanya meninggalkanku, ia hanya minta maaf dan pergi. Saat aku menghubunginya, ia tidak menjawabnya. Ia bahkan tidak membalas pesan yang ku kirim hingga detik ini.

“Apa kau sudah mencoba menghubunginya?” Tanya Sooyoung. “Aku rasa kalian perlu membicarakan hal ini lagi.”

Aku mengangguk. “Aku meneleponnya pagi ini. Juga mengirim pesan pendek. Tapi hingga sekarang tak ada jawaban.”

“Aneh!” Sooyoung mengusap dagunya sambil berpikir. “Mungkin terjadi sesuatu padanya. Kau tahu.. Maaf Fany-ah.. Aku rasa.. Hanya kemungkinan.. Bisa jadi dia kumat.”

Kim Taeyeon. Dia tidak waras. Aku menelan kenyataan pahit itu. Berpikir ulang tentang apa yang telah aku lakukan selama ini bersama orang tidak waras itu. Selain kekanakan dan kebiasaannya yang membuatku kesal, ia terlihat seperti wanita normal. Ia juga bisa mengurus Joohyun jauh lebih baik dariku.

Bodohnya aku baru menyadari satu hal. Taeyeon tidak pernah menceritakan tentang dirinya. Dia selalu bermimpi buruk, dia memiliki trauma terhadap kegelapan, kebiasaan tidurnya yang ekstrim, ia tidak pernah memberitahukan alasan dibalik semua itu. Dan terakhir kali, saat ia pingsan di kapal pesiar. Saat ia mengatakan Eommanya meninggal. Ia juga menolak untuk menceritakkannya padaku. Apa semua itu terlalu menyakitkan baginya hingga ia tidak ingin mengungkitnya lagi?

Taeyeon juga ketakutan setengah mati terhadap ayahnya. Yah, kenyataan yang baru aku sadari saat ini. Meskipun jika ia bukan dari keluarga chaebol, meski Joohyun berguna baginya, ia tidak akan bekerja sama dengan ayahnya untuk menipuku. Karena ia takut pada orang itu.

Astaga! Aku melakukan kesalahan besar!

“Benar!” Sooyoung mengangguk. “Sialnya kau terlambat menyadari.”

“Mwo?”

“Mungkin kau merasa memikirkan hal-hal itu dalam pikiranmu. Tapi, ya! Kau mengatakannya dengan lantang.” Sooyoung tersenyum jahil. Dan “Ding dong!”

Seperti seorang cenayang, ia menjentikkan jarinya tepat dengan bel berbunyi.

“Makananku datang!” Ia berlari menyambut pesanannya dengan suka cita.

“Eomma!” Joohyun datang dengan buku gambar dan crayonnya. “Kapan Taeyeon Eomma kembali? Joohyun ada keperluan penting.”

Aku menarik Joohyun mendekat kemudian meletakkannya di pangkuanku. Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaannya. Dengan penuh penyesalan, aku juga ingin Taeyeon kembali. “Ada apa? Katakan pada Eomma.”

“Joohyun ingin dibuatkan gambar.” Joohyun membuka buku gambarnya yang kebanyakan berisi coretan berantakan.

“Sepertinya kau punya satu alasan lagi untuk membawa si pendek itu kembali. Joohyun ingin dibuatkan gambar.” Sooyoung kembali dengan bungkusan makanan memenuhi kedua tangannya. Ia memberikan satu kotak untuk Joohyun lalu pergi menjauh dengan sisanya.

Aku membukakan kotak yang diberikan Sooyoung untuk Joohyun. Isinya Kid’s Bento. Joohyun tampak senang melihat makanannya tersusun rapi. “Joohyun mau makan sekarang?”

Joohyun mengangguk. Ia meletakkan peralatan gambarnya kemudian duduk manis di atas sofa dengan makanannya. Ia mengambil sumpit dan memakan makanannya seorang diri.

Ck, anak ini mulai tampak seperti Sooyoung.

“Mana punyaku?” Tanyaku pada Sooyoung yang berada seorang diri di ruang makan.

“Jangan pedulikan aku.” Sooyoung bicara dengan mulut penuh. Ia melanjutkan makannya dengan lahap seolah hidupnya bergantung pada hal itu. Hidupnya memang bergantung pada makanan. Choi Shiksin. “Aku butuh waktu untuk sendiri. Kita lanjutkan lagi setelah aku menyelesaikan ini.”

Issh.. Padahal bukan itu yang aku tanyakan. Aku tahu ia bukannya salah dengar melainkan pura-pura salah mendengar. Agar aku tidak meminta makanannya.

Lagipula aku tidak terlalu lapar.

Sekali lagi aku mengecek ponselku. Masih tidak ada jawaban dari Kim Taeyeon. Apa ponselku rusak? Aku melirik ponsel Sooyoung yang ia letakkan di atas meja.

“Sooyoung-ah! Boleh aku pinjam ponselmu sebentar?” Tanyaku.

Sooyoung tidak repot-repot menjawab. Ia mengangkat jempolnya ke udara sambil mengangguk. Mulutnya terlalu penuh untuk mengeluarkan suara apapun.

Aku memasukkan nomor ponsel Taeyeon kemudian mencoba menghubunginya. Masih sama. Tidak ada jawaban. Aku mengulanginya beberapa kali siapa tahu Taeyeon terlalu sibuk atau tidak mendengar ponselnya berdering. Namun hasilnya nihil. Taeyeon masih tidak menjawab teleponku. Apa terjadi sesuatu?

“Siapa yang kau hubungi?” Sooyoung datang dan kembali duduk didekatku. Dia sudah selesai? Cepat sekali. Atau aku yang melewatkan waktu terlalu lama. Aku melirik Joohyun. Gadis kecil itu juga sudah selesai makan. Ia kini sedang bermain dengan kotak bentonya. Membuatnya seolah-olah kotak itu adalah.. Mesin kasir kurasa.

“Taeyeon. Dia tidak membalas panggilan juga pesanku. Aku rasa ponselku rusak.” Jawabku.

Sooyoung tertawa. “Orang itu tidak waras Fany-ah!”

“Choi Sooyoung! Aku memperingatkanmu!” Aku mengacungkan telunjukku ke wajahnya.

Ia tertawa. Membuatku menyadari ia bukan mengolok-olokku bukan karena menikah dengan Taeyeon yang tidak waras. Melainkan karena jatuh cinta pada orang yang tidak waras itu.

“Kau tahu?” Lanjut Sooyoung setelah ia menyelesaikan tawanya. “Aku tidak tahu denganmu, tapi aku lebih suka Taeyeon tidak waras dibandingkan ia bersekongkol dengan ayahnya untuk menipumu.”

Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Begitu campur aduk hingga aku sendiri tidak mengerti. Tapi jika aku dihadapkan pada dua pilihan itu, aku lebih suka dihadapkan pada kenyataan bahwa Taeyeon tidak waras.

“Karena aku rasa dia cukup baik untuk seseorang yang memiliki riwayat sakit jiwa. Dia bahkan mampu merawat kau dan Joohyun.” Sooyoung memberitahukan alasannya. “Aku memang tidak seperti Yuri yang dekat dengannya. Tapi aku tidak terlalu bodoh untuk melihat bahwa ia tulus terhadapmu.”

Dia tulus terhadapku. Aku juga bisa merasakannya hanya saja kebencianku terhadap Kim Youngho menolak untuk menerima itu. Tunggu! “Yuri dekat dengannya?”

Sooyoung mengangguk. “Ya, Yuri mengatakan bahwa mereka sering saling telepon atau mengirim pesan juga pernah keluar bersama. Dengan Joohyun juga tentunya. Taeyeon bahkan membantu beberapa pekerjaan Yuri. Benarkan Joohyun-ah?”

“Ne!” Joohyun menjawab sambil fokus untuk menegakkan sumpit di sisi kotak bentonya. “Taeyeon Eomma dan Yuri Eonni pacaran.”

“Ck, anak ini. Bukan itu maksudku.” Sooyoung menoyor kepala Joohyun dan aku memelototinya.

“Eomma!” Joohyun merengek.

Aku juga memelototi Joohyun. Dulu ia memang banyak belajar hal buruk dari Yoona, namun akhir-akhir ini semakin banyak yang mengajarinya hal buruk. Ada Sooyoung dan pastinya Taeyeon. “Karena itu Joohyun tidak boleh bicara sembarangan.”

“Kau tidak akan salah paham kan? Kau tahu kan mereka tidak begitu?” Sooyoung berubah panik seolah dirinyalah yang tertangkap basah selingkuh.

“Jangan khawatir.” Ujarku. Salah paham apa? Aku cukup mengenal keduanya hingga tahu bahwa itu adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi.

Tidak. Aku salah. Aku tidak cukup mengenal Kim Taeyeon. Aku tidak tahu apapun tentangnya. Banyak hal yang baru aku ketahui sekarang. Masa lalunya, dan siapa ayahnya. Entah apa yang aku lakukan selama hingga aku tidak mengenal istriku sendiri. Apakah aku yang terlalu mementingkan diri sendiri hingga tak peduli apapun tentang Taeyeon? Atau justru Taeyeon yang terlalu tertutup. Atau malah keduanya.

“Tapi.. Aku sungguh tidak tahu jika mereka dekat. Kapan mereka keluar bersama? Bagaimana aku bisa tidak tahu?” Tanyaku lagi pada Sooyoung.

“Kau bilang tidak akan salah paham.” Kedua bahunya turun dengan wajah yang mengatakan. “Nah! Kau salah paham!”

“Bukan itu maksudku.” Aku mencoba menjelaskan meski tidak yakin Sooyoung akan mengerti. “Dia selalu bersamaku. Aku tidak tahu dia berhubungan dengan Yuri.”

“Mereka tidak memiliki hubungan seperti apa yang ada dalam pikiranmu Fany-ah.” Seperti dugaanku, dia tidak mengerti.

“Demi tuhan Sooyoung-ah! Apapun yang kau pikirkan tentang apa yang aku pikirkan, aku tidak seperti itu!”

“Memangnya apa yang aku pikirkan?”

“Cukup!” Aku menghentikan perdebatan yang tidak berguna ini. “Intinya adalah Taeyeon dan Yuri memiliki hubungan dekat. Sekarang aku mengerti mengapa Yuri membelanya mati-matian.”

“Pastinya bukan karena dia menyukai Taeyeon.” Sooyoung tetap gigih membuatku tidak salah paham meskipun aku tidak begitu.

“Aku bertengkar dengan Yuri pagi ini Sooyoung-ah!” Ujarku. “Aku melakukan kesalahan. Aku mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.”

“Bagus!” Sooyoung bertepuk tangan dengan ekspresi yang tampak kesal. “Kau mengusir Taeyeon di malam hari, dan pagi harinya kau bertengkar dengan Yuri. Setidaknya kau harus tahu satu hal. Taeyeon tidak selingkuh dan Yuri sedikitpun tidak tertarik pada Taeyeon. Mereka hanya berteman. Tidak lebih.”

“Aku juga tidak mengatakan lebih.” Aku memutar bola mataku karena kesal dengan pembicaraan ini. “Dan bisakah kau menghentikan itu? Sedikitpun aku tidak berpikir Taeyeon dan Yuri berselingkuh. Kau satu-satunya orang yang mencoba meracuni pikiranku.”

“Eomma!” Aku melupakan bahwa Joohyun ada disana mendengarkan pembicaraan kami. “Berselingkuh itu apa?”

“Itu kata yang tidak baik sayang. Anak kecil tidak perlu tahu.” Aku mendekatinya kemudian mengusap kepalanya. Setelahnya aku memelototi Sooyoung. “Lihat! Ini karena ulahmu!”

“Menyalahkan orang lain juga tidak baik sayaang.” Sooyoung seolah-olah bicara pada Joohyun namun matanya tertuju padaku.

“Eomma!” Joohyun memanggilku lagi.

“Ne?”

“Kapan Taeyeon Eomma pulang?” Ia menanyakan pertanyaan yang sama.

Kapan Taeyeon pulang? Aku masih tidak tahu jawabannya. Aku mengusirnya, dan dia tidak bisa dihubungi. Aku masih tidak percaya jika Kim Youngho baik atau orang itu tidak terlibat dalam pembunuhan orangtua Joohyun, tapi.. Tidak peduli apakah ayahnya jahat atau baik, setidaknya aku ingin mengetahui sedikit saja kabar tentang Taeyeon. Dia tidak bisa dihubungi seharian. Dan dia.. Dia memiliki gangguan kejiwaan. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya?

“Joohyun kangen Taeyeon Eomma.” Lanjut gadis kecil itu lagi. “Tadi malam Joohyun bermimpi tentang Taeyeon Eomma. Dia memakai baju putih dan bersinar sangat terang. Taeyeon Eomma juga punya sayap seperti malaikat. Dia melambai pada Joohyun lalu terbang ke langit.”

“Aku juga bermimpi sesuatu yang mirip.” Sahut Sooyoung. Mendadak pandangannya kosong seolah kehilangan minat untuk hidup. “Seporsi besar ayam goreng yang belum sempat aku makan terbang ke langit. Padahal aku merasa lapar. Dan mereka pergi tepat di depan mataku. Tidak bisakah mereka tetap disisiku saja?”

Aku melempar Sooyoung dengan bantal sofa. “Sooyoung-ah! Aku sedang tidak mood meladenimu saat ini.”

“Mian!” Ia masih bertahan dengan ekspresi kosongnya. “Tidakkah menurutmu sebaiknya kita pesan ayam goreng?”

 

-TBC-

Blue (Part 24)

Title : Blue

Author : Mr. Lim

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Seo Joohyun

Genre : Yuri, Romance, Family, Tragedy, Crime, PG 17+

POV : Taeyeon

 

I have something to say to you

Kondisi aboeji belum juga membaik. Ia harus mendapatkan jantung baru segera atau ia akan mati. Aku tidak ingin terjadi. Aku terlalu banyak melakukan kesalahan padanya. Aku bahkan tidak tahu bahwa ia sakit parah. Selama ini aku membiarkannya melewati penyakitnya seorang diri. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan membuatnya sembuh. Pasti.

 

“Dia sudah menundanya selama sepuluh tahun. Kita tidak bisa menundanya lebih lama. Dia harus segera melakukan operasi.” Ujar dokter Lee padaku.

Dokter Lee adalah teman aboeji. Satu-satunya yang aku tahu.

“Sepuluh tahun?” Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin ia bertahan selama itu dengan jantung yang sekarat? Dan sepuluh tahun? Itu adalah waktu yang sama saat aku berada di Amerika untuk melarikan diri darinya. Dan ia sakit selama itu? “Bukankah anda bilang dia sudah menjalani operasi sepuluh tahun yang lalu?”

“Ia berbohong.” Dokter Lee menggeleng. “Bodohnya, aku baru menyadari itu setelah hasil pemeriksaan terakhir keluar. Dia tidak pernah menjalani operasi transplantasi. Waktu itu dia mengatakan akan dioperasi di Tiongkok. Aku percaya. Dan saat ia kembali, ia sudah segar bugar.”

“Sepuluh tahun?” Aku masih sulit mempercayainya. Bagaimana Aboeji melalunya selama ini?

“Sakitnya lebih lama dari itu.” Ujar Dokter Lee. “Dia mendapatkan serangan jantung pertamanya saat mengetahui ibumu meninggal.. Oh, maafkan aku. Ayahmu melarangku untuk…”

“Gwaenchana.” Selaku. Aku menarik nafas dalam saat mengingatnya kembali. “Aku ingat semuanya. Bagaimana Eomma meninggal, karenaku.. Tepat di depanku.”

“Kau baik-baik saja?” Dokter Lee menyentuh pundakku.

“Aku.. Merasa bersalah pada Aboeji.” Aku menunduk penuh penyesalan. “Aku tidak memaafkan diriku jika terjadi sesuatu yang buruk pada Aboji.”

“Jangan!” Ujar dokter Lee cepat seolah ia takut pada sesuatu. “Ia melakukan hingga sejauh ini karena ia tidak ingin kau terluka. Ayahmu sangat menyayangimu Taeyeon-ah. Lebih dari apapun.”

Pria itu benar. Aboeji begitu menyayangiku lebih dari dirinya sendiri. Aku mengingatnya. Aku tahu persis. Aku begitu mengenanlna. Dia sangat mirip denganku. Bagaimana ia berusaha keras membuatku membencinya karena suatu alasan yang baru saja aku ketahui. Karena ia sakit. Aboeji ingin aku membencinya agar aku tidak merasa kehilangan saat ia mati. Aku kehilangan Eomma, dan dia tidak ingin aku juga kehilangan dirinya. Tapi ia salah karena aku tidak akan pernah membencinya.

“Tidak pernah terasa sakit saat ia memukulku dengan cemeti. Dia tidak pernah benar-benar memukulku.” Ujarku lirih sambil mengingat masa lalu. “Aku menangis karena kecewa. Kecewa karena ku pikir Aboeji membenciku.”

“Dia tidak membencimu, Taeyeon-ah.” Dokter Lee membelanya meski itu tidak diperlukan. Aku tahu Aboeji tidak pernah membenciku. Bahkan setelah aku menyebabkan Eomma meninggal. “Setiap kali ia membuatmu menangis karena memukulmu, ia memukuli dirinya lebih keras. Aku yang mengobatinya. Luka-lukanya begitu banyak dan dalam. Seolah ia begitu membenci dirinya sendiri.”

Aku tertegun. Aku tidak pernah tahu apa yang Aboeji lakukan setelah memukulku. Ia mengurung dirinya di dalam kamar. Selama ini aku mengira ia seperti itu karena tidak ingin melihatku. Selama ini aku berpikir Aboeji membenciku.

“Ayahmu bukan hanya menyayangimu.” Lanjut dokter Lee lagi. “Dia juga terlalu protektif terhadapmu. Aku ingat saat kau kecil dulu, kau memukul salah seorang temanmu hingga masuk rumah sakit. Ia begitu ketakutan anak yang kau pukul akan membalasmu. Karena itu ia tidak ingin kau sekolah disana lagi. Ia lebih suka kau belajar di rumah. Dekat dengan pengawasannya.”

Ya, aku ingat kejadian itu. Begitu mengetahui aku memukuli seseorang, Aboeji memarahiku. Ia marah bukan karena aku memukul anak itu, tapi karena aku tidak menghabisinya. Karena aku tidak membunuh anak itu. Karena ia takut aku akan balik dipukuli jika anak itu sembuh nanti. Ck, apa yang ia harapkan dari seorang bocah delapan tahun? Sebagai seorang ayah ia mengajariku hal yang buruk hanya agar aku tidak terluka.

“Setelah itu ia menghukumku di dalam kotak. Aku ketakutan sekali.” Aku tersenyum kecut.

“Taeyeon-ah, dia tidak bermaksud..”

“Aku tahu.” Jawabku cepat. “Aku tahu Aboeji tidak bermaksud menyiksaku. Dia hanya ingin aku tidak takut lagi pada kegelapan.”

Aboeji.. Aku adalah dirinya. Jadi aku mengerti. Ingatanku yang telah kembali. Hal-hal buruk, juga ingatan tentang betapa Aboeji menyayangiku. Aku mengingat semuanya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Aboeji?” Tanyaku pada dokter Lee.

Dokter Lee menggaruk dagunya sambil berpikir. “Dia membutuhkan donor, itu benar. Namun itu bukan satu-satunya cara. Dia juga bisa memakai jantung buatan meski harganya sedikit mahal dan dia tidak bisa lagi beraktifitas seperti dulu. Masalahnya adalah, dia tidak mau dioperasi. Sejak kau pergi ke Amerika, dia tidak begitu berminat untuk sembuh. Apalagi menjalani operasi. Waktu itu aku membujuknya dan dia malah membohongiku dengan mengatakan akan dioperasi di Tiongkok. Mungkin kau bisa mencoba membujuknya. Bujuk dia untuk sembuh.”

 

Aboeji.. Seorang pria yang begitu tangguh dalam ingatanku.

Aboeji.. Seorang pria yang tidak pernah bisa aku benci bagaimanapun ia ingin aku membencinya.

Aboeji.. Dia sekarat seorang diri agar aku tidak terluka karena kehilangannya.

“Aboeji..” Aku memanggilnya. Aku menggenggam tangannya yang terasa dingin.

Ia membuka matanya. Terlihat sangat lemah dan tak berdaya. “Taeyeon-ah.”

“Dokter Lee akan menyiapkan operasi untukmu.”

Ia menggeleng. “Jangan! Aku tidak mau.”

“Aboeji..” Aku merengek. Aku tidak ingin dia mati.

“Aku masih bisa bertahan.” Ujarnya lirih. “Aku tidak akan mati. Aku hanya butuh istirahat sebentar saja. Kau pulanglah. Tidak perlu menungguku disini.”

“Aboeji, aku juga akan mati jika Aboeji mati.”

“Andwe!” Aboeji menggeleng lebih keras. “Meski terjadi sesuatu padaku, kau harus terus menjalani hidupmu. Bukankah kau memiliki seseorang yang kau cintai?”

Apa Aboeji tahu tentang Miyoung? Astaga! Miyoung. Ini sudah berapa lama? Aku belum memberi kabar apapun padanya. Dia pasti sangat khawatir. Terlebih aku pergi dengan terburu-buru. Harusnya aku membawanya tadi bersamaku. Aku belum mengenalkannya pada Aboeji. Miyoung juga belum pernah bertemu dengan Aboeji. Karena terlalu panik aku tidak berpikir untuk mengajaknya ke rumah sakit.

“Mianhe.. Aku harusnya mengenalkannya pada Aboeji.”

“Aku bersyukur kau tidak melakukannya.” Aboeji tersenyum. “Kau tidak perlu membawanya menemuiku. Hiduplah seolah aku tidak ada. Aku juga tidak akan mengusikmu.”

“Aboeji.” Aku sungguh tidak mengerti jalan pikirannya. Apa ia masih marah karena aku meninggalkannya dan mengejar Miyoung ke Amerika? Aku akui aku bersalah dalam hal itu. Karena itu aku ingin memperbaikinya. “Mana bisa aku seperti itu.”

“Kau.. Tidak membenciku?”

“Aniyeo.” Aku menggeleng. “Aku tidak pernah membencimu. Terkadang Aboeji memang membuatku takut. Tapi aku tidak membencimu, Aboeji.”

“Mianhe, Taeyeon-ah..” Ia memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Tampak begitu lelah dan kesakitan. “Aku tidak pernah menjadi ayah yang baik untukmu.”

“Aboeji adalah ayah terbaik bagiku.” Aku meneteskan air mata. Aku jauh lebih suka dipukul atau dikurung dalam peti yang gelap daripada harus melihatnya menderita seperti ini. “Akan sempurna jika Aboeji mau melakukan operasi.”

“Aku akan mati begitu masuk ke ruang operasi. Aku tidak memiliki harapan Taeyeon-ah! Kemungkinan aku mati lebih besar dibandingkan operasi itu berhasil. Begitu dadaku dibelah dan jantungku di cabut, aku akan mati.” Ia meringis saat kembali merasakan sakit di dadanya. Mungkin akibat dari terlalu banyak berbicara. “Tapi jika aku tidak melakukannya, aku masih bisa bertahan.”

“Itu sepuluh tahun yang lalu. Sekarang berbeda.” Aku terus berusaha meyakinkannya. “Peralatan medis sudah lebih canggih. Aboeji akan baik-baik saja.”

Ia tersenyum kecut. “Mungkin kau lupa. Tapi dulu aku nyaris menjadi dokter. Dan aku tahu aku tidak punya harapan.”

“Aku ingat. Aboeji.” Ujarku lirih. Nyaris putus asa untuk membujuknya. “Dan aku yakin Aboeji juga ingat waktu itu. Saat Eomma meninggal. Saat Aboeji memutuskan untuk tidak menjadi dokter karena apa yang terjadi padaku. Aku bisa melewatinya karena ada Aboeji disisiku. Tapi jika Aboeji tidak ingin melakukan operasi, dan aku harus kehilangan Aboeji juga, siapa yang akan melindungiku?”

Ia tertegun. Ia menatapku dengan kecemasan di matanya. Ia ingat saat itu. Saat yang paling sulit dalam hidupku. Saat paling sulit dalam hidup kami. Jika hari itu terulang kembali, aku tidak akan bisa bertahan hidup. Karena hal yang paling mengerikan dalam hidupku adalah kehilangan. Aku tidak bisa kehilangan Aboeji.

“Kau harus berjanji satu hal.” Ia menatapku dengan seksama. “Jika operasinya gagal, kau tidak boleh menyalahkan dirimu.”

Aku mengangguk tanpa keraguan.

 

***

 

Begitu Aboeji setuju untuk melakukan operasi, aku segera mengurusnya. Aku ingin ia segera dioperasi karena kondisinya yang begitu lemah. Aku tidak ingin terlambat dan menyesal selamanya. Aku tidak ingin kehilangan Aboeji. Aku benci kehilangan.

Aku baru saja membayar 3 milyar won untuk operasi besok saat aku melihat Yuri dibagian administrasi. Ia tampak kusut dan kelelahan. Rambut dan pakaiannya berantakan seperti baru saja keluar dari puting beliung. Bahkan ada bekas cakaran memanjang di bagian rahang hingga ke dagu.

“Yuri-ah!” Aku berlari kecil menghampirinya. Merasa senang melihat seseorang yang aku kenal di situasi sulit seperti ini.

Yah.. Aku memang kenal Dokter Lee. Aku juga kenal dengan Piljoo dan kawan-kawannya. Hanya saja mereka tidak asik. Mereka tidak seperti Yuri. Aku tidak nyaman berada di sekitar mereka.

“Eoh! Taeyeon-ah!” Yuri mengerutkan dahinya begitu melihatku. “Apa yang kau lakukan disini? Kau bersama Tiffany?”

“Uri Aboeji dirawat disini. Aku baru saja selesai mengurus administrasi untuk operasinya.” Jawabku. “Aku datang sendiri. Aku tidak bisa membawanya karena disini terlalu ramai. Aku tidak ingin kejadian terakhir kali terulang lagi.”

“Ayahmu sakit?” Tanya Yuri lagi. “Boleh aku menjenguknya nanti?”

“Tentu, terima kasih.” Aku tersenyum.

“Pasti sulit sekali.” Yuri datang mendekat untuk membantuku merapikan rambutku sementara dirinya sendiri lebih butuh untuk dirapikan. “Kau tampak berantakan.”

“Sebenarnya kau lebih berantakan.” Aku terkekeh.

“Benarkah?” Ia memperhatikan pakaiannya kemudian merapikan seadanya. “Aish.. Anak-anak itu!”

“Ada apa? Apa yang kau lakukan disini?”

Yuri menghela nafas. “Tadinya aku bertugas menemani sebuah girl group yang baru debut ke acara musik. Begitu acara selesai, aku tidak tahu bagaimana ceritanya, aku menemukan mereka sedang berkelahi dengan girl group lain. Aku mencoba melerai mereka. Sayangnya dua orang terluka. Jadi aku harus membawa mereka ke rumah sakit.”

“Kau juga terluka.” Aku menunjuk goresan di wajahnya.

Ia menyentuh luka itu kemudian mengernyit menyadari rasa yang perih. “Ini hanya goresan. Aku baik-baik saja.”

“Tetap saja harus diobati. Itu bekas cakaran kan? Siapa tahu orang yang mencakarmu itu terkena rabies. Kau mungkin saja tertular.”

“Ck, rabies apanya.” Ia tertawa. “Ngomong-ngomong, tadi Tiffany mengajak aku dan Jessica datang ke tempatnya. Juga teman-teman yang lain. Aku pikir dia mengadakan pesta atau perayaan sesuatu. Aku tidak bisa datang karena pekerjaan.”

Mungkin dia memang ingin merayakan sesuatu. Aku tersipu mengingatnya. Bagaimana ia begitu peduli padaku, bagaimana ia berjanji untuk tidak meninggalkanku. Bukankah itu pantas untuk dirayakan? “Aku rasa dia hanya bosan. Dia tidak bisa kemana-mana, dan bulan madu kami terpaksa batal karena suatu hal. Dia pasti merasa sangat bosan.”

“Mian, harusnya aku sering berkunjung.”

“Ide yang bagus!” Aku meninju pelan bahunya. “Kita bisa minum-minum sampai pagi, bermain go stop, atau menonton film. Beritahu jika kau datang. Aku akan meminjam film yang banyak.”

“Tentu aku akan datang.” Yuri tersenyum. Ia selalu memiliki aura yang membuatku terperangah tiap kali melihatnya. Ia kemudian melihat waktu di ponselnya. “Jadi, kapan aku boleh menjenguk ayahmu.”

“Oh, maaf. Aku lupa.” Aku menggaruk kepalaku. “Kajja, lewat sini.”

Aku membawanya ke lantai enam gedung rumah sakit tempat Aboeji di rawat. Kondisinya belum membaik sedikitpun jadi Dokter Lee memberikannya obat penghilang rasa sakit untuk mengurangi penderitaannya. Jadi beliau masih tertidur saat kami tiba disana.

Ada orang lain di ruangan Aboeji saat kami masuk. Selain Piljoo yang setia menjaganya, juga ada seorang pria dengan pakaian parlente disana. Sepertinya ia sedang menjenguk Aboeji.

“Sajang-nim?” Yuri yang menyapa orang itu terlebih dahulu.

“Manajer Kwon?” Orang itu tampak heran melihat Yuri datang bersamaku. Apa mereka saling mengenal? Aku tidak suka dengan orang itu. Wajahnya menyebalkan. “Apa yang kau lakukan disini? Aku dengar terjadi masalah. Mengapa kau malah berkeliaran?”

Dia memarahi Yuri. Sungguh aku tidak suka orang ini.

“Choesunghamnida, Sajang-nim. Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan temanku di bawah. Ayahnya sakit, jadi aku kemari untuk menjenguk beliau.” Yuri menjelaskan dengan kepala tertunduk karena merasa bersalah.

Aku berdiri di depan Yuri untuk membelanya. “Dia tidak salah. Aku yang mengajaknya.”

“Neo..” Orang itu memperhatikanku dari ujung kepala hingga kaki. Setelah berpikir beberapa detik ekspresinya berubah ramah padaku. Atau itu hanya perasaanku saja. “Nuguseyo?”

“Dia..” Sesaat Yuri tampak ragu untuk menjawab. “Temanku.”

“Agassi ini putri tuan Kim.” Piljo membantu menjelaskan.

“Putri Hoejang-nim?” Aku dapat melihat kilatan antusias di sudut matanya saat ia mengulurkan tanganku. “Perkenalkan. Aku Kim Youngmin. CEO SM Entertainment.”

“Dia yang memecat Tiffany.” Yuri berbisik di telinga kiriku.

“Orang ini penjilat Agassi. Dia mendapatkan posisi dengan menjilat kaki Hyung-nim.” Piljoo berbisik di telinga kananku.

Jadi aku tidak salah jika jatuh benci pada pandangan pertama ke orang ini. Dia yang memecat Tiffany. Jika bertemu lagi dengannya, aku akan menghajarnya.

“Jadi.. Apa kau sudah selesai menjenguk Aboeji?” Aku mengacuhkan tangannya yang sudah sejak tadi terulur padaku. “Jika kau tidak keberatan? Bisa tinggalkan kami? Sekarang giliran Yuri.”

“Kalau begitu baiklah. Sampaikan salamku pada Hoejang-nim.” Ia menatap Yuri dengan pandangan tidak suka. “Dan.. Yuri-ah, jika kau sudah selesai nanti, aku ingin bicara denganmu.”

“Ne, Sajang-nim.” Yuri membungkuk memberi hormat pada orang itu.

Pria yang mengaku bernama Kim Youngmin itu keluar. Aigoo.. Sungguh orang itu membuatku naik darah setelah mendengar apa yang ia lakukan pada Miyoung. Harusnya aku menghajarnya saja langsung. Tidak harus menunggu hingga bertemu lagi. Bodohnya.

“Apa yang bisa aku lakukan pada orang itu?” Aku menggeram marah.

“Ne?” Yuri dan Piljoo serempak menyahut. Sejak kapan mereka menjadi kompak begini.

“Kim Youngmin.” Aku menatap Piljoo. “Aku sangat ingin menghajarnya. Aku tidak suka padanya.”

“Hidupnya ditanganmu, Agassi.” Piljoo menjawab sambil menunjukkan senyum yang sungguh tidak cocok dengan wajahnya. “Dulu orang itu datang pada Hyung-nim dan mengaku kerabat jauh. Dengan memanfaatkan nama Kim yang ia miliki, ia meminta perlindungan pada Hyung-nim. Karena merasa tidak ada ruginya, Hyung-nim membantunya. Sejak saat itu ia memanfaatkan kebaikan Hyung-nim untuk mencapai ambisinya.”

“Ck, kau juga tidak suka padanya ya?” Tebakku.

“Tunggu! Apa ini? Apa yang baru ku dengar itu?” Yuri yang kini ekspresinya sulit digambarkan dengan kata-kata, menyelinap di antara percakapan aku dan Piljoo. “Siapa kau sebenarnya?”

“Aku Kim Taeyeon.” Aku terkikik mengira Yuri sedang bercanda. “Aigoo.. Yuri-ah!”

“Jika nona muda ini belum tahu, Agassi adalah putri tunggal Hoejang-nim. Pemilik Genie.” Lagi-lagi Piljoo yang membantu untuk menjawab. Aku akui hari ini ia banyak bicara. Aku rasa itu karena ia merasa senang Aboeji akhirnya bersedia menjalani operasi.

“Genie?” Yuri melotot. Ia menutup mulutnya. “Kau pasti bercanda.”

Aku tertawa tanpa suara. Aboeji memang pemilik Genie yang merupakan warisannya dari Haraboeji. Lalu apa masalahnya? Aboeji juga tidak peduli dengan perusahaan itu dan lebih suka mengurusi berandal-berandalnya. Karena itu ia memaksaku untuk mengurusnya. Tentu saja aku tidak mau. Aku juga punya kesibukan sendiri.

“Astaga Taeyeon-ah!” Yuri mendekat kemudian memegang kedua bahuku. “Kau bahkan bisa memecat Kim Youngmin detik ini juga.”

“Ahjussi, apa itu benar?” Aku melirik Piljoo meminta kepastian darinya dan pria itu mengangguk.

“Mengapa kau tidak pernah cerita?” Yuri melepaskanku setelah sebelumnya menepuk pundakku. “Kau dan Tiffany memang penuh kejutan.”

Aku belum memberitahukan pada Miyoung. “Dia tidak tahu. Aku tidak memberitahunya karena aku pikir itu tidak penting.”

“Ck, kau ini. Penting atau tidak, komunikasi itu sangat penting. Terlebih kalian sudah menikah. Kau tidak ingin Fany salah paham jika mendengar ini dari orang lain kan? Apakah itu masalah kecil, atau besar. Penting atau tidak. Seharusnya tidak ada yang perlu kalian sembunyikan. Ceritakan segalanya. Jika ia mendengar langsung darimu, ia akan mengerti.” Yuri memberikan nasihatnya dan itu terdengar sangat bijaksana karena Yuri yang mengatakannya.

Tapi.. Jika aku menceritakan tentang masa laluku pada Miyoung, bagaimana jika ia malah menjauhiku. “Memang aku sengaja menyembunyikan beberapa hal darinya. Itu karena aku khawatir dia akan takut padaku.”

“Cinta itu adalah menerima. Jika dia mencintaimu, dia akan menerimamu apa adanya.” Lanjut Yuri. “Yah, meski bisa dikatakan kau memiliki segalanya.”

Jika ia mencintaiku, maka ia akan menerimaku. Meski ia tahu aku telah membunuh seseorang dengan kejam? Lalu bagaimana jika aku memberitahunya, namun Miyoung tidak bisa menerimaku lagi. Bagaimana jika ia tidak mencintaiku. Kini setelah aku merasakan cintanya, aku menjadi serakah dan aku hanya ingin memilikinya. Termasuk memiliki hatinya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memberitahukan masa laluku pada Miyoung?

 

***

 

Setelah segala urusan Aboeji selesai, aku kembali ke rumah. Sebenarnya aku merasa berat meninggalkan beliau di rumah sakit. Tadi ada Piljoo yang tak pernah beranjak dari sisinya. Dan aku harus memberitahu Miyoung apa yang terjadi. Aku tidak memberi kabar apapun sejak pergi begitu saja untuk menemui Aboeji. Dia pasti cemas.

Lebih mudah jika aku meneleponnya saja. Aku sudah mencoba. Tapi tidak di angkat. Mungkin ia menaruh ponselnya di sembarang tempat. Atau ia terlalu sibuk dengan teman-temannya hingga tidak mendengar suara ponselnya.

Aku tiba di rumah setelah lewat tengah malam. Rumah sakit membuatku lupa waktu. Aku baru menyadari seberapa terlambatnya aku kembali setelah melihat lobi gedung apartemen hanya berisi petugas keamanan yang berjaga sambil mengantuk.

Lampu apartemen masih menyala saat aku masuk. Aku langsung disuguhi pemandangan tubuh-tubuh yang bergelimpangan di ruang tamu. Joohyun berada di atas sofa sementara empat tubuh lain tergeletak di lantai. Salah satunya adalah Miyoung. Mereka semua sepertinya mabuk. Tidak termasuk Joohyun pastinya. Mereka berpesta tanpaku.

Aku mendekati mereka kemudian menggendong Joohyun dengan hati-hati agar ia tidak terbangun. Aku memindahkannya ke kamar lalu kembali ke ruang tamu untuk memindahkan Miyoung. Sama hati-hatinya, aku mengangkat tubuhnya dengan perlahan.

Aku baru berhasil mengangkat kepala dan bahunya sedikit dari lantai saat aku menyadari bahwa aku tidak kuat mengangkat tubuhnya. Aku kehilangan keseimbanganku hingga terjerembab ke lantai. Kepalaku menghantam sudut meja. Rasanya sakit sekali. Sementara Miyoung yang tidak sanggup aku tahan terhempas kembali ke tempat semula. Ia terbangun.

“Ah..” Miyoung memegangi kepalanya yang terbentur ke lantai. Menyadari keberadaanku, ekspresinya berubah. “Kau!”

“Mian, Miyoung-ah!” Aku bangkit dari posisiku semula namun kembali tumbang karena tiba-tiba saja aku merasa pusing setelah terbentur tadi.

“Apa yang kau lakukan?” Miyoung menyingkirkan tubuhnya dariku.

“Tadinya aku ingin memindahkanmu ke kamar.” Aku mencoba untuk bangkit lagi lebih pelan dari sebelumnya. “Tapi aku kehilangan keseimbangan dan jatuh.”

“Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu!” Ujarnya.

Ck, dia pasti mabuk berat. Aku hanya membantingnya sedikit dan dia mengusirku. Dia imut sekali saat mabuk. “Kau mau aku buatkan teh hangat?”

“Ani..” Ia berdiri kemudian menunjuk pintu keluar. “Aku ingin kau pergi! Aku tidak ingin melihatmu lagi!”

“Hei, ada apa ini?” Aku ikut berdiri bersamanya. Sedikit sempoyongan karena masih merasa pusing. Lucu juga. Dia yang mabuk, namun aku yang tidak bisa berdiri dengan benar. “Kau mabuk.”

“Kau tidak dengar?” Ia berteriak keras. “Aku ingin kau pergi!”

Berkat teriakannya itu, Sooyoung dan Hyoyeon terbangun. Aku berani bertaruh mabuk mereka langsung hilang saat melihat aku dan Miyoung berdiri berhadapan. Mereka pasti berpikir kalau kami bertengkar. Dasar Miyoung. Lihat apa yang dilakukannya. Ia membuat teman-temannya salah paham.

“Kau membangunkan yang lain.” Aku memegang tangannya namun ia menepisnya keras. “Kita hilangkan mabukmu dulu, ne?”

“Aku tidak mabuk.” Ia menatapku dengan matanya yang berubah menjadi berkaca-kaca. Namun apapun itu, ia menahannya dengan baik. “Aku juga tidak bodoh. Aku tahu apa yang kau lakukan. Aku tahu apa yang kau rencanakan. Bagaimana? Apa kau puas?”

Ada apa ini? Jika ia tidak mabuk, lalu apa yang sedang ia bicarakan? Aku tidak mengerti. Apa ia marah padaku?

Aku melihat Sooyoung dan Hyoyeon dan mereka langsung mengalihkan pandangan mereka begitu menyadari kemana arah tatapanku. Mereka tahu. Apapun yang aku tidak mengerti ini, mereka tahu alasannya. Dan itu berarti Miyoung memang tidak mabuk. Dia benar-benar marah padaku.

Apa ia tahu aku yang telah membunuh Chaebok Ahjussi?

Dia tahu..

Dia membenciku..

“Miyoung-ah..” Aku ingin menyentuhnya, namun aku takut ia akan menolakku. “Aku bersalah. Aku minta maaf.”

“Maaf?” Ia meninggikan suaranya seiring dengan emosinya yang meluap. “Kau pikir itu adalah sesuatu yang bisa dimaafkan?”

Benar. Aku telah membunuh seseorang. Itu adalah hal yang tak termaafkan. Terlebih aku melupakannya. Aku melupakan betapa mengerikannya diriku.

Dan aku tidak bisa membela diriku. Penjelasan apa yang harus aku berikan sementara yang aku lakukan adalah hal yang begitu mengerikan. Bahkan diriku sendiri menyadari betapa mengerikan hal yang telah aku lakukan. Bagi Miyoung, aku adalah monter mengerikan. Ia pasti tidak ingin aku berada didekatnya. Aku begitu mengerikan.

“Lalu.. Apa yang harus aku lakukan?” Apa yang harus aku lakukan jika bahkan Miyoung membenciku?

“Pergilah!” Ujarnya tegas. “Aku tidak ingin kau ada dalam kehidupanku. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku membencimu!”

Aku bisa melihat dengan jelas di matanya betapa ia membenciku. Seolah itu belum cukup, ia menegaskannya secara langsung. Ia membenciku. Mengatakan itu sama saja menjatuhiku hukuman mati.

Miyoung membenciku. Aku tidak bisa melihat cinta yang tersisa dimatanya. Hanya ada kebencian. Ia sungguh-sungguh mengatakan hal itu. Baginya, apa yang aku lakukan begitu mengerikan hingga ia membenciku begitu besar. Ia tidak menginginkanku. Ia ingin aku pergi.

Maka yang bisa aku lakukan hanya pergi.

Pergi dari kehidupannya.

Untuk selamanya.

Kepalaku berdenyut-denyut dan pandanganku berkunang-kunang saat aku keluar dari gedung apartemen Miyoung. Berdiri linglung tanpa tujuan. Satu-satunya tempat yang bisa aku datangi sementara Miyoung tidak menginginkanku adalah neraka. Aku bisa pergi ke neraka. Detik ini juga.

Sebuah mobil melaju dengan kencang dengan sinar lampu yang menyilaukan mata. Aku melangkahkan kakiku untuk menghadangnya. Mobil itu tidak bisa menghindariku. Aku tertabrak dengan sangat keras. Tidak terasa sakit. Hatiku jauh lebih sakit.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Semua itu hanya kata-kata bohong.

 

-TBC-

Aphrodite! Adhæsit in Amore (Part 14)

Title : Aphrodite! Adhæsit in Amore

Author : Mr. Lim

Main Cast : Kwon Yu Ri, Kim Tae Yeon, Jessica Jung, Tiffany Hwang

Genre : Romance, Yuri

 

Tae Yeon POV

 

“Yu Ri punya pacar baru kan?” Dia tidak berhenti mengoceh sejak tadi. Sejak dari kantor manajemennya, lanjut di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju tempat Yu Ri. Dan sekarang di dalam lift, ia masih belum berhenti. “Berdasarkan sifatnya, Yu Ri tidak akan pacaran dengan gadis yang lebih buruk dari mantannya. Ck.. Dan dia sudah menemukan pacar baru secepat ini. Dia membuatku kehabisan kata-kata.”

Kehabisan kata-kata. Aku rasa itu tidak tepat. Karena kata-katanya terus mengalir dengan lancar. Aku ragu jika ia sudah melupakan Yu Ri sepenuhnya. Nyatanya ia begitu tidak rela saat mengetahui Yu Ri memiliki pacar baru.

“Mi Young-ssi, jika kau tidak siap, kau tidak harus mengantarku menemui Yu Ri.” Ujarku. “Kita bisa turun kembali ke lobi, kemudian meminta security untuk mengantarkanku.”

“Ne?” Ia berhenti sejenak dan aku yakin kini ia tengah menatapku garang. “Sudah ku katakan aku tidak keberatan melakukan ini. Aku senang bisa membantumu. Lalu mengapa malah kau yang maju mundur sih?”

Yap, aku salah menanggapi seorang wanita yang sedang kesal. Aku tahu dia sedang kesal. Seharusnya aku hanya mendengarnya dengan sabar bukannya balik mengatakan sesuatu. Sekarang kekesalannya malah tertuju padaku.

“Dengar Kim Tae Yeon-ssi, kau membuatku terlihat buruk. Aku selalu memegang kata-kataku! Jika aku katakan akan membantumu, maka aku akan membantumu. Jika aku mengatakan akan mengantarmu, maka aku akan melakukannya. Jadi kau tidak perlu merasa sungkan, tidak enak, atau apapun itu.” Lanjutnya berapi-api.

“Dan kau tidak perlu marah padaku.” Selaku sambil terkekeh. Seandainya aku bisa melihat.. Aku sungguh melewatkan sesuatu yang menarik saat menjadi orang buta padahal ada seorang gadis yang sepertinya siap mencabut nyawa Kwon Yu Ri. Sebuah kesia-sian tidak melihatnya sendiri. “Aku tidak merasa sungkan. Tapi kau yang belum bisa merelakan Kwon Yu Ri. Aku hanya mencoba menghindari pertikaian.”

“Kapan aku…? Hei, aku bersumpah sudah melupakannya. Dan itu artinya. Aku tidak peduli.” Ia terdengar ketus.

“Kau tidak peduli, tapi terus membicarakannya.” Sindirku.

Hening beberapa saat sebelum ia kembali bicara. “Bukan karena aku masih memiliki perasaan padanya. Tapi.. Kau tahu.. Dia mencampakkanku, lalu punya pacar baru. Dan aku bahkan sempat dengan bodohnya ingin mati hanya karena makhluk brengsek sepertinya. Dan.. Jika pacar barunya lebih jelek dariku, aku rasa aku akan sangat senang.”

Aku tidak dapat menahan tawaku. Jadi ini hanyalah persaingan antara dua wanita. Antara mantan pacar dan pacar baru.

“Dan jangan pernah lagi kau menyebut bahwa aku belum bisa merelakannya.” Imbuhnya. “Kalimat itu membuatku ingin muntah.”

“Arraseo.. Arraseo..”

Yu Ri. Aku mengenalnya dengan baik. Bahkan lebih dari dirinya sendiri. Ia tidak pernah serius untuk masalah wanita. Wajar jika dalam waktu yang singkat ia sudah mendapatkan kekasih baru padahal belum lama ia berpisah dengan Mi Young yang ia campakkan kemudian mencoba untuk bunuh diri. Dia brengsek. Super brengsek. Ia tidak bisa hidup tanpa wanita. Sebuah kewajaran baginya. Yang tidak wajar adalah kelakuannya. Yang tidak wajar adalah cara berpikirnya. Yang tidak wajar adalah Kwon Yu Ri itu sendiri. Dia tidak punya hati. Dia tidak bisa menghargai apa yang telah ia miliki. Dia bisa dengan mudah mencampakkan seseorang kemudian mendapatkan wanita lain. Kwon Yu Ri bisa melakukannya karena ia bukanlah pihak yang tersakiti. Si brengsek itu.. Dia memang perlu di hajar.

Aku tidak membencinya. Aku tidak pernah membencinya termasuk karena mempermainkan hati orang lain. Aku tidak pernah membencinya karena Kwon Yu Ri yang aku kenal sudah brengsek sejak awal. Mungkin aku hanya akan menghajarnya nanti.

“Aku rasa kita sudah sampai.” Ujar Mi Young setelah lift itu berhenti. “Dan… Itu dia sahabat karibmu bersama dengan pacar barunya.”

Ia membimbingku keluar dari lift. Saat aku berpikir ia akan langsung membawaku pada Yu Ri, ia menghentikan langkahnya. Aku menunggunya. Cukup lama.

“Waegureyo?” Tanyaku setelah ku rasa sudah terlalu lama kami berdiam diri disana.

“Kau benar Kim Tae Yeon-sii.” Nada suaranya berubah. “Aku benci mengakuinya, tapi kau benar. Aku belum siap untuk ini.”

Aku tertegun. Tadinya ia terdengar yakin. Belum lama ia begitu percaya diri. Namun kini ia berubah setelah melihat Yu Ri secara langsung. Aku merutuki diriku yang membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini.

“Kau tahu? Selama aku menjalin hubungan dengan Yu Ri, dia tidak pernah menatapku seperti itu.” Ia mulai terdengar gusar. “Tatapan yang begitu mengasihi, tatapan takut kehilangan. Sebuah tatapan yang tulus. Sekalipun ia tidak pernah menatapku dengan cara seperti itu.”

Benarkah? Jika aku tidak mengetahui bagaimana hubungan mereka, aku akan mengira Mi Young sedang mengerjaiku. Tapi yang ia katakan adalah sesuatu yang mustahil. Kwon Yu Ri, dan seorang gadis? Dan ia memiliki perasaan yang tulus? Jika yang Mi Young katakan benar, maka Kwon Yu Ri berada dalam masalah. Karena dia jatuh cinta.

“Kau masih mencintainya?” Tanyaku.

“Tidak! Tidak!” Jawabnya cepat seolah ia takut aku salah paham. “Aku yakin untuk yang satu itu. Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya.”

“Lalu kenapa?”

“Aku merasa seperti… Selama ini aku tahu dia tidak pernah tulus terhadapku. Aku menyadarinya dengan nalarku namun aku menolak untuk mengakuinya karena dibutakan oleh cinta. Aku tidak peduli terhadap apapun. Aku hanya menginginkannya. Aku bahkan melakukan segalanya agar ia tetap disisiku. Aku memberikan segala yang ia inginkan. Segalanya. Dan aku tetap melakukannya meski aku tahu ia tidak pernah mencintaiku. Itu membuatku merasa seperti.. Seperti…” Ia kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya. “Seperti seorang wanita murahan yang berusaha keras mengikatnya di sisiku.”

“Kau tidak begitu!” Sanggahku cepat. Ya! Mi Young tidak seperti itu. Hanya Kwon Yu Ri yang terlalu brengsek.

“Ya! Aku seperti itu.” Tambahnya. “Sialnya lagi, gadis itu terlihat tidak lebih buruk dariku. Dan dia tidak mencoba menggoda Yu Ri.”

“Berarti Yu Ri bertepuk sebelah tangan.”

“Ani!” Mi Young menghela nafas berat. “Aku pernah jatuh cinta hingga tergila-gila dan aku mengenali tatapan itu. Tatapan orang yang jatuh cinta. Mereka saling mencintai. Dengan cara yang elegan. Tidak sepertiku. Tidak seperti Yu Ri memperlakukanku.”

“Kau ingin aku menghajarnya?” Sekali lagi, aku tidak membencinya, namun sungguh aku ingin menghajarnya.

“Hmm..”

“Hmm?”

“Maksudku ya. Aku mengangguk tadi.” Jelasnya.

“Kalau begitu harus ku apakan dia?” Aku melipat tongkatku kemudian memukul-mukulkannya ke tangan yang satunya. “Kau ingin aku menjadikannya Sushi? Bibimbap? Spaghetti? Akan lebih baik jika dinikmati bersama Soju. Dan yeah! Aku mulai merasa lapar.”

“Ya, kau memang terlihat lapar.” Mi Young tertawa. Aku suka saat mendengarnya tertawa. Terasa hangat. “Gomawo, Tae Yeon-ssi.”

“Untuk apa?”

“Untuk segala hal yang kau lakukan untukku.” Jawabnya.

“Ani.. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu.” Aku tidak melakukan apapun selain merepotkannya. Justru Mi Young yang banyak membantuku. Namun aku tidak berani menyebutkannya karena dia agak sensitif dengan topik itu setiap kali aku membahasnya. “Jadi, dimana dia? Orang yang harus aku hajar itu?”

“Tepat di depanmu.” Ujarnya. Aku harap ia tidak cukup dekat untuk mendengar apa yang kami bicarakan tadi. Karena itu akan melukai harga diri Mi Young. “Kira-kira tiga puluh kaki.”

Ok. Aku rasa itu cukup jauh untuk dia bisa mendengarnya. “Apa ini lorong yang lurus? Apa ada sesuatu yang bisa menghambat jalanku?”

“Ani. Kau bisa langsung kesana. Tidak ada yang akan menghalangimu.”

“Yu Ri-ah!” Aku memanggilnya dengan suara keras. Berharap ia menjawabku agar aku tahu tepatnya dimana dia berada. Dan ia tidak menjawab. Sepertinya ia terlalu asik bermesraan dengan kekasih barunya sehingga tidak mengacuhkan panggilanku. Dasar Yu Ri. Di tempat terbuka seperti ini, apa yang dia lakukan. Aku memang tidak melihat, namun aku bisa membayangkan apa yang ia lakukan hingga tidak mendengar suaraku. Sepertinya aku harus berteriak lebih keras. “YA! KWON YU RI!”

“Tae.. Tae Yeon?” Sahutnya pelan. Namun itu cukup bagiku.

Aku berjalan menuju Yu Ri seperti yang diarahkan oleh Mi Young. Dan suara Yu Ri barusan membantuku untuk menemukan lokasinya.

“Tae Yeon-ah..” Ujarnya lagi. Aku menghentikan langkahku karena ia sudah berada tepat di hadapanku.

“Benar! Ini aku, Yu Ri-ah.” Setelah mengatakan itu, aku menusuknya dengan ujung tongkatku.

Terdengar suara Yu Ri yang tersedak kesakitan disertai jeritan melengking yang ku kenal.

“Kim… Tae.. Yeon..” Arah suara Yu Ri berubah. Kini asalnya berasal dari bawah. Apa yang dilakukannya di lantai?

“Yu Ri-ssi!” Suara itu terdengar lagi. Soo Yeon? “Apa yang kau lakukan? Dia baru saja keluar dari rumah sakit karena ditikam dan kau memukulnya di tempat yang sama. Apa kau mau membunuhnya?”

Mi young datang. “Astaga! Apa yang terjadi? Kau benar-benar menghajarnya?”

Aku panik seperti orang linglung. Aku bahkan mendengar suara Soo Yeon. “Bagaimana Yu Ri? Bagaimana keadaannya?”

“Tangannya di perban. Sepertinya patah.” Mi Young yang menjawab. “Aku rasa dia tidak bohong. Mereka baru kembali dari rumah sakit. Banyak luka lebam di tubuhnya. Dan jika yang memang dia ditikam, dan kau memukulnya di tempat yang sama, itu akan sangat buruk Tae Yeon-ssi.”

“Mengapa kau tidak mengatakan padaku kalau dia sudah babak belur?” Ujarku frustasi. Oh, tidak! Aku melukai Yu Ri. Tapi aku tidak memukulnya dengan keras. Apa karena tempat itu bekas tikaman makanya ia tumbang? Aku harap Yu Ri baik-baik saja.

“Aku tidak menyangka kau benar-benar akan menghajarnya.” Mi Young mencoba membela diri. Namun aku mendengar ada nada penyesalan dalam kalimatnya. Dia sama paniknya denganku. “Maaf, aku tidak tahu.”

Aku berjongkok sambil mencari-cari keberadaan Yu Ri. Aku menemukannya tepat di dekat kakiku. Dia masih bernafas, tapi tidak ada erangan kesakitan. Apa dia pingsan.

“Apa yang terjadi padanya?” Tanyaku.

“Kau memukulnya.” Jawab Mi Young.

Ya, aku juga tahu itu. “Maksudku mengapa dia bisa babak belur begini? Siapa yang menikamnya?”

“Dia dikeroyok preman saat membelaku.” Suara itu terdengar lagi. Kali ini aku yakin. Aku tidak mungkin salah. Itu suara Soo Yeon.

 

***

 

Yu Ri POV

 

“Tae.. Tae Yeon?”

Setelah sekian lama hilang tanpa kabar, sekarang ia muncul di depanku seperti ini. Aku tidak tahu harus bagaimana. Haruskah aku senang? Ya, memang aku merasa senang karena jujur aku merindukannya. Dan dapat melihatnya lagi tentunya membuatku senang. Tapi, harusnya aku marah kan? Setelah ia tidak menjawab teleponku, ia mengatakan bosan padaku, dan aku membuatnya terganggu. Dan semua itu ia sampaikan melalui pesan singkat. Tidakkah ia sadar bahwa itu melukaiku? Lalu ia muncul di depanku seperti ini? Apa yang ia harapkan dariku? Aku bersorak gembira kemudian memeluknya?

Ok! Aku nyaris melakukannya dan kemudian menyadari keberadaan Tiffany yang berjalan di belakangnya. Ini sungguh membuatku bingung. Tae Yeon tiba-tiba muncul, dan ia bersama Tiffany. “Tae Yeon-ah..”

“Benar! Ini aku, Yu Ri-ah.” Tae Yeon tampak marah padaku. Tapi kenapa? Bukankah ini terbalik? Namun sebelum aku sempat memikirkan pertanyaan lain, ia menghujamkan tongkatnya padaku.

Aku tersedak. Tidak sakit. Hanya kaget. Ia tidak melakukannya dengan kemarahan yang terlihat di matanya. Ia hanya memberikan pukulan pelan yang tepat mengenai perutku. Dua inchi dari luka tikaman yang nyaris membunuhku. Kemudian otakku berputar cepat. Ia datang seperti ini. Bukankah aku harus membalasnya? Dan kemudian aku menjatuhkan diriku ke lantai.

Bukannya mendapatkan respon dari Tae Yeon, malah Jessica yang berteriak histeris. Oh, ayolah! Aku sedang tidak mengerjaimu, tapi Tae Yeon.

“Kim… Tae.. Yeon..” Aku merintih pura-pura kesakitan untuk menarik perhatian Tae Yeon.

“Yu Ri-ssi!” Jessica berlutut. Ia memegangi luka di perutku dengan ekspresi ketakutan. “Apa yang kau lakukan? Dia baru saja keluar dari rumah sakit karena ditikam dan kau memukulnya di tempat yang sama. Apa kau mau membunuhnya?”

Aku mengintip Tae Yeon sedikit untuk melihat ekspresinya. Ha.. Ha.. Ia tampak panik. Rasakan itu!

Tiffany mendekat ikut-ikutan panik. “Astaga! Apa yang terjadi? Kau benar-benar menghajarnya?”

“Bagaimana Yu Ri? Bagaimana keadaannya?” Tae Yeon pasti mengira bahwa dirinya telah melukaiku. Ini sedikit menghibur juga.

“Tangannya di perban. Sepertinya patah.” Jawab Tiffany setelah memeriksa keadaanku. “Aku rasa dia tidak bohong. Mereka baru kembali dari rumah sakit. Banyak luka lebam di tubuhnya. Dan jika yang memang dia ditikam, dan kau memukulnya di tempat yang sama, itu akan sangat buruk Tae Yeon-ssi.”

“Mengapa kau tidak mengatakan padaku kalau dia sudah babak belur?” Tae Yeon mengusap wajahnya dengan gestur panik. Sepertinya ia sedang berbicara pada Tiffany. Sebenarnya apa hubungan mereka? Mengapa mereka bisa saling mengenal?

“Aku tidak menyangka kau benar-benar akan menghajarnya. Maaf, aku tidak tahu.” Jawab Tiffany.

Tae Yeon ikut memeriksa untuk memastikan sendiri bagaimana keadaanku. Ia meraba kakiku. Bagian yang sama sekali tidak sakit. “Apa yang terjadi padanya?”

“Kau memukulnya.” Aku nyaris tergelak mendengar jawaban Tiffany. Entah yang bertanya bodoh, atau justru yang memberi jawaban. Atau keduanya bodoh. Aku tidak akan tahan jika mereka terus melanjutkan percakapan seperti ini. Aku akan benar-benar tertawa.

“Maksudku mengapa dia bisa babak belur begini? Siapa yang menikamnya?” Tae Yeon mengulangi pertanyaannya untuk menegaskan bahwa hanya Tiffany yang bodoh.

“Dia dikeroyok preman saat membelaku.” Jessica menjawab sebelum Tiffany sempat melontarkan komentar konyolnya lagi.

Tae Yeon tertegun. Merasa bersalah? Ayolah! Sudah seharusnya ia merasa bersalah padaku. Menghilang tanpa kabar, melukai perasaanku. Seharusnya ia minta maaf dengan berlinang air mata. Namun ia tidak melakukannya. Ia hanya terpaku disana. Membisu.

Aku akhirnya bangkit. Tidak mungkin aku selamanya berbaring disana sementara tiga orang wanita tanpa inisiatif terus menontonku. Aku lelah. “Kim Tae Yeon, kau membosankan!”

“Kau baik-baik saja?” Tiffany kaget luar biasa. Seolah ia baru saja melihat orang mati yang bangkit dari kubur. Atau.. Mungkin itu ekspresi kekecewaan. Ku rasa ia berharap aku mati.

Dua pasang mata menatapku bengis sementara Tae Yeon sepertinya belum sadar dari rasa kagetnya. “Hei, aku hanya bercanda!”

“Kau melakukannya lagi.” Jessica memukul bahuku keras membuat Tae Yeon terperanjat. Tatapannya berubah dari bengis menjadi sedingin es. Awalnya aku berencana untuk mengerjai Tae Yeon, namun aku melakukan kesalahan. Jessica ada disana. Aku pernah menipunya sekali, dan kini secara tidak langsung aku menipunya lagi. Aku merasa dia akan membunuhku.

“Oh, ya! Kenalkan. Ini kekasihku. Jessica. Dan Jessica, ini temanku Tae Yeon.” Aku mencoba mengganti suasana untuk mencairkan tatapan sedingin es ini.

“Aku tidak..” Jessica akan bicara, namun Tae Yeon segera menyelanya.

“Annyeonghaseo Jessica-ssi.” Tae Yeon menunduk memberi salam pada Jessica sambil tersenyum kecut. Sementara Jessica tidak membalas salamnya dan justru mengalihkan tatapan dinginnya pada gadis malang itu.

“Baiklah, bagaimana jika kita lanjutkan bicara di dalam saja?” Tawarku. Kemudian aku melirik Tiffany dengan sudut mataku. “Jika kau mau, kau juga boleh ikut.”

Aku hanya menawarkan demi kesopanan karena ia datang bersama Tae Yeon. Setelah ‘tragedi’ yang terjadi di antara kami, harusnya situasi kami sangatlah canggung. Belum lagi Jessica ada disini. Semoga dia tidak salah paham padaku.

Tiffany tidak menanggapiku. Ia langsung masuk sambil membimbing Tae Yeon begitu aku membukakan pintu. Ck.. Si Tae Yeon ini. Dia tidak pernah mau saat aku mengajaknya ke Seoul. Tapi lihat dimana ia berada sekarang. Bergandengan tangan dengan super model Tiffany Hwang. Bukankah ia akan menikah?

“Jadi kau ditikam, huh?” Tanya Tae Yeon begitu duduk. Aku bahkan belum mempersilahkannya. Tiffany melakukannya menggantikanku. Ok! Aku tidak akan berburuk sangka. Dia melakukannya karena kondisi Tae Yeon. “Atau itu salah satu candaanmu juga?”

“Ya! Aku sungguh-sungguh di tikam. Mereka juga memukuliku sampai tak berbentuk.” Aku seperti ini, tapi tega-teganya ia menuduhku bercanda. Memang tadi aku mengerjainya sedikit. Apa itu keterlaluan? “Aku harus menjalani operasi karena lukanya begitu parah. Untungnya ada Jessica yang menemaniku di saat-saat sulit.”

Aku melirik Jessica yang duduk di sebelah Tae Yeon yang di sebelahnya lagi ada Tiffany. Pandangannya tidak lepas dari Tae Yeon. Apa mungkin ia marah pada pertanyaan Tae Yeon barusan? Oh ya! Aku lupa bahwa ia tidak tahu kondisi Tae Yeon. Dia tidak tahu Tae Yeon tidak bisa melihat karena itu ia marah.

Tunggu! Apa yang ia lakukan disana? Harusnya ia duduk di sebelahku, bukan Tae Yeon. Suasananya terasa janggal sekarang. Tae Yeon duduk diapit oleh kekasih, dan mantan kekasihku. Dia pasti merasa keren sekali melebihi Kwon Yu Ri.

“Bagian mana yang terluka?” Tanya Tae Yeon lagi. Sekarang ia tampak mencemaskanku.

“Satu tikaman di perutku. Satu lagi di lengan kananku.” Jawabku dan itu membuatku kembali teringat dengan pertandingan yang akan aku lewatkan.

“Lenganmu?” Ekspresi Tae Yeon berubah. Aku tahu, dia tahu. Hanya dia yang mengerti perasaanku. “Apa.. Parah?”

“Lumayan. Karenanya aku harus melewatkan beberapa pertandingan penting.” Buru-buru aku melirik Jessica karena takut ia merasa bersalah lagi. Aku tersenyum padanya, menandakan bahwa aku baik-baik saja. “Tapi nanti juga akan sembuh.”

“Siapa pelakunya?” Tae Yeon menggeram. Orang lain akan mengira dia akan membalas dendam pada orang yang menghajarku. “Bagaimana bisa?”

“Berandalan jalanan. Mungkin. Aku tidak tahu siapa mereka.” Jawabku. Aku melihat Jessica lagi dan ia sedang memegang tongkat Tae Yeon sambil menggumamkan sesuatu yang tidak bisa ku dengar. Tae Yeon yang menyadari itu menjauhkan tangannya dari Jessica. Apa ia begitu ingin tahu? Apa ia tidak pernah melihat tongkat orang tunanetra? Dia lucu sekali. Semua yang ia lakukan lucu di mataku. “Aku melihat mereka mengganggu Sica. Beruntung aku segera datang untuk menyelamatkannya. Dan pada akhirnya, mereka menghajarku hingga seperti ini.”

“Tidak seperti dirimu.” Gumam Tae Yeon. Wajahnya tertunduk lesu. Apa ia merasa kecewa karena aku mempedulikan gadis lain selain dirinya? Bukankah dia yang pertama memulai? Tidak cukup dengan menolakku ratusan kali, kemudian akan menikah, dan diakhiri dengan mengatakan bahwa ia bosan padaku.

“Begitulah ku rasa.. Dan.. Bagaimana kau bisa disini? Kau tidak pernah menyukai Seoul.” Tanyaku. Mencoba mengganti topik karena suasana hati Tae Yeon sepertinya berubah setelah apa yang aku ceritakan tadi.

Lihat! Betapa baik hatinya seorang Kwon Yu Ri. Setelah semua yang Tae Yeon lakukan, setelah sempat membuatku merasa sangat sedih, aku masih mencoba menjaga perasaannya.

“Ceritanya rumit.” Tae Yeon beringsut mendekati Tiffany. “Bisa dikatakan aku tersesat, dan Mi Young menyelamatkanku.”

“Mi.. Mi Young?” Aku tergelak. Kemudian buru-buru mengakhirinya karena Tiffany memandangiku sinis. Ia menyebutkan nama kecil Tiffany. Jangan katakan ia tidak tahu sedang duduk di sebelah siapa saat ini. Jika ia tahu ia sedang bersama seorang super model Tiffany Hwang, dia pasti langsung meninggalkan tunangannya yang kampungan itu.

Tapi tidak juga. Tae Yeon bahkan lebih memilih gadis kampung itu dibanding aku. Mungkin dia diguna-guna. Ku dengar gadis-gadis di pedesaan masih melakukan hal seperti itu.

“Aku pikir kau sibuk mempersiapkan pernikahanmu.” Sindirku. “Lalu apa yang kau lakukan di rumahku? Bukankah kau tidak mau menjawab teleponku? Bukankah kau bosan padaku?”

“Kapan aku..?” Tae Yeon mengernyitkan dahinya layaknya orang bingung. “Aku tidak bosan padamu.”

“Kau sendiri yang bilang. Kau mengirimiku sms.”

“Aku mengirimimu sms?”

“Ya, kau mengirimiku sms…” Tunggu! Tae Yeon mengirimiku sms? Tapi dia tidak pernah melakukannya. Aku merasa bodoh karena setelah sekian lama, aku baru menyadarinya sekarang. “Bagaimana caranya kau mengirimiku sms?”

“Ck..” Tiffany mencibir. Aku tahu dia sedang menyindirku. Dia pasti menyebutku bodoh di dalam kepalanya itu.

“Saat aku baru datang ke Seoul, seseorang mencuri semua barang-barangku. Termasuk ponsel. Mungkin orang itu mengutak-atik ponselku.” Jelas Tae Yeon.

“Mengapa kau baru menemuiku sekarang?” Aku ingat kejadian itu sudah agak lama.

“Itu sulit untuk dijelaskan.” Jawabnya. “Anggap saja aku baru mengetahui kalau Mi Young mengenalmu.”

“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.” Jika aku tahu lebih awal, aku tidak akan membiarkan Tae Yeon terlantar seorang diri di Seoul. Lagi pula dimana tunangannya?

“Ani..” Tae Yeon segera menyahut. “Aku menemuimu bukan karena aku ingin kau mengantarku pulang. Aku datang karena ingin meminta bantuan lain padamu.”

Bantuan lain? “Katakan saja.”

“Kau ingat sepupuku? Hyo Yeon? Kalian pernah bertemu dulu. Aku kehilangan alamatnya.” Ujarnya. “Jika kau tidak keberatan, maukah kau mencarikan alamatnya untukku?”

“Tidak masalah.” Itu memang bukan masalah bagiku. Meski sulit, jika itu untuk Tae Yeon, aku akan melakukannya.

“Tae Yeon-ssi! Kau bilang ingin mencari tunanganmu.” Sela Tiffany.

“Tidak.” Tae Yeon menjawab singkat.

“Tadi kau bilang begitu.” Tiffany bersikeras.

“Tidak.” Tae Yeon tidak kalah kerasnya.

“Tae..” Jessica akan ikut campur pada perdebatan dua orang itu, namun Tae Yeon segera melanjutkan kata-katanya.

“Mengapa aku harus mencari orang yang membuatku terpaksa pergi dari rumahku sendiri untuk alasan yang tidak aku ketahui, kemudian meninggalkan aku seorang diri di kota besar ini. Aku tidak peduli lagi padanya. Dia bisa mengurus dirinya sendiri.” Tae Yeon tampak begitu emosional. Sepertinya ia dan tunangannya bertengkar.

“Tae Yeon-ah..” Jessica terlihat takjub dengan kalimat barusan dan langsung merasa akrab.

“Aku!” Tae Yeon segera berdiri begitu mendengar Jessica menyebut namanya. “Aku.. Aku hanya ingin mengatakan itu. Jika kau menemukan alamat sepupuku, kau bisa menghubungi Mi Young. Aku bersamanya. Ayo, Mi Young-ssi. Kita pulang.”

“Tunggu!” Aku mencoba menghentikan Tae Yeon. Aku tidak tahu mengapa Tiffany begitu menurutinya dan langsung membawanya begitu saja. “Kau mau pergi? Tinggallah disini. Rumahku, rumahmu juga.”

“Aku tidak ingin mengganggumu dan kekasihmu. Ayo kita pergi Mi Young-ssi. Bukankah kau masih ada kesibukan?” Tae Yeon tampak begitu tidak sabaran untuk pergi. Dan Tiffany hanya mengangguk menurutinya.

Aku melirik Jessica yang masih duduk diam dengan ekspresi yang tidak aku mengerti. Jadi karena dia. Karena Jessica disini, Tae Yeon bersikap seperti itu. Ternyata dia cemburu juga. Tapi dia juga pengertian. Aku juga tidak ingin diganggu saat bersama Jessica.

Bukannya aku mengatakan bahwa Tae Yeon itu pengganggu. Aku tidak merasa terganggu olehnya. Aku justru senang dia datang. Kedatangannya justru menghiburku yang kecewa dan sedih karena tidak bisa ikut pertandingan. Bahkan jika ia setuju untuk tinggal, aku bisa melempar bola detik ini juga. Tapi dia sendiri yang menolak permintaan tulusku. Aku bukan orang yang egois.

 

***

 

Tiffany POV

 

“Apa itu tadi?” Aku duduk di balik kemudi mobil yang melaju membawa aku dan Tae Yeon kembali ke apartemenku. Aku membawanya pergi atas permintaannya meski aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kini ia hanya duduk diam dengan wajah yang dipasang muram. “Bukankah kau ingin meminta bantuan Yu Ri untuk menemukan tunanganmu? Mengapa malah berubah pikiran?”

Tae Yeon tidak menjawab. Hanya diam membisu di dalam pikirannya sendiri.

“Tae Yeon-ssi?” Aku memanggilnya karena ia tidak menanggapi pertanyaanku. “Kau baik-baik saja?”

“Ani..” Ia menelan ludah dengan gerakan yang tampak menyakitkan. Bahkan matanya berubah basah.

Aku menepikan mobilku kemudian memarkirkannya di pinggir jalan. Aku meraba dahinya. Tidak terasa panas. “Apa kau sakit?”

Ia menggeleng dan itu tampak lebih menyakitkan lagi. Sebenarnya bagian mana yang sakit? Apa ia tersandung sesuatu saat berjalan tadi? Apa ia menginjak sesuatu yang tajam? Aish! Harusnya aku lebih berhati-hati saat membawanya. Ia jadi seperti ini karena ku.

“Apa kau ingin aku…”

“Mi Young-ssi.” Tae Yeon menyela ucapanku. Tadinya aku ingin menanyakan apa ia ingin aku membawanya ke rumah sakit, tapi kalimatku belum sempat selesai saat ia memanggilku. “Bisa kau tinggalkan aku sendiri?”

“Ne?” Aku melihat sekeliling. Kami berada di jalanan yang ramai. “Sekarang?”

Ia mengangguk. “Jika kau tidak keberatan…”

“Ah.. Tentu.” Jawabku tanpa banyak berpikir lagi.

“Terima kasih.” Ujarnya.

Aku mengambil topi, kaca mata hitam, serta masker dari dalam laci dashbor. Aku selalu meletakkannya disana. Hanya untuk jaga-jaga siapa tahu aku membutuhkannya. Terbukti aku memang sering membutuhkan benda-benda itu.

“Jika kau sudah selesai, atau… Mungkin jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menyalakan klaksonnya. Aku berada di sekitar sini.” Kataku sambil memakai kaca mata, topi, dan masker. Aku akan bersiap keluar saat ia menghentikanku.

“Tunggu, Mi Young-ssi.” Panggilnya yang membuat pintu mobil yang sudah terbuka sebagian aku tutup kembali. “Jika seandainya Yu Ri menghubungimu, bisakah kau mengabaikannya saja?”

“Tentu.” Mengabaikan telepon Yu Ri bukan masalah besar bagiku. Jika bukan karena Tae Yeon, aku juga tidak ingin berurusan lagi dengannya.

Aku keluar dari mobil kemudian berjalan ke bagian depan. Hanya untuk memastikan bahwa Tae Yeon akan baik-baik saja di dalam sana sendirian. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah kan? Memikirkan kembali apakah bijak meninggalkan seseorang ‘seperti’ Tae Yeon di dalam mobil. Ia tidak akan kenapa-napa. Aku akan pergi ke suatu tempat sambil menunggunya, namun menghentikan langkahku. Sepertinya memang tidak bijak meninggalkannya sendirian. Bagaimana jika ada orang jahat yang masuk ke dalam mobil, lalu membawanya? Ia tidak akan tahu. Atau bagaimana jika ia terkunci di dalam dan tidak tahu harus melakukan apa. Lebih baik aku menunggunya di luar mobil.

Beberapa menit menunggu, ponselku berdering. Dari Sunny. Aku menjawabnya.

“Eodiya?” Tanya Sunny langsung begitu aku mengangkatnya.

“Aku..” Aku melihat sekeliling untuk memastikan posisiku. Tapi aku tidak begitu yakin. Aku tidak begitu mengenal nama-nama tempat dan jalanan di Seoul. “Wae? Tidak ada lagi jadwalku hari ini kan?”

“Tidak. Tapi kau harus datang besok pagi-pagi sekali ke manajemen.” Ujarnya.

Aku menghela nafas. Aku pikir besok aku libur. Padahal aku berencana mengajak Tae Yeon menonton film. “Haruskah aku datang sendiri? Tidak bisakah kau mewakiliku? Ada yang harus aku lakukan besok. Aku dan Tae Yeon akan pergi menonton film.”

“YA! Ini sangat penting! Kau akan menyesal jika tidak datang.” Ia mulai dengan omelannya. “Lagi pula untuk apa kau mengajak gadis buta itu menonton film?”

Astaga! Lagi-lagi aku lupa. Bukan. Bukan lupa melainkan lebih mengarah pada bodoh. Beruntung aku belum mengatakannya pada Tae Yeon atau ia akan tersinggung karenaku.

“Aku tidak suka kau bicara seperti itu tentangnya.” Aku mengintip Tae Yeon melalui kaca mobil untuk memastikan keadaannya.

“Maaf, aku bukan bermaksud menghinanya.” Sunny mengoreksi. “Kau mengajaknya menonton film, pada akhirnya kau yang menonton sendirian sementara dia pasti akan bosan. Jika kau ingin mengajaknya kencan, mengapa tidak makan malam saja?”

“Tadinya setelah menonton, aku juga berencana mengajaknya makan malam.” Dan kemudian aku menyadari ada yang salah setelah mendengar kikikan Sunny di seberang sana. “Aniyeo! Aku tidak mengajaknya kencan. Aku hanya bosan. Jadi aku ingin santai sedikit. Daripada pergi sendiri, lebih baik mengajaknya saja.”

“Kau juga bisa mengajakku.” Goda Sunny. “Kecuali kau berencana pergi berdua saja dengan gadis itu.”

“YA!” Wajahku berubah merah. Aku benar-benar hanya ingin refreshing. Tidak ada maksud lain. Tapi aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskan pada Sunny. Jadi aku lebih baik mengalihkan topik pembicaraan. “Ngomong-ngomong, mengapa aku harus datang besok?”

“Kau bilang ingin menyanyi. Mereka punya tawaran menarik untukmu.”

“Jinjja?” Aku nyaris berteriak karena terkejut dan juga senang. Meski aku tidak tahu apa yang mereka tawarkan padaku, tapi setidaknya aku memulainya. “Bagaimana? Seperti apa?”

“Ehm.. Aku juga tidak tahu detailnya. Makanya kau harus datang. Aku akan menjemputmu jam tujuh.”

“Oke. Sampai jumpa besok.” Aku memutus sambungan telepon.

Tae Yeon masih duduk menyendiri di dalam sana. Aku tidak tahu ia butuh waktu berapa lama. Dan disini mulai terasa dingin. Aku memeluk tubuhku sendiri karena pakaian yang aku kenakan tidak cukup tebal untuk menghalau udara dingin. Aku tidak tahu jika akan berkeliaran di luar seperti ini.

Apa yang Tae Yeon lakukan tadi cukup aneh menurutku. Sangat aneh malahan. Ia ingin bertemu Yu Ri karena ia bermaksud meminta bantuan mengenai tunangannya. Dan begitu ia bertemu Yu Ri, ia malah meminta tolong untuk menemukan sepupunya. Yang paling aneh adalah yang terakhir. Ia meminta bantuan pada Yu Ri, tapi melarangku untung menjawab teleponnya. Lalu bagaimana caranya Yu Ri membantu jika ia tidak mau aku menjawab teleponnya. Ia tidak bisa mendapat kabar apapun. Dan ia juga tidak memberikan nomor barunya pada Yu Ri agar mereka bisa lebih mudah berkomunikasi.

Lihat dirinya saat ini. Aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Satu hal yang aku tahu. Ekspresinya saat ini menunjukkan kesedihan.

Aku melihat sekeliling. Mencari sesuatu yang mungkin dapat mengubah suasana hatinya. Dan tatapanku tertuju pada sebuah toko bunga yang berada di pinggir jalan. Aku melihat Tae Yeon lagi. Sepertinya tidak akan butuh waktu lama untuk membeli seikat bunga disana. Tidak akan sampai lima menit.

Aku pergi ke toko itu dan membeli seikat bunga. Tepat setelah aku membayarnya, ponselku berdering lagi. Ch.. Kwon Yu Ri. Tae Yeon melarangku untuk mengangkatnya, jadi aku acuhkan saja. Tak mendapatkan jawaban, ia mengirimkan ku pesan teks.

Kau dimana? Aku ingin bicara pada Tae Yeon.

Aigooo.. Lihat betapa sopan dan penuh sopan santunnya seorang Kwon Yu Ri. Memangnya ia anggap aku ini apa? Bisakah ia menyampaikannya dengan cara yang lebih sopan?

Berpikir ia mungkin akan menelepon lagi, aku mematikan ponselku. Aku begitu malas dengannya. Tapi.. Jika ia ingin memberitahu masalah sepupu Tae Yeon bagaimana? Ah.. Terserah mereka saja. Aku tidak tahu. Tae Yeon sendiri yang melarangku untuk menjawab panggilannya. Aku hanya perlu menurutinya saja.

Aku kembali ke mobil dengan seikat bunga berwarna-warni di genggamanku. Aku menghirup aromanya. Wangi. Tae Yeon pasti akan menyukainya. Aku baru saja akan mengecek Tae Yeon untuk melihat apakah ia sudah selesai apa belum. Namun aku menemukan mobilku kosong. Tae Yeon menghilang.

 

-TBC-

Blue (Part 23)

Title : Blue

Author : Mr. Lim

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Seo Joohyun

Genre : Yuri, Romance, Family, Tragedy, Crime, PG 17+

POV : Tiffany

 

I know nothing, Kim Taeyeon

Taeyeon masih terlihat murung. Bukan sekedar murung, tapi ia tampak benar-benar buruk. Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu. Sejak pingsan di atas kapal pesiar, ia berubah total. Menjadi pemurung, dan tidak mau makan. Ia juga tidak mau saat aku mengajaknya ke rumah sakit. Aku khawatir padanya. Kembali teringat apa yang dikatakan Sunny bahwa Taeyeon sakit membuatku tidak hanya khawatir tapi juga takut. Takut jika ia ternyata sakit parah seperti ayahnya. Melihat bagaimana Taeyeon kini, ia memang mirip orang yang sakit parah. Ia lebih banyak melamun seolah kehilangan gairah dalam hidupnya. Jika begini, apa yang harus aku lakukan? Ia tidak mengatakan bahwa ia sakit. Ia juga selalu menolak tiap aku mengajaknya untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit.

Tapi mengapa ini terjadi tiba-tiba? Tadinya ia baik-baik saja lalu mendadak sakit. Ia bahkan tampak sangat senang. Apa karena ia kelelahan?

“Taeyeon-ah..” Aku duduk di sebelahnya yang sudah sejak beberapa jam yang lalu berselonjor di lantai sambil menyandarkan punggungnya di kaki tempat tidur. Nampan berisi bubur yang ku letakkan sedari tadi tidak disentuhnya sedikitpun. “Kau tidak makan sejak kemarin. Jika begini terus kau akan jatuh sakit.”

Sekarang saja ia sudah sakit. Kalau ia terus bertahan untuk tidak makan, ia akan semakin sakit.

Ia menolehkan kepalanya ke arahku dengan gerakan lemah. “Bisakah kau memberikan aku waktu untuk sendiri?”

Ia mengusirku. Apa keberadaanku disini mengganggunya? Membuatnya semakin merasa sakit? Tapi ini sudah berlebihan. Aku tidak bisa membiarkannya lebih lama. “Aku sudah membiarkanmu sendiri seharian. Sekarang waktunya kau untuk makan. Aku mohon Kim Taeyeon! Kau harus makan baru aku bisa meninggalkanmu.”

“ANDWE!” Ia menahan tanganku padahal aku tidak akan kemana-mana. Ekspresi kosongnya berubah menjadi ketakutan. “Kau tidak boleh pergi! Kau sudah janji kau tidak akan meninggalkanku!”

Aneh sekali. Tadi dia yang ingin sendiri. Lalu sekarang ia malah bilang aku jangan pergi. Ia sebenarnya ingin aku melakukan yang mana? Aku tidak bisa melakukan keduanya sekaligus.

“Bukankah kau ingin waktu untuk sendiri?”

“Tidak! Kau tidak boleh pergi.” Ia menarik tanganku lalu memeluknya sambil menyenderkan sebagian tubuhnya di bahuku. Seolah aku akan hilang jika ia tidak melakukannya.  Aku merasakan tubuhnya yang panas. Dia demam. “Kau tidak boleh kemana-mana. Kau disini saja.”

Aku tersenyum kecil. Setidaknya ia tidak mengacuhkanku lagi. “Aku tidak akan kemana-mana. Tapi kau harus makan.”

“Tapi aku tidak lapar.” Ia semakin erat memeluk lenganku.

Dengan tanganku yang bebas, aku mengelus genggamannya pada lenganku. “Kau makan bukan hanya karena kau lapar. Tapi juga karena kau harus makan. Jika kau tidak makan kau akan tambah sakit. Aku tidak ingin terjadi sesuatu buruk padamu.”

Ia mengangguk mengerti. Akhirnya. Ia duduk dengan benar kemudian melirik makanannya dan kembali berubah enggan.

“Kenapa?”

“Kau membuatkan bubur ini untukku?” Tanyanya.

Aku mengangguk. “Oh, ya. Ini sudah dingin. Aku akan menghangatkannya dulu.”

“Tidak usah.” Ia menghentikanku. “Aku makan nanti saja.”

Ini seperti ia sengaja main tarik ulur denganku. Bahkan menyuruh Joohyun makan saja tidak sesulit ini. Aku memelototinya sambil bersidekap namun ia tidak bergeming sedikitpun. Aku kehabisan cara untuk menyuruhnya makan.

“KIM TAEYEON! Jika kau tidak makan, kau akan….”

“Aku tahu. Aku akan sakit.” Selanya. Ia kemudian beringsut agar berhadapan denganku. “Tapi… Pernahkah kau merasa jijik dengan dirimu sediri? Begitu jijiknya hingga kau merasa mual bahkan hingga airpun tidak akan bisa melewati kerongkonganmu?”

Aku tertegun. Apakah ini tentang diriku? Apa aku melakukan suatu kesalahan? Atau ia justru sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Aku merutuki diriku yang terlalu bodoh untuk langsung mengerti dengan ucapannya.

“Apa yang kau ingat tentang ibumu?” Tanyanya beberapa saat setelah aku hanya tertegun tak mengerti.

Sebuah pertanyaan lain yang membuatku semakin terpaku. Eomma? Aku tidak tahu apapun tentangnya. Apakah ia menginginkanku atau tidak, apakah aku dibuang, hilang, atau ia telah meninggal dunia. Dulu aku memang sering memikirkan hal ini. Melihat anak-anak lain yang sebaya denganku saat itu tertawa dan merengek kepada Eomma mereka sering membuatku iri. Tapi itu sudah bertahun-tahun berlalu. Aku tidak lagi peduli.

“Aku telah melupakan Eommaku selama bertahun-tahun lamanya.” Matanya basah penuh dengan air mata namun tak setetespun yang jatuh. “Aku melupakan wajahnya, aku melupakan bagaimana ia menyayangiku. Aku melupakan segala hal tentangnya seolah ia tidak pernah ada.”

Jadi karena ini. Iyakah?

“Dan pada saat kenangan tentangnya kembali, ia telah meninggal dunia. Aku baru menyadarinya setelah ia meninggal bertahun-tahun yang lalu.” Lanjutnya.

Err… lagi-lagi aku tidak mengerti dengan apa yang ia maksud sesungguhnya. Ia tidak ingat, lalu kenangan itu kembali. Apakah aku yang terlalu bodoh ataukah Taeyeon yang begitu sulit untuk dimengerti. Bukan salahnya jika ia tidak ingat dengan Eommanya jika wanita itu meninggal saat ia masih sangat muda dan belum mampu untuk mengingat apapun. Yang tidak aku mengerti adalah bagaimana bisa ia tiba-tiba ingat dengan sesuatu yang tidak pernah ia ingat? Apa ia menderita amnesia? Tapi ia ingat padaku. Tidak mungkin ia hanya lupa pada Eommanya.

“Eomma sudah meninggal Miyoung-ah.” Pada akhirnya airmatanya tumpah tak tertahankan lagi. “Seperti baru saja terjadi. Kejadiannya tepat di depan mataku. Semua ini salahku. Aku membuatnya meninggal.”

Kehilangan seorang ibu, aku tidak mengerti perasaan itu karena aku tidak pernah memilikinya. Tapi aku lebih tidak mengerti Taeyeon. Kami berada di atas kapal. Bersenang-senang menikmati bulan madu kami dan tiba-tiba saja ia sakit dan sikapnya berubah. Jika semua itu terjadi karena ibunya meninggal, aku semakin tidak mengerti lagi. Ia sedang tidak menelepon atau menerima kabar dari siapapun. Lalu bagaimana bisa ia pingsan karena ibunya meninggal?

“Taeyeon-ah!” Aku mengelus kepalanya, lembut. Meski tak mengerti dirinya, tidak mengerti sedikitpun tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya seperti ini, aku tetap sangat ingin menghiburnya. Melihatnya larut dalam kesedihan adalah kesedihan tersendiri bagiku. Air matanya adalah air mataku juga.

Selama beberapa saat aku tertegun. Diam memikirkan kalimat apa yang paling tepat untuk aku katakan selanjutnya. Bagaimana bisa aku mengetahui kalimat apa yang bisa menghiburnya sementara aku tidak mengerti apapun? Ini begitu sulit. Taeyeon terlalu sulit untukku. Taeyeon terlalu sulit untuk ku mengerti.

“Apa kau tahu? Aku sangat bodoh dan lamban.” Ujarku setelah sekian lama memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan untuk menghiburnya namun tidak menemukan apapun. “Meskipun begitu, aku harus mengakui bahwa aku cantik.”

Taeyeon memalingkan wajahnya menatapku sambil tersenyum kecil. Membuatku merasa sedikit lega karena pada akhirnya ia tersenyum meski sedikit.

“Karena aku sangat bodoh dan lamban, bisakah kau menjelaskannya padaku? Jujur aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi.” Lanjutku. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan bersikap jujur padanya. Aku hanya bisa berharap apa yang akan aku katakan selanjutnya tidak membuat suasana hatinya kembali memburuk. “Aku tahu kau merasa sedih karena kehilangan ibumu. Aku tahu kau mungkin saja tidak ingin mengungkitnya berulang-ulang. Tapi… aku yang bodoh ini sungguh tidak mengerti. Aku ingin menghiburmu. Aku ingin lebih mengenal dirimu karena aku merasa tidak tahu apapun tentangmu. Aku ingin berbagi kebahagian dan juga kesedihan denganmu. Sekali lagi, aku benar-benar ingin menghiburmu. Tapi apa yang bisa aku lakukan saat aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Kita berada di kapal pesiar, aku memelukmu… dan tiba-tiba saja kau sudah seperti ini. Lalu kau mengatakan bahwa ibumu meninggal dan itu yang membuatmu sangat sedih. Yang aku tidak mengerti adalah… bagaimana bisa?”

“Kau egois.” Ujarnya. Dan itu sempat membuatku berpikir bahwa ia merasa tersinggung dengan pertanyaanku hingga ia menunjukkan senyuman yang semakin banyak sambil membelai wajahku. Membuatku semakin tidak mengerti dengan dirinya. “Dan aku lebih egois lagi karena tidak ingin membagi ini denganmu.”

Aneh. Itulah Taeyeon. Semakin lama aku mengenalnya, semakin banyak pula keanehan yang aku temukan pada dirinya. Saat aku ingin tahu lalu menanyakannya secara langsung, ia mengatakan bahwa aku egois. Tapi, saat aku diam dalam pikiranku sendiri, aku nyaris kehilangannya.

Tidak ingin membaginya denganku. Aku sadar bahwa itu adalah haknya. Aku tidak boleh memaksanya jika ia tidak ingin mengatakannya. Tapi aku sudah terlanjur terpukul dengan kata-katanya barusan. Aku merasa selama ini sudah terlalu besar kepala bahwa ia tergila-gila padaku, bahwa ia tidak bisa hidup tanpaku, bahwa ia sangat mencintaiku sehingga rela mengorbankan dirinya. Kenyataannya adalah ia membangun batas antara aku dan dirinya. Ia tidak cukup mempercayaiku hingga mau membagi kesedihannya, kenangannya, atau apapun itu.

“Aku takut…” Ia melanjutkan kata-katanya seolah tercekat. Seperti ada sesuatu yang tajam mengganjal tenggorokannya hingga bicara menjadi begitu sulit. Membuatnya kembali berlinang-linang. “Jika kau tahu siapa aku… aku takut… aku takut kau akan meninggalkanku.”

“Oh… sayang.” Aku menariknya ke dalam pelukanmu. Mengelus perlahan kepalanya yang aku benamkan di bahuku. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Ia terlihat begitu hancur dan terpuruk. Tidak peduli betapa aneh sikapnya. Sebentar tampak bahagia, lalu pingsan dan kemudian menjadi begitu sedih. Atau sebentar tersenyum lalu beberapa detik kemudian menangis. Dari awal aku mengenalnya ia sudah aneh. Dan seolah sudah terbiasa dengan itu, aku tidak peduli lagi dengan keanehan itu. Yang bisa aku lihat saat ini hanya Kim Taeyeon yang rapuh. Kim Taeyeon yang membutuhkanku. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Aku tidak akan pernah meninggalkannya. Kata-kata itu keluar bukan hanya karena aku ingin membuatnya merasa lebih baik. Bukan untuk menghiburnya. Namun itulah yang aku yakini. Aku tidak akan pernah meninggalkannya karena aku tidak ingin meninggalkannya. Karena bukan hanya dia yang membutuhkanku. Aku juga membutuhkannya.

Ia menarik dirinya menjauh kemudian menatapku dengan matanya yang sembab. “Tidakkah kau takut padaku?”

Aku menggeleng yakin. Ia memang membuatku takut, namun itu adalah ketakutan yang berbeda. Aku takut ia terluka, aku takut ia sedih, aku takut ia tidak berada di sisiku lagi. Kebiasaannya yang membuatku takut. Kebiasaannya yang membuatnya sering berada dalam bahaya. Bukan takut pada dirinya.

“Kau akan takut padaku.” Ia memalingkan wajahnya.

Mungkin aku tidak mengerti dirinya. Mungkin ketidak mengertian itu membuatku begitu penasaran. Tapi apakah yang lebih penting bagiku? Rasa penasaranku atau dirinya? Jika rasa penasaranku malah membuatnya tenggelam dalam kesedihan dan ketakutan, atau justru membuatnya menjauh dariku. Masa bodoh dengan keingin tahuanku. Aku tidak lagi peduli. Ia ingin menyimpannya seorang diri. Mungkin itu yang terbaik.

“Ya! Kim Taeyeon!” Aku menyentuh dagunya, memaksanya untuk kembali menatapku. “Yang paling aku takutkan saat ini adalah terjadi sesuatu yang buruk padamu. Lebih menakutkan bagiku kau tidak mau makan kemudian jatuh sakit dibandingkan apapun itu yang ada di dalam kepalamu. Kau tahu? Aku ketakutan setengah mati saat kau tiba-tiba tidak sadarkan diri di atas kapal. Aku pikir… aku pikir kau mati.”

Ia menyeka air matanya sendiri agar bisa menatapku lebih jelas. Aku harap bisa mengurangi kegelisahannya. Aku harap aku bisa lebih memahami dirinya.

“Jadi bisakah….” Aku meraih tangannya kemudian meletakkannya di dadaku. “Bisakah kau melihat bahwa aku ada disini? Kau tidak ingin aku meninggalkanmu, tapi bisakah kau juga peduli padaku? Jangan buat aku ketakutan karenamu. Kau hanya perlu makan dan aku tidak akan bertanya macam-macam lagi.”

Ia termenung mendengarnya. Beberapa saat hanya menatap ujung jemarinya yang pucat. Apa yang ia pikirkan? Aku begitu ingin tahu namun tidak ingin mendesaknya. Entah mengapa aku merasa bahwa ia berada di ujung genggamanku. Begitu mudah lepas dan kemudian aku akan kehilangannya.

Tepat saat ia akan membuka mulut, ponsel yang ia letakkan di atas ranjang berdering. Ia meraihnya kemudian membaca nama yang muncul di layar dengan wajah mengernyit.

“Ne, Ahjussi?” Ujarnya saat menjawab panggilan itu. Kemudian ia mendengarkan orang di seberang berbicara. Ia tercenung. Raut mukanya saat ini menunjukkan bahwa apapun yang orang itu katakan, itu bukanlah sesuatu yang ingin didengarnya.

Aku mendengarnya dengan seksama. Namun tidak menangkap apapun selain suara samar seorang pria dari dalam ponselnya. Aku tidak bisa mendengar satu katapun dengan jelas. Sementara Taeyeon hanya terdiam. Khawatir?

“Miyoung-ah!” Ia bangkit setelah selesai menelepon. “Aku harus pergi sekarang.”

“Sekarang?” Aku ikut berdiri karena agak kaget dengan sesuatu yang terasa begitu mendadak. Pergi? Sekarang? Apa yang begitu penting hingga ia harus pergi dalam kondisinya yang seperti ini? Ia sedang tidak sehat. “Kemana?”

“Aboeji…” Matanya liar. Tampak tidak fokus. “Aku harus… aku… Aboeji… aku harus menemui Aboeji.”

“Aku akan mengantarmu.” Aku memegang tangannya. Jika ini tentang ayahnya, aku harus ikut. Ini bukan tentang kami yang telah menikah namun aku belum pernah bertemu dengan ayahnya. Melainkan karena aku merasa bahwa aku harus melindungi Taeyeon dari ayahnya. Memang aku tidak mengenal orang itu. Tapi Taeyeon melarikan diri dari ayahnya, ia selalu minta maaf pada ayahnya dalam mimpi-mimpi buruknya. Aku hanya mengikuti intuisiku untuk melindungi Taeyeon. Dari ayahnya.

“Ani.. Aku akan pergi sendiri.” Ia menyingkirkan genggamanku darinya lalu pergi begitu saja tanpa menungguku. Ia bahkan tidak membawa apapun selain ponsel di tangannya.

“Taeyeon-ah!” Panggilku.

Taeyeon tidak peduli. Ia berjalan cepat keluar dari apartemen. Butuh beberapa menit bagiku untuk tersadar bahwa yang seharusnya aku lakukan adalah mengejar Taeyeon. Ia sedang sakit. Ia tidak boleh pergi sendiri. Terlebih pergi menemui ayahnya.

Begitu sadar, aku bangkit, menyambar kunci mobil, dan kemudian berlari mengejarnya. Taeyeon baru saja tepat memasuki lift saat aku keluar dari apartemen. Segera aku menaiki lift lain untuk menyusulnya.

Gila! Ini gila atau hanya aku yang terlalu lamban dan bodoh. Ia berada tepat di depanku dan aku bahkan tidak bisa menghentikannya. Pergi sendirian dalam kondisi seperti itu akan sangat berbahaya. Dan gilanya lagi aku tidak sempat menutupi wajahku saat mengejarnya ke jalanan. Sial bagiku karena aku tidak berhasil mengejarnya. Aku tidak bisa menemukannya di luar sini. Bagaimana ia bisa begitu cepat? Dan itu berubah menjadi kesialan berganda saat keramaian mulai menyadari keberadaanku. Aku tidak bisa lebih lama berada disini. Aku harus segera kembali masuk ke gedung.

Sambil berlari putus asa, aku turun menuju basement parkir untuk mengambil mobilku. Berharap aku mampu mengejar Taeyeon yang aku tidak tahu pergi kemana. Saat aku tidak yakin mampu menyusulnya, disana aku melihat Taeyeon. Ia berjalan terburu-buru menuju sebuah van berwarna gelap. Ia masuk di bagian penumpang, kemudian disusul oleh seorang pria berwajah tidak bersahabat.

Meski sekilas, aku mampu menangkap sosok pria itu. Juga mengenali wajahnya dengan baik. Pria itu adalah salah satu orang yang biasa mengekor Kim Youngho.

Aku tidak bisa untuk tidak berburuk sangka jika itu menyangkut apapun tentang Kim Youngho. Orang jahat itu.. Aku begitu membencinya. Setelah membawa Joohyun dan belum mengembalikannya hingga saat ini, sekarang ia berani-beraninya membawa Taeyeon. Ia seperti sengaja mencari masalah denganku. Ia sengaja mengusikku. Lihat saja! Aku tidak akan diam saja. Aku akan menyelamatkan Taeyeon, sekaligus mengambil Joohyun kembali.

Secepatnya aku menuju mobilku yang terparkir agak jauh dari tempat itu. Aku tidak ingin kehilangan jejak mereka. Orang-orang itu tampak seperti penjahat. Sejak dulu Kim Youngho dan pengikutnya memang terlihat seperti gangster. Tidak akan ku biarkan mereka menyakiti Taeyeon. Terlebih karena aku.

Mereka memacu mobil dengan cepat. Entah karena mereka menyadari bahwa aku mengikuti mereka atau karena mereka memang terburu-buru. Haruskah aku menghubungi polisi karena mereka jelas-jelas telah melakukan penculikan pada Taeyeon? Namun aku mengurungkan niatku. Aku teringat dengan penyelidikan Sooyoung tentang pembunuhan Ilhyun Oppa. Polisi memutuskan itu adalah kecelakaan padahal Ilhyun Oppa dibunuh oleh Kim Youngho. Mungkin saja waktu itu ia lolos karena menyuap polisi. Tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan melakukannya lagi. Jadi tidak ada gunanya aku menghubungi polisi.

Sendirian, aku mengikuti kemana mobil itu membawa Taeyeon. Mereka berhenti di sebuah rumah sakit. Aku tidak memikirkan alasannya. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin Taeyeon baik-baik saja. Aku harus cepat menyelamatkannya sebelum mereka melakukan hal buruk pada Taeyeon.

Setelah memarkirkan mobilku seadanya, aku melangkah cepat untuk mengejar mereka. Pria berwajah seram berjalan di depan, kemudian Taeyeon yang diapit oleh dua pria lainnya. Gadis malang itu bahkan tidak mampu melakukan perlawanan. Orang-orang itu begitu menakutkan hingga ia tidak punya pilihan selain mengikutinya. Atau mungkin mereka sudah mengancamnya.

Aish.. Mengapa mereka cepat sekali? Aku nyaris kehilangan mereka. Bagaimana mungkin Kim Taeyeon dengan kaki pendeknya berjalan begitu cepat? Apakah mereka menyeretnya?

Separuh berlari, aku mengejar ke empatnya. Karena terburu-buru, aku tidak memperhatikan keadaan sekitar dan menabrak seorang perawat pria yang muncul dari sebuah lorong. Pria itu terdorong hingga menabrak dinding dan jatuh ke lantai. Ia memegangi kepalanya yang membentur tembok sambil meringis.

“Oh.. Cheosonghamida.. Cheosonghamida..” Aku bergegas membantunya untuk berdiri. “Apa anda terluka?”

“Ya!” Ia meneriakiku sambil mencoba berdiri. Ia terlihat akan marah padaku namun begitu melihat wajahku, ekspresinya berubah. “Tiffany Hwang!”

Dia mengenalku. Tidak menutup kemungkinan orang lain juga akan segera mengenaliku. Aku harus pergi dari sini segera. Terlebih aku tidak bisa berlama-lama agar tidak kehilangan Taeyeon.

“Sekali lagi aku minta maaf.” Aku membungkuk serendah mungkin padanya. “Kalau begitu aku permisi. Maaf.”

Aku akan kembali mengejar Taeyeon tapi mereka tidak lagi terlihat. Aku melihat kearah mana mereka pergi, jadi aku mencari di sekitar tempat terakhir kali aku melihatnya. Mereka tidak ada. Seolah lenyap tanpa jejak.

Sial! Seandainya aku tadi lebih berhati-hati, aku tidak akan menabrak seseorang dan tentunya aku tidak akan kehilangan jejak Taeyeon. Sekarang aku tidak tahu harus mencari Taeyeon kemana. Rumah sakit ini begitu besar dan orang-orang mulai menatap sinis padaku seolah mereka akan menelanku hidup-hidup seandainya aku mendekati mereka.

Aku sedang berlarian panik mencari keberadaan Taeyeon saat aku melihat Joohyun. Gadis kecil itu sedang duduk di bangku rumah sakit ditemani oleh seorang pria yang tampak seperti bandit. Pasti Kim Youngho yang membawanya kemari. Itu juga alasan mengapa ada bandit di samping Joohyun. Bukankah ia mengatakan ingin jalan-jalan? Atau itu hanya alasan untuk mengambil Joohyun dariku.

“Hyunnie..” Panggilku pada Joohyun. Aku menghadiahkan tatapan penuh kebencian pada pria bandit itu kemudian berjongkok di depan Joohyun. “Apa yang uri Joohyun lakukan disini?”

“Eomma!” Melihatku, Joohyun bersorak girang. Ia melompat dari tempat duduknya dan langsung memelukku.

“Aigooo… Uri Joohyun begitu merindukan Eomma-nya.” Sambil menggendongnya aku berdiri.

“Eomma, Joohyun tidak jadi jalan-jalan.” Ia mengadu dengan wajah sedih. “Samchon sakit. Katanya dadanya sakit. Neomu appo.”

Benarkah? Jadi penjahat itu bisa sakit juga.

“Apa Eomma datang untuk menjemput Joohyun?” Tanyanya kemudian. “Taeyeon Eomma juga datang. Joohyun panggil-panggil, tapi dia lewat saja dan langsung menjenguk Samchon. Lalu Eomma datang.”

Taeyeon? “Taeyeon Eomma disini?”

Joohyun mengangguk. “Dia masuk ke kamar Samchon.”

Joohyun menunjuk sebuah pintu ruang rawat yang tak jauh dari tempat kami berada. Aku melihat pintu itu. Jadi kesana mereka membawa Taeyeon.

Aku menurunkan Joohyun kemudian membimbingnya bersamaku. “Kita ke tempat Taeyeon Eomma?”

“Ne!” Joohyun mengangguk.

Aku dan Joohyun mendekati pintu itu. Pria bandit yang bersama Joohyun tadi hanya berdiri dan mengawasi kami dari jauh. Ia sepertinya mengenaliku karena itu ia membiarkanku.

“Agassi, tuan Kim terus menyebut nama anda saat tidak sadarkan diri.” Terdengar suara seorang pria saat aku membuka pintu ruangan itu sedikit. Tadinya aku berencana untuk langsung masuk. Namun suara orang itu menghentikanku.

Aku melihat melalui celah pintu yang belum terbuka sepenuhnya. Beberapa orang pria berstelan hitam berada di ruangan itu. Juga Taeyeon. Ia berdiri di sisi ranjang seseorang yang sepertinya dengan sekarat. Butuh waktu beberapa detik sebelum aku mengenali bahwa itu adalah Kim Youngho.

Taeyeon semakin mendekati Kim Youngho. Ia duduk di pinggir ranjang kemudian menggenggam tangan pria itu. “Aboeji..”

Aboeji?

“Aboeji.. Maafkan aku..” Ia mencium tangan yang digenggamnya, kemudian terisak.

Aku mundur beberapa langkah. Tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Aboeji? Taeyeon baru saja memanggil pria jahat itu dengan Aboeji. Apa artinya ini? Kim Youngho. Kim Taeyeon. Dua orang itu adalah ayah dan anak. Aku tidak mungkin salah paham. Apa yang ku dengar barusan sudah cukup jelas. Dan kini jika aku pikirkan lagi, wajah mereka berdua memang mirip. Tapi kenapa?

Kenapa Taeyeon berbohong padaku? Kenapa Taeyeon tidak pernah menceritakannya padaku? Ia tahu betapa aku membenci Kim Youngho. Ia tahu bahwa pria itu adalah orang yang membunuh kedua orangtua Joohyun. Ia tahu dan… Ia memintaku untuk melupakannya. Melupakan kebencianku pada orang itu. Kini aku mengerti. Jadi ini alasannya. Ini alasan mengapa ia membela Kim Youngho. Karena pria itu adalah ayahnya.

Aku menatap Joohyun. Gadis kecil itu tidak tahu apa-apa. Ia masih begitu muda dan polos. Ia tidak menyadari telah dimanfaatkan oleh orang-orang dekatnya. Kim Taeyeon. Kim Youngho. Aku membenci keduanya. Mereka mempermainkan Joohyun. Mereka mempermainkanku. Mereka memainkan drama yang apik untuk membodohiku.

Jika diingat-ingat lagi, semua yang terjadi selama ini mulai terasa janggal. Bagaimana seseorang yang baru aku temui setuju untuk menikahiku, saat hak asuh Joohyun jatuh pada aku dan Taeyeon. Mereka ingin mengambil Joohyun dariku. Mereka merencanakan ini semua untuk mengambil Joohyun dariku.

Kim Taeyeon.. Tega-teganya dia berbuat seperti ini padaku. Mungkin selama ini ia menertawakan kebodohanku. Bagaimana aku begitu mudah percaya pada tipu dayanya dan jatuh ke dalam pelukannya dengan suka rela. Bagaimana aku jadi tergila-gila padanya. Bagaimana aku jatuh cinta padanya. Perasaanku tulus. Itu yang membuatku semakin membencinya. Ia memanfaatkan perasaanku padanya.

Aku membawa Joohyun pergi dari tempat itu sebelum aku meledak dan menghancurkan semuanya. Aku ingin membanting pintu. Aku ingin memukul dinding. Aku ingin berteriak sekuat mungkin di depan wajah Kim Taeyeon untuk melepaskan kemarahanku. Tidak hanya marah. Kekecewaanku jauh lebih besar. Aku percaya pada Kim Taeyeon, aku berharap banyak padanya, aku begitu mencintainya dan berharap bisa menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Dan ia malah menikamku dari belakang. Menikamku hingga terluka sangat dalam.

Namun aku tidak melakukan semua itu. Sekuat tenaga aku menahan diriku. Karena jika aku melakukannya, sama saja dengan aku mengakui kekalahanku. Meski kenyataannya aku kalah telak karena jatuh dalam perangkap mereka, aku tidak bisa mengaku dengan mudahnya bahwa aku telah kalah. Setidaknya aku masih memiliki harga diriku. Dengan begitu aku bisa melindungi Joohyun dari mereka. Tidak akan ku biarkan mereka mengambil Joohyun dariku.

“Eomma?” Joohyun memanggilku.

Aku tersentak dari lamunanku. Kami berada di dalam mobil. Masih berada di tempat parkir rumah sakit. Entah sudah berapa lama aku termenung di balik kemudi tanpa melakukan apapun hingga Joohyun memanggilku dan membuatku tersadar.

“Ya, sayang?”

“Kita menunggu Taeyeon Eomma ya?” Tanyanya lagi.

Orang itu.. Bahkan mendengar namanya saja terasa begitu menyakitkan. Tapi aku harus menjelaskannya pada Joohyun. Gadis kecil ini berhak untuk tahu.

“Joohyun-ah.” Aku mencondongkan tubuhku ke arah Joohyun. “Eomma, dan Taeyeon Eomma akan bercerai. Kami akan berpisah. Joohyun juga akan berpisah dengannya.”

“Bercerai? Lagi?” Joohyun menghela nafas kemudian menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi dengan ekspresi bosan. “Ya sudah. Kita pulang saja. Joohyun ngantuk.”

Aku tersenyum kecut. Joohyun tidak mengerti. Ia terlalu kecil untuk mengerti. Aku juga tidak bisa menjelaskannya dengan lebih rinci karena ia masih terlalu kecil.

“Baiklah. Kita pulang.”

 

***

 

Jessica langsung berjalan menuju dapur begitu ia datang. Ia membawa sebuah kotak besar berisi donat yang aku yakini untuk Joohyun. Ia membuka kabinet tempat penyimpanan dengan santainya seolah ia berada di rumahnya sendiri kemudian menyimpan donat-donat itu. Memang ia sudah terbiasa karena hubungan kami yang begitu dekat dan juga ia sering datang ke tempatku.

“Yuri yang memintaku membawanya.” Ujarnya dengan suara keras dari dapur. “Sebagai permintaan maaf karena tidak bisa datang. Gara-gara si brengsek Alan, ia mendapatkan pekerjaan ekstra.”

“Aku tidak suka kau menyebut nama itu! Ngomong-ngomong, mengapa kau meletakkannya disana? Ayo bawa kemari!” Protes Sooyoung, ia juga ada di apartemenku.

“Aku menyimpannya karena ada kau disini.” Setelah selesai dari dapur, Jessica bergabung bersama kami di ruang tamu kemudian duduk di sebelahku. “Yuri bilang, itu untuk Joohyun.”

Mereka semua berkumpul di apartemenku. Kami semua duduk di lantai mengelilingi meja yang penuh dengan makanan dan miniman sementara Joohyun aku baringkan di atas sofa. Gadis kecil itu tertidur sejak beberapa jam yang lalu. Aku yang meminta mereka datang. Sooyoung, Hyoyeon, dan Jessica. Akan lengkap seandainya Yuri juga hadir.

“Bagaimana denganmu? Aku tidak mengganggu waktumu kan?” Tanyaku pada Jessica.

“Hei…” Jessica meninju bahuku pelan. “Lama aku menunggu telepon darimu. Aku pikir kau sudah melupakanku.”

“Benar!” Sooyoung menggigit cumi kering yang ia bawa tadi. “Sejak kau menikah, kau jadi menjauhi kami. Kau tidak pernah mengajak keluar dan bersenang-senang seperti dulu.”

“Bukan menjauhi..” Aku menunduk menatap kaki gelas wine di depanku. Aku menandaskan isinya sebelum melanjutkan kalimatku. “Banyak hal yang terjadi. Lagipula aku memiliki tanggung jawab sekarang. Aku punya seorang putri.”

“Aish! Ini semua gara-gara si mulut rombeng itu. Untuk seorang pria, dia terlalu banyak bicara.” Hyoyeon menyambar botol wine kemudian meminum isinya tanpa menuang ke gelas. “Gara-gara orang itu kau dapat banyak masalah.”

“Kau terlalu baik hati tidak menuntutnya.” Imbuh Sooyoung.

“Joohyun sudah tidur?” Tanya Jessica yang aku jawab dengan anggukan. “Dan dimana si pendek itu? Aku tidak melihatnya sejak tadi.”

“Oh, ya! Kau memintaku datang karena dia pingsan tapi aku tidak bisa karena ada operasi penting. Bagaimana keadaannya? Apa sudah lebih baik?” Ujar Hyoyeon.

Sungguh, diantara semua orang, aku paling tidak ingin membahas orang itu. Membuatku mengingat kembali kekecewaan karena penghianatannya.

“Kami akan bercerai.” Jawabku.

“Bercerai? Lagi?” Sooyoung memukul meja dengan kesal. “Apa itu sudah menjadi hobi kalian? Aigoo.. Kalian membuat kepalaku sakit.”

“Aku dengar kalian pergi berbulan madu.” Jessica menatapku menuntut penjelasan. Namun aku merasa tak ada yang harus aku jelaskan. Keputusanku sudah bulat. Aku akan bercerai darinya.

“Jadi karena itu kau meminta kami kemari?” Hyoyeon menebak dan itu tidak sepenuhnya salah.

Aku menggeleng kemudian mengambil botol wine dari tangan Hyoyeon dan meminumnya hingga habis. “Aku meminta kalian datang karena… Pertama, aku merindukan kalian semua. Kedua.. Aku begitu ingin minum namun terakhir kali aku melukai Joohyun saat mabuk. Dan ketiga… Aku membeli wine terlalu banyak dan tidak bisa menghabiskannya sendiri.”

“Ck.. Kau mulai mabuk.” Sooyoung menggigit cumi kering dengan penuh kebencian. “Aku juga ingin mabuk jika berada di posisimu. Tapi boleh aku tahu alasannya? Terakhir kali saat mendapatkan kabar kalian akan bercerai, aku menemukan kalian begitu mesra seperti pasangan muda saja. Dan ini kedua kalinya aku mendengar kabar yang sama. Jangan-jangan besok aku mendapatkan kabar bahwa kalian akan punya anak lagi.”

Hyoyeon memukul kepala Sooyoung. “Jangan pedulikan dia. Dia hanya lapar.”

“Mereka memang pasangan muda kan?” Tambah Jessica.

“Aku serius kali ini.” Kata-kataku berhasil membuat semua mata tertuju padaku. “Orang itu… Dia putri Kim Youngho. Mereka sengaja merencanakan ini semua untuk merebut Joohyun dariku.”

“Mwo?” Sooyoung ternganga. Cumi yang baru digigitnya jatuh ke atas meja.

“Kau yakin?” Tanya Jessica.

Aku mengangguk. “Aku melihatnya sendiri.”

Sementara Hyoyeon tertawa. “Ya! Fany-ah! Aktingmu buruk. Aku tidak akan tertipu.”

“Benarkah?” Sooyoung melihat Hyoyeon yang duduk di sebelahnya kemudian ganti menatapku. Ia tampak bingung sesaat kemudian menghela nafas lega. Ia mengambil cumi yang tadi jatuh dan lanjut memakannya. “Jadi ini hanya lelucon? Ck, aku nyaris saja percaya.”

“Aku sedang tidak bercanda.” Ujarku dengan wajah serius untuk membuktikan pada mereka betapa seriusnya aku.

“Apa itu berarti Taeyeon sengaja mendekatimu? Untuk mendapatkan Joohyun?” Pertanyaan Jessica membuatku meringis. Mendengar nama itu disebut dengan mudahnya membuat lukaku kembali bernanah.

Ya, Taeyeon telah melukaiku. Ia begitu tega menggoreskan luka yang begitu dalam padahal aku benar-benar mencintainya. Dia membodohiku. Dia memanfaatku. Dia membuatku kehilangan lebih banyak saat aku tak memiliki apapun lagi. Mengingatnya membuat mataku terasa panas namun harga diriku menolak untuk menangisinya.

Aku mengambil botol wine baru, membukanya, kemudian menuangkan isinya ke dalam kerongkonganku. Hanya alkohol yang mampu mengurangi rasa sakit ini.

“Tapi.. Aku rasa tidak begitu.” Sooyoung menanggapi sambil berpikir. “Dia tidak terlihat seperti itu. Apalagi.. Setelah aku pikir-pikir, mereka tidak punya motif. Aku menyelidiki Kim Youngho selama ini, karena kau memintaku. Dan aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan darinya. Dia bahkan tidak terlibat dalam pembunuhan Seo Ilhyun seperti yang kau tuduhkan.”

“Ya!” Jessica memelototinya bengis membuat Sooyoung menciut seketika. “Mengapa kau malah berpihak pada penjahat itu?”

“Dia tidak berpihak.” Aku membelanya. Kami pernah mempermasalahkan ini. Sooyoung tidak salah. Dia hanya mengatakan apa yang ia temukan. “Kim Youngho itu gangster. Dia bisa menyuap polisi. Dia bisa menyuap siapapun agar namanya tetap bersih.”

Sooyoung kembali bersemangat setelah aku membelanya. “Kalau itu aku setuju. Orang itu memang seperti gangster. Tapi bukankah itu lebih aneh lagi? Kenapa ia repot-repot membodohimu sementara ia bisa merebut Joohyun dengan paksa?”

“Sudah! Sudah!” Hyoyeon menengahi. “Suara kalian bisa membuat Joohyun bangun.”

Aku menunduk malu saat ia menatapku dengan tatapan kasihan. Ia yang paling tidak setuju begitu tahu aku akan menikah dengan Taeyeon. Kini terbukti bahwa aku salah dan dia benar.

“Dia meminta kita datang kemari karena ingin melupakan masalahnya. Iya kan?” Hyoyeon meminta persetujuanku. Ia kemudian menuangkan wine ke gelasku sampai penuh. “Tidak ada gunanya kita membahas ini sementara Fany sedang emosional. Lebih baik membicarakannya lagi nanti saat ia sudah merasa lebih baik. Agar ia bisa berpikir dengan kepala dingin dan memutuskan apa yang terbaik untuknya.”

Hyoyeon menggenggam tanganku untuk memberikanku sedikit kekuatan. Aku tersenyum padanya. “Gomawo.”

Setidaknya aku memiliki mereka disisiku. Aku memang kehilangan Eonni-ku, aku memang kehilangan karirku, dan aku memang kehilangan Taeyeon. Tapi aku masih memiliki Joohyun dan juga sahabat-sahabatku.

“Bagaimana jika kita menginap disini hari ini?” Jessica mengutarakan idenya.

Sooyoung menjentikkan jarinya tanda setuju. “Call!”

“Itu bagus sekali.” Aku tersenyum. Sudah lama kami tidak menghabiskan malam bersama. Rasanya seperti kembali muda. “Dan kau Hyo?”

“Mian, Fany-ah!” Hyoyeon memasang wajah bersalah.

Yah, aku mengerti jika dia tidak bisa ikut. Diantara kami semua, dia yang paling sibuk dan aku yang memiliki paling banyak waktu luang. Ia bahkan jauh lebih sibuk daripada Jessica sang Hallyu star. Aku tidak bisa memaksanya tinggal sementara para pasiennya lebih membutuhkan dirinya.

“Karena kami akan sangat berisik.” Hyoyeon tertawa sambil memukuli Sooyoung yang berada paling dekat dengannya.

“Fany-ah! By the way, apa kau tidak punya soju?” Jessica memainkan botol wine kosong dengan ekspresi tidak tertarik. “Wine terlalu murahan.”

“Ck, murahan kepalamu!” Sooyoung menggigit cumi keringnya lagi. “Tapi memang cumi kering lebih enak dinikmati bersama soju.”

“Aku hanya punya wine, dan juga bir.” Jawabku.

“Eeeghh…” Hyoyeon bersendawa setelah menghabiskan sebotol soju.

“Ya! Dimana kau dapatkan itu?” Sooyoung merebut botol di tangan Hyoyeon berharap masih ada isi yang tersisa. Namun ia dihadapkan pada kenyataan yang mengecewakan.

“Hanya ada satu. Sisa kemarin.” Hyoyeon memakan cumi kering Sooyoung dan memakannya.

“Jika hanya ada satu, harusnya kau membaginya dengan kami.” Jessica mengarahkan tatapan mematikannya pada Hyoyeon namun itu sama sekali tidak mempan.

“Aku membagi cumiku denganmu. Tapi kau tidak mau membagi sojumu denganku.” Protes Sooyoung.

“Kalian tidak sopan!” Hyoyeon memukul kepala keduanya dengan ekor cumi. “Kalian protes dengan apa yang dihidangkan oleh tuan rumah. Seharusnya kalian membawa sesuatu jika datang ke rumah orang lain bukannya malah meminta sesuatu.”

“Aku membawa donat.” Ujar Jessica.

“Aku membawa cumi.” Sooyoung memamerkan lubang hidungnya dengan sombong. “Kau! Apa yang kau bawa?”

“Aku membawa soju.” Hyoyeon menjawab tanpa rasa bersalah.

“Yang kau habiskan sendiri.” Imbuh Sooyoung.

“Sudah aku katakan hanya ada satu.” Hyoyeon tidak mau kalah.

“Tapi kau kan bisa membaginya sedikit dengan kami.” Sooyoung tidak terima.

“Kau mau tidur di luar?” Hyoyeon melotot.

“Kau selalu begitu.” Sooyoung merengek sambil menghentakkan kakinya.

Jessica menyikutku kemudian berbisik. “Bagaimana jika kita tinggalkan mereka?”

“Kemana?”

“Tidur.” Ia berkata dengan wajah tanpa dosa. “Kau mau tidur bersamaku?”

“Ti.. Tidur bersama?” Aku menutup dadaku dengan kedua tangan. “Kau mabuk?”

“Ani.. Aku bahkan belum minum.” Ia menggeleng. “Aku ngantuk.”

“Ck, secepat ini? Kau yang mengusulkan untuk menginap.” Sindir Sooyoung.

“Benar. Dan dalam kamusku, menginap artinya numpang tidur.” Jessica mengambil bantal kursi kemudian langsung berbaring di tempat ia berada. “Bangunkan aku jika ada gempa bumi.”

“Dalam kamusmu, itu artinya jangan bangunkan aku jika kau masih ingin hidup.” Hyoyeon menambahkan.

“Tepat!” Jessica memejamkan matanya.

Aku tersenyum. Melihat mereka seperti ini, aku merasa kembali ke masa lampau. Saat kami masih remaja. Saat aku bukan siapa-siapa, saat aku tidak memiliki apa-apa, saat aku tidak perlu kehilangan apapun.

 

-TBC-