Aphrodite! Adhæsit in Amore (Part 19)

Title : Aphrodite! Adhæsit in Amore

Author : Mr. Lim

Main Cast : Kwon Yu Ri, Kim Tae Yeon, Jessica Jung, Tiffany Hwang

Genre : Romance, Yuri
Tiffany POV
“Kau baik-baik saja, Tae Yeon-ssi?” Aku menyentuh pundaknya membuatnya sedikit terkejut.

Yu Ri baru saja pergi. Dan aku masih merasa tidak nyaman dengan kedatangannya itu. Bukan karena kami pernah menjalin hubungan lalu berpisah dengan cara yang tidak baik, melainkan karena pembicaraannya dengan Tae Yeon barusan. Ya, aku mendengarnya.

Aku memang sengaja mendengarnya meski aku tahu itu adalah hal yang pribadi bagi Tae Yeon. Aku ingin memberinya privasi, namun orang yang datang ke rumahku untuk bicara dengannya adalah Yu Ri. Setelah apa yang ia lakukan padaku, aku tidak bisa percaya padanya sama sekali. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Tae Yeon berdua saja dengan orang yang aku tidak percayai? Meski orang itu adalah sahabat Tae Yeon.

Sebenarnya itu bukan urusanku. Apakah Yu Ri bisa dipercaya atau tidak. Aku bukan siapa-siapa bagi Tae Yeon. Aku tidak berhak menguping pembicaraan mereka hanya karena aku tidak mempercayai Yu Ri. Harusnya aku memberikan privasi bagi mereka. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Demi kenyamananku sendiri, aku mengawasi mereka.

“Ah.. Kau disini?” Tae Yeon berdiri kemudian memanjangkan tongkatnya. “Sekali lagi aku minta maaf karena membawa Yu Ri kemari.”

“Aku sudah katakan padamu. Itu tidak masalah.” Aku membimbingnya berjalan. “Aku akan mengantarkanmu ke kamar.”

Sebenarnya itu tidak sepenuhnya tidak masalah bagiku. Tadinya sebelum Yu Ri datang, aku berpikir bahwa aku tidak memiliki perasaan yang tersisa terhadap Yu Ri, melihatnya datang ke rumahku bukanlah hal yang sulit. Tapi setelah ia datang, lalu melihat secara langsung bagaimana ia memperlakukan Tae Yeon, dan bagaimana Tae Yeon memperlakukannya, itu membuatku merasa sangat tidak nyaman. Seolah harapan yang aku miliki sirna begitu saja. Seolah aku ingin menyerah terhadap Tae Yeon.

Aku harusnya merasa senang karena Tae Yeon memutuskan untuk melepaskan tunangannya. Dia wanita single sekarang. Tapi aku tidak merasa senang karena aku sadar aku tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan hatinya. Bukan karena Tae Yeon masih mencintai tunangannya. Lebih dari itu.

Aku merasa bodoh karena tidak menyadarinya sejak awal. Dia ingin menyelesaikan masalah, namun tidak ingin menemui tunangannya atau lebih tepat jika mulai saat ini aku menyebutnya mantan. Meski ia merasa kecewa, meski ia merasa dikhianati, jika ia memang pernah mencintainya, tidakkah ia ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya? Ia mengatakan demi gadis bernama Soo Yeon itu ia ingin melepasnya. Ia mengatakan Yu Ri lebih pantas bersama gadis itu dibandingkan dirinya yang cacat. Tapi yang aku lihat tidak begitu. Entah Tae Yeon tidak menyadarinya atau ia menolak untuk menerima karena suatu alasan. Bagiku, terlihat seolah yang Tae Yeon cintai sebenarnya adalah Yu Ri. Ia melepas tunangannya demi Yu Ri.

Hal yang sama juga berlaku untuk Yu Ri. Memang awalnya aku mengira dia menyukai mantan tunangan Tae Yeon. Caranya menatap gadis itu penuh dengan kasih sayang. Tapi saat ia menatap Tae Yeon, itu adalah cinta. Mungkin aku salah. Aku hanya mengambil kesimpulan berdasarkan penilaianku pribadi. Atau justru aku berharap bahwa aku salah.

“Apa kau baik-baik saja?” Aku mengulang pertanyaanku yang belum ia jawab. “Kau terlihat tidak sehat.”

“Aku baik-baik saja.” Ia memaksakan senyumnya. “Tapi.. Aku memiliki janji kencan malam ini.”

Kencan? Apa aku melewatkan sesuatu? Ia akan pergi kencan dengan Yu Ri? Tapi aku tidak mendengarnya tadi. Dan Yu Ri juga sudah pergi.

“Aah.. Jadi kau akan pergi.” Aku berhenti melangkah. Membuatnya juga terpaksa berhenti.

“Apa maksudmu aku akan pergi?” Ia mengernyitkan dahinya dengan wajah bingung. “Tentu saja aku akan pergi. Aku sudah berjanji padamu.”

Berjanji? Padaku? “Aaah… Kencan!”

Kejadian barusan membuatku melupakan hal ini. Tae Yeon sudah berjanji akan pergi kencan denganku. Tentu saja yang ia maksud adalah aku, bukan Yu Ri.

“Waeyeo? Apa kau lupa?” Tebaknya dan ia benar.

“Aku tidak lupa. Aku hanya lelah hari ini. Bisakah kita pergi besok saja?” Aku berbohong. Pekerjaanku tidak banyak hari ini. Aku hanya pergi ke kantor di pagi hari kemudian menemani Tae Yeon ke rumah sakit. Itu sama sekali tidak membuatku lelah. Aku hanya kehilangan keinginan untuk pergi kencan dengan Tae Yeon. Aku menyadari satu hal lain hari ini. Mungkin tidak ada tempat lagi bagiku di hati Tae Yeon meski aku mencoba. Lalu mengapa aku harus berusaha keras jika itu hanya membuatku patah hati? Lebih baik aku menyerah sekarang sebelum semuanya terlambat. Namun, apakah aku bisa menyerah begitu saja?

Ini seperti tindakan seorang pengecut. Tapi aku baru saja terluka karena patah hati dan nyaris bunuh diri. Aku belum siap untuk terluka lagi. Ini berbeda dari sebelumnya. Awalnya aku pikir akan bisa mendapatkan Tae Yeon karena ia dicampakkan oleh tunangannya. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Tae Yeon bukan dicampakkan. Ia mencintai orang lain dan ia.. Tidak menyadarinya. Jika ia sebodoh itu, bagaimana bisa aku menerobos masuk ke hatinya?

“Aku mengerti.” Ia menundukkan kepalanya. Ini hanya perasaanku saja atau ia memang terlihat kecewa. “Kau pasti lelah karena menemaniku ke rumah sakit. Maafkan aku, Mi young-ssi.”

“Aniyeo. Aku tidak bilang seperti itu.” Aku menghela nafas berat karena gadis di depanku ini lagi-lagi begitu. Ia terlalu menganggap dirinya membebani.

“Sebaiknya kau istirahat, Mi Young-ssi.” Ia melepaskan tanganku darinya. “Aku bisa pergi ke kamar sendiri.”

Aku menahan tangannya. “Kecuali kau mengizinkanku melakukan skinship. Dan kau tidak keberatan jika kita berkencan disini.”

Jinjja! Apa yang barusan aku katakan? Aku merutuki diriku karena mengatakan hal murahan seperti itu. Yeah, aku rasa itu karena aku tidak benar-benar bisa menyerah terhadapnya. Saat ia menjadi lebih murung lagi karena aku menunda kencan, aku merasa ingin menghiburnya.

“Ss.. Skin.. Mwo?” Ia bertambah pucat.

“Jangan berpikiran aneh! Aku bukan orang mesum!” Aku mencoba memperbaiki reputasiku. “Toh aku bukannya berencana memperkosamu, atau menginginkan tubuhmu, atau semacamnya. Aku adalah gadis baik-baik. Sungguh!”

“Ah, ne!” Ia terlihat sangsi.

“Aaa.. Molla! Jika kau tidak mau ya sudah. Sana pergi tidur!” Aku mendorongnya sedikit dari belakang. Sangat berhati-hati agar tidak menyakitinya, namun tetap menunjukkan padanya bahwa aku merasa kesal. Aku tidak benar-benar kesal. Hanya tidak tahu harus melakukan apa. Kelakuan anehku barusan membuatku salah tingkah di depannya.

“Mi Young-ssi..” Ia berbalik. “Kau marah?”

“Tidak!” Aku berusaha terdengar ketus. Karena Tae Yeon tidak bisa melihatku. Ia hanya bisa mendengarku.

“Mi Young-ssi.” Ia memanggil namaku lagi. Kali ini sambil mengulurkan tangannya padaku. “Skinship.”

Ia tersenyum kecil sekaligus membuatku sedikit lega. Aku tidak suka melihat Tae Yeon yang murung. Jika bersikap murahan bisa mengubah suasana hatinya, aku rasa tidak ada salahnya dicoba.

Aku meraih tangannya lalu mengecup jemarinya. “Maksudku seperti ini, princess.”

“Princess apanya?” Ia terkekeh. Dan itu membangkitkan semangatku untuk lebih mempermalukan diriku sendiri.

“Kau tidak suka? Kalau begitu…” Aku berlutut sambil terus menggenggam tangannya. “Haruskah aku menyanyikan sebuah lagu untukmu, Gongju-mama?”

“Kau ingin menyombong karena sebentar lagi kau akan jadi penyanyi?” Tae Yeon menarikku agar aku kembali berdiri namun aku bertahan.

“Aniyeo. Aku hanya menyombong karena baru saja melakukan skinship denganmu, Gongju-mama.”

Tae Yeon akhirnya benar-benar tertawa. “Tidak. Tidak. Hari ini kau yang akan jadi tuan putri. Aku akan melayanimu.”

“Woah.. Jeongmalyeo?” Aku berdiri. “Kau melayaniku? Apapun yang aku inginkan?”

“Apapun.” Kemudian Tae Yeon buru-buru menambahkan. “Selama itu masuk akal dan aku bisa melakukannya.”

“Kalau begitu apa yang bisa kau lakukan? Apa batasan skinship yang masuk akal bagimu?”

Ia menarik tangannya dariku kemudian mengulurkannya lagi.

“Tangan?” Aku memutar bola mataku. Hanya itu? Ayolah! Itu bahkan tidak bisa disebut sebagai skinship. Namun aku malah menyambut tangannya lalu menggenggamnya dengan suka cita. “Ok! Baiklah.”

“Bagaimana jika berjalan-jalan di luar sambil bergandengan tangan?” Usulnya.

Itu terdengar menyenangkan. Hanya saja aku tidak bisa melakukan itu. Aku mungkin akan membuat Tae Yeon kesulitan jika orang-orang mulai mengerubungi kami. “Kau harus jadi pacarku dulu jika ingin melakukan itu. Kau ingin jadi pacarku?”

“Ah.. Maaf, aku terlalu besar kepala.” Bukannya menanggapi pertanyaanku, ia malah kembali merasa rendah diri.

“Bagaimana jika itu adalah keinginanku? Jadilah pacarku, Tae Yeon-ssi!” Aku mungkin terlihat bodoh. Aku tahu orang ini tidak menyukaiku tapi aku terus saja melemparkan diriku padanya. Bukannya aku tidak memiliki harga diri. Hanya saja.. Ada semacam rasa menyenangkan saat menyukainya. Karena itu, meski ini hanya cinta sepihak, aku sudah memutuskan untuk bersikap keras kepala.

Beberapa saat yang lalu aku memang berpikir sebaliknya. Dan setelah memikirkannya lebih lama, aku memilih untuk mengambil jalan yang lain. Ini cukup mudah. Bukankah Tae Yeon yang mengatakan sendiri bahwa ia tidak terlalu pemilih dalam hal cinta? Meski akan memakan waktu, mungkin suatu hari nanti aku bisa mendapatkan hatinya.

Ataukah.. Ini justru akan menjadi sangat sulit. Ia telah menyukai Yu Ri namun tidak menyadarinya.

“Maafkan aku, Mi Young-ssi.” Tae Yeon menarik diri dariku.

“Kenapa? Kau tidak bisa?” Aku merasa kecewa meski telah menduganya. “Aku sudah mengatakan bahwa aku menyukaimu dan kau tidak terlihat seperti kau akan kembali pada tunanganmu. Aku hanya memintamu jadi pacarku, bukannya memintamu menyukaiku. Mengapa kau tidak bisa? Kau merasa tidak pantas untukku? Kalau begitu itu hanyalah alasan yang kau buat. Kau bahkan sangat cantik untuk menjadi kekasih seorang model sepertiku. Dokter mengatakan bahwa kau bisa melihat setelah menjalani operasi. Lalu apa masalahnya? Apa kau begitu membenciku?”

“Aku mohon, Mi Young-ssi.” Ia menggigit giginya dengan keras. “Jangan menyudutkanku.”

Ia membuatku tersadar. Aku terdengar memaksanya. Apa yang baru saja aku lakukan? Ia baru saja menghadapi masalah besar saat tunangannya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ia pasti masih merasa sedih, kecewa, dan juga marah. Pulih dari situasi seperti itu tidak cukup hanya beberapa jam saja. Dan aku malah menambah masalahnya dengan memaksanya menjadi pacarku demi kepentinganku sendiri. Aku sangat tidak pengertian.

“Maaf, Tae Yeon-ssi. Aku hanya takut tidak bisa melihatmu lagi. Kau akan kembali ke Jeonju bersama Yu Ri. Aku merasa takut, karena itu tanpa sadar aku sedikit memaksamu.” Aku menciptakan alasan untuk membela diriku sendiri. Atau itu justru alasan sesungguhnya? Tae Yeon akan kembali ke rumahnya. Aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.

Meski ini hanya cinta sepihak yang tak berbalas, aku tetap ingin melihatnya, bersama dengannya saat ia merasa senang ataupun sedih. Meski ini terlalu cepat untuk menyebut ini cinta, tapi ini juga lebih dari sekedar menyukainya.

“Kau tahu?”

Ah! Aku lupa seharusnya aku tidak tahu. “Aku tidak sengaja mendengarnya.”

“Ehm, karena kau sudah tahu…” Tae Yeon tampak kelabakan untuk menjelaskannya. Padahal aku yang memaksanya. Harusnya aku yang bersikap begitu. Gadis ini memang sesuatu. Ia mencoba bicara dengan sangat hati-hati. “Aku memang akan kembali ke rumah. Aku harus pulang karena ini dan itu. Tapi.. Belum tentu kita tidak akan bertemu lagi. Yah.. Sebenarnya itu tergantung padamu. Aku sudah membuat janji dengan rumah sakit. Jika kau tidak keberatan.. Dan kau memiliki waktu luang, mungkin kau bisa menemaniku. Jujur saja rumah sakit membuatku sedikit takut dan.. Aku tidak dalam kondisi bisa meminta bantuan orang lain karena.. Ehm.. Situasinya tidak memungkinkan untuk meminta Yu Ri atau Soo Yeon untuk melakukannya. Aku juga tidak mengetahui dimana sepupuku berada. Juga.. Aku kenal beberapa orang di Jeonju, namun kami tidak cukup dekat untuk meminta mereka menemaniku. Terlebih mereka juga memiliki kesibukan sendiri. Yang paling penting adalah.. Mi Young-ssi yang membuatku melakukan ini, jadi.. Jika bisa.. Maukah kau menemaniku? Ini tidak harus. Aku hanya..”

“Tae Yeon-ssi..” Aku menyentuh bahunya. Setelah mendengarkannya bicara begitu lama, ia tidak lagi seperti orang yang kelabakan atau salah tingkah. Ia lebih mirip orang linglung. Ia juga masih terlihat pucat. “apa kau yakin baik-baik saja?”

“Aku hanya.. Aku hanya..” Ia mengulang-ulang katanya.

Aku merasa bodoh sekali. Tae Yeon baru saja mengalami hal yang sangat berat. Terdampar, ditinggalkan, juga dikhianati. Aku harusnya lebih pengertian padanya. Aku harusnya merawatnya dengan lebih baik. Aku harusnya menghiburnya bukan malah mendesaknya untuk jadi pacarku.

“Aku akan mengantarmu ke kamar. Kau perlu istirahat, Tae Yeon-ssi.” Aku membimbingnya menuju kamar. Aku tidak peduli ia menolak atau masih bersikeras ingin pergi kencan. Ku rasa ia butuh waktu untuk sendiri.

Diluar dugaanku, kali ini ia tidak menolak saat aku menyuruhnya beristirahat. Aku memang menyukainya namun aku belum mengenalnya dengan baik hingga mencapai titik dimana aku mengerti dirinya. Yang aku tahu Kim Tae Yeon adalah orang yang seperti itu. Orang yang mampu menyembunyikan kegusaran dan juga kesedihannya dengan senyuman. Namun kadang kala ia menangis saat merasa tidak mampu menahannya. Ia terlihat kuat, namun ia rapuh di dalam.

Dan kini aku tidak tahu.. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena aku tidak mengerti dirinya. Apakah ia ingin aku menghiburnya, atau ia butuh waktu untuk sendiri. Yang aku ketahui hanya ia terluka di banyak tempat di hatinya. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengurangi rasa sakitnya. Aku tidak bisa membantunya karena ia mengatakan ia baik-baik saja.
***
Normal POV
“Eonni! Aku tidak mendengar kau datang.” Seo Hyun bangkit dari ranjangnya saat melihat Hyo Yeon masuk ke kamar mereka. “Mengapa kau tidak pulang semalam?”

Hyo Yeon berjalan menuju lemari pakaian kemudian mengambil sebuah setelan berwarna hitam. “Aku akan pergi sebentar. Kau bereskan barang-barang. Bawa yang penting saja. Kita pergi malam ini.”

Seo Hyun terbengong beberapa saat. Hanya melihat Hyo Yeon mondar-mandir sambil mengganti pakaian. Sebelumnya ia sudah nyaris tertidur saat menunggu istrinya itu pulang. Ia sedikit terkejut saat pintu terbuka dan kini belum benar-benar sadar. Ia masih berusaha mengumpulkannya saat Hyo Yeon terlihat begitu sibuk.

Menyadari Seo Hyun hanya terbengong, Hyo Yeon mendekatinya. Ia menangkup wajah Seo Hyun sambil memandangnya lekat. “Hyung-nim sudah meninggal, Hyunnie-ah. Kita tidak bisa tinggal disini lagi. Go Hang Sun, orang itu akan berusaha menyingkirkanku. Dia juga tidak segan-segan menyakitimu untuk menyakitiku. Kita akan pergi ke Jeonju. Kita bisa tinggal di tempat Tae Yeon sebelum aku menemukan rumah untuk kita.”

“Eonni..” Seo Hyun menyentuh tangan istrinya itu. “Apa kau baik-baik saja? Hyung-nim, dia..”

“Aku baik-baik saja.” Hyo Yeon melepaskan Seo Hyun kemudian menunduk. “Hyung-nim sudah seperti ayah bagiku. Aku tahu apa yang terjadi padanya. Aku tahu persis siapa yang melakukan hal yang begitu bejat padanya. Aku sadar, melarikan diri seperti ini sama saja melakukan penghianatan terhadap Hyung-nim. Tapi..”

“Kau tidak ingin aku terluka.” Sela Seo Hyun.

Hyo Yeon mengangkat kepalanya lalu mengangguk. “Hyung-nim sudah tidak ada. Aku tidak bisa melindunginya lagi saat ia sudah meninggal. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah melindungimu.”

Seo Hyun meraih tangan Hyo Yeon untuk menggenggamnya. “Kita duduk sebentar. Ada yang harus aku katakan padamu, Eonni.”

“Nanti saja.” Hyo Yeon melanjutkan memakai pakaiannya. “Aku harus ke upacara pemakaman. Hyung-nim menungguku.”

“Sebentar saja.” Seo Hyun tetap menggiring Hyo Yeon untuk duduk di atas ranjang. Setelah mereka berdua duduk, dan ia memastikan Hyo Yeon akan mendengarnya, Seo Hyun mulai bicara. “Go Hang Sun, dia datang kemarin.”

“Mwo?” Hyo Yeon meninggikan suaranya. Ia memukul permukaan tempat tidur dengan keras. “Apa dia menyakitimu?”

Seo Hyun menggeleng. Ia menarik nafas dalam sebelum memulai ceritanya. Sebenarnya ia merasa bersalah karena baru memberitahukan hal ini sekarang. Bukan tentang Go Hang Sun, melainkan tentang masa lalunya. Dan itu adalah dua hal yang berkaitan erat. “Eonni ingat aku pernah menceritakan tentang kedua orangtuaku dan bagaimana mereka meninggal?”

“Eoh!” Hyo Yeon mengangguk. Mendadak merasa bingung dengan perubahan alur pembicaraan. “Tapi apa hubungannya..”

“Dengarkan aku dulu!” Sela Seo Hyun. “Aku tidak bisa melupakan kedua orangtuaku meski mereka telah lama meninggal. Setelah aku beranjak dewasa, aku memikirkannya lagi dan merasa ada yang janggal dengan kematian mereka. Itu bukanlah bunuh diri.”

Hyo Yeon mengerutkan dahinya. Semakin tidak mengerti.

“Maaf aku baru memberitahu eonni tentang hal ini sekarang.” Ia melanjutkan. “Sebenarnya tujuanku datang kemari adalah karena masalah ini. Aku mengenal seseorang yang sangat dekat dengan kedua orangtuaku saat itu. Aku tidak mengingat namanya. Aku hanya ingat wajah ahjussi itu. Dan aku yakin ia tahu sesuatu tentang kematian kedua orangtuaku. Aku mencari tahu keberadaannya kemudian mendengar bahwa dia adalah gangster di Seoul. Aku bertanya kesana kemari lalu menemukan bahwa ia berada di Broken Heart. Aku belum bertemu dengannya dan aku tidak tahu apakah informasi yang aku dapat benar atau tidak karena itu aku..”

“Karena itu kau mendekatiku?” Hyo Yeon bicara sebelum Seo Hyun menyelesaikan kalimatnya.

“Mianhe, eonni!” Seo Hyun menggenggem tangan Hyo Yeon dengan lebih kuat. “Awalnya memang aku mendekatimu untuk memanfaatkanmu. Lalu aku mendapati diriku telah menyukaimu dan sesaat menjadi lupa tujuan utamaku.”

“Sesaat?” Hyo Yeon menarik tangannya kemudian memijat pelipisnya yang terasa sakit. Kejutan hari ini ternyata tidak berhenti pada kematian Hyung-nim. Masih ada lagi. “Sesaat kau lupa tujuan utamamu?”

“Bukan itu maksudku..”

Hyo Yeon berdiri dan berjalan mondar-mandir. “Aku percaya padamu!” 

“Gomawo, eonni.”

“Bukan! Bukan itu!” Hyo Yeon meninggikan suaranya hingga nyaris berteriak. “Aku percaya padamu! Setelah bertahun-tahun, bagaimana mungkin kau baru mengatakan ini sekarang? Bagaimana mungkin kau tega melakukannya di saat seperti ini. Hyung-nim baru saja meninggal. Kau tahu apa artinya? Bagiku, Hyung-nim bukan hanya satu orang. Appa, eomma, hyung, chingu! Aku kehilangan semuanya hari ini. Dan kau! Haruskah kau mengatakan ini sekarang? Haruskah kau membuatku merasa lebih buruk lagi?”

“Eonni!” Seo Hyun ikut berdiri. Ia mencoba menjelaskan. “Aku minta maaf jika ini malah membuatmu merasa lebih buruk. Aku melakukannya karena.. Kau mencurigai orang yang salah. Go Hang Sun, dia..”

“Kita bicara nanti!” Sela Hyo Yeon. “Aku harus pergi.”

“Andwe!” Seo Hyun mencoba menahan istrinya itu. “Jika eonni pergi seperti ini, aku takut eonni tidak bisa menahan emosi saat bertemu dengan Go Hang Sun.”

“Nah.. Kau tahu itu.”

“Tidak! Eonni salah menilainya. Go Hang Sun bukan orang seperti itu. Aku mengenalnya. Dia adalah ahjussi yang aku maksud. Dia teman kedua orangtuaku.”

“Kau membuatku merasa lebih, lebih, lebih buruk lagi dengan membelanya.”

“Eonni, dengarkan aku.” Seo Hyun menyentuh bahu Hyo Yeon sambil menatapnya agar gadis itu melihat keseriusannya. “Aku tahu kau curiga dia yang mencelakai Hyung-nim. Aku tahu kau takut dia juga akan mencelakaiku. Tapi aku mengenalnya. Dia bukan orang seperti itu.”

“Aku mengenal Go Hang Sun lebih baik dari siapapun.” Hyo Yeon bicara dengan nada yang lebih rendah namun wajahnya memerah menahan marah. “Sekarang, bisakah kau membiarkanku pergi ke pemakaman Hyung-nim?”

Seo Hyun melepaskan Hyo Yeon. Ia merutuki dirinya yang baru menceritakan hal ini sekarang. Jika saja ia melakukannya lebih awal, jika ia memberitahu hal ini pada Hyo Yeon tidak pada saat Hyung-nim meninggal, situasinya mungkin akan berbeda. Seperti Hyo Yeon yang tidak ingin hal buruk menimpa dirinya, ia juga tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Hyo Yeon. Mungkin Go Hang Sun memang tidak akan menyakiti dirinya, namun orang itu tidak akan segan menyakiti Hyo Yeon. Dan bisa saja terjadi sesuatu di upacara pemakaman karena Hyo Yeon yang sangat membenci orang itu.
-TBC-

Iklan

Aphrodite! Adhæsit in Amore (Part 18)

Title : Aphrodite! Adhæsit in Amore

Author : Mr. Lim

Main Cast : Kwon Yu Ri, Kim Tae Yeon, Jessica Jung, Tiffany Hwang

Genre : Romance, Yuri

 

Yu Ri POV

 

Jessica… Apa Tae Yeon tahu tentang ini? Tadinya aku pikir ia diganggu oleh berandalan lagi. Namun saat aku mendekat, aku mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ku dengar. Tanpa sengaja aku mendengar semuanya. Tentang siapa sebenarnya orang itu, apa yang telah dilakukannya, dan Jessica terlihat sangat takut padanya.

Kini ia duduk di ruang makan. Menatap teh hangat yang aku berikan padanya sambil terus memutar cangkir itu tanpa berniat untuk meminumnya. Setelah bertemu orang itu, ia kembali tidak banyak bicara. Ia terlihat murung. Bahkan lebih suram dibandingkan saat pertama kali aku bertemu dengannya dulu.

“Aku akan mencoba menemui Tae Yeon lagi besok.” Aku memulai pembicaraan.

Tidak ada respon darinya. Ia masih terus menatap cangkir itu. Tatapannya kosong. Dia tidak mendengarku.

Mungkin aku akan kasihan padanya seandainya aku melupakan apa yang ia lakukan pada Tae Yeon. Tae Yeon tulus mencintainya dan ia begitu mudah berpaling padaku. Memang aku yang lebih dahulu menggodanya. Tapi.. Tidakkah ia memperhitungkan Tae Yeon ketika aku berusaha menjadikannya milikku? Ia baru mengenalku dalam hitungan hari namun ia sudah bersama Tae Yeon selama bertahun-tahun. Berpaling ke lain hati tidak semudah itu kan? Apa cinta bisa berubah?

Berbeda denganku. Aku tidak melakukan kesalahan disini. Aku tidak tahu siapa dia. Dan bagaimana bisa aku menebak ia memiliki semacam hubungan dengan Tae Yeon saat ia tidak mengatakan apapun? Aku adalah korban disini. Begitu juga Tae Yeon. Ia mempermainkan kami berdua.

Tapi.. Mengapa aku tidak bisa membencinya? Melihatnya tepat di depanku seperti ini, dalam suasana hati yang begitu buruk, aku tidak bisa membencinya. Bukan kasihan. Aku tidak merasa kasihan atas apa yang menimpanya. Ini adalah sesuatu yang lain. Mungkin… Yeah.. Baiklah, aku kasihan padanya. Namun hanya sedikit.

“Kau tidak mendengarku.” Gumamku kemudian menyeruput teh milikku. Ia mengacuhkanku dan rasanya seperti bicara sendiri.

Aku meninggalkannya dan pergi ke kamarku. Aku rasa ia butuh waktu sendiri setelah yang ia alami tadi. Itu adalah hal yang memalukan baginya. Mungkin karena itu ia tidak mau bicara denganku. Lebih baik aku tidur daripada mengurusinya. Aku butuh banyak istirahat agar lukaku segera sembuh.

Keesokan harinya aku kembali menelepon Tiffany sebelum datang ke rumahnya. Siapa tahu dia menjawab teleponku. Dan benar saja. Teleponku diangkat, tapi itu bukan suara Tiffany melainkan Tae Yeon.

“Tae Yeon-ah!” Seketika aku kehilangan kata-kata yang memang belum aku persiapkan. Aku tidak menduga Tae Yeon langsung yang akan menjawab teleponku.

“Ku rasa ada yang harus kita selesaikan, Yu Ri-ah.” Nadanya terdengar dingin. Tidak seperti Tae Yeon yang biasa. “Aku sadar aku tidak bisa menghindari ini selamanya. Jadi, bisakah kau datang ke tempat Tiffany malam ini? Sendiri?”

Sendiri? Itu artinya dia hanya ingin bicara denganku. Bukan Jessica. Dia hanya marah pada Jessica, bukan aku. Logika yang bagus Tae Yeon-ah. “Tentu saja aku akan datang.”

“Kalau begitu, aku akan menunggumu.” Ia memutus sambungan tanpa menunggu jawaban dariku. Aah.. Dia tidak sungguh tidak sabaran.

Ada baiknya Jessica tidak ikut. Dia hanya akan menyakiti Tae Yeon-ku. Sepertinya Tae Yeon bisa menebaknya karena itu ia memintaku datang sendiri. Ck, rubah betina itu.. Apa yang sedang dilakukannya sekarang?

Aku keluar dari kamar untuk mengeceknya. Dia sedang melakukan sesuatu di dapur. Ia terlihat lebih baik sekarang. Ku rasa ia sudah melupakannya. Ya. Dia melupakan sesuatu dengan begitu mudah. Sama saat ia melupakan Tae Yeon.

“Apa itu?” Aku duduk di kursi tinggi di balik meja dapur. Jessica sedang memasak sesuatu. Baunya harum sekali membuat perutku bergejolak.

“Tunggu sebentar.” Ia melakukan sesuatu disana hingga menimbulkan bunyi berisik lalu kembali dengan sepiring sarapan hangat yang masih mengepulkan asap. Ia meletakkan piring itu di depanku bersama dengan peralatan makan. “Ini! Cobalah!”

Nasi kare? Aku mendorong piring itu menjauh. “Aku tidak makan makanan instan.”

“Ya!” Ia tampak terluka. Ia mendorong piring itu kembali ke depanku. “Setidaknya hargai apa yang sudah aku siapkan untukmu.”

“Aku menghargai! Aku menghargai tubuhku karena itu aku tidak memakan makanan instan!” Aku mendorong piring itu lagi. “Ambilkan aku buah!”

“Sesekali memakan makanan instan tidak akan membunuhmu.” Jessica mengembalikan piring berisi kare itu ke hadapanku kemudian memaksaku memegang sendok. “Aku sudah membuatkan ini untukmu. Jadi kau harus menghabiskannya. Mengerti?”

Ada apa dengannya hari ini? Ia bersikap seolah kami dekat dan telah lama tinggal bersama. Ia bahkan berani memerintahku. Apa ia memiliki semacam gangguan bipolar?

Dan yang lebih aneh lagi, aku mematuhinya. Aku memakan makanan itu seolah melupakan bahwa aku sedang dalam masa pemulihan dan seharusnya aku mengkonsumsi sesuatu yang sehat, bukannya makanan instan seperti ini.

“Aku akan menemui Tae Yeon nanti malam.” Ujarku di sela-sela makanku.

“Eoh!” Sahutnya. Ia pergi mengambilkan segelas air untukku.

Itu saja? Baiklah. Dia tidak peduli lagi. Aku kasihan pada Tae Yeon. Apa gadis ini pernah benar-benar mencintai Tae Yeon?

“Aku akan pergi sendiri.” Lanjutku.

“Baiklah.” Ia menunjukkan ekspresi yang biasa saja. Ia berdiri tepat di depanku. Lebih tertarik dengan bagaimana caraku makan dibandingkan apa yang sedang aku bicarakan. “Apa kau perlu bantuan?”

“Kau tidak mengerti apa yang aku katakan. Aku akan pergi sendiri karena Tae Yeon tidak ingin bertemu denganmu.” Sebenarnya aku sedang tidak ingin bertengkar dipagi hari terlebih pada seorang gadis yang bersikap baik. Hanya saja ketidak peduliannya pada Tae Yeon membuatku naik darah. Dia bahkan berencana mengatakan pada Tae Yeon bahwa ia lebih memilihku. Aah.. Aku sadar bahwa pesonaku sulit untuk ditolak, namun dia melewati batas.

“Bukan itu.” Jessica menunjuk sendok di tanganku dengan pandangannya. “Kau terlihat kesulitan. Apa perlu aku membantumu?”

“Ck.. Ini..” Aku meletakkan sendok itu ke atas meja. Mendadak kehilangan selera makanku. Bahkan ketidak peduliannya telah melewati batas. Tapi aku harus bersabar sedikit lagi. Setelah aku meyakinkan Tae Yeon bahwa tidak ada yang terjadi antara aku dan Jessica, ia akan kembali pada Tae Yeon. Sementara itu aku harus menahannya disini agar tidak pergi kemanapun. Jadi aku bisa mengembalikannya pada Tae Yeon. “Aku sudah selesai makan.”

Aku akan beranjak dari tempat dudukku saat ia bicara. “Apa kau masih marah padaku?”

“Tidak!” Aku mengurungkan niatku untuk pergi. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu. “Aku tidak memiliki hak untuk marah padamu. Harusnya Tae Yeon yang marah. Bukan aku.”

“Aku telah hidup bersama Tae Yeon tujuh tahun lamanya.” Ia menunduk. Pandangannya terlihat menerawang. “Dan aku sudah memikirkan ini semalaman. Dia akan mementingkan kebahagiaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.”

“Kau ingin pamer huh? Aku mengenalnya jauh lebih lama darimu. Kau pikir aku tidak tahu itu?” Aku berdecak kesal. Aku lebih mengenal Tae Yeon dibanding dirinya. “Aku tahu dia akan melakukan itu. Aku tahu dia akan menanggungnya sendirian. Karena itu.. Karena itu..”

Aku tercenung memikirkan kelanjutan kalimatku. Bukannya aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku tahu. Hanya saja aku menjadi tidak rela. Jika aku memohon pengampunannya dan mengatakan bahwa aku tidak pernah serius dengan Jessica, tunangannya, lalu mereka akan kembali bersama. Itu.. Memikirkan Tae Yeon akan kembali dengan rubah betina ini, kemudian menikah, aku sungguh tidak rela. Seolah gadis ini akan menyakitinya lagi.

“Apa yang akan kau lakukan?” Aku malah balik bertanya. “Pada Tae Yeon.”

“Kau tahu. Aku sudah pernah mengatakannya.” Jawabnya pelan. “Aku tidak mungkin dengan tidak tahu malu kembali padanya saat hatikulah yang telah mengkhianatinya. Dan.. Jika kau juga tidak mau menerimaku, aku tidak punya pilihan selain pergi.”

Ia akan pergi? Ia bahkan tidak memiliki tempat untuk dituju. Apa baginya kembali pada Tae Yeon lebih buruk dibandingkan tidak memiliki tempat tujuan? “Kemana kau akan pergi?”

“Entahlah. Aku belum memikirkannya.” Ia mencoba tersenyum namun terlihat jelas dipaksakan.

Dia belum memikirkannya atau dia sengaja tidak memikirkannya dengan harapan aku akan mengasihaninya. Ia masih berpikir aku menyukainya. Baiklah. Terserah padanya. Untuk saat ini yang paling penting adalah meyakinkan Tae Yeon untuk memaafkanku. Dia tidak boleh menjauhiku hanya karena masalah ini. Aku tidak boleh kehilangannya.

 

***

 

Malam itu, seperti yang sudah dijanjikan, aku datang ke apartemen Tiffany. Aku menggunakan taksi meski aku bisa menyetir sendiri, ku rasa ada baiknya aku lebih banyak beristirahat. Tiffany langsung yang membukakan pintu untukku. Ia membawaku masuk ke ruang tamu dimana Tae Yeon telah menungguku. Setelah itu ia pergi meninggalkan kami agar aku dan Tae Yeon bisa bicara berdua saja. Sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan. Dia pergi ke dapur dan mengawasi dari sana. Apa dia berencana menguping? Aku tidak peduli.

“Hai!” Aku menyapanya sambil duduk di sofa lain yang berhadapan dengannya.

Tae Yeon meremas tongkatnya dengan kuat. “Bagaimana keadaanmu?”

Dia mengkhawatirkanku. Berarti dia tidak marah padaku. “Ini bukan apa-apa. Kau tahu aku sangat sehat. Aku akan pulih dengan cepat.”

“Tanganmu..”

“Jika kau ingin tahu apa aku masih bisa bermain bisbol, kau tidak perlu khawatir. Aku masih bisa bermain setelah tanganku pulih. Hanya melewatkan satu pertandingan. Bukan masalah besar.” Sebenarnya itu adalah masalah yang sangat besar. Satu pertandingan begitu berarti bagiku. Namun aku tidak ingin membuatnya merasa lebih mengkhawatirkanku.

“Ini tidak seperti dirimu, Yu Ri-ah!” Ia menunduk dengan wajah muram. Ekspresinya yang seperti ini membuatku teringat pada kejadian sepuluh tahun yang lalu. Saat ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga. “Kau tidak pernah melukai dirimu demi seorang gadis.”

“Kau melupakannya..” Aku merasa patah hati mendengar kata-katanya. Mungkin memang aku tidak berarti apapun hingga ia melupakan kenangan yang bagiku sangat penting. “Aku selalu seperti ini Tae Yeon-ah! Aku selalu melukai diriku hanya demi seorang gadis.”

“Apa kau mencintainya?” Tanya Tae Yeon sekaligus menandakan bahwa benar ia tidak mengingatnya. Bahwa ia tidak menyadarinya.

“Aku mencintaimu.” Entah berapa banyak aku telah membuat pengakuan padanya. Sekian lama aku bertahan dengan perasaan ini. Meskipun ia tidak pernah mengindahkanku, aku tidak pernah menyerah. Aku memang berkencan dengan beberapa gadis untuk membuatnya cemburu. Tapi apa yang bisa aku lakukan saat ia bahkan tidak peduli.

Aku sadar bahwa ini adalah saatnya bagiku untuk meminta maaf padanya. Ini bukan waktu yang tepat untuk membuat pengakuan. Namun saat melihatnya berada di hadapanku, aku tidak bisa menahan diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

“Tidak. Kau tidak mencintaiku, Yu Ri-ah. Kau mencintai Soo Yeon.”

Aku berdiri dan suaraku sedikit meninggi. “Bagaimana mungkin kau tahu apa yang aku rasakan saat kau menutup hatimu bertahun-tahun lamanya. Apa yang aku rasakan, aku yang lebih tahu. Bukan kau yang berhak menentukan siapa yang aku cintai.”

“Soo Yeon juga mencintaimu.” Dia tidak bergeming dari pemikirannya. Ia tidak mau mendengarku.

“Lalu?” Apakah tunangannya itu mencintaiku atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganku. Meski aku yang lebih dulu mengejarnya, tapi kini aku tidak peduli.

“Bisakah kau menjaganya? Untukku?” Lanjutnya. Suaranya terdengar bergetar karena menahan emosi yang mungkin bisa meledak kapan saja. “Dia tidak punya siapapun di Korea. Dan dia gadis yang rapuh. Karena itu.. Mulai saat ini.. Maukah kau menjaganya?”

“Mengapa aku harus melakukan itu?” Bukan aku yang tidak mengerti, tapi dia. “Dia bukan anak kecil.”

“Karena kau mencintainya dan dia juga..”

“Kau tidak pernah mau mendengarkanku untuk yang satu ini. Kau tidak pernah mau percaya padaku.” Aku menyela kalimat Tae Yeon sebelum ia sempat menyelesaikannya. Aku berjalan mendekat dan berlutut di hadapannya. Aku menyentuh wajahnya dan menatapnya. Namun ia tidak balik menatapku. Ia tidak pernah mau menatapku. “Mengapa kau tidak bisa melihatku?”

“Aku buta Yu Ri-ah.”

“Ani.. Kau hanya berpura-pura. Agar kau memiliki alasan untuk tidak melihatku.” Aku menggenggam tangannya, menyingkirkan tongkat yang ia genggam dengan erat, kemudian menyandarkan kepalaku di pangkuannya. “Aku mencintaimu, Tae Yeon-ah! Bukan orang lain. Mengapa kau tidak pernah mau menerimanya? Mengapa kau tidak pernah mau memberiku kesempatan?”

Ia diam. Bisa aku rasakan tangannya mengelus lembut kepalaku. Dia menyayangiku. Tapi aku tidak merasa cukup dengan itu.

“Tae Yeon-ah..” Aku mengangkat kepalaku dan menemukan wajahnya sudah basah karena air mata. Aku benci melihatnya menangis. Dan aku lebih benci lagi saat aku menjadi orang yang telah membuatnya menangis. “Mengapa kita harus seperti ini?”

“Aku menyayangimu, Yu Ri-ah. Aku hanya ingin kau bahagia. Aku tidak ingin kau menghabiskan waktumu untuk mengurusi orang cacat sepertiku. Kau layak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.”

Seandainya seperti yang ia katakan. Jika saja aku bisa menghabiskan waktuku untuknya, bukankah itu yang dinamakan kebahagiaan? Tapi apa yang aku lakukan selama ini? Aku pergi saat ia memintaku pergi. Aku datang ketika ia menginginkanku. Aku menunggunya dengan sabar karena bagiku bukan kebahagiaanku yang paling penting melainkan kebahagiannya. “Menurutmu, apa itu kebahagian bagiku saat satu-satunya orang yang aku cintai adalah dirimu?”

Ia menggeleng. “Tidak Yu Ri-ah. Kau tidak mencintaiku. Kau mencintai Soo Yeon.”

Selama ini aku selalu menuruti segala keinginannya. Aku bahkan pergi ke Amerika karena ia menginginkan itu. Tapi kali ini.. Rasanya aku tidak bisa memenuhi keinginannya. Aku tidak bisa mencintai Soo Yeon-nya itu hanya kerena ia mengatakan begitu.

“Aku mencintaimu! Berapa kali aku harus mengatakannya padamu?” Aku bicara nyaris berbisik saat wajahnya begitu dekat denganku.

“Ini sudah sangat lama, Yu Ri-ah. Mengapa kau belum menyerah juga?”

“Karena aku merasa… Aku memiliki harapan untuk mendapatkan hatimu.” Karena aku memiliki harapan itu, aku berusaha keras untuk membuatnya cemburu. “Saat kau menciumku, aku pikir.. Aku berpikir mungkin kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku menyesali saat itu karena aku terlalu malu untuk mengakuinya. Seandainya aku lebih cepat, akankah keadaan berubah?”

“Kau..” Tae Yeon mengernyit. “Tahu?”

“Kau pikir aku tidur, huh?” Aku menghapus sisa air mata dari wajahnya. “Kau pikir aku masih bisa tidur saat kau menciumku seperti itu?”

Ia memalingkan wajahnya dariku. “Itu bukan apa-apa.”

Itu bukan apa-apa? Baiklah. Mungkin baginya itu tidak berarti sama sekali, tapi bagiku kenangan itu begitu berharga. Ciuman pertamaku.

Sepertinya aku memang tidak memiliki harapan lagi. Mungkin dulu aku memiliki harapan itu. Tapi kini tidak lagi. Harusnya aku menyadari ini lebih cepat. Harapanku lenyap bersamaan dengan saat aku membuatnya kehilangan penglihatannya. Aku tidak cukup tahu diri untuk menyadarinya lebih cepat.

Harusnya aku datang untuk meminta maaf. Harusnya aku datang untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Tapi aku belum melakukannya. Dan aku merasa tidak akan melakukannya. Karena Tae Yeon menginginkan hal lain.

Aku tahu sekarang mengapa ia bersikeras agar aku bersama tunangannya meski berkali-kali aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Dia tidak melakukannya karena ia peduli padaku atau kebahagiaanku. Itu omong kosong. Ia hanya peduli pada tunangannya. Ia hanya peduli pada kebahagiaan tunangannya. Ia menyadari bahwa tunangannya menyukaiku, karena itu ia memintaku untuk menjaganya. Mungkin aku tidak bisa memenuhi keinginannya untuk mencintai tunangannya, tapi aku bisa melakukan yang lainnya.

Aku akan melakukan apapun yang ia inginkan.

“Jadi.. Kau ingin aku menjaganya?” Aku berdiri. Bahkan hingga saat ini aku hanya bisa menyerah terhadapnya. “Baiklah, akan aku lakukan.”

“Gomawo, Yu Ri-ah!” Ia menahan tanganku.

Gomawo? Ya. Ia juga berterima kasih karena itu. Entah ia tidak sadar atau ia memang tidak peduli bahwa ia baru saja menyakitiku.

Mungkin ini adalah ganjaran yang harus aku terima. Setelah menyakitinya begitu buruk, rasa sakit yang ia berikan padaku tidak seberapa dibanding rasa sakit yang aku sebabkan. Ini tidak seberapa kan?

“Aku merindukanmu, Yu Ri-ah!” Ia menarikku lalu memeluk pinggangku.

Apa lagi ini? Ia tahu bahwa aku lemah terhadapnya. Setelah permintaannya barusan, lalu ini. Apa yang ia inginkan sebenarnya? Dia sungguh membuatku bingung. “Ya! Aku disini, bodoh!”

“Aku tahu. Karena itu aku merindukanmu.” Ia mengeratkan pelukannya padaku. “Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku melihatmu. Kau berada di hadapanku, tapi aku tidak tahu kau seperti apa. Apa kau telah berubah banyak, atau kau sama persis seperti apa yang ada dalam ingatanku. Penyesalan terbesarku saat ini adalah tidak bisa melihatmu. Sungguh aku ingin melihatmu, Yu Ri-ah. Aku merindukanmu.”

Dan dia begitu lagi. Memberi harapan padaku. Sekaligus menegaskan bahwa penyesalan yang ia miliki semua adalah salahku.

“Kau bisa melakukannya.” Aku melepaskan lengannya yang melingkari pingganggu kemudian kembali berlutut hingga aku sejajar dengannya. Sebisa mungkin aku menahan rasa sakit di perutku. Aku meraih tangannya dan meletakkannya di wajahku. “Kau bisa melihatku.”

“Mengapa kau menangis?” Ia meraba wajahku.

Aku menyentuh wajahku. Ah.. Air mata. Aku menangis hanya karena masalah kecil seperti ini? Padahal ini bukan pertama kalinya Tae Yeon menyepelekan perasaanku.

“Bekas tikaman di perutku terasa sakit.” Aku berbohong. Ada bagian lain di tubuhku yang terasa lebih sakit. Hatiku.

“Ah.. Maaf.” Ia menarik tangannya dariku. “Duduklah di sofa. Atau kau ingin berbaring?”

Aku menggeleng meski aku tahu dia tidak melihatnya. “Aku akan pulang. Urusanku disini sudah selesai.”

“Aah..” Ia terlihat kecewa.

Aku kembali berdiri. “Dan ada satu hal lagi.”

“Ya?”

“Kau bisa pulang ke rumahmu di Jeonju. Aku akan pastikan orang-orang itu tidak akan mengganggumu.” Ujarku. Tadi pagi aku menghubungi pengacaraku untuk menuntut orang-orang yang melukai tanganku. Akan aku pastikan mereka menderita. Melukai seorang Kwon Yu Ri adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. “Jika kau mau, aku bisa mengantarmu besok.”

“Kau.. Masih mau bertemu denganku?”

Ck, pertanyaan macam apa itu. Aku yang berbuat salah padanya. Aku yang telah merebut tunangannya. Harusnya aku yang mengatakan itu. “Kau tidak ingin bertemu lagi denganku?”

“Bukan begitu.” Ia terlihat gelisah dan tidak nyaman. “Aku pikir kau tidak akan mau bertemu denganku lagi.”

“Jadi kau tidak ingin bertemu denganku?”

“Itu tidak mungkin.” Ia menunduk lalu bergumam pelan. “Aku merasa akan mati jika tidak bertemu denganmu.”

 

***

 

Jessica POV

 

“Dimana Eonni?”

Mendengar pintu terbuka, aku berlari mengejarnya karena aku berpikir Yu Ri sudah kembali. Aku penasaran dengan apa yang Tae Yeon katakan. Tapi itu bukan Yu Ri. Itu adiknya. Gadis itu membawa kantong-kantong berisi belanjaan. Setelah bertanya padaku, ia melewatiku dan menuju dapur seolah ia tidak membutuhkan jawaban.

Aku mengikutinya. “Dia sedang keluar.”

“Kau membiarkannya keluar sendiri?” Gadis itu meletakkan barang-barang yang ia bawa di atas meja dapur lalu melotot padaku. “Dia sedang sakit.”

“Maafkan aku.” Aku hanya bisa meminta maaf karena aku tidak mungkin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sejak awal gadis ini sudah terlihat tidak menyukaiku. Aku merasa dia akan membenciku jika dia tahu.

“Kemana dia pergi?” Gadis itu mengambil sebotol jus di dalam salah satu kantong belanjaan dan meletakkannya di depanku. “Jus?”

“Terima kasih.” Aku mengambil yang ia sodorkan padaku. Setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin ia bukannya tidak menyukaiku. Mungkin memang wajahnya yang seperti itu. Atau mungkin hari ini dan kemarin, ia berada dalam suasana hati yang buruk. “Dia pergi ke tempat temannya.”

“Temannya? Nugu?” Ia menyelesaikan menyusun belanjaannya kemudian berjalan memutar. Ia duduk di bangku yang ada disana kemudian mempersilahkan aku untuk duduk juga. “Dia tidak mungkin pergi dengan teman-teman satu timnya dengan kondisi seperti itu karena akan merusak harga dirinya. Dan aku baru saja dari tempat Soo Young. Dia tidak disana. Ku rasa Yu Ri eonni tidak memiliki teman lainnya. Kecuali dia membohongimu dengan mengatakan akan pergi ke tempat temannya padahal ia menemui seorang gadis yang sedang ia incar.”

Apa Yu Ri seburuk itu? Bahkan menurut saudaranya sendiri.

“Dia menemui Kim Tae Yeon.”

“Tae Yeon eonni?” Gadis itu kembali melotot padaku. Kali ini diiringi dengan menggebrak meja. “Dia pergi ke Jeonju dalam kondisi seperti itu? Apa dia menyetir sendiri?”

“Bukan begitu Kwon-ssi. Orang itu berada di Seoul. Dan dia tidak menyetir sendiri. Yu Ri-ssi menggunakan taksi.” Aku merasa seperti penyihir jahat saat menyebut Tae Yeon dengan sebutan ‘orang itu’.

“Cukup YoonA saja. Kwon-ssi terdengar sedikit membebani.” Ia menggigit semulut penuh subway sandwich. Kini ia sudah lebih tenang. Tunggu! Sejak kapan ia memegang sandwich? Ia kemudian bergumam rendah. “Jadi Tae Yeon eonni berada di Seoul. Tumben sekali.”

“Kau kenal dengannya?” Tanyaku.

“Kim Tae Yeon? Tentu saja aku mengenalnya. Tanpa dirinya, uri eonni hanya akan jadi sampah masyarakat.” Ia kemudian menatapku simpati. “Tapi.. Jika Tae Yeon eonni berada di Seoul, artinya kau harus mempersiapkan diri untuk putus dari Yu Ri eonni dalam waktu dekat.”

“Waeyeo?” Aku tahu aku harus bersiap untuk berpisah dari Yu Ri karena setelah ia kembali dari menemui Tae Yeon, seperti yang ia katakan, ia mungkin akan ‘mengembalikan’ aku padanya. Yu Ri terlalu menjunjung persahabatannya dengan Tae Yeon atau mungkin lebih karena ia merasa kasihan. Dari sikap yang ia tunjukkan padaku, ia akan melakukan apapun yang tidak menyakiti Tae Yeon. Meski itu artinya ia harus mengorbankanku. Tapi YoonA tidak tahu hal ini. Ia pasti memiliki alasan sendiri bicara demikian.

“Ehmmm.. Bagaimana mengatakannya..” YoonA memutar-mutar sandwich di tangannya. “Dua orang itu memiliki hubungan yang rumit. Yah.. Seperti saling membutuhkan satu sama lain. Tapi satu kondisi membuat mereka membebani diri masing-masing.”

“Kondisi?”

“Tolong jangan salah paham. Aku bukan bergosip. Terlebih Yu Ri eonni adalah saudaraku. Aku hanya tidak ingin ada gadis lain yang berencana bunuh diri karenanya.” YoonA bicara cepat. Lalu buru-buru menambahkan dengan lebih cepat lagi. “Karena Yu Ri eonni akan mencetak Hatrick jika kau juga seperti itu.”

Itu artinya ia sudah membuat dua orang gadis ingin bunuh diri. Membuatku memikirkan satu kata yang cocok untuknya. Brengsek. Aku mulai merasa ragu apa menyukainya adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Meski sejak awal aku sudah tahu menyukai Yu Ri bukanlah hal yang benar. Aku bertunangan dengan Tae Yeon sementara mereka berdua berteman.

“Yu Ri eonni pernah melakukan kesalahan yang sangat besar pada Tae Yeon eonni. Dan itu adalah awal masalahnya.” YoonA melanjutkan ceritanya. “Semua orang yang mengenal keduanya bisa melihat kalau hubungan mereka tidak sekedar teman. Mereka saling menyukai dan mereka tahu persis bagaimana perasaan satu sama lain. Hanya saja mereka terlalu bodoh. Yang satu merasa tidak pantas sementara yang lain selalu dihantui rasa bersalah. Awalnya aku berpikir, yah.. Biarkan saja. Toh hubungan seperti itu tidak akan bertahan lama. Tapi ajaibnya mereka masih bertahan hingga saat ini. Keduanya adalah orang-orang paling aneh yang pernah aku kenal.”

Err.. Aku merasa, mungkin YoonA memang tidak menyukaiku. Ia sengaja mengatakan itu agar aku berhenti mendekati Yu Ri. Aku sudah merasa janggal saat ia begitu banyak bicara hari ini padahal kemarin ia menganggapku tidak ada. Aku tidak akan begitu mudah percaya apa yang ia katakan. Ia tidak hanya memberitahu bahwa Yu Ri tidak menyukaiku tapi juga bahwa Tae Yeon tidak pernah mencintaiku. Itu adalah sesuatu yang konyol untuk dipercaya. Aku telah hidup bersama Tae Yeon selama tujuh tahun dan tidak sekalipun aku mengetahui Tae Yeon dekat dengan gadis ini. Aku yakin YoonA membohongiku.

Ngomong-ngomong.. Mengapa Tae Yeon hanya ingin bicara dengan Yu Ri, tapi tidak denganku. Aku baru memikirkannya lagi setelah YoonA membahas tentang Tae Yeon. Tadinya aku hanya merasa lega Tae Yeon hanya ingin bertemu Yu Ri karena aku merasa belum siap untuk menghadapinya. Aku takut dia tidak memaafkanku. Aku takut dia memaafkanku. Aku takut ia marah dan kecewa padaku, disaat yang sama aku juga takut dengan kebaikannya dimana ia hanya akan membiarkan dirinya disakiti.

Sebenarnya apa yang aku inginkan, aku sudah memutuskannya. Terlepas dari apakah Tae Yeon akan memaafkanku atau tidak, keputusan itu tidak akan berubah. Aku akan kembali ke Amerika.

 

-TBC-

Blue (Part 28/End)

Title : Blue

Author : Mr. Lim

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Seo Joohyun

Genre : Yuri, Romance, Family, Tragedy, Crime, PG 17+

 

I Wish for A Happy Ending

 

Tiffany POV

 

“Aku pikir kau takut padaku.”

Pertanyaan itu lagi. Mungkin Taeyeon menyadari ketidak warasannya hingga berpikir bahwa aku akan takut padanya. Meski ia tidak waras, atau apapun. Dia sama sekali tidak membuatku takut.

“Tidak.. tidak.. Aku tidak takut padamu.” Aku mencoba untuk terlihat seyakin mungkin agar ia tidak berpikir bahwa aku hanya menghiburnya.

Ia diam. Memperhatikanku dengan seksama. Mencoba menemukan kebenaran dalam jawabanku barusan. “Kau tidak takut padaku meski tahu bagaimana aku membunuh Chaebok Ahjussi?” Tanyanya lagi.

“Tidak, Tae.. Tidak…” Tunggu! Barusan ia mengatakan apa? “Kau apa?”

“Apa kau tidak takut padaku meski kau tahu aku membunuh Chaebok Ahjussi?” Ia mengulang pertanyaannya.

Chaebok Ahjussi. Aku pernah mendengar Taeyeon menyebut tentang orang itu dulu. Mungkin ini jenis racauannya saat ia kumat. Itu adalah istilah yang Sooyoung gunakan.

Ngomong-ngomong soal Sooyoung, berkat dirinya aku nyaris terkena serangan jantung. Jika dia tidak mengatakan bahwa korban tabrak lari itu tewas di tempat, aku tidak akan berpikir Taeyeon mati. Aku akan meminta penjelasan darinya nanti.

“Mengapa kau tidak menjawab? Kau takut padaku kan?” Taeyeon terus mendesakku untuk menjawab pertanyaannya.

“Aku rasa aku sudah menjawab pertanyaan itu.” Aku membersihkan wajahku setelah tangisanku berhenti sepenuhnya karena pertanyaan Taeyeon yang mendadak. “Dan bagaimanapun kau menanyakannya, jawabanku tidak akan pernah berubah. Kau sama sekali tidak membuatku takut. Yang membuatku takut adalah terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku jauh lebih takut kehilanganmu dari apapun.”

Ia tersenyum mendengar jawabanku. Aku lega melihat reaksinya karena terakhir kali saat ia menanyakan pertanyaan yang sama, keadaannya begitu tidak karuan. Selain luka di kepalanya, dia tampak jauh lebih baik sekarang.

“Jadi.. Sekarang bisa kau jelaskan padaku?” Aku rasa sudah saatnya aku menanyakan ini padanya. “Bagaimana kau bisa terluka seperti ini? Dan bagaimana bisa polisi memerlukan waktu dua hari untuk menemukan identitasmu?”

“Aku kurang hati-hati saat menyeberang jalan.” Ia menjawab tanpa menatapku. Seolah ia menyembunyikan sesuatu. Seolah itu tidak sepenuhnya benar. Tapi aku tidak ingin berprasangka terhadapnya lagi. Aku merasa cukup dengan segala kesalah pahaman ini.

“Lalu?” Aku menunggu kelanjutan dari jawabannya. “Mengapa kau tidak mau memberitahu polisi siapa kau.”

“Bukan begitu.” Ia kembali menatapku. “Aku bukannya tidak mau memberitahu polisi siapa aku. Tapi aku tidak mau memberitahukan kontak kerabatku. Polisi itu menanyakan keluargaku yang bisa dihubungi. Aku tidak bisa memberitahukan tentangmu atau Abeoji. Karena aku tidak ingin mereka mengetahui identitasmu, kau akan berada dalam masalah nantinya. Dan Abeoji.. Jika sampai dia tahu, dia akan langsung terkena serangan jantung. Aku tidak mau itu terjadi. Lagipula lukaku tidak parah. Hanya lecet sedikit.”

Jadi alasannya karenaku. Disaat ia terluka, ia masih memikirkan apa yang terbaik untukku. Ia kesakitan dan melewatinya seorang diri karenaku. Karena ia tidak ingin aku berada dalam masalah.

“Hanya lecet?” Aku tidak percaya betapa ia menyepelekan apa yang terjadi padanya. “Dan kau harus dirawat dua hari?”

“Eoh aku tidak dirawat dua hari. Aku menunggu Abeoji. Aku baru saja kembali kesini saat kau datang tadi.” Ia tertawa lagi. Sepertinya suasana hatinya sedang sangat baik.

Ia menunggu ayahnya? “Tapi seorang Ahjussi yang bernama Piljoo mengatakan dia tidak melihatmu.”

“Ck, orang itu tidak tahu apapun. Kerjanya hanya tidur saja.” Jawaban Taeyeon lebih terdengar seperti gerutuan. “Oh iya. Bagaimana Joohyun? Dia tidak nakal kan selama aku tidak ada?”

“Dia bersama Mom.” Aku merasa sangat bodoh karena sempat meragukannya. Ia tidak hanya peduli padaku, ia juga sangat peduli pada Joohyun. “Joohyun terus menanyakanmu.”

“Aku sudah berjanji membawanya jalan-jalan. Setelah aku pulang dari rumah sakit, kita pergi bersama. Ne?” Ujarnya.

“Kalau begitu kau harus istirahat.” Aku bangkit untuk memperbaiki letak bantal dan selimutnya. “Tidurlah!”

“Tidak mau.” Ia tertawa. “Bagaimana bisa aku tidur jika kau ada disini?”

“Apa aku membuatmu terganggu?”

Ia menggeleng. Tatapannya tak pernah lepas dariku. “Aku merasa sia-sia melewatkan waktu bersamamu dengan tidur.”

“Ck, seperti kau hanya melihatku hari ini.” Dengusku. “Tidurlah! Kau harus banyak istirahat agar cepat sembuh.”

“Mau menemaniku?” Ia bergeser, memberikan tempat untukku di ranjangnya yang kecil. “Disini dingin. Aku tidak bisa beristirahat jika kedinginan. Kau harus memelukku agar lebih hangat.”

Ia berbaring lebih dulu kemudian merentangkan tangannya memintaku datang. Dia benar-benar terlihat seperti anak kecil. Wajar saja Dad berpikiran macam-macam karena aku menikahi orang ini.

“Ayolah! Aku membutuhkanmu.” Rengeknya karena aku tak kunjung menurutinya.

Aku memenuhi keinginannya karena itu bukanlah permintaan yang sulit. Aku berbaring di sebelahnya dan ia langsung datang dan berbaring di dadaku.

“Beberapa hari aku tidak melihatmu, mengapa kau semakin kurus saja?” Bisiknya. Ia mengeratkan pelukannya di pinggangku.

“Tidurlah!” Aku mengusap kepalanya. Ia diam, tidak bicara lagi.

Beberapa saat kemudian aku hanya merasakan gerakan nafasnya. Aku menunduk untuk mengintipnya. Matanya tertutup rapat dan ia tampak damai dalam tidurnya. Ia pasti kurang istirahat. Terlihat jelas dari matanya yang cekung dan wajahnya yang pucat.

Saat aku pikir dia sudah benar-benar terlelap, ia bergumam rendah. “Belum cukup mengagumiku?”

“Kau belum tidur?”

“Aku tidak ingin tidur.” Ia mencebik. “Bagaimana jika melakukan sesuatu yang lain?”

“Melakukan apa?”

Ia memainkan kancing kemejaku dengan jemarinya. “Aku selalu menjaga agar jari tanganku kukunya tetap pendek. Tapi aku tidak pernah dapat kesempatan melakukan sesuatu padamu.”

“Hmm?”

“Miyoung-ah!” Ia bangun untuk bertumpu sepenuhnya di atas tubuhku. “Bagaimana jika kita melakukan itu? Tidak ada orang yang melihat disini. Carl sudah menutup tirainya. Dan yang paling penting adalah tidak ada Joohyun.”

Ck, apa yang dipikirkannya disaat seperti ini? Disaat ia sedang sakit. “Kau pikir apa yang ada di balik tirai itu? Banyak orang disana. Dan nama ayahku adalah Cas, bukan Carl. Bagaimana kau melupakannya dalam waktu sesingkat ini?”

“Benar juga.” Ia kembali berbaring. Namun kali ini dengan wajah cemberut. “Tapi kapan aku bisa menyentuhmu? Kau sudah menyentuhku. Bukankah ini tidak adil? Saat pulang nanti akan ada Joohyun dimana-mana. Aku tidak akan dapat kesempatan lagi.”

“Sudah! Kau tidur saja! Jangan pikirkan yang aneh-aneh.” Aku mengusap punggungnya.

“Oh ya! Bagaimana jika kita mengundang Yoona dan Yuri?” Ia bangun untuk yang kedua kalinya. “Yoona untuk menemani Joohyun bermain, dan Yuri untuk menjaga kedua anak itu. Bukankah ideku bagus?”

“Yuri punya pekerjaan. Kau tidak bisa menyuruhnya untuk mengasuh anak.”

“Kau..” Taeyeon menatapku tajam menelisik. “Kau sedang tidak mencari alasan untuk menghindariku kan?”

Aku memutar bola mataku. “Mengapa aku menghindarimu?”

Ia menarik bajunya hingga hidung kemudian menciumnya. “Karena aku bau. Aah.. Sudah berapa lama aku tidak ganti baju. Aku juga belum mandi.”

“Ha..ha..” Aku tertawa keras. “Kau terdengar seperti sedang membanggakan diri.”

“Benarkah?” Ia tersenyum dan tampak sangat manis. “Tapi.. Apa benar kau menghindariku karena aku bau?”

“Kau memang agak bau.” Aku menariknya, memaksanya untuk tetap berbaring. “Tapi itu tidak membuatku merasa perlu untuk menghindarimu. Aku hanya merasa sulit bernafas karena bukan hanya bajumu yang bau. Rambutmu lebih bau lagi. Kapan terakhir kali kau keramas? Saat tahun baru?”

“Ya!” Taeyeon mencubit perutku. Membuatku kaget dan sedikit terlompat. Kemudian ia memelukku dengan erat. “Kalau begitu aku tidak akan melepaskanmu sampai tahun baru berikutnya. Biar kau juga bau.”

“Kau berencana disini sampai tahun baru? Kalau begitu aku pulang duluan. Aku tidak mau lama-lama disini. Tidak enak.”

“Aku ikut kemanapun kau pergi.”

“Tidurlah!” Perintahku untuk yang kesekian kalinya. Kali ini aku memaksanya untuk tidur dengan menutup matanya dengan telapak tanganku. “Jangan bicara lagi. Kau harus istirahat.”

“Ne..” Ia mengangguk patuh kemudian menutup matanya dengan sukarela. Namun itu tidak bertahan lama. Ia kembali membuka mulutnya dalam beberapa detik. “Ngomong-ngomong Miyoung-ah. Mumpung kau ada disini, bagaimana jika aku mengenalkanmu pada Abeoji? Kebetulan dia dirawat di rumah sakit ini. Operasinya baru saja selesai tadi. Mungkin kita bisa menemuinya nanti. Bagaimana? Kau mau kan?”

Abeoji? Ia ingin aku menemui orang itu? Kim Youngho? Aku masih sulit untuk percaya bahwa orang itu tidak jahat. Sejak awal aku meyakini bahwa ia adalah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Ilhyun Oppa dan Hyojin Eonni. Meskipun Sooyoung telah menunjukkan bukti-bukti bahwa ia tidak bersalah, aku masih tidak yakin. Mungkin Sooyoung salah mendapatkan informasi. Seperti kabar tabrak lari yang ia katakan bahwa korbannya tewas ditempat padahal kenyataannya Taeyeon baik-baik saja. Kecuali luka di kepalanya.

Hal yang membuatku yakin bahwa Kim Youngho itu jahat adalah dari bagaimana Ilhyun Oppa menganggapnya. Aku mengenal Ilhyun Oppa selama bertahun-tahun. Aku mengetahui wataknya. Ia tidak akan menuduh orang sembarangan. Terlebih itu adalah saudaranya sendiri. Aku ingat jelas kalimat yang dikatakan Ilhyun Oppa sehari sebelum ia meninggal. Jika terjadi sesuatu padanya, maka yang harus dicurigai terlebih dahulu adalah Kim Youngho.

Tapi apa yang harus aku lakukan jika orang itu adalah ayah Taeyeon? Haruskah aku melupakan kebencianku? Atau aku harus terus menuntut keadilan untuk kedua orang tua Joohyun?

Oh, bukankah Taeyeon mengetahui ini? Aku harus menanyakan alasannya mengapa ia selama ini diam seolah tidak tahu apa-apa.

“Taeyeon-ah!” Aku menyingkirkan tubuhnya kemudian duduk. “Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu tentang Kim Youngho.”

Taeyeon ikut duduk kemudian mengangguk. “Ne, itu nama uri Abeoji. Ada apa dengan Abeoji? Bagaimana kau tahu namanya?”

“Kim Youngho adalah paman Joohyun.” Lanjutku.

“Benarkah?” Taeyeon mengerutkan dahinya lalu tertawa. “Mereka punya nama yang sama.”

Ck, dia tidak tahu. Si bodoh ini tidak tahu apapun padahal aku sudah menceritakan padanya. Aku sudah menuduhnya macam-macam padahal ia tidak mengetahui apa-apa. Kim Taeyeon. Dia memiliki dunia dan pemikirannya sendiri.

“Tidak. Mereka tidak memiliki nama yang sama melainkan mereka adalah orang yang sama.” Ujarku mencoba meluruskan pemikiran Taeyeon.

“Tidak mungkin.” Taeyeon mengernyit semakin dalam. “Itu tidak mungkin kan?”

“Itu benar Taeyeon-ah..”

Ia diam. Berpikir. Mencoba menyambungkan rangkaian cerita yang diingatnya. Dan semua itu berakhir pada sebuah kesimpulan. Ayahnya adalah orang yang membuat Joohyun menjadi yatim piatu.

“Maksudmu..” Ia bicara dengan terbata. “Abeoji yang membunuh kedua orang tua Joohyun?”

Aku tidak ingin menjawabnya. Karena aku yakin Taeyeon sudah mengetahui jawabannya.

“Itu tidak mungkin.” Ia menggeleng. “Abeoji bukan orang seperti itu. Wajahnya memang terlihat kejam, tapi ia adalah pria yang lemah. Dia tidak akan mampu menyakiti seseorang apalagi membunuhnya.”

“Yang aku tahu dia adalah seorang gangster.” Sungguh aku tidak ingin berdebat dengan Taeyeon. Namun saat Taeyeon membela orang itu, saat ia lebih memihak ayahnya dibandingkan aku, aku merasa kecewa.

“Itu benar.” Taeyeon tidak menyangkalnya sama sekali. “Dan dia juga ayahku. Aku mengenalnya dengan baik.”

Ia kini menatapku tajam. Menyalahkanku karena telah menuduh ayahnya. Kini aku memiliki jawaban atas kebingunganku. Saat aku berada di persimpangan jalan dan harus memilih antara mempertahankan kebencianku atau mempertahankan Taeyeon, aku akan memilih untuk mempertahankan Taeyeon. Mungkin jika Hyojin Eonni bisa memberikan pendapatnya dari atas sana, ia akan membenciku karena melupakan persaudaraan kami selama bertahun-tahun. Ia akan menganggapku egois karena hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada ketidak adilan yang terjadi padanya, terlebih pada Joohyun. Tapi… aku membutuhkan Taeyeon. Aku tidak bisa hidup tanpanya.

“Abeoji tidak mungkin melakukan itu Miyoung-ah!” Taeyeon bicara lagi. “Kau percaya padaku kan?”

Aku mengangguk. Ya, aku percaya pada apapun yang ia katakan.

 

***

 

Setelah menemani Taeyeon melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan untuk memastikan bahwa tidak ada cidera yang serius, kami pergi menemui Kim Youngho. Err.. Maksudku ayah mertuaku. Masih terasa janggal menyebutnya begitu mengingat bagaimana aku membencinya selama ini. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Demi Taeyeon, aku akan melupakan semua kebencian itu.

Sebelumnya aku sudah menghubungi Mom dan Dad bahwa untuk sementara waktu aku akan berada di rumah sakit menemani Taeyeon. Sekaligus minta maaf karena mereka harus menjaga Joohyun lebih lama. Syukurlah keduanya tidak keberatan. Mereka justru senang bisa bermain dengan Joohyun.

Kami mendatangi ruangan tempat ia dirawat kemarin. Saat kami datang, ia belum sadarkan diri. Berbagai macam peralatan medis menempel di tubuhnya. Ia terlihat jauh lebih tua dibandingkan saat terakhir aku bertemu dengannya. Tua dan sakit-sakitan.

Seorang perawat berada disana sedang melakukan check up rutin. Taeyeon mendekatinya untuk bertanya. “Dokter, bagaimana keadaan Abeoji? Mengapa dia belum sadar?”

“Maaf Nona, saya perawat bukan dokter.” Perawat itu menjawab pertanyaan bodoh Taeyeon yang tidak bisa membedakan dokter dan perawat padahal pakaian yang mereka kenakan jelas-jelas berbeda. “Sampai saat ini kondisi Tuan Kim masih stabil. Untuk lebih jelasnya anda bisa menanyakannya nanti kepada dokter.”

Taeyeon mengangguk. Perawat itu melanjutkan pekerjaannya dan setelah selesai, ia pamit keluar.

“Sayang sekali Miyoung-ah. Abeoji belum bangun.” Ujar Taeyeon setelah kepergian perawat tadi.

“Gwaenchanna. Kita bisa menunggu.”

Aku pergi ke sofa untuk duduk disana sambil menunggu. Sementara Taeyeon duduk di kaki tempat tidur ayahnya. Ia memijat kedua kaki pria itu bergantian sembari menunggunya bangun. Matanya terus mengawasi pria yang terbaring di depannya dengan cemas. Aku tidak tahu jika Taeyeon sedekat ini dengan ayahnya. Aku pikir dia takut pada pria itu.

“Taeyeon-ah!” Panggilku yang dijawab Taeyeon dengan kerlingan singkat. “Maaf jika aku menanyakan ini. Saat kita bertemu dulu, kau kabur dari rumah. Aku pikir hubunganmu dan ayahmu tidak baik.”

“Memang.” Ia tersenyum padaku sambil menatapku sekilas kemudian kembali fokus pada ayahnya. “Hubunganku dengan Abeoji memang tidak baik. Itu karena aku tidak mengerti dirinya. Aku bersalah padanya. Aku tidak bisa mengenali rasa sayangnya terhadapku dan malah pergi meninggalkannya saat ia sakit parah. Karena itu mulai saat ini, aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan terus berada di sisinya Miyoung-ah!”

Lalu bagaimana denganku? Dad memintaku untuk kembali ke Amerika. Aku mengerti karena aku juga tidak bisa lagi tinggal disini. Memang aku belum membahasnya dengan Taeyeon. Aku rasa ini saat yang tepat untuk mengatakannya.

“Taeyeon-ah. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Ujarku.

“Hm?” Ia berhenti memijat kaki ayahnya lalu menatapku.

“Dad mengajakku kembali ke Amerika dan tinggal disana. Bagaimana menurutmu?” Aku mengatakannya langsung.

“Benarkah?” Taeyeon turun dari ranjang ayahnya kemudian menghampiriku. Ia duduk di sebelahku sebelum kembali bicara. “Itu ide yang bagus. Kau ingat aku pernah mengatakan tentang gedung teater di Boston? Kau bisa benar-benar mulai membangunnya.”

Aku bisa mulai membangunnya? Hanya aku? Apa maksudnya? Apa dia akan berpisah dariku untuk menjaga ayahnya? Apa semudah itu ia akan melepaskanku? “Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku… Hmmm..” Ia menggaruk dagunya sambil berpikir. “Mungkin aku bisa kembali mengajar. Jika mereka masih mau menerimaku kembali. Jika tidak, aku bisa membantumu dengan teater. Aah.. Ada satu masalah. Rumahku terlalu kecil untuk kita tempati berempat.”

“Berempat?”

“Ne, berempat. Kau, aku, Joohyun, dan Abeoji.” Ia menjawab dengan antusias.

Aku merasa bodoh karena tidak juga kapok berspekulasi tentang Taeyeon. Dia tidak berencana meninggalkanku. Justru ia ingin pergi bersama.

“Dan jika kedua orangtuamu juga ingin tinggal bersama, sepertinya kita perlu membeli rumah baru.” Ia tertawa bahagia membayangkan masa depan. Kemudian tiba-tiba ia menepuk dahinya saat teringat sesuatu. “Astaga! Aku lupa kalau kita membawa Abeoji, dia tidak akan sendirian. Dia akan membawa serta adik-adik asuhnya. Kira-kira sepuluh atau dua puluh orang. Itu jika ia tidak mengajak semuanya.”

“Sebenarnya berapa banyak yang ingin kau bawa.” Aku ikut tertawa bersamanya.

Taeyeon pura-pura berpikir. “Aku juga ingin mengajak Yuri. Dia asik diajak ngobrol. Dan jika Joohyun ingin mengajak Yoona, aku rasa kita bisa mengadopsi satu anak lagi. Dan.. Hmm.. Siapa lagi ya? Kau punya rekomendasi?”

“Bagaimana jika mengadopsi anjing?”

“Anjing?” Taeyeon pura-pura kaget. “Aku tidak tahu kalau kau suka anjing. Anjing apa yang kau inginkan? Pitbull?”

“Tidak.. Tidak.. Sesuatu yang lebih kecil.”

“Jangkrik?”

“Ya!” Aku memukul bahunya. “Aku sedang membicarakan anjing, bukan serangga.”

“Kita minta pendapat Joohyun saja. Dia lebih bijak menilai sesuatu dibandingkan kau, Miyoung-ah!”

“Kau menyindirku?”

“Aniyeo. Aku mencintaimu. Aku kan sudah bilang.”

“Mengapa kau suka sekali mengganti topik pembicaraan?”

“Oh iya! Aku tidak ingat kau pernah mengatakan bahwa kau mencintaiku. Coba katakan. Aku ingin mendengarnya.”

“Aku sudah pernah mengatakannya. Kau yang pelupa!”

“Kapan kau mengatakannya? Kau yang pelupa!”

Begitulah kami menghabiskan waktu sambil menunggu Kim Youngho.. Maksudku ayah mertuaku sadar. Taeyeon banyak mengatakan hal-hal yang tidak penting dan aku sama tidak pentingnya dengan menanggapi semua itu.

Lima jam kemudian, pria itu membuka matanya. Hal pertama yang ia lakukan adalah memanggil putrinya sementara yang Taeyeon lakukan pertama kali adalah memanggil dokter. Jadi hanya tinggal kami berdua saja di dalam ruangan itu. Si bodoh itu tidak tahu bahwa ada tombol darurat disini. Dia tidak perlu berlari keluar.

“Taeyeon-ah?” Panggilnya dengan suara yang sangat lemah.

Aku berjalan mendekat. “Dia keluar mencari dokter. Sebentar lagi kembali. Abeonim.” Lidahku terasa kaku menyebutkan panggilan yang terasa janggal itu.

Melihatku ada disana, Kim Youngho sepertinya terkejut. Sambil menahan sakit, ia memejamkan matanya kemudian tersenyum miris. “Bagaimana kau memanggilku, aku yakin kau sudah tahu.”

Aku tidak menjawab. Hanya diam. Situasi ini terasa begitu canggung bagiku. Aku berharap Taeyeon segera kembali karena rasanya sangat tidak nyaman berdua saja dengan Kim Youngho.

“Kau tidak menyulitkannya kan?” Meskipun dia sedang sakit, nada bicaranya masih saja menyebalkan.

Sebenarnya aku memang sempat membuat Taeyeon dalam kesulitan. Aku bahkan membuatnya terluka. Meski Taeyeon mengatakan bahwa itu terjadi karena dia kurang hati-hati, tapi aku tahu. Aku adalah penyebabnya.

“Putriku sangat berharga bagiku.” Ia bicara lagi. “Jika kau berani menyakitinya, aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Tiffany-ssi.”

“Anda juga tidak perlu khawatir Abeonim.” Ujarku sinis untuk menanggapi ancamannya barusan. Pria ini sepertinya tidak memiliki rencana memulai hubungan yang baik denganku. “Taeyeon juga sangat berharga bagiku.”

Ia menarik nafas dalam lalu meringis karena gerakan itu membuatnya kesakitan. “Terima kasih, Tiffany-ssi. Aku harap kau bisa menjaga putriku saat aku tidak ada.”

“Tanpa anda mintapun aku akan menjaga Taeyeon.”

“Ha.. Ha.. Tiffany-ssi.” Pria itu mencoba untuk tertawa dan berakhir dengan batuk yang terdengar menyedihkan. “Kau bahkan tidak bisa berhenti bersikap sinis terhadapku. Satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak membunuh Seo Ilhyun. Mungkin kau melupakan bahwa orang itu adalah adikku. Aku sudah mengenalnya seumur hidupnya. Ia tumbuh tepat di depan mataku. Meski ia tidak pernah menganggapku dan selalu berpikiran buruk karena aku dekat dengan berandalan, aku sangat menyayanginya karena ia adalah adikku satu-satunya. Aku tidak mungkin membunuhnya. Saat mendapatkan kabar bahwa ia meninggal, orang yang paling sedih adalah aku. Bukan kau, Tiffany-ssi.”

Tepat saat ia selesai bicara, pintu terbuka. Taeyeon masuk terburu-buru bersama Dokter Lee. Melihat ayahnya sudah sepenuhnya sadar, bahkan sempat berbicara padaku, ia menghampiri ayahnya dengan panik. Sementara Dokter Lee berinisiatif sendiri memeriksa kondisi Abeonim.

“Apa yang Abeoji katakan?” Tanya Taeyeon padaku dengan nafas terengah. Sepertinya ia berlari tadi.

“Aku hanya menanyakan kemana kau pergi.” Abeonim yang menjawab.

“Bagaimana keadaan Abeoji? Dimana yang sakit?” Kali ini Taeyeon bertanya langsung pada ayahnya.

“Seluruh tubuhku sakit.” Ia merengek pada Taeyeon seperti seorang anak kecil.

“Dokter! Bagaimana ini?” Taeyeon yang sudah terlanjur panik, merongrong Dokter Lee dengan pertanyaan. “Bukankah dokter mengatakan operasinya berjalan lancar? Mengapa Abeoji malah kesakitan?”

Dokter Lee meletakkan stetoskopnya setelah ia selesai memeriksa Abeonim. “Keadaannya masih stabil. Wajar ia merasakan sakit mengingat ia baru saja menjalani operasi besar.”

“Tapi dia kesakitan.” Taeyeon yang melihat ayahnya kesakitan sepertinya akan menangis. “Lakukan sesuatu dokter!”

“Kepalaku rasanya sakit sekali. Dadaku lebih sakit lagi. Seperti baru saja dibelah. Dan punggungku juga sakit. Tolong lakukan sesuatu dokter!” Abeonim terus merengek.

“Jangan manja Youngho-ah!” Dokter Lee menepuk pelan lengan Abeonim. “Kau baik-baik saja. Tahan sedikit sakitmu. Sebaiknya kau tidak terlalu banyak bicara jika ingin sakitmu berkurang. Perbanyak istirahat agar kau cepat sembuh.”

“Apa tidak sebaiknya Abeoji diberi obat penghilang rasa sakit?” Tanya Taeyeon lagi.

“Tidak perlu. Dia belum membutuhkannya.” Sahut Dokter Lee.

“Tapi Abeoji kesakitan. Bagaimana bisa ia beristirahat jika ia kesakitan?” Bukan hanya ayahnya yang terus merengek tapi juga Taeyeon.

“Tae..” Aku menyentuh bahunya agar ia lebih tenang.

Taeyeon menyingkirkan tanganku dan melanjutkan kepanikannya. “Abeoji kesakitan Miyoung-ah!”

“Taeyeon-ah!” Abeonim memanggilnya. Taeyeon menoleh dan menunduk agar bisa lebih jelas mendengarkan ucapan ayahnya. “Aku baik-baik saja. Aku hanya sudah lama tidak bercanda dengan Dokter Lee.”

“Abeoji!” Taeyeon protes. Ia menyeka air mata yang nyaris keluar dari sudut matanya. “Aku pikir Abeoji benar-benar kesakitan. Bagaimana bisa Abeoji bercanda begitu membuka mata?”

“Kalau begitu aku pergi dulu. Taeyeon menyeretku saat aku sedang ada rapat direksi.” Dokter Lee pamit. Ia menunduk sedikit padaku sebelum keluar dan aku membalas salamnya.

“Memang sakit. Tapi hanya sedikit.” Abeonim mencoba tersenyum namun tampak janggal karena ia juga menahan rasa sakitnya. Aku tahu itu. Ia sudah kesakitan sebelum Taeyeon datang. Ia kemudian dengan sengaja melihatku saat Taeyeon masih fokus padanya. “Dan.. Siapa ini? Kau tidak berencana mengenalkannya padaku?”

“Berhentilah berpura-pura. Aku tahu kalian sudah saling kenal.” Taeyeon mencebik. Masih kesal pada ayahnya, kurasa.

“Aniyeo. Aku memang belum memperkenalkan diriku.” Aku bergeser kemudian memberikan hormatku yang tulus pada Kim Youngho untuk pertama kalinya. “Aku Tiffany. Maaf karena telah menikahi putrimu, Kim Taeyeon, tanpa meminta restu darimu terlebih dahulu.”

“Aku juga minta maaf Abeoji.” Taeyeon menatapku sambil menggenggam tanganku. “Itu bukan kesalahannya. Aku yang harusnya meminta restu pada Abeoji.”

“Aku tidak akan mempermasalahkan itu.” Abeonim bernafas dengan berat. Ia terlalu memaksakan diri. “Yang paling penting bagiku adalah kebahagiaan Taeyeon. Jika kau membuatnya tidak bahagia, aku tidak akan memaafkanmu Tiffany-ssi.”

“Abeoji!” Taeyeon akan protes, namun aku segera menyela.

“Abeonim tidak usah khawatir. Aku berjanji akan membuatnya bahagia.”

“Kalau begitu..” Abeonim berkata lagi. “Bisakah kau melakukan satu hal untukku?”

“Tentu Abeonim.” Aku menjawab tanpa ragu. Sesaat melupakan bahwa orang ini adalah Kim Youngho yang sangat berbahaya.

“Maukah kau melepaskan wig aneh yang kau pakai sekarang? Karena itu membuatku sedikit terganggu.” Lanjutnya.

Aku memegang kepalaku. Lupa bahwa aku masih memakai penyamaranku. Sekaligus menyadari betapa bodohnya Taeyeon. Kim Youngho yang baru sadar dari operasi mampu mengenaliku, tapi Kim Taeyeon tidak. Aku hanya bisa mencoba berpikir positif. Mungkin Abeonim mampu mengenaliku karena yang bermasalah darinya adalah jantung sementara Taeyeon adalah kepala.

“Tidak aneh. Dia tampak Tampan kok.” Taeyeon mencoba membelaku meski sebenarnya itu tidak perlu. Abeonim benar. Aku bisa melihat bayanganku sendiri di cermin. Mungkin masalah di kepala Taeyeon lebih serius dari yang ku kira.

Aku melepaskan wig yang aku kenakan tanpa banyak bicara kemudian merapikan rambutku sedikit.

“Nah.. Begini lebih baik.” Abeonim tersenyum melihatku. “Kau memiliki istri yang cantik Taeyeon-ah.”

“Ne, aku tahu.” Taeyeon menarik tanganku kemudian menciumnya. Ia menatapku dengan terpesona meski saat ini rambutku lepek dan berkeringat karena terlalu lama memakai rambut palsu. “Dia sangat cantik Abeoji.”

 

***

 

“Eomma!” Joohyun berlari menyambut Taeyeon saat kami kembali.

Gadis kecil itu semerta-merta melompat ke pelukan Taeyeon dan Taeyeon langsung menggendongnya. Aku yang khawatir Taeyeon yang masih belum sembuh benar akan tumbang, memegangi kedua bahunya untuk menambah kekuatannya.

Awalnya Taeyeon bersikeras untuk tinggal di rumah sakit menemani ayahnya hingga beliau keluar. Namun Abeonim meminta kami untuk pulang untuk istirahat dan baru boleh kembali besok. Tadinya Taeyeon tidak setuju. Setelah Abeonim mengatakan bahwa aku tampak kelelahan, ia akhirnya bersedia untuk pulang.

Melihat bagaimana hubungan Taeyeon dengan ayahnya, ternyata itu jauh dari apa yang aku duga. Aku bisa melihat betapa Kim Youngho menyayangi putrinya begitu pula sebaliknya. Aku baru beberapa jam melihat interaksi antara keduanya dan itu membuatku yakin. Kim Youngho tidak sejahat yang terlihat.

“Putri Eomma.. Mengapa semakin berat?” Taeyeon mengangkat Joohyun dengan susah payah. Aku akan mengambil Joohyun darinya karena ia tampaknya kesulitan, namun ia menolak. “Aku saja. Aku juga merindukan uri Joohyun.”

“Eomma! Joohyun punya Harabeoji dan Halmeoni.” Joohyun mulai berceloteh saat Taeyeon membawanya ke ruang tamu. “Tapi mereka tidak mau dipanggil Harabeoji dan Halmeoni. Aneh sekali. Masa Harabeoji menyuruh Joohyun memanggilnya Cas. Itu kan tidak sopan. Joohyun tidak mau. Eeh.. Harabeoji malah tidak mau main sama Joohyun. Kalau Joohyun panggil Cas, baru dia mau main.”

Di ruang tamu, sudah ada Mom dan Dad menantikan kami. Melihat kedua orangtuaku, Taeyeon menurunkan Joohyun kemudian membungkuk memberi hormat.

“Selamat malam, Eommonim, Abeonim.. Mm.. Maksudku Cas.” Taeyeon yang baru pertama kali bertemu dengan Mom tampak kikuk. Awalnya seperti akan mendekati mereka kemudian ia ragu dan mengurungkan niatnya.

“Ayo!” Aku menggandeng tangannya untuk bergabung dengan kedua orangtuaku. “Mom, kenalkan ini Taeyeon. Istriku.”

“Hai, nak. Senang bertemu denganmu.” Mom mengulurkan tangannya pada Taeyeon.

“Eommonim.. Perkenalkan nama saya Kim Taeyeon.” Taeyeon menjabat tangan Mom kemudian tampak takjub saat melihat tangan Mom. “Woaah.. Jadi seperti ini tangan seorang ibu. Lembut sekali.”

“Ho.. Ho.. Kau lucu sekali.” Mom menarik tangannya karena Taeyeon tidak terlihat akan melepaskannya lebih dahulu. “Berapa usiamu nak? Apa kau kuliah? Atau sudah bekerja?”

“Dua puluh lima tahun, Eommonim.” Jawab Taeyeon. Kemudian ia menunduk malu. “Maaf, saya pengangguran.”

“Pengangguran?” Mom tampak sedikit kecewa. “Jadi bagaimana kau hidup sebelum menikah dengan Tiffany? Apa kau masih tinggal dengan orangtuamu?”

“Sayaang..” Dad mencoba menghentikan Mom namun wanita itu tidak peduli. Sementara aku sama sekali tidak berniat membantu Taeyeon meskipun ia tampak tersudut. Mungkin ia memang putri seorang chaebol, tapi benar ia pengangguran. Ia tidak punya kerjaan.

“Saya tidak tinggal dengan orangtua saya Eommonim. Saya hidup sendiri di luar negri.” Kali ini Taeyeon mulai memiliki kepercayaan dirinya. “Sebelum menikah, saya mengajar.”

“Taman kanak-kanak?” Tebak Dad. Dan itu sama dengan apa yang aku pikirkan. Taeyeon memang cocok mengajar taman kanak-kanak.

“Bukan.” Taeyeon tertawa sambil tersipu. Mungkin ia mengira Dad barusan memujinya. “Saya mengajar di salah satu universitas swasta di Boston.”

Taeyeon mengajar di universitas? Ck, yang benar saja.

“Boston? Apa aku tahu universitas apa itu?” Giliran Dad yang bertanya. Kini justru ia terlihat lebih penasaran dari Mom.

“Harvard.” Jawabnya enteng.

“Harvard?” Bukan hanya aku yang kaget tapi juga Mom dan Dad.

“Memang bukan pengajar tetap. Hanya pengajar magang. Dan gajinya juga tidak begitu besar. Tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari.” Lanjut Taeyeon.

Aku memeriksa luka di kepalanya apakah berdarah lagi atau tidak karena omongannya mulai ngelantur. “Apa kepalamu sakit lagi? Apa kau merasa pusing? Tidak enak badan?”

“Istrimu lucu sekali Fany-ah.” Dad tertawa.

“Benarkah?” Taeyeon ikut tertawa dan Joohyun yang tidak mengerti apapun ikut-ikutan tertawa geli karena melihat Taeyeon.

“Sulit dipercaya jika kau mengajar di Harvard di usia semuda ini nak.” Kali ini Mom yang bicara.

“Yah.. Saya mengerti.” Taeyeon berhenti tertawa lalu kembali memasang wajah serius. “Awalnya banyak mahasiswa yang meremehkan saya. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai menghargai saya sebagai dosen mereka. Jika tidak percaya, anda bisa menanyakannya pada Choi Sooyoung. Miyoung pernah bercerita kalau Sooyoung dekat dengan orangtuanya.”

Benar juga. Sooyoung pernah mengira bahwa Taeyeon adalah salah satu Profesornya di Harvard. Saat itu aku pikir dia salah mengenali orang. Tapi sekarang.. Masa sih?

“Kau sepertinya butuh istirahat.” Ujar Dad. “Apa kalian sudah makan?”

Aku mengangguk. “Tadi di rumah sakit.”

“Kalau begitu pergilah mandi dan istirahat. Joohyun biar kami yang urus.” Lanjutnya.

“Gomawo, Cas.” Taeyeon menepuk bahu Dad yang membuat Mom dan tentu saja Dad kaget. Wajar saja. Dad hanya meminta Taeyeon memanggilnya Cas, bukannya memperlakukan Dad seolah mereka seumuran.

“Kalau begitu, kami ke kamar dulu Mom, Dad.” Aku menyeret Taeyeon yang masih nyengir pada Dad. “Daah.. Joohyun.”

“Daah.. Eomma!” Joohyun melambai namun tampak tidak senang karena ia masih belum puas bertemu Taeyeon.

Sesampainya di kamar, Taeyeon langsung melompat ke atas tempat tidur. Aku yang merasa gamang karena takut kepalanya terbentur tembok atau sisi tempat tidur, separuh berlari untuk menangkapnya. Tentu saja Taeyeon yang lebih dulu sampai dibandingkan aku. Syukurlah ia mendarat dengan selamat. Tidak bisakah dia bersikap normal sehari saja?

“Hati-hati Taeyeon-ah! Kepalamu baru saja di jahit.” Aku duduk di ujung kakinya.

“Ne..” Ia menelungkup di atas perutnya hingga suaranya teredam karena tertutup bantal.

“Kau mau tidur? Tidak mandi dulu?” Tanyaku.

Ia mengangkat satu tangannya. “Lima belas menit lagi Miyoung-ah. Aku lelah sekali.”

“Ok.” Aku membiarkannya. Ia memang terlihat lelah. Dia terus menjaga Abeonim. Karena itulah Abeonim memaksa kami untuk pulang agar Taeyeon bisa istirahat.

Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi sebentar saat Taeyeon beristirahat. Setelah aku selesai mandi, Taeyeon masih di posisi awal. Tidak bergerak sedikitpun. Dia sudah tertidur.

Aku menghampirinya kemudian membantunya mengganti pakaian. Ia sudah memakainya selama beberapa hari pasti rasanya tidak nyaman tidur dengan pakaian itu. Aku telah membuka atasannya, saat aku akan membuka celananya, ia menangkap tanganku.

“Jika kau tidak sabaran…” Matanya yang terbuka kini tengah menatapku. “Kau bisa membangunkanku.”

“Ne?” Aku akan menarik tanganku kembali, namun ia menahannya.

“Waktu itu aku tidak sempat melakukan perlawanan padamu.” Lanjutnya sambil mencebik. “Masa kau mau begitu lagi?”

“Aku pikir kau tidur.” Aku membela diri. “Aku hanya bermaksud menggantikan pakaianmu.”

Taeyeon duduk hingga wajah kami sejajar. “Tapi kau tampak menikmatinya.”

“A.. Apa?” Aku merasakan wajahku memerah karena ia tidak sepenuhnya salah. Aku memang melihat tubuhnya. Sedikit.

Tapi kan dia istriku. Tentu saja aku boleh melihat tubuhnya.

“Bagian mana yang paling kau suka?” Tanyanya dengan suara rendah yang dibuat-buat. Ia bergerak mendekat saat bertanya.

“Aku.. Aku..” Dia membuatku tergagap. Jujur dia memang membuatku gugup. Terlebih ia hanya menggunakan bra sehingga sebagian dadanya terlihat. Dengan mata yang terus tertuju pada kedua gundukan itu, mulutku bicara tanpa berpikir. “Aku paling suka dadamu.”

“Hanya ini?” Taeyeon memegang dadanya dari kedua sisi hingga menyatu di tengah.

Aku menelan ludah.

“Eomma!” Joohyun menerobos masuk. “Joohyun tidak mau tidur dengan Cas lagi. Dia kentut dalam selimut.”

 

***

 

Taeyeon POV

 

“Eomma!” Pintu terbuka tiba-tiba dan Joohyun masuk. Bocah itu selalu tahu saat yang tepat untuk menginterupsi.

Untung hanya Joohyun yang masuk. Tidak ada Cas atau Eommonim yang mengikutinya. Karena aku separuh telanjang disini.

“Joohyun tidak mau tidur dengan Cas lagi.” Adu gadis kecil itu. Sungguh aku tidak peduli. Bisakah ia memberi privasi pada aku dan Miyoung? “Dia kentut dalam selimut.”

“Oh, kemarilah sayang!” Miyoung merentangkan tangannya dan Joohyun datang kepelukannya. Bahkan Miyoung mengacuhkanku.

Mengapa?

Mengapa aku tidak pernah punya kesempatan?

 

-END

Blue (Part 27)

Title : Blue

Author : Mr. Lim

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Seo Joohyun

Genre : Yuri, Romance, Family, Tragedy, Crime, PG 17+

 

Tiffany was Handsome

Tiffany POV

Aku harus dibimbing oleh Dad karena kakiku terasa lemas dan tidak bisa berjalan sendiri saat mengikuti para polisi itu ke rumah sakit untuk menjemput jasad Taeyeon. Memikirkan bahwa aku akan membawa pulang tubuhnya yang dingin dan tak bernyawa membuatku mendadak kehilangan semua tenagaku. Ini terasa seperti mimpi. Mimpi yang sangat buruk.

Polisi itu berhenti di depan sebuah pintu kamar rawat kemudian membukanya sebelum mempersilahkan aku dan Dad masuk. Benar! Kamar rawat, bukan kamar mayat. Ternyata bukan hanya tenagaku yang lenyap tapi juga penglihatanku. Aku sampai salah membaca papan nama.

Tapi aku rasa aku tidak salah membaca. Itu memang sebuah kamar rawat berbentuk bangsal dengan empat tempat tidur di masing-masing sisinya. Polisi itu membawa kami ke salah satu tempat tidur. Nomor dua di sebelah kiri. Disana aku melihat Taeyeon sedang bermain dengan perban di kepalanya.

“Kami kesulitan mencari keluarganya karena dia tidak mau bicara tiap kami menanyakan tentang keluarganya.” Polisi itu bicara saat kami sudah disana. “Kata dokter, dia tidak mengalami luka yang serius. Hanya sebuah jahitan di kepala. Juga tidak ada trauma.”

“YA! KIM TAEYEON!” Aku yang sudah siap dengan kemungkinan terburuk, malah dihadapkan pada kenyataan bahwa Taeyeon sibuk bermain dengan hal yang tidak penting. Dengan emosi yang meluap-luap, aku memukul bahunya hingga ia tersungkur mencium lututnya.

Kim Taeyeon, si bodoh itu menatap aku dan Dad bergantian dengan wajah bodohnya. “Nugu? Apa aku mengenal kalian?”

“Kau tidak mengenaliku?” Tanyaku yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Taeyeon. Apa ia lupa ingatan?

“Ini tuan Hwang dan anaknya. Mereka mengaku mengenalmu.” Polisi yang masih berada disana membantu menjelaskan. “Karena kau tidak pernah mau menjawab saat ditanya dimana keluargamu, kami harus bekerja ekstra mencarinya.”

“Hwang?” Taeyeon lagi-lagi menatapku dan Dad bergantian. Kali ini ia memperhatikan dengan lebih seksama. Kemudian ia berseru saat terbesit sebuah ingatan. “Eoh, Abeonim! Dan.. Bagaimana aku memanggilmu? Kau lebih tua atau lebih muda dari Miyoungku? Aku tidak tahu kalau dia punya saudara laki-laki.”

Ia tertawa. Tertawa! Disituasi seperti ini!

“Enaknya kau diapain ya?” Aku menggeram sambil memelototinya namun ia tampak acuh tak acuh.

Kim Taeyeon, orang ini sungguh menguras segala hal yang tersisa dariku saat ini. Hati, pikiran, dan tenaga. Aku begitu mencemaskannya hingga tidak bisa berjalan, tapi dia malah menyempatkan diri untuk bercanda.

“Sepertinya dia sudah ingat. Kalau begitu saya pamit dulu. Jika anda ingin membuat laporan tabrak lari, silahkan datang ke kantor.” Polisi itu pamit. Ia menunduk memberi hormat sebelum pergi.

“Fany-ah!” Dad memegang lenganku membuatku tersadar bahwa ada Dad disini. Ekspresi wajahnya kini sulit untuk dijelaskan. Dia seperti orang yang sedang marah. Tapi kenapa? Karena Taeyeon yang tidak serius. Kalau begitu dia tidak sendirian. Aku juga merasakan kemarahan saat ini.

“Ne?” Jawabku.

Dad mendekat untuk membisikkan sesuatu di telingaku. “Bisa bicara di luar sebentar?”

“Tentu, Dad.” Ujarku kemudian beralih pada Taeyeon yang masih setia menunjukkan cengiran menyebalkannya. “Dan kau! Aku akan mengurusmu nanti.”

“Gomawo, Bro!” Ia tertawa. “Bro tidak apa kan? Karena kau tidak mau menjawab apa kau lebih tua atau lebih muda dari Miyoung. Atau.. Jangan-jangan kalian kembar? Astaga! Harusnya kita mengambil foto bersama.. Sial! Ponselku rusak. Bisa pinjam ponselmu?”

“Kim Taeyeon-ssi?” Selaku. Aku sengaja memanggilnya dengan ‘ssi’ untuk menunjukkan padanya bahwa aku sedang kesal padanya. “Aku harus bicara pada Dad, kau, tunggu disini!”

Ia mengangguk karena aku berusaha memelototinya sekejam mungkin.

Dad mengajakku keluar dari bangsal itu. Setelah tiba di luar, Dad bersidekap siap menginterogasiku.

“Jadi, kau menikah dengan orang itu?” Tanya Dad berapi-api.

Aku mengangguk takut. “Itu benar Dad.”

“Apa kau sudah gila?” Dad mengumpat frustasi. “Apa kau tidak bisa memilih orang lain hingga meminta orang seperti itu menikah denganmu?”

Orang seperti itu? Apa Dad melihat ketidak warasan Taeyeon? Apa ia marah karena itu?

“Aku sudah sangat kecewa saat mengetahui kau tidak mengabari kami meski kau dalam kesulitan. Dan aku lebih kecewa lagi saat tahu kau kau menikah tanpa memberitahukan kami. Lalu ini. Selama aku hidup, ini adalah kekecewaan terbesar dalam hidupku.” Mata Dad tampak berkaca-kaca karena tidak mampu menahan kekecewaannya. “Demi tuhan Fany-ah! Apa yang ada dipikiranmu hingga menikah dengan bocah sepertinya? Apa orangtuanya tahu? Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Apa kau sadar kau bisa menghancurkan masa depan anak itu?”

Mwoya! Apa yang dipikirkan Dad tentangku. Aku kehilangan kata-kata.

“Dan kau.. Dan kau jatuh cinta pada bocah kecil itu?” Dad belum selesai dengan spekulasinya padaku. Aku tidak menyalahkannya. Aku juga pernah berada di posisinya dan mengira Taeyeon adalah seorang pelajar. “Berapa usianya tahun ini? Lima belas?”

“Dad!” Aku mencoba bicara setenang mungkin untuk menjelaskannya pada Dad. “Benar aku menikahi orang itu. Tapi dia bukanlah seorang pelajar. Dia jauh lebih tua dari kelihatannya.”

Dad terdiam sangsi. Ia menatapku seolah aku baru mengatakan bahwa bumi itu datar. “Masa sih?”

Aku mengangguk. “Kami seumuran. Aku dan Taeyeon pernah sekelas dulu saat sekolah dasar.”

“Tapi tidak terlihat seperti itu.” Dad berpikir keras. Ia masih saja ragu.

“Di Korea, aku tidak bisa menikahi anak di bawah umur, Dad.” Aku menambahkan.

“Benar juga.” Aku lega karena Dad akhirnya mengerti.

“Kalau begitu, apa kita bisa kembali kedalam?” Tanyaku kemudian. “Karena masih ada hal yang harus aku selesaikan dengan Kim Taeyeon.”

 

***

 

Taeyeon POV

 

Kepalaku berdenyut-denyut dan pandanganku berkunang-kunang saat aku keluar dari gedung apartemen Miyoung. Berdiri linglung tanpa tujuan. Satu-satunya tempat yang bisa aku datangi sementara Miyoung tidak menginginkanku adalah neraka. Aku bisa pergi ke neraka. Detik ini juga.

Sebuah mobil melaju dengan kencang dengan sinar lampu yang menyilaukan mata. Aku melangkahkan kakiku untuk menghadangnya. Mobil itu tidak bisa menghindariku. Aku tertabrak dengan sangat keras. Tidak terasa sakit. Hatiku jauh lebih sakit.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Semua itu hanya kata-kata bohong.

Aku terkapar di tengah jalan. Tidak ada kekuatan untuk bergerak. Terasa cairan hangat keluar dari kepalaku. Seperti ada darah beku yang mengalir keluar. Membuatku mampu berpikir dengan leluasa.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Tidak! Aku percaya pada Miyoung. Dia tidak akan meninggalkanku. Lalu untuk apa aku pergi meninggalkannya saat ia berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanku. Aku harus kembali dan memohon pengampunan padanya. Meskipun ia takut padaku karena telah membunuh Chaebok Ahjussi, bukankah dia mencintaiku? Aku bisa memanfaatkan itu untuk membuatnya menerimaku kembali.

Tidakkah ini terlambat? Aku terkapar disini. Tidak mampu bergerak. Tidak mampu berteriak. Aku tidak akan berakhir disini kan?

Aku tidak bisa mati. Tidak boleh. Jika aku mati, maka Abeoji juga akan mati. Tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk padaku atau Abeoji akan terkena serangan jantung lagi. Pria tua itu begitu lemah dan tak berdaya.

Tapi aku yang lebih tak berdaya saat ini.

Gelap.

 

***

 

Gelap.

Aku kembali berada di kegelapan yang pekat. Tidak bisa menggerakkan anggota tubuh manapun. Tubuh Eomma berada tepat di atasku. Menghimpitku bersama dengan ribuan butir tanah. Rasanya sakit. Aku tidak tahan.

Saat aku merasa hampair saja mati, aku melihat cahaya. Semakin lama semakin banyak. Aku juga mendengar suara berisik dan keramaian. Akhirnya lubang tempat aku dilemparkan terbuka sepenuhnya. Banyak orang di atas sana. Aku mengenali salah satu wajah mereka. Abeoji. Dia datang menyelamatkanku.

 

Aku membuka mata dan mendapati diriku sedang berada di unit gawat darurat rumah sakit. Ada perban yang melilit kepalaku dimana rasanya sakit. Aku terluka. Pasti karena kecelakaan itu.

Astaga! Berapa lama aku pingsan? Aku melewatkan operasi Abeoji!

“Kau sudah sadar nak?” Ujar seorang pria yang baru aku sadari berada di bilikku. Ia memakai jaket denim berwarna abu-abu tua. Usianya sekitar empat puluhan.

“Sepertinya.” Jawabku. “Siapa anda? Berapa lama aku tidak sadar?”

“Aku adalah polisi dari distrik gangnam. Kau mengalami tabrak lari tadi malam. Kira-kira sepuluh jam yang lalu. Karena kami tidak menemukan identitasmu, kami tidak bisa menghubungi keluargamu. Karena itu aku disini. Jadi, bisa kau beritahukan padaku alamat atau nomor telepon orang tua atau walimu agar aku bisa memberitahukan apa yang menimpamu, nak?” Pria itu menjawab semua pertanyaanku sekaligus menanyakan hal lain.

Memberitahukan apa yang menimpaku? Jika Abeoji tahu, meski ini bukanlah luka yang serius dan aku baik-baik saja, beliau akan terkena serangan jantung. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku juga tidak bisa memberitahukan kontak Miyoung padanya. Selain Miyoung sedang marah padaku, aku juga tidak bisa membiarkan orang lain melihatnya. Dia akan dikenali. Aku tidak ingin ia datang kemari lalu dilempari batu lagi.

“Ah! Kepalaku sakit saat Ahjussi membahasnya.” Aku memegangi kepalaku yang tidak terlalu sakit lalu berpura-pura seolah aku kesakitan setengah mati.

“Nak! Kau kenapa? Aku akan panggilkan dokter.” Pria itu bergegas keluar tak lama ia datang membawa seorang dokter bersamanya.

Itu adalah Dokter Lee. Apakah tidak ada dokter lain di Seoul? Dan bukankah dia kepala rumah sakit? Apa yang dilakukannya di UGD?

“Eoh! Tae..” Dokter Lee akan menyapaku namun aku segera memberi isyarat agar ia diam. Dokter Lee mengangguk mengerti. Untung polisi itu cukup bodoh hingga tidak menyadari apa yang aku dan Dokter Lee lakukan di depan matanya.

“Tiba-tiba saja bocah ini mengeluh kalau kepalanya sakit.” Polisi itu menjelaskan.

“Baiklah, aku akan memeriksanya dulu.” Dokter Lee mengeluarkan stetoskop dari sakunya. “Bisa anda tunggu di luar sebentar?”

Polisi itu mengangguk kemudian keluar dari bilikku.

“Kau bisa bicara sekarang?” Tahu bahwa aku hanya pura-pura sakit, Dokter Lee mengembalikan stetoskopnya. “Apa yang terjadi Taeyeon-ah? Mengapa kau disini?”

“Aku kurang hati-hati saat menyeberang jalan lalu terserempet mobil.” Jawabku. Sengaja menggunakan kata ‘terserempet’ karena yakin Dokter Lee akan mengadu pada Abeoji. Jadi aku sengaja membuatnya seolah ini hanyalah masalah sepele. “Polisi tadi datang untuk menanyakan identitasku. Tapi aku tidak bisa memberitahukan identitasku padanya. Karena..”

“Karena dia polisi.” Dokter Lee langsung berspekulasi tanpa menunggu kelanjutan kalimatku. Yeah, tidak masalah. Apapun yang ia pikirkan, aku tidak peduli. “Kau tidak usah khawatir Taeyeon-ah. Aku akan membantumu merahasiakannya.”

“Bagaimana keadaan Abeoji?” Tanyaku. Jika ada Dokter Lee disini, berarti ini adalah rumah sakit yang sama tempat dimana Abeoji dirawat. Aku bisa melihatnya nanti.

“Kondisinya masih naik turun. Operasinya akan dilakukan besok, pagi-pagi sekali.”

“Bisa aku melihatnya? Aku ingin menemaninya sebelum operasinya besok.”

“Tentu.” Dokter Lee menjawab tanpa berpikir panjang. “Aku akan meminta perawat untuk mengantarmu. Tapi setelah ayahmu selesai operasi, kau harus kembali kemari dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Karena lukamu di kepala, kau harus melewati pemeriksaan lengkap untuk memastikan tidak ada geger otak atau trauma lain.”

“Tidak masalah.” Setelah memastikan operasi Abeoji berhasil, apapun tidak masalah. “Tapi bagaimana dengan polisi tadi? Dia akan kembali untuk menanyakan identitasku.”

“Biar aku yang urus. Akan aku katakan padanya bahwa kau harus istirahat total dan tidak boleh diganggu.” Dokter Lee mengutarakan ide cemerlangnya.

“Dan bisakah aku minta tolong untuk satu hal lagi?” Aku menunggu Dokter Lee mengangguk sebelum mengatakan kelanjutannya. “Bisakah anda tidak memberitahukan pada Abeoji tentang aku terserempet mobil? Aku tidak ingin kondisinya menjadi lebih buruk lagi karena mendengar hal ini.”

“Tentu saja Taeyeon-ah!” Dokter Lee menjawab cepat meski aku tidak yakin ia akan menepatinya. Ia pasti akan memberitahukannya pada Abeoji. Aku hanya bisa berharap ia tidak melakukannya saat kondisi Abeoji masih kritis.

Paling tidak rencananya berhasil. Polisi tadi tidak kembali lagi untuk menanyaiku. Meski nantinya Dokter Lee akan memberitahukan tentang kecelakaanku pada Abeoji, ceritanya tidak akan seburuk saat polisi yang memberitahukannya.

Dengan memakai topi rajutan untuk menutupi perban luka di kepalaku yang dipinjamkan Dokter Lee pada seorang dokter magang, dan juga kursi roda yang di dorong oleh perawat pria, aku pergi menuju kamar rawat Abeoji. Lucu juga rasanya saat duduk di kursi roda saat yang terluka adalah kepalaku bukannya kaki.

Setibanya di kamar rawat Abeoji, aku turun dari kursi roda dan meminta perawat itu menunggu di luar bersama kursinya. Aku tidak ingin jantung Abeoji copot sebelum operasi jika sampai ia melihatku menaiki benda itu.

Abeoji sedang duduk di ranjangnya saat aku tiba. Sepertinya kondisinya sudah mulai membaik. Sementara di sofa tunggu Piljoo Ahjussi sedang tidur dengan mulut terbuka. Terlihat jelek sekali. Aku berjalan ke arah Piljoo Ahjussi. Berencana membangunkannya dan menyuruhnya pulang untuk beristirahat. Sofa itu tampak tidak cukup untuknya.

“Biarkan saja dia. Beberapa malam dia tidak tidur karenaku.” Ujar Abeoji karena ia melihatku akan membangunkan Piljoo Ahjussi.

Aku mengangguk kemudian mendekati Abeoji. “Bagaimana dengan Abeoji?”

“Sudah lebih baik.” Jawabnya ceria. Selain wajahnya yang menua, ia tampak sama persis seperti dua puluh tahun yang lalu. “Aku bahkan merasa tidak perlu melakukan operasi.”

“Abeoji!” Aku memelototinya. Hal yang tidak pernah ku lakukan sebelumnya namun tidak terasa janggal.

“Arra.. Araa..” Ia tertawa. “Aku kan kan hanya mengatakan merasa, bukan benar-benar tidak melakukan operasi.”

Aku membuka jaketku dan melipatnya di tangan. Saat itu aku menyadari bahwa ada noda darah di bagian kerahnya. Segera aku menyembunyikannya sebelum Abeoji sempat melihat.

“Kau darimana saja?” Tanyanya kemudian.

“Aku pulang sebentar.” Aku tidak berbohong. Aku memang pulang dan kemudian tertabrak mobil saat keluar.

“Kau sudah makan?” Tanyanya lagi. “Kau juga harus makan dan istirahat Taeyeon-ah! Lihat dirimu sekarang. Kau bahkan lebih buruk dariku yang penyakitan.”

Benar juga. Kapan terakhir kali aku makan? Aku tidak ingat. Pantas saja rasanya begitu lemah dan tak berdaya.

“Aku hanya ingin menemani Abeoji disini.” Jawabku. Mengacuhkan pertanyaan yang diajukannya barusan.

Ya, aku hanya ingin menemaninya. Sudah terlalu lama aku meninggalkannya sendirian saat ia sedang sakit parah. Aku akan mengganti waktu yang hilang itu. Aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi.

 

***

 

Setelah operasi Abeoji selesai, dan mendengar bahwa itu berjalan lancar, aku kembali ke ruanganku. Toh aku juga tidak bisa menemani Abeoji di ruangan pasca operasi. Aku akan melihatnya lagi nanti saat ia sudah kembali ke ruang rawat.

Baru saja aku tiba, aku melihat dari kejauhan polisi yang kemarin datang bersama dua orang pria. Buru-buru aku melompat ke atas ranjangku, membuka topi yang aku kenakan, kemudian memperbaiki perban yang sedikit rusak karena topi dengan seadanya. Aku tidak ingin polisi itu curiga bahwa aku baru saja pergi keluar.

Mereka tiba tepat saat aku selesai memperbaiki perban di kepalaku. Polisi itu berdiri di samping kananku sementara dua pria lainnya di ujung kaki tempat tidurku. Yang satu lebih tua daripada lainnya. Begitu tiba, polisi itu langsung bicara pada kedua orang tadi. “Kami kesulitan mencari keluarganya karena dia tidak mau bicara tiap kami menanyakan tentang keluarganya. Kata dokter, dia tidak mengalami luka yang serius. Hanya sebuah jahitan di kepala. Juga tidak ada trauma.”

“YA! KIM TAEYEON!” Aku kaget setengah mati saat pria yang lebih muda menghambur ke arahku dan langsung memukulku. Pukulannya kuat sekali. Ia sepertinya membenciku.

Tapi ia tahu namaku. Apa aku mengenalnya? Aku memperhatikan keduanya. Pria yang lebih tua sepertinya bukan orang korea. Ia berambut merah dan berkulit putih. Sementara pria yang lebih muda seperti memiliki masalah pencernaan. Ia kurus, cupu, dan berantakan. Tapi wajahnya terasa familiar. Dimana aku pernah melihatnya?

“Nugu?” Tanyaku pada keduanya. “Apa aku mengenal kalian?”

“Kau tidak mengenaliku?” Si kurus malah balik bertanya.

“Ini tuan Hwang dan anaknya. Mereka mengaku mengenalmu. Karena kau tidak pernah mau menjawab saat ditanya dimana keluargamu, kami harus bekerja ekstra mencarinya.” Si polisi mewakili mereka untuk menjawab.

“Hwang?” Aku berpikir keras sambil terus memperhatikan keduanya. Siapa seseorang dengan nama Hwang yang aku kenal. Ah.. Mengapa susah sekali.

Apa mungkin mereka keluarganya Miyoung. Bukankah setelah diadopsi namanya menjadi Hwang? Benar juga. Setelah dilihat-lihat lagi, si kurus ini memang agak mirip dengan Miyoung-ku. Tentunya si kurus lebih jelek dari Miyoung. Aku rasa mereka bersaudara. Tapi.. Dimana Miyoung? Mengapa Miyoung tidak ikut datang? Apa ia masih marah padaku?

“Eoh, Abeonim!” Seruku setelah berhasil mengingat. Dari si pria tua, aku beralih pada si kurus. “Dan.. Bagaimana aku memanggilmu? Kau lebih tua atau lebih muda dari Miyoungku? Aku tidak tahu kalau dia punya saudara laki-laki.”

“Enaknya kau diapain ya?” Si kurus tampaknya akan memukulku lagi. Mungkin Miyoung yang memintanya. Aah.. Aku tahu sekarang. Miyoung tidak datang bukan karena marah padaku, tapi karena ia tidak bisa muncul di keramaian. Makanya ia meminta keluarganya untuk mewakilinya. Lalu mengapa si kurus ini terlihat marah? Aah.. Aku tahu. Dia tidak marah karena Miyoung juga tidak marah lagi padaku. Si kurus itu hanya memiliki gangguan pencernaan. Mungkin dia ingin bab.

“Sepertinya dia sudah ingat.” Si polisi bicara lagi. “Kalau begitu saya pamit dulu. Jika anda ingin membuat laporan tabrak lari, silahkan datang ke kantor.”

Setelah kepergian si polisi, kedua pria yang tinggal itu saling berbisik. Dan setelah selesai dengan bisik-bisiknya, si kurus mengarahkan telunjuknya padaku.

“Dan kau! Aku akan mengurusmu nanti.” Ujarnya tajam. Bahkan suaranya terdengar sama persis seperti Miyoung.

Meski si kurus berbicara dengan nada mengancam, namun aku merasakan perhatian Miyoung yang dikirimkan padaku melaluinya. Dan itu membuatku terharu. Miyoung tidak marah lagi padaku. Dia bahkan mengirim ayah dan saudaranya untuk mengurusku. “Gomawo, Bro! Bro tidak apa kan? Karena kau tidak mau menjawab apa kau lebih tua atau lebih muda dari Miyoung. Atau.. Jangan-jangan kalian kembar? Astaga! Harusnya kita mengambil foto bersama.. Sial! Ponselku rusak. Bisa pinjam ponselmu?”

“Kim Taeyeon-ssi?” Ia menyela perkataanku yang sebenarnya masih ada lagi. “Aku harus bicara pada Dad, kau, tunggu disini!”

Aku mengangguk. Mana mungkin aku berani menentang keinginan mertua dan saudara iparku. Terlebih ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan mereka. OMO! Aku lupa memberi hormat pada Abeonim. Apa yang akan dipikirkannya tentangku. Aku harap dia tidak terlalu mempermasalahkannya karena sepertinya ia bukan orang Korea.

Tapi.. Bagaimana jika mereka sedang mempermasalahkannya karena itulah mereka keluar untuk membahas hal itu. Mereka akan menganggapku menantu kurang ajar. Apa yang harus aku lakukan? Aku telah meninggalkan kesan buruk di pertemuan pertama kami. Terlebih aku tidak meminta izin pada Abeonim untuk menikahi Miyoung.

Mereka kembali setelah beberapa saat lamanya. Aku duduk manis sambil menunggu mereka di ranjangku.

“Mengapa senyum-senyum?” Si kurus membentakku begitu ia tiba di tempatku. Sudah kurus, cupu, pemarah lagi.

Eoh! Bodohnya.. Harusnya aku memberi hormat pada Abeonim, bukannya duduk-duduk santai disini. Pantas saja anaknya marah.

Bergegas, aku berdiri untuk memberi hormat pada Abeonim. Namun begitu aku menundukkan tubuhku, tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Aku terhuyung ke depan karena kehilangan keseimbangan lalu menubruk perut Abeonim. Aku akan tumbang ke lantai, untung si kurus segera menangkapku.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya. Ia membimbingku kembali ke tempat tidur. Kini ia tidak lagi terlihat marah melainkan cemas. “Harusnya kau tetap di tempat tidurmu. Jangan berkeliaran.”

Berkeliaran, ck. Dia pikir aku ini anak-anak apa. Aku kan hanya ingin memberi hormat pada Abeonim.

“Fany benar, nak. Harusnya kau mendengarkan istrimu.” Abeonim bicara.

Fany? Dimana? Aku mencari-cari disekeliling siapa tahu Miyoung bersembunyi di suatu tempat. Tapi aku tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya. “Apa Miyoung tidak ikut?”

“Berhentilah bercanda Taeyeon-ah! Ini tidak lucu!” Si kurus bicara lagi. Dan kali ini ia memanggilku Taeyeon-ah. Apa itu artinya dia lebih tua? Berarti.. Hyungnim?

Abeonim tertawa. “Apa dia selalu selucu ini?”

Aku ikut tertawa bersama Abeonim meski merasa tidak ada yang lucu. Aku hanya merasa tidak enak dia tertawa sendirian. “Aku mengerti. Pasti Miyoung tidak bisa datang ke tempat yang ramai begini.”

Si kurus menghela nafas seolah ia telah menyerah akan hidupnya kemudian membuka kaca matanya. “Ini aku.”

Aku mengerjap tidak mengerti. Apa maksudnya. Baiklah, ia jadi lebih mirip dengan Miyoung tanpa kaca mata itu. Lalu kenapa?

Melihat aku yang hanya diam tidak mengerti, ia kemudian melepas rambutnya. Rambutnya bisa dilepas! Apa dia alien? Oh, tidak. Setelah dilihat lagi itu hanya rambut palsu. Kini ia tampak persis seperti Miyoung. Tunggu!

“Miyoung?” Aku menutup mulutku tidak percaya.

“Benar!” Miyoung melihat sekeliling. Setelah yakin tidak ada yang melihatnya, ia memakai kembali rambut palsunya. “Dasar bodoh!”

Pantas saja aku merasa ada yang berbeda darinya. Ia terlihat begitu tampan, cerdas, mempesona dan berkharisma. Tidak heran jika ternyata itu Miyoung yang menyamar. Dia tidak perlu repot-repot melepas rambut palsu itu untuk memberitahuku. Dia cukup melepas bajunya saja.

“Ck. Kau benar-benar tidak mengenaliku.” Miyoung memperbaiki rambut palsunya itu kemudian menggunakan kembali kaca matanya.

“Itu karena kau terlalu tampan.” Aku memberi alasan untuk membela diri. “Aku terlalu terpesona padamu hingga tidak bisa berpikir dengan baik.”

“Benarkah dia tampan?” Abeonim memperhatikan Miyoung kemudian tampak sangsi.

“Ne.. Abeonim.” Aku ikut memperhatikan Miyoung dengan terpesona. Dia sangat tampan. Oh iya! Aku belum memberi salam pada Abeonim. Aku mengubah dudukku menjadi bersimpuh kemudian menunduk untuk memberi hormat. “Maaf Abeonim, aku baru sempat memberi hormat sekarang. Namaku Kim Taeyeon. Aku akan merawat Miyoung dengan baik.”

“Issh.. Kau ini! Harusnya kau merawat dirimu sendiri sebelum merawat orang lain.” Celetuk Miyoung.

“Aku Castiel Hwang. Senang bertemu denganmu.” Abeonim tersenyum ramah padaku. “Dan jangan panggil aku Abeonim. Itu membuatku tampak tua. Cukup Cas saja.”

“Ok, Cas.” Tidak masalah kan aku memanggil nama pada mertuaku? Aku melirik Miyoung. Tak ada tanggapan darinya. Baiklah, aku rasa tidak masalah.

“Karena sepertinya ada yang harus kalian bicarakan..” Cas melirik Miyoung. “Aku akan kembali lebih dulu. Jika kalian butuh sesuatu, atau Taeyeon sudah boleh pulang, kalian bisa menghubungiku. Aku akan menjemput kalian.”

“Thanks, Dad.”

Sebelum pergi Cas menutup tirai yang mengelilingi ranjang rawatku. Setelah mengucapkan selamat tinggal, pria itu pergi meninggalkan kami berdua.

Setelah kepergian Cas, Miyoung duduk di pinggir ranjangku. Ia tampak sangat kelelahan. Ia menyentuh perban di kepalaku kemudian mengusapnya seolah aku adalah Joohyun. “Appo?”

Aku meraih tangannya kemudian menggenggamnya di pangkuanku. “Aku baik-baik saja Miyoung-ah.”

Ia menunduk kemudian terdiam. Butuh waktu lama hingga aku menyadari bahwa ia menangis.

“Hei..” Aku mengangkat wajahnya kemudian menghapus air matanya. Aku merasa terluka melihatnya seperti ini. Aku bukanlah istri yang baik hingga membuatnya menangis. “Aku minta maaf Miyoung-ah! Aku bersalah padamu.”

“Aniyeo.” Ia menggeleng. Air matanya semakin banyak mengalir. “Aku yang bersalah padamu. Mianhe.. Aku membuatmu terluka. Aku sudah meragukanmu. Aku tidak percaya padamu.”

“Shhh…” Aku membawanya ke pelukanku. “Ini hanya luka kecil. Kau tidak perlu menangisinya. Aku baik-baik saja. Sungguh.”

Ia menarik dirinya menjauh dariku kemudian menatapku seolah tidak pernah cukup. “Aku pikir aku telah kehilanganmu. Aku pikir kau mati.” Dan kemudian kembali terisak.

Aku tersenyum mendengar pengakuannya. Kembali aku menghapus air mata yang membasahi wajahnya. “Aku pikir kau takut padaku.”

“Tidak.. tidak..” Ia menggeleng. “Aku tidak takut padamu.”

Benarkah? Setelah mengetahui apa yang aku lakukan dimasa lalu, ia tidak takut padaku? “Kau tidak takut padaku meski tahu bagaimana aku membunuh Chaebok Ahjussi?”

“Tidak, Tae.. Tidak…” Ia kemudian diam sesaat dan isakannya menghilang. “Kau apa?”

 

-TBC-

Aphrodite! Adhæsit in Amore (Part 17)

Title : Aphrodite! Adhæsit in Amore

Author : Mr. Lim

Main Cast : Kwon Yu Ri, Kim Tae Yeon, Jessica Jung, Tiffany Hwang

Genre : Romance, Yuri

 

Tae Yeon POV

 

Mi Young menciumku. Aku tidak pernah menyangka ia akan memiliki perasaan seperti itu terhadapku. Kaget. Itu yang aku rasakan. Selama ini aku pikir dia bersikap baik karena merasa kasihan padaku. Tapi ia mengatakan bahwa ia menyukaiku. Seseorang sepertiku. Mengapa?

“Mianhe.. Mi Young-ssi.” Aku mendorongnya menjauh. Menolak ciumannya. Aku harap ia tidak merasa tersinggung.

Ia diam. Aku tidak tahu apakah ia marah atau kecewa. Yang aku tahu hanyalah apa yang aku rasakan. Merasa bersalah padanya. Bersalah karena membuatnya menyukaiku. Aku tidak pantas menerima perasaan seperti itu darinya.

“Tidak, harusnya aku yang minta maaf.” Aku merasa sedikit lega setelah akhirnya mendengar suaranya kembali. Dan ia terdengar kecewa. “Harusnya aku meminta izin sebelum menciummu.”

Kali ini giliranku yang diam. Mendadak merasa canggung dengan kehadirannya di dekatku.

“Kau.. Tidak marah padaku kan?” Tanyanya.

Justru seharusnya ia yang marah padaku. Ia memiliki segala kelebihan dan aku hanya memiliki kekurangan. Aku tidak tahu apa ia terlalu baik atau terlalu polos hingga ia merasa bersalah saat aku adalah orang yang menolaknya.

“Bukankah seharusnya kau yang marah?” Aku balik bertanya.

Mi Young tertawa mendengar pertanyaanku itu. “Sampai kapan kita akan saling lempar seperti ini?”

Aku ikut tertawa meski aku tidak terlalu yakin dengan maksudnya. “Terima kasih untuk segala yang kau lakukan hari ini.”

“Termasuk ciuman barusan?” Ujarnya gamblang.

Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya lagi. Tapi aku tidak ingin membuatnya merasa tidak enak. Dan aku mengangguk. “Termasuk ciumannya.”

“Tapi jangan terlalu cepat berterima kasih.” Ia bicara lagi. “Hari ini belum selesai. Kita belum makan malam. Aku benar-benar lapar.”

Sebenarnya aku tidak merasa lapar. Aku bahkan telah kehilangan selera untuk makan. Tapi aku harus memikirkan Mi Young juga. “Aku juga sangat lapar.”

“Jadi.. Kita ke hotel?” Lanjutnya kemudian tertawa.

Aku mengangguk. Kemudian aku merasakan mobilnya mulai berjalan. Mendadak ia menjadi begitu ceria setelah mengutarakan perasaannya dan menciumku. Ini membuatku semakin merasa bersalah lagi. Setelah aku menolaknya, ia masih sesenang ini.

Sepertinya Mi Young membawaku ke sebuah hotel besar. Ia membimbingku dengan hati-hati untuk memastikan aku tidak tersandung sesuatu. Dengan statusnya sebagai model terkenal, apakah ia tidak malu membawa orang buta sepertiku?

Aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap Mi Young setelah dia mengaku menyukaiku. Aku tidak mungkin mengabaikannya dan bersikap tidak terjadi apa-apa. Mi Young terlalu baik untuk diperlakukan seperti itu. Aku hanya bisa berharap perasaannya terhadapku akan menghilang perlahan-lahan setelah menyadari bahwa aku hanya bisa menjadi beban baginya.

Aku juga tidak bisa menerimanya perasaannya terhadapku. Itu sama saja dengan memanfaatkan ketulusannya untuk diriku sendiri.

Ia bahkan menarikkan kursi dan membantuku duduk padahal ada pelayan disana yang bisa melakukan itu untukku. Setelah mendengar pengakuannya tadi, perhatian yang ia berikan terasa membebaniku.

“Kau ingin makan apa?” Ia bertanya saat pelayan memberikan daftar menu kepada kami. “Mereka punya makanan cina dan korea.”

“Hmm.. Apa yang enak disini?” Sebenarnya aku masih belum merasa lapar.

“Hidangan spesial kami adalah bebek beijing.” Terdengar jawaban dari seorang pria yang perkiraanku adalah pelayan disini.

“Kau mau itu?” Mi Young kembali bertanya.

Aku tidak tahu. Kemudian aku menjawab. “Aku pesan yang sama denganmu saja.”

“Benarkah? Kalau begitu..” Mi Young diam sejenak sambil berpikir. Ia lalu bicara pada pelayan yang masih menunggu pesanan kami. “Kami pesan dua Set C dan wine terbaik disini.”

Aah.. Aku tidak yakin bisa menghabiskannya. Menu set aku rasa terlalu banyak.

“Bukankah kau sedang diet?” Tanyaku setelah pelayan itu pergi. “Dan.. Wine?”

“Sekali-kali melewatkan diet tidak masalah kan?” Aku bisa membayangkan wajahnya yang tersenyum bahagia saat ini. “Kita tidak berkencan setiap hari. Lagipula aku ingin berlama-lama menghabiskan waktu denganmu, Tae Yeon-ssi.”

Aku tersenyum. Berlama-lama menghabiskan waktu denganku. Apakah itu makan malam atau pulang ke rumah, dia hanya akan menghabiskan semua waktunya bersamaku karena aku selalu mengekor kemanapun ia pergi.

“Oh, ya! Tae Yeon-ssi.” Terdengar suara ketukan jari di atas meja. “Aku sudah penasaran sejak lama, tapi selalu lupa menanyakannya. Waktu itu kau melempar kaleng dengan sebuah kertas. Kau tampak sangat keren waktu itu. Bagaimana kau melakukannya? Itu sangat sulit.”

“Sebenarnya tidak sulit. Dulu aku adalah pitcher terbaik.” Aku berusaha terdengar seolah menyombong. “Asal kau tahu, Yu Ri tidak ada apa-apanya.”

Ia tertawa. Membuat udara terasa hangat. Membuatku ikut merasa hangat. Sebuah keajaiban lain yang dimilikinya. “Ah.. Aku menjalani waktu yang sia-sia dengan terlambat mengenalmu.”

“Tidak.. Tidak.. Kau mungkin akan menyesal jika lebih cepat mengenalku.” Aku tidak bermaksud bercanda. Aku mengatakan yang sebenarnya. “Dulu saat remaja banyak gadis-gadis yang mengejarku. Aku punya lebih banyak pacar dibandingkan Yu Ri.”

“Syukurlah aku tidak mengenalmu dulu. Karena aku pasti akan patah hati.” Ujarnya.

“Jika kau mengenalku dulu, kau akan menyebutku brengsek.” Lanjutku yang diiringi oleh tawa geli Mi Young. Ku rasa ia mengira aku hanya mengatakan lelucon. “Kau tahu Soo Young? Choi Soo Young.”

“Choi Soo Young? Yang tukang makan itu?” Mi Young mencoba memastikan.

“Benar. Si Shiksin itu.” Aku tertawa membayangkan Soo Young belum berubah. “Dia bukan pemain bisbol, tapi dia salah satu gengnya Yu Ri. Dia tidak pernah suka padaku karena menurutnya aku memberikan pengaruh buruk pada Yu Ri. Tanyakan padanya betapa buruknya aku dulu.”

“Aku akan menanyakan padanya nanti.” Aku mendengar suara kursi yang bergeser beberapa kali kemudian suara Mi Young mendekat. “Ngomong-ngomong, apa hal terburuk yang pernah kau lakukan dulu?”

“Hm..” Aku pura-pura berpikir. “Yakin ingin mendengarnya?”

“Tentu.”

Aku berdehem sebelum mulai bicara. “Saat SMU, waktu itu tahun pertamaku di sekolah. Karena prestasiku, aku berhasil masuk ke tim utama bisbol. Waktu itu banyak sekali sunbae dengan tubuh seksi. Sayangnya, karena aku masih baru, aku selalu diberi tugas membereskan peralatan seusai latihan sehingga tidak bisa mengganti pakaian bersama mereka. Tapi aku tidak putus asa. Aku meletakkan kamera tersembunyi di ruang ganti wanita dan juga kamar mandi. Dan aku berhasil mendapatkan video mereka mandi dan mengganti pakaian.”

“Ya!” Mi Young terdengar jijik. Kemudian ia tertawa. “Kau masih menyimpannya? Aku boleh lihat?”

“Sayangnya tidak bisa. Appa menangkap basahku saat menontonnya lalu menyita video itu.”

“Oh, ya! Bagaimana dengan orangtuamu?”

“Orangtuaku?” Aku menunduk. Teringat aku belum melakukan apapun untuk mereka sebelum mereka pergi. “Mereka sudah meninggal.”

“Maafkan aku.” Aku merasakan Mi Young yang menggenggam tanganku. “Aku tidak bermaksud membuatmu sedih.”

“Gwaenchanha.” Aku tersenyum. Membiarkannya menggenggam tanganku karena aku tahu ia hanya bermaksud menghiburku. “Harusnya aku juga mati bersama mereka.”

“Hei, kau tidak boleh bicara begitu.” Ia mengeratkan genggamannya. “Jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi pada orangtuamu.”

“Tidak, aku tidak menyalahkan diriku.” Itu adalah kenyataan. Harusnya aku juga mati saat itu. “Mereka tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Meraka mendengar bahwa ada sebuah rumah sakit di Amerika yang bisa mengobati mataku. Tadinya aku akan pergi bersama mereka, tapi Yu Ri menyelamatkanku.

“Yu Ri.. Si bodoh itu.. Dia tidak tahu aku akan pergi ke Amerika untuk pengobatan. Aku tidak memberitahunya. Awalnya aku ingin memberi kejutan padanya yang saat itu sedang menjalani pelatihan di Amerika. Tapi malah Yu Ri yang lebih dulu memberi kejutan padaku. Saat akan berangkat, ia meneleponku mengatakan bahwa ia berada di Incheon. Itu tidak benar, dia hanya mengerjaiku. Tapi aku percaya padanya dan mencarinya tanpa sepengetahuan orangtuaku. Pada akhirnya aku ketinggalan pesawat dan orangtuaku terlambat menyadari bahwa aku tidak ikut.”

“Setidaknya dia menyelamatkanmu.” Celetuknya.

Aku mengangguk menanggapi.

“Setelah kejadian itu, apa kau sudah ke rumah sakit lagi?” Ia memberikan jeda saat pesanan kami datang dan dihidangkan di atas meja. Setelah pelayan selesai, ia baru melanjutkan. “Maksudku.. Memeriksakan matamu.”

“Tidak. Aku tidak ingin.”

“Buka mulutmu. Aaa…” Perintahnya. Aku menurut dan ia memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutku.

“Aku bisa melakukannya sendiri, Mi Young-ssi.” Aku meraba-raba untuk mencari sumpit milikku, namun tidak menemukannya.

“Tentu saja aku tahu kau bisa melakukannya.” Ia terkekeh. “Kita sedang kencan. Kau lupa?”

“Banyak orang yang melihat.”

“Hanya ada kita disini. Aku memesan private room untuk kita. Aa!” Ia memberikan suapan lain yang tidak bisa aku tolak. “Enak?”

Aku mengangguk kemudian tersenyum. “Hmm.. Enak.”

“Jadi, mengapa kau tidak ingin?” Tanyanya lagi.

“Lebih kepada trauma.” Jawabku. “Saat itu kedua orangtuaku meninggal karena ingin mengobati mataku. Aku tidak mau kehilangan lagi.”

“Oh, ayolah! Apa yang akan hilang darimu jika kau ke rumah sakit? Aa!” Ia menyuapiku lagi.

Aku menelan makananku sebelum menjawabnya. “Kau tahu, operasi itu menakutkan.”

“Wine?” Tawarnya.

“Boleh.”

Ia meletakkan gelas wine di tanganku kemudian melakukan cheers sebelum kami meminum isinya.

“Aku pernah melakukan operasi usus buntu, tidak menakutkan.” Ia bicara lagi.

“Itu berbeda.”

“Bagaimana jika kita besok ke rumah sakit? Aku akan membawamu ke rumah sakit terbaik di Seoul.” Ia bicara cepat dan antusias. Belum sempat aku menyanggahnya, ia sudah menambahkan. “Dan aku benci penolakan. Kau sudah menolak ciumanku tadi, jadi kau tidak boleh menolak yang ini.”

Jadi dia masih dendam karena aku menolak ciumannya. Aku tidak bisa menyangkalnya. Dia benar.

“Aa!” Ia terus menyuapiku, dan aku tidak lagi mempermasalahkannya. “Ngomong-ngomong, selain mesum, apa lagi keburukanmu?”

“Aku tidak mesum!” Protesku dengan mulut penuh.

“Yeah, baiklah.” Ia tertawa. “Jadi apa lagi hal buruk yang bisa kau pamerkan padaku?”

“Di tahun pertamaku di SMU, aku termasuk anak nakal.” Ceritaku. “Kebanyakan pemain bisbol begitu. Kami menguasai kafetaria, kelas, lorong sekolah, bahkan toilet. Anak-anak lain biasanya menghindari kami agar tidak mendapat masalah. Saat jam istirahat, aku sering menumpahkan saus tomat ke baju siswa lain dengan sengaja. Atau meletakkan permen karet di tempat duduk mereka. Aku juga sering berkelahi di belakang sekolah. Terkadang, saat ketahuan oleh guru, aku akan dihukum dengan dipukul kayu.”

“Kau pembuat onar! Wajar jika kau dihukum.” Komentarnya. “Lalu bagaimana dengan ciuman pertamamu? Ceritakan padaku.”

“Ciuman pertamaku?” Aku tersenyum sambil mengingatnya. “Ciuman pertamaku adalah Yu Ri.”

“Yu Ri?” Ia terdengar kaget seperti yang sudah kuduga. “Tidak mungkin! Dia pasti memaksamu.”

“Tidak. Dia tidak memaksaku.” Aku juga sudah menduga yang satu itu. “Aku yang menciumnya. Dia tidak tahu. Saat itu juga merupakan tahun pertamaku di SMU. Yu Ri menginap di rumahku. Saat ia tidur, diam-diam aku menciumnya. Sampai saat ini dia tidak tahu. Kau orang pertama yang aku beritahu.”

“Mengapa kau menciumnya! Itu menjijikkan!” Mi Young memang terdengar jijik.

Aku sendiri tidak tahu mengapa saat itu mencium Yu Ri. Melihatnya yang tertidur di sebelahku membuatku ingin menciumnya. Terjadi begitu saja. Aku saja merasa sangat malu setelah melakukan itu. Makanya tidak mengatakannya pada Yu Ri.

“Sekarang ceritakan tentang tahun keduamu di SMU. Sejak tadi kau hanya menceritakan tahun pertamamu.” Sepertinya ia masih tertarik mendengar cerita masa laluku.

“Tahun keduaku di SMU..” Aku mencoba mengingat dan hanya melihat begitu banyak warna hitam. “Aku hanya mengingat kegelapan.”

Waktu itu merupakan masa paling buruk dalam hidupku. Aku merasa begitu terpuruk hingga mencoba untuk mati. Penyesalan yang dalam saat impian-impian yang belum pernah muncul sebelumnya mulai terpikirkan olehku. Seandainya tidak ada Yu Ri saat itu.. Seandainya Yu Ri tidak berencana mati bersamaku..

“Aku menjadi pemurung dan penyendiri.” Lanjutku. “Aku mulai banyak berpikir tentang kehidupanku, betapa kedua orangtuaku menyayangiku saat aku belum melakukan apapun untuk mereka. Aku begitu bergantung pada orang lain. Aku merasa tidak berguna. Aku bahkan tidak bisa melakukan apapun seorang diri.”

“Tapi kau berhasil melewatinya dan menjadi lebih kuat.” Ia bicara dengan penuh kelembutan. Ia mengelus punggung tanganku. Membuatku tidak merasa sedih saat mengingat hal yang menyakitkan.

Aku tersenyum padanya. Tulus. Karena aku juga merasakan ketulusan dari sentuhannya. “Lalu bagaimana denganmu? Giliranmu untuk menceritakan tentang dirimu.”

“Aku?” Ia terkekeh. “Aku tidak memiliki sesuatu yang menarik untuk diceritakan padamu.”

“Kalau begitu ceritakan tentang orangtuamu.”

“Hmm.. Aku tidak terlalu dekat dengan mereka.” Nada riang lenyap dari suaranya. Dan itu membuatku menyesal telah menanyakan hal itu. “Mereka bercerai saat aku masih kecil. Kemudian aku selalu berpindah-pindah. Dari Mom lalu Dad, kemudian kembali ke Mom. Begitu terus hingga aku menyelesaikan sekolahku. Tak banyak hal yang bisa aku ingat tentang mereka. Mereka memenuhi segala kebutuhanku kecuali satu hal. Kasih sayang.”

“Setidaknya mereka melakukan tugas mereka dengan benar karena mampu membuatmu tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik hati.” Aku mencoba menghiburnya.

“Kau yakin sekali aku cantik.” Ia kembali terdengar ceria.

“Tentu saja. Bukankah aku sudah melihatmu?”

“Kau tahu? Aku lebih cantik daripada sekedar cantik. Kau harus melihatku dengan benar.” Imbuhnya. “Besok pagi aku ada urusan di kantor manajemen. Setelah itu kita pergi ke rumah sakit. Bagaimana? Kau belum mengiyakan tawaranku tadi.”

“Kau benar-benar tidak perlu melakukan itu Mi Young-ssi.” Aku mencoba menolaknya. Selain takut, aku juga tidak ingin merepotkannya. “Terlebih lagi aku tidak punya uang untuk membiayai operasi.”

“Ya! Apa aku memintaimu uang?” Ia menepuk punggung tanganku. “Kau tidak perlu mencemaskan biayanya. Aku yang akan tanggung jawab.”

“Tapi itu banyak sekali..”

“Hei! Aku sudah katakan padamu aku benci penolakan!” Ia menegaskan.

Selain takut pada operasi, aku juga takut pada harapan. Bagaimana jika mereka tidak bisa mengobatiku? Bagaimana jika aku terjebak dalam kegelapan ini selamanya?

“Ayolah!” Ia terus mendesakku. “Kau akan membuatku sangat kecewa jika kau menlolakku lagi kali ini.”

Aku tidak ingin mengecewakannya. Dan akhirnya aku menyerah.

“Baiklah, tapi aku berjanji akan membayarmu kembali.” Saat ini semua berakhir, saat aku bisa kembali ke rumahku, aku akan membayar semuanya. Meski aku tidak akan bisa mengembalikan kebaikan yang telah Mi Young lakukan padaku.

“Kau akan membayarnya?” Ia mendekat. Aku bisa merasakan nafasnya yang menerpa wajahku. “Kalau begitu.. Aku ingin kau membayarnya dengan tubuhmu.”

“Tu.. Tubuhku?” Aku nyaris tersedak. Apa ia mencoba menggodaku lagi?

“Selama sebulan, aku ingin kau pergi kencan denganku setiap hari.” Lanjutnya kemudian tertawa. Dia memang sedang menggodaku. “Bagaimana? Kau mau?”

Sungguh itu bukanlah sesuatu yang sulit dipenuhi. Justru terlalu murah hati. “Tidak masalah.”

“Bersiap-siaplah Kim Tae Yeon-ssi.” Ia bicara lagi. “Kau mungkin akan jatuh cinta padaku.”

 

***

 

Jessica POV

 

Bertemu dengan orang ini lagi tidak pernah terbayang olehku. Seperti mimpi buruk yang merangkak keluar dari dalam tidurku. Memikirkannya saja aku tidak berani.

Dan dia muncul disaat situasi yang paling buruk.

“Kau mau kemana?” Orang itu menahan tanganku kasar saat aku mencoba melarikan diri. Aku tidak ingin berada di dekatnya. Dia begitu menakutkan. “Kau benar-benar tidak sopan. Kau bahkan belum memberi salam padaku.”

Apa yang ia inginkan? Tujuh tahun yang lalu.. Apa ia belum cukup menghancurkanku?

 

Ini tempatnya? Begitu gelap dan kotor. Juga tak ada siapapun disini. Sejauh perjalananku kemari, aku tidak bertemu dengan seorangpun. Apa ia tidak punya tempat lain? Jauh-jauh aku datang dari San Fransisco hanya untuk menginjakkan kaki di sebuah tempat kumuh? Ini konyol! Aku Jessica Jung!

Aku melihat lagi alamat yang dikirim ke ponselku melalui pesan singkat. Memang aku tidak terlalu mengerti hangul, tapi setelah bertanya ke beberapa orang, aku berakhir disini. Harusnya aku membawa seseorang untuk menemaniku. Tapi Dad begitu menyebalkan. Ia mendaftarkanku di universitas tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu. Aku ingin membuatnya cemas dengan pergi tanpa memberinya kabar. Biar Dad tahu rasa.

Namun kini aku justru menyesali tindakan kekanakanku ini. Melarikan diri hingga ke Seoul, itu terlalu jauh.

Awalnya aku sengaja memilih Seoul sebagai tempat pelarianku karena sebuah telepon misterius. Telepon itu mengatakan bahwa ia mengetahui sesuatu tentang Mom. Aku tidak pernah bertemu Mom. Dan itu membuatku penasaran.

Bisa saja itu hanya sebuah telepon iseng. Sialnya aku terlambat menyadarinya setelah berada begitu jauh. Aku berada di Seoul. Aku tidak tahu apapun disini.

“Jessica.. Jung..” Aku melompat kaget saat sebuah gundukan di sudut gang yang gelap bangkit.

Tadinya aku pikir itu hanyalah sampah. Ternyata gundukan itu adalah seorang pria berumur kira-kira akhir tiga puluhan. Penampilannya lusuh dan kotor. Baunya juga seperti sampah. Entah sudah berapa lama dia tidak mandi. Benar-benar menjijikkan. Tapi.. Bagaimana dia tahu namaku? Apa orang ini adalah si telepon misterius itu?

Pria itu bergerak mendekat sambil tertawa memamerkan deretan giginya yang menghitam. Membuatnya tidak hanya terlihat menjijikkan namun juga menakutkan. Aku melangkah mundur karena takut tapi malah terpeleset plastik dan terduduk di tanah yang kotor.

“Menakjubkan!” Pria itu berjongkok di depanku kemudian mengelus wajahku dengan tangan kotornya. “Kau begitu mirip denganku.”

Aku menepis tangannya dengan kasar. “Apa yang Ahjussi inginkan?”

“Ahjussi?” Ia tertawa. “Bukankah kau datang kemari untuk bertemu denganku?”

Benar dia orangnya. Aku mencoba melarikan diri darinya. Aku tidak peduli apa ia tahu tentang Mom atau hanya mencoba menipuku. Aku hanya ingin pergi dari orang ini secepat mungkin.

“Kau mau kemana?” Pria itu mencengkeram kerah bajuku membuatku tidak dapat pergi lalu tampak terkejut. “Woaah.. Pakaianmu bahkan lebih mahal dari hidupku.”

Aku mencoba beringsut menjauh namun pria itu menahanku dengan kuat. Aku ingin berteriak tapi tidak bisa. Aku begitu ketakutan hingga tak ada suara yang keluar. Hanya bisa gemetar di tempat.

“Jadi.. Apa yang bisa kau berikan padaku?” Ia tersenyum miring. “Putriku!”

 

Orang ini.. Dia yang mengatakan bahwa Dad bukanlah ayah kandungku. Mengatakan bahwa dia adalah ayahku yang sebenarnya. Mengatakan bahwa Mom adalah seorang wanita materialistis yang mencoba menjebak Dad dengan kehamilannya.

Dad tidak tahu. Ia menyebutkan bahwa Dad begitu bodoh hingga tidak menyadari bahwa aku bukan putrinya. Tapi ia memberitahukan semuanya saat itu. Ia merebut ponselku kemudian menelepon Dad. Ia mengatakan pada Dad bahwa aku adalah putri kandungnya dan aku datang padanya karena aku lebih suka dia dibandingkan Dad. Dia juga dengan tidak tahu diri meminta sejumlah uang pada Dad.

Aku merasa begitu malu pada Dad. Sangat malu hingga tidak berani untuk kembali. Bahkan aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menghubungi Dad. Selama ini aku hanya melakukan hal buruk pada seseorang yang begitu tulus menyayangiku. Aku bersikap manja, aku bersikap egois, aku hanya peduli pada keinginanku yang harus dipenuhi. Dad pasti membenciku. Dad pasti menyesal telah membesarkanku. Aku bersikap begitu congkak disaat aku bahkan bukan anak kandungnya.

“Mengapa kau diam saja? Tidak ingin menyapa Appa, Nak?” Ia tersenyum. Sama mengerikannya dengan sepuluh tahun yang lalu. “Apa kau tidak merindukanku?”

Mungkin aku harusnya mengira ia berbohong padaku. Tapi tidak. Aku menyadari bahwa sedikitpun aku tidak memiliki kemiripan dengan Dad. Sedangkan orang ini, meski benci mengetahuinya, wajahnya begitu mirip denganku. Aku sebenarnya menyesali ini namun, ya aku melakukan tes DNA untuk membuatku lebih yakin. Dan juga ada harapan besar bahwa orang itu menipuku. Aku melakukan tes DNA dari rambut orang itu yang aku tarik saat mencoba melarikan diri. Sialnya, dia memang ayahku. Konyol karena aku bahkan tidak tahu namanya.

Dan hal yang paling menyakitkan adalah sejak mengetahui bahwa aku bukan putri kandungnya, dad tidak menghubungiku lagi. Dia tidak pernah mencari keberadaanku. Dia menyesal telah merawatku yang bukan siapa-siapa baginya.

Selama ini aku selalu membanggakan diri sebagai putri tunggal Jason Jung. Mengetajui kenyataannya bukan hanya merusak kebangganku melainkan juga membuatku kehilangan kasih sayang Dad, perhatian Dad. Aku kehilangan Dad. Aku merindukannya namun terlalu malu untuk kembali. Aku terlambat menyadari betapa berharganya Dad bagiku, betapa aku menyayanginya.

“Kau mau kemana? Huh?” Pria itu mencengkeram tanganku menahanku yang hendak melarikan diri. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu.

“Aku mohon! Lepaskan aku!” Aku memohon padanya.

“Tidak, tidak. Aku tidak akan melepaskanmu kali ini.” Ia menahanku dengan sangat kuat. “Aku kesulitan mencarimu selama ini. Mengapa kau melarikan diri dari Appa-mu, huh?”

“Aku tidak mau ikut denganmu!” Aku mencoba memberanikan diri menghadapinya.

“Aku juga tidak ingin kau ikut denganku. Itu akan sedikit merepotkan.” Ia memelintir tanganku membuatku meringis kesakitan. “Aku hanya ingin kau bicara dengan Jason Jung. Setidaknya cukup menangis saja seperti waktu itu. Sudah beberapa tahun ia berhenti mengirimiku uang karena tidak bisa bicara denganmu. Dia tidak lagi percaya kau bersamaku sejak tidak mendengar kabar apapun tentangmu. Aku tidak bisa berbohong terus padanya. Dia cukup pintar.”

Apa maksud orang ini? Dad mengiriminya uang? “Mengapa Dad harus mengirimimu uang?”

“Tentu saja untukmu!” Ia berbicara keras di telingaku. “Karena aku mengatakan kau ikut denganku, ia mengirimkan sejumlah uang secara rutin untuk biaya hidupmu. Tapi dia mulai curiga padaku sejak aku tidak menginzinkannya bicara padamu.”

“Kau memerasnya!” Aku menatapnya dengan marah. Setelah mengambil Dad dariku, orang ini bahkan berani memeras Dad.

“Aah.. Kau berani membentakku rupanya.” Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian menyodorkannya padaku. “Sekarang telepon ayahmu itu. Terserah kau mau bilang apa saja. Kau berada di tanganku sekarang.”

“Aku tidak mau!” Aku memberontak, mencoba lepas darinya.

“Aku tidak akan melepaskanmu kali ini! Tidak akan!” Ia semakin keras memelintir tanganku. Rasanya sakit sekali.

BUUK!

Sebuah tongkat bisbol menghantam kepala orang itu. Ia melepaskanku membuatku yang sedang meronta, terduduk di trotoar. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang terasa sakit.

Yu Ri..

Dia berdiri disana. Sebelah tangannya memegang tongkat bisbol sementara yang satunya lagi tergantung di bahunya.

“Aku sudah menghubungi polisi. Sebaiknya kau segera pergi dari sini sebelum mereka datang.” Yu Ri menodongkan tongkat bisbolnya.

“Sial!” Orang itu mengarahkan telunjuknya padaku. Sepertinya pukulan Yu Ri barusan tidak cukup keras untuk melukainya. “Urusan kita belum selesai. Aku akan menemukanmu lagi!”

Setelah kepergian orang itu, Yu Ri membuang tongkat bisbolnya. Ia berjalan mendekat kemudian membantuku berdiri.

“Mengapa kau selalu terlibat masalah setiap kali aku meninggalkanmu sendiri?” Keluhnya. Meski begitu, ia tetap membantuku membersihkan kotoran yang menempel di pakaianku.

Aku langsung memeluknya dan menangis di bahunya. “Mengapa kau selalu muncul setiap kali aku ada masalah?”

“Err.. Mungkin kau lupa. Tapi tanganku terluka sangat parah.” Ujarnya namun sedikitpun tidak berusaha menyingkirkanku darinya.

“Mianhe..” Aku melepaskannya kemudian menghapus air mataku. “Apa sakit?”

“Tidak juga.” Ia pergi untuk mengambil kembali tongkat bisbolnya. “Aku memarkir mobilku di pinggir jalan. Ayo! Kau harus bertanggung jawab jika mobilku diderek.”

Aku mengikutinya. Yu Ri memarkir mobilnya tidak jauh dari tempat itu. Sepertinya ia tak sengaja melihatku saat keluar dari parkir basement.

“Orang tadi.. Apa dia bagian berandalan yang waktu itu?” Tanya Yu Ri saat kami sudah berada di dalam mobil. Ia duduk santai sendirian di bagian belakang sementara aku kembali dijadikannya supir. Aku akan marah padanya seandainya ia tidak menyelamatkanku barusan.

“Bukan.” Aku menjawab singkat. Tidak ingin membahasnya lebih jauh karena hal itu begitu memalukan bagiku.

“Ya sudah. Kalau begitu, jalan! Kita pulang! Aku sudah lelah sekali.”

“Aku akan pergi setelah mengantarkanmu pulang.”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu?” Yu Ri mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihatku. “Aku meninggalkanmu sebentar saja, dan kau sudah bertengkar dengan orang asing. Tae Yeon akan benar-benar membunuhku jika terjadi sesuatu padamu. Sampai aku mengembalikanmu padanya, kau tidak boleh pergi sendiri.”

Tae Yeon. Lagi-lagi karena Tae Yeon. Ia tidak mengkhawatirkanku sama sekali. Ia hanya peduli pada Tae Yeon. Namun aku tidak memiliki tenaga lagi untuk kembali berdebat dengannya. Aku terlalu lelah.

 

-TBC-

Blue (Part 26)

Title : Blue

Author : Mr. Lim

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Seo Joohyun

Genre : Yuri, Romance, Family, Tragedy, Crime, PG 17+

POV : Tiffany

 

This Misunderstanding was Killing Me

“Miyoung-ah!”

Itu suara Taeyeon.

“Miyoung-ah!”

Dia memanggilku.

“Saranghae..”

Aku membuka mataku. Taeyeon berdiri di pinggir balkon. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin. Ia tersenyum padaku.

2.30 dini hari. Apa yang dilakukannya di luar sana selarut ini? Ck, dia tidur sambil berjalan lagi. Aku harus melakukan sesuatu pada kebiasaan buruknya itu. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Kebiasaan itu bisa membuatnya terluka.

“Taeyeon-ah!” Aku berjalan menghampirinya. “Masuklah! Kau akan masuk angin jika berdiri di luar sana.”

“Hm..” Ia meraih tanganku. Sedikitpun tatapannya tak lepas dariku. “Disini memang sedikit dingin tanpamu. Mau menemaniku?”

Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya kemudian menyandarkan kepalaku di bahu kecilnya. Masih merasa mengantuk. Dan rasanya nyaman setiap kali aku berada di dekatnya. “Kemana?”

“Surga.” Jawabnya. Ia menarikku agar lebih dekat dengannya. Mencoba melindungiku dari udara dingin.

Aku terkekeh. Tidak peduli apakah itu surga atau neraka, selagi Taeyeon berada disisiku, aku akan merasa bahagia.

“Aku bahkan bertemu dengan seorang bidadari.” Lanjutnya. “Mau kukenalkan padanya?”

“Mwoya!” Aku mencubit perutnya, membuatnya terbatuk.

“Lihat!” Ia menunjuk gedung yang berada tepat di depan apartemenku. Sebuah poster raksasa menutupi salah satu sisinya. “Namanya Tiffany Hwang.”

Jadi ia datang kemari di tengah malam begini hanya untuk melihat posterku? Aku tidur tepat di sampingnya dan ia masih merasa tidak cukup. Dia lucu sekali.

“Bukankah dia sangat cantik?” Tanyanya.

“Ani.” Aku mengangkat kepalaku untuk memberikan kecupan singkat di pipinya. “Kau lebih cantik.”

“Apa kau mencintaiku?” Tanyanya lagi.

“Tentu…”

“Kenapa?”

“Apa aku butuh alasan?”

“Tentu.”

“Lalu apa alasanmu?”

“Alasanku mencintaimu?”

Aku mengangguk.

Ia berpaling dari poster besar itu dan kini menatapku. “Awalnya aku jatuh cinta padamu karena kau cantik.”

“Ya!” Aku memukul bahunya pelan. “Itu artinya jika aku tidak cantik lagi, jika aku sudah tua dan keriput, kau tidak mencintaiku lagi?”

Ia menanggapinya dengan tertawa. “Apa itu artinya kau berencana menghabiskan hari tuamu bersamaku?”

“Kau tidak?”

Wajahnya berubah murung. “Aku tidak memiliki waktu selama itu Miyoung-ah.”

“Kau akan meninggalkanku?”

“Kau yang lebih dulu meninggalkanku Miyoung-ah.” Kebahagiaan lenyap darinya. Ia kini tampak begitu sedih. “Kau berjanji tidak akan meninggalkanku, tapi kau melanggarnya. Kau tidak bisa percaya padaku. Kau mengusirku dari kehidupanmu. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu, tapi kau tidak menginginkanku.”

Aku termenung. “Apa aku telah kehilanganmu?”

“Tidak, Miyoung-ah!” Ia mengusap wajahku lembut dengan tangannya yang dingin. “Aku yang kehilanganmu.”

 

Aku membuka mataku.

Mimpi..

Aku menarik nafas dalam. Satu hari lain yang harus aku lewati tanpa Taeyeon. Ini mulai terasa berat bagiku. Terbiasa dengannya membuatku merasa tersiksa saat tidak bisa melihatnya. Dimana dia sekarang? Apa yang ia lakukan? Mengapa dia tidak bisa dihubungi? Apa dia baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya kan?

Joohyun masih tidur dengan nyenyak sambil memeluk dinding. Ada celah kosong di tengah ranjang yang sengaja aku tinggalkan. Karena terbiasa. Aku menatap hampa celah kosong itu kemudian meringis. Rasanya sakit mengingat bagaimana kesalah pahamanku telah membuat Taeyeon pergi. Lalu bagaimana dengan Taeyeon. Aku menyakitinya. Dia pasti merasa jauh lebih sakit dibandingkanku.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sungguh menyesal dan ingin Taeyeon kembali. Tapi bagaimana aku melakukannya saat Taeyeon sedikitpun tidak bisa dihubungi. Dimana dia sekarang? Apa dia berada di rumah ayahnya? Tapi.. Dia melarikan diri dari ayahnya.

Terdengar suara kesibukan dari arah dapur. Aku menajamkan telingaku. Yuri sudah mengembalikan kunci apartemen milikku begitu manajemen memutus kontrak denganku. Satu-satunya yang memilikinya hanya Taeyeon.

“Taeyeon!” Aku bersorak di dalam hati. Dia kembali.

Aku turun dari ranjang dengan hati-hati karena tidak ingin membuat Joohyun terbangun. Kemudian bergegas keluar menuju dapur. Disana seorang wanita sedang memasak sesuatu.

“Mom?” Panggilku pada wanita itu.

Satu hal lain yang aku lupa. Jauh sebelum aku memberikan kunci apartemenku pada Taeyeon, aku memberikan satu pada Mom dan Dad. Jadi jika mereka datang ke Seoul, mereka tidak perlu beristirahat di hotel sambil menungguku selesai dengan pekerjaanku.

“Kau sudah bangun nak?” Dad juga ada disana. Ia sedang menonton televisi sambil menikmati secangkir kopi hangat.

“Kapan kalian datang?” Aku mendekati Mom di dapur. Ia sedang sibuk menyiapkan sarapan. “Mengapa tidak memberitahuku?”

“Kami ingin memberi kejutan.” Jawab Mom. Wanita itu tersenyum memperlihatkan kerutan di wajahnya. Berapa lama aku tidak melihatnya?

“Lagi pula kami tidak ingin merepotkanmu.” Dad mengangkat cangkirnya kemudian pindah ke ruang makan dan duduk disana. “Lihat! Kau bahkan tidak tampak senang kami datang.”

“Bukan begitu Dad…” Memang aku merasa sedikit kecewa. Itu karena tadinya aku pikir Taeyeon yang datang. “Aku hanya sedang ada masalah.”

“Oh, sayang.” Mom mengusap punggungku. “Kami sudah melihat beritanya. Bagaimana keadaanmu?”

“Benar! Berita!” Dad tampaknya marah padaku. “Anak ini tidak pernah menganggap kita sebagai orangtuanya. Untuk sesuatu yang sepenting ini, kita harus mengetahuinya dari media.”

“Sudahlah.” Mom mencoba untuk membelaku. “Dia pasti punya alasan. Benarkan?”

“Dengar Tiffany Hwang!” Dad menatapku tajam. Dia benar-benar marah. “Kau adalah putri kami. Itu artinya kami adalah orangtuamu. Jika kau ada masalah, jika kau dalam kesulitan, beritahu kami. Meski kami mungkin tidak bisa melakukan banyak untuk membantumu, tapi kau tidak sendirian. Kita bisa melewatinya bersama-sama sebagai keluarga.”

Dad memang marah, namun kata-katanya membuatku terharu. Dia benar. Selama ini aku tidak pernah menanggap mereka orangtuaku. Bagiku, mereka hanya orang baik yang mau mengadopsiku. Karena itu aku berusaha keras untuk tidak merepotkan mereka. Karena aku takut mereka juga akan membuangku seperti yang dilakukan oleh orangtua kandungku.

“Sekarang bereskan barang-barangmu! Kita kembali ke Amerika.” Perintahnya.

“Tidak Dad!” Bantahku cepat. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa?” Dad berdiri dari tempat duduknya. “Aku dengar orang-orang itu melemparimu. Disini tidak aman Fany-ah. Suatu hari nanti mereka mungkin bisa melukaimu. Kau tidak bisa bersembunyi di apartemenmu selamanya.”

“Aku benar-benar tidak bisa pergi Dad.” Jika aku pergi, bagaimana dengan Taeyeon? Bagaimana jika dia kembali dan menemukan aku tidak ada? “Aku sudah menikah.”

Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Dad begitu marah hingga ia menamparku. Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya. Aku mengerti. Aku pantas menerimanya. Dad pasti merasa kecewa padaku. Aku melihat Mom. Dia hanya diam. Tak lagi berusaha untuk membelaku. Bukan hanya Dad yang telah aku kecewakan. Tapi juga Mom.

“Kau pikir apa yang kau lakukan hah?” Suaranya meninggi. “Tadinya aku pikir itu hanya gosip tidak jelas. Aku percaya padamu. Kau tidak akan melakukan ini pada kami. Jika kau benar menikah, setidaknya kau memberitahu kami. Meskipun kau tidak membutuhkan restu, setidaknya kau memberitahu kami. Tapi apa yang kau lakukan? Kau tidak memberitahukan apa-apa!” Saking maranhnya, ia mengulang-ulang kalimat yang sama.

“Maafkan aku Dad, Mom.” Aku menunduk karena merasa bersalah. “Aku melakukan kesalahan.”

“Aku butuh udara segar.” Dad pergi meninggalkan aku dan Mom berdua saja. Sebelum melewati pintu apartemen ia bicara lagi. “Pastikan barang-barangmu sudah dibereskan saat aku kembali nanti. Ajak suamimu. Kau tidak bisa tinggal disini lagi.”

Mom mencoba tersenyum padaku meski ia tidak bisa menghilangkan raut kekecewaan dari wajahnya. “Jadi dimana suamimu? Apa dia masih belum bangun?”

“Lebih tepatnya istriku.” Aku kembali merasakan sakit saat teringat bagaimana aku telah menyakitinya. “Dia tidak disini. Dia sudah pergi Mom.”

“Pergi?” Dahi Mom berkerut menandakan keheranan. “Kau mau menceritakannya padaku, sayang?”

Aku mengangguk. Mom mengajakku duduk di ruang makan.

“Mengapa istrimu pergi?” Tanyanya. Ia kini duduk tepat di hadapanku. “Apa dia orang brengsek?”

“Tidak, Mom. Dia tidak seperti itu.” Jawabku cepat. Tidak ingin Mom salah paham terhadap Taeyeon. “Namanya Kim Taeyeon. Dia orang baik. Sangat baik.”

“Lalu bagaimana dia pergi?” Tanya Mom lagi.

“Aku memintanya pergi. Aku salah paham terhadapnya. Kesalah pahaman yang begitu mengerikan hingga aku menyakitinya.”

“Kalau begitu kau harus minta maaf padanya.”

“Tentu, Mom.” Seandainya aku bisa menghubunginya, seandainya aku bisa menemukan keberadaannya.

“Dan.. Ada satu hal lagi yang aku ingin tahu.” Mom bicara lagi setelah beberapa saat berlalu. “Dad-mu tidak sempat melihatnya. Tapi aku merasa penasaran. Terlebih setelah kau mengakui bahwa kau telah menikah. Tadi malam, saat kami datang, ruang tamu sedikit berantakan. Aku membantu membereskan sedikit dan menemukan peralatan menggambar anak-anak. Apa mungkin… Kau menikahi seorang janda? Kau tidak merebut istri orang kan?”

“Tidak Mom. Bukan begitu.” Aku sudah melakukan kesalahan dengan tidak memberitahukan tentang pernikahanku pada Mom dan Dad, dan aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi dengan menyembunyikan hal lain. Jadi aku memutuskan untuk menceritakan segalanya pada Mom. “Aku tidak menikah dengan seseorang yang sudah memiliki anak, jika itu maksud pertanyaan Mom barusan. Barang-barang itu milik putriku.”

“Putrimu?” Nada suara Mom sedikit meninggi menunjukkan betapa kagetnya dia.

Aku mengangguk. “Aku mengadopsinya.”

Mom menghela nafas lega setelah aku melanjutkan kalimatku.

“Namanya Joohyun. Anak itu adalah putri Hyojin Eonni. Aku pernah menceritakannya pada Mom dulu.” Aku memulai ceritaku. Mom mendengarkannya dengan seksama. “Hyojin Eonni dan suaminya tewas beberapa waktu lalu karena kecelakaan mobil. Sebelum meninggal, Hyojin Eonni sempat memintaku menjaga Joohyun. Karena itu aku ingin mengadopsinya. Tapi, di korea aku tidak bisa mengadopsi seorang anak jika aku belum menikah. Kemudian aku bertemu dengan Taeyeon. Dan pikiran itu begitu saja muncul dari kepalaku. Aku meminta Taeyeon menikahiku agar aku bisa mengadopsi Joohyun.”

“Astaga Fany-ah! Apa kau gila?” Kekecewaan di mata Mom tampak jauh lebih besar daripada saat ia mengetahui bahwa aku menikah dan tidak memberikan kabar padanya. “Sebuah pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa kau permainkan seperti itu.”

“Aku tahu Mom.” Aku menunduk. Tidak berani menatap Mom yang begitu kecewa terhadapku. “Aku tahu.”

“Jadi karena itu dia pergi?” Tanya Mom. “Karena sejak awal kalian tidak ‘benar-benar’ menikah.”

“Bukan Mom.” Aku ingin menjelaskan semuanya. Namun ini sedikit rumit. Tentang Kim Yougho dan Kim Taeyeon. Aku tidak tahu harus memulainya darimana. “Awalnya aku memang memanfaatkannya untuk mendapatkan hak asuh Joohyun. Tapi seiring dengan berlalunya waktu, aku mendapati diriku jatuh cinta padanya. Begitu juga dengannya. Aku tidak bisa kehilangannya, Mom.”

“Tetap saja aku tidak mengerti dirimu.” Mom mengusap kepalanya yang terasa pening. “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Entahlah Mom. Aku tidak tahu.”

“Aku setuju dengan ayahmu. Tidak aman bagimu jika tetap tinggal disini.”

“Tidak masalah bagiku untuk meninggalkan tempat ini. Masalahnya adalah aku tidak bisa meninggalkannya. Aku tidak ingin pergi tanpanya.”

“Kau sudah mencoba menghubunginya?”

Aku mengangguk. “Aku akan menemukan cara.”

Aku telah melakukan kesalahan besar terhadap Taeyeon. Keadaan membuatku salah paham terhadapnya. Kebencianku pada Kim Youngho telah membutakan mataku. Apakah orang itu benar telah membunuh Ilhyun Oppa dan Hyojin Eonni atau bukan, aku melupakan satu hal penting karena kebencianku. Taeyeon mencoba lari dari ayahnya. Ia selalu dihantui mimpi buruk karena ayahnya. Satu hal yang tidak mungkin adalah ia berkomplot dengan ayahnya untuk mendapatkan Joohyun. Satu hal yang aku sadari namun menolak menerimanya karena terlanjur membenci Kim Youngho adalah Taeyeon sangat mencintaiku.

Tapi bagaimana aku bisa meminta pengampunannya saat aku sama sekali tidak bisa menghubunginya? Setelah aku mengusirnya, ia tidak mungkin pergi ke rumah ayahnya karena ia takut pada orang itu. Lalu dimana ia sekarang?

Oh ya! Yuri! Bukankah Sooyoung mengatakan bahwa ia dekat dengan Taeyeon. Mengapa tidak aku tanyakan saja padanya? Mungkin ia tahu sesuatu.

Setelah pamit pada Mom untuk menelepon Yuri, aku kembali ke kamar dan mengambil ponselku. Joohyun masih tertidur jadi aku berbicara sepelan mungkin agar tidak membuatnya bangun.

“Yuri-ah!” Ujarku begitu ia mengangkat teleponku. “Apa kau sibuk?”

“Eoh Fany-ah. Aku sedang dalam perjalanan mengantar Sica. Dia ada pemotretan untuk majalah.” Sepertinya ia tidak marah lagi padaku. “Waegurae?”

“Ini tentang Taeyeon. Aku mencoba menghubunginya, tapi tidak bisa.” Ceritaku.

“Aneh! Aku juga tidak bisa menghubunginya sejak kemarin.” Terdengar ia berbicara dengan orang lain dengan ponsel yang dijauhkan sehingga aku tidak terlalu jelas mendengarnya. “Mungkin dia ada di rumah sakit menemani ayahnya. Aku berencana pergi malam ini. Jika kau mau ikut, kita bisa pergi bersama.”

Bodoh! Aku tidak mengerti mengapa aku bisa sebodoh ini. Tidak terpikir olehku bahwa Taeyeon mungkin saja berada di rumah sakit. Yuri mengatakan bahwa ayahnya, Kim Youngho sekarat. Mungkin terjadi sesuatu pada orang itu sehingga Taeyeon tidak menjawab ponselnya.

“Tapi aku tidak bisa menunggu hingga malam.” Aku harus segera meluruskan ini. Aku harus minta maaf padanya. “Aku akan pergi sekarang. Aku bisa pergi sendiri.”

Yuri bicara lagi dengan seseorang itu. Samar aku menangkap suara Jessica. “Berbahaya jika kau keluar seorang diri Fany-ah. Aku akan datang ke tempatmu. Tunggu aku. Kita pergi bersama. Sica tidak keberatan.”

Aku tidak ingin menolak karena Yuri menawarkan sebuah pilihan yang jauh lebih baik. “Baiklah, aku akan menunggumu.”

 

***

 

Aku menceritakan pada Dad semua yang telah aku beritahukan pada Mom lebih dulu. Untunglah emosinya sudah agak mereda dan dia bisa mengerti. Memang dia masih bersikeras membawaku kembali ke Amerika, tapi kini ia mau menunggu aku menyelesaikan masalahku dengan Taeyeon. Aku juga memberitahukan tentang Joohyun padanya. Awalnya ia kaget dan kemudian berubah senang. Sepertinya seorang cucu adalah hal yang memang dinantikannya. Setelah ia bertemu Joohyun, ia sibuk bermain dengan bocah itu.

Yuri datang setelah beberapa jam sejak aku meneleponnya. Aku tadinya berencana untuk langsung pergi karena sebelumnya aku sudah bersiap-siap. Hanya menunggu kedatangannya saja. Namun ia menghentikanku. Ia menyerahkan sebuah bungkusan padaku.

“Pakai ini!” Katanya.

“Apa ini?” Aku memeriksa bungkusan yang ia berikan itu. Isinya pakaian formal untuk laki-laki, wig, dan juga kacamata.

“Sica yang memberikan ide ini. Jika kau menyamar menjadi laki-laki, tidak akan ada yang mengenalmu. Dan kau tidak perlu mengubah suaramu karena kau sudah terdengar seperti laki-laki.” Jelasnya.

“YA!” Aku tidak tahu apa ia sedang menghina atau memuji.

“Cepat ganti pakaianmu.” Lanjutnya tidak sabaran.

“Baiklah.” Aku menurut. Harus aku akui itu bukan ide yang buruk. Aku tidak ingin dilempari lagi. “Masuklah!”

Aku membukakan pintu lebih lebar agar ia bisa masuk. Ia masuk dan menemukan Mom, Dad, dan Joohyun sedang duduk-duduk di depan televisi. Ia menghampiri mereka sambil memberi salam. Yuri memang mengenal kedua orangtuaku. Karena kami dekat, ia selalu bertemu dengan kedua orangtuaku setiap kali mereka datang.

“Mom, Dad! Kapan kalian datang?” Sapanya.

“Tadi malam.” Mom Yang menjawab. Wanita itu menawarkan sesuatu yang berada di piring di atas meja. “Kau mau camilan nak?”

“Tentu.” Yuri ikut bergabung dengan mereka.

“Aku ganti pakaian dulu.” Ujarku yang dijawab dengan anggukan oleh Yuri.

Pakaian yang Yuri berikan sedikit longgar untukku. Ditambah wig dan kacamata, aku terlihat seperti pria kutu buku penyakitan. Yeah, pakaian ini membuatku tampak ceking. Jika Taeyeon melihatku seperti ini, dia akan menertawaiku habis-habisan. Itu jika ia bersedia memaafkanku dan menerimaku kembali.

Aku berharap bisa bertemu dengannya.

Setelah selesai mengganti pakaianku, aku keluar dari kamar. Joohyun tampak sedikit melompat karena kaget sementara Yuri memilih untuk tidak menanggapinya.

“Kita berangkat sekarang?” Tanya Yuri.

“Ok.” Aku mengangguk.

Sebelumnya aku sudah mengatakan pada kedua orangtuaku untuk menjemput Taeyeon. Mereka bahkan memberikan dukungan untukku dan bersedia mengawasi Joohyun sementara aku pergi sebentar.

Kami tiba di rumah sakit menjelang siang. Seperti yang Yuri prediksi sebelumnya, tidak ada yang mengenaliku. Kami langsung menuju kamar tempat Kim Youngho dirawat kemarin. Penjagaannya juga sama ketatnya dengan kemarin, namun hari ini orang-orang itu tidak mengenaliku. Dan mereka orang yang berbeda saat Yuri datang bersama Taeyeon. Jadi mereka tidak memperbolehkan kami masuk dengan alasan Kim Youngho barusaja selesai melakukan operasi. Jadi ia butuh istirahat dan tidak boleh diganggu.

“Hei, kalau tidak percaya pada kami, kau bisa meminta Kim Taeyeon kemari dan mengkonfirmasinya.” Yuri masih berusaha bernegosiasi. “Kami bukan orang jahat.”

“Maaf, nona. Tidak bisa.” Sepertinya tidak mudah untuk membujuk penjaga ini.

“Ada apa ini?” Terdengar suara lain dari belakang. Aku menoleh dan mendapatkan seorang dokter pria paruh baya berdiri di belakang kami.

“Kami ingin menjenguk tuan Kim.” Jawab Yuri.

“Sebenarnya kami ingin bertemu Kim Taeyeon.” Aku menambahkan. “Dia tidak bisa dihubungi.”

“Dan.. Kalian adalah…” Dokter itu menatap aku dan Yuri bergantian.

“Teman.” Yuri yang menjawab lebih dulu. “Namaku Yuri. Aku pernah datang sebelumnya.”

“Aku is..” Kalimatku terhenti saat teringat penampilanku saat ini. “Aku suami Kim Taeyeon. Anda bisa memanggilku. Mr. Hwang.”

“Kau?” Dokter itu lebih memperhatikanku lebih seksama lagi dan tampak sangsi. “Aku memang mendengar kabar dia menikah, tapi aku pikir dia menyukai wanita. Bahkan ayahnya juga berpikir begitu. Pantas saja dia menolak putriku.” Ia melanjutkannya dengan tertawa.

Putrinya. Apa…”Sunny-ssi itu putri anda?”

“Sebaiknya kita bicara di dalam saja.” Dokter Lee membuka pintu ruang rawat Kim Youngho kemudian mempersilahkan kami masuk. “Tuan Kim masih di ruang pemulihan pasca operasi. Kalian bisa menjenguknya setelah kondisinya stabil dan dibawa kemari.”

Aku dan Yuri mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruang rawat Kim Youngho. Dia benar. Ruangan itu kosong. Lalu untuk apa penjaga di luar sana? Pamer?

“Silahkan duduk.” Dokter itu mempersilahkan kami duduk di sofa tunggu yang berada di dalam ruang rawat. Kami menurutinya. “Kalian bisa memanggilku Dokter Lee. Selain dokternya, aku juga teman tuan Kim.”

Jadi orang ini adalah temannya Kim Youngho. Mereka tidak terlihat sama. Yeah.. Maksudku seperti gangster.

Lalu dimana Taeyeon. Aku tidak melihatnya disini. Apa ia menemani ayahnya?

“Mengenai pertanyaanmu tadi, kau benar Sunny adalah putriku.” Dokter Lee memulai pembicaraan setelah ikut duduk. “Tapi kau jangan khawatirkan dia. Anak itu memang sedikit ambisius, tapi dia tidak jahat.”

“Aku minta maaf. Perjodohan yang anda dan tuan Kim atur gagal karena keberadaanku.” Ujarku. Yuri yang tidak mengerti menyikutku untuk meminta penjelasan tanpa suara. Dan aku tidak melakukan itu. Bagaimana bisa aku menjelaskannya sementara ada Dokter Lee bersama kami.

“Tidak! Tidak! Aku tidak mengatur perjodohan itu.” Pria itu buru-buru menyangkalnya. “Putriku mengajukan dirinya, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mendengar rencana pernikahan itu batal, aku justru senang. Kau tahu Kim Taeyeon kan? Orang tua mana yang senang anaknya menikah dengan seseorang yang tidak waras sepertinya.”

Orang ini.. Mudah sekali dia bicara seperti itu tentang Taeyeon. Meskipun itu benar, tapi aku tidak suka mendengarnya. Ingin rasanya aku menyumbat mulutnya itu dengan vas bunga.

“Jangan bicara sembarangan tentang temanku tuan dokter!” Yuri yang lebih dahulu marah.

Melihat perubahan raut wajah kami, Dokter Lee buru-buru menambahkan. “Maaf, bukan itu maksudku. Aigoo.. Aku tidak tahu mengapa mulutku begitu lancar akhir-akhir ini.”

“Anda pasti mengenalnya dengan baik hingga berani bicara seperti itu.” Sindirku.

“Tentu saja aku mengenalnya dengan baik.” Dokter Lee tidak peduli dengan sindiranku barusan dan terus bicara. “Aku sudah mengenalnya sejak lahir. Aku melihatnya tumbuh. Aku juga mengetahui penyakitnya dan juga ayahnya. Mereka sangat mirip hingga memiliki penyakit yang sama. Mereka memiliki masalah pada kejiwaan.”

Jadi penyakit ini yang dimaksudkan oleh Sunny.

Meski Dokter Lee mengatakan ia mengenal Taeyeon dengan baik, aku tidak ingin membahas hal ini lebih lama. Karena pria itu menganggap Taeyeon tidak waras.

Walaupun itu adalah kebenaran.

Tepat saat Dokter Lee akan membuka mulutnya lagi, pintu terbuka. Seorang pria lain masuk. Aku mengenal yang satu ini. Dia biasa mengekor di belakang Kim Youngho.

“Eoh! Ahjussi!” Yuri yang diluar dugaan juga mengenalnya memberi salam yang dibalas dengan senyuman yang tampak aneh di wajah mengerikan itu.

“Dokter! Apa Hyung-nim sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat?” Pria itu bicara pada Dokter Lee.

“Aku akan periksa dulu keadaannya.” Dokter Lee bangkit dari duduknya. Ia kemudian melihat ke arah aku dan Yuri. “Kalian tidak keberatan menunggu sebentarkan? Kita lanjutkan ngobrolnya nanti.”

Setelah Dokter Lee pergi, pria berwajah menakutkan datang menghampiri kami. “Ngobrol huh?”

Pria itu sempat beberapa lama memperhatikanku. Mungkin ia merasa mengenaliku. Setelah memutuskan bahwa ia tidak mengenalku, akibat penyamaranku tentunya, ia kembali pada Yuri.

“Aku harap dia tidak ‘ngobrol’ sesuatu yang aneh.” Lanjutnya. “Meskipun terpelajar, tapi Dokter Lee benar-benar tukang gosip.”

“Seperti Ahjussi.” Yuri tertawa. Sepertinya mereka cukup dekat. Sulit untuk dipercaya. Yuri dan pria mengerikan ini tertawa bersama.

“Jadi ada apa kalian datang?” Tanyanya kemudian. “Tidak bersama Agassi?”

Yuri menggeleng. “Kami datang justru karena Taeyeon. Dia tidak bisa dihubungi. Mungkin Ahjussi tahu sesuatu.”

“Aku juga tidak melihatnya dua hari ini. Dia bahkan tidak datang saat operasi Hyung-nim.” Jawab pria itu.

Taeyeon tidak bisa dihubungi. Dia bahkan tidak ada di rumah sakit saat ayahnya melakukan operasi besar. Jadi dimana dia berada? Tiba-tiba saja aku memiliki firasat bahwa terjadi sesuatu yang buruk.

Aku menatap Yuri yang terlihat sedang berpikir keras. “Mungkin sebaiknya kita lapor polisi.”

“Kau benar. Ini sudah dua hari.” Ujar Yuri.

“Kalau begitu biar aku saja yang melaporkan pada polisi.” Sahut pria berwajah mengerikan itu. “Mereka akan lebih cepat memprosesnya jika kami yang melaporkan.”

Aku meremas kedua tanganku dengan cemas. Jadi dimana dia selama ini? Apa yang terjadi? Ponselnya masih aktif namun ia tidak menjawab setiap panggilanku. Ia juga tidak datang ke rumah sakit.

“Jangan khawatir. Mungkin dia kembali ke Amerika.” Pria itu bicara lagi. “Selama ini dia selalu berusaha melarikan diri. Saat Hyung-nim sakit dan kami tidak terlalu mengawasinya, aku rasa ia mengambil kesempatan itu untuk kabur.”

Aku harap itu benar. Taeyeon hanya kembali ke Amerika. Tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Aku kembali ke apartemen dengan tangan kosong. Tanpa Taeyeon. Bahkan tanpa kabar darinya. Yuri hanya bisa mengantarkanku sampai di depan pintu karena ia harus segera menjemput Jessica yang sudah selesai dengan pemotretannya.

Saat aku masuk ke rumah, ternyata ada beberapa orang tamu. Tiga orang pria dan salah satunya memakai seragam polisi lalu lintas. Apa mereka semua polisi? Mungkin mereka datang karena Piljoo Ahjussi sudah melaporkan masalah menghilangnya Taeyeon.

Mereka sedang mengobrolkan sesuatu yang sepertinya serius di ruang tamu bersama Dad. Begitu aku masuk, mereka semua berdiri. Jelas sekali mereka menunggu kedatanganku.

“Anyeonghaseo.” Aku yang belum membuka penyamaranku, bergabung dengan mereka karena tampaknya ada yang ingin mereka bicarakan denganku.

“Anyeonghaseo.” Salah satu dari mereka menjawab salamku. Ia menatapku ragu kemudian beralih pada Dad. “Nona Hwang?”

“Eoh! Yeah!” Dad menggaruk kepalanya. Ia sepertinya bingung harus menjawab apa. “Putriku memang agak tomboy.”

Setelah kami semua duduk di sofa ruang tamu. Pria lainnya memulai pembicaraan. “Apa apartemen ini milik anda, Nona Hwang?”

“Ne..” Aku mengangguk tidak mengerti.

“Apa anda sudah lama tinggal disini? Apa ada orang lain yang tinggal disini?” Tanyanya lagi.

“Aku sudah tinggal disini selama tiga tahun. Selain aku, juga ada putri dan istriku yang tinggal disini. Juga orang tuaku yang baru datang tadi malam.” Aku melirik Dad, dan dia sama tidak mengertinya denganku. “Apa ada masalah?”

“Begini, Nona Hwang.” Pria berseragam bicara. “Terjadi kecelakaan lalu lintas tepat di depan gedung ini dua malam yang lalu. Korbannya adalah seorang gadis muda berusia sekitar 15-18 tahun. Gadis itu tidak membawa identitas apapun bersamanya saat terjadi kecelakaan. Hanya ini.”

Polisi itu mengeluarkan sebuah ponsel yang dibungkus plastik. Layarnya sudah hancur sangat parah namun itu sangat mirip dengan milik Taeyeon. Tapi itu bukan Taeyeon. Usia mereka tidak cocok. Lagipula aku sudah mendengar cerita Sooyoung kemarin. Gadis muda korban tabrak lari itu tewas di tempat. Aku sungguh tidak ingin jika ia adalah Taeyeon. Dia bukan Taeyeon kan?

“Ponselnya masih berfungsi, namun tidak bisa digunakan karena kerusakannya. Jadi kami tidak bisa mendapatkan kontak siapapun dari dalamnya.” Pria itu menjelaskan. “Kami terus mencari identitas korban hingga salah satu petugas kebersihan gedung ini mengaku sering melihat korban keluar masuk dari apartemen anda. Apa mungkin anda mengenal seseorang gadis remaja yang sering datang ke tempat anda?”

Aku menggeleng. Mungkin mereka salah alamat. Mungkin itu apartemen sebelah. Aku tidak mengenal gadis remaja manapun. Apalagi yang sering datang ke tempatku.

Pria itu mengeluarkan sesuatu yang lain. Sebuah foto. “Sebaiknya anda lihat dulu.”

Dengan takut aku melihat foto yang disodorkan oleh pria itu. Itu adalah seorang gadis dengan darah membanjiri sebagian wajahnya. Tidak salah lagi. Itu adalah Taeyeon.

 

-TBC-

Aphrodite! Adhæsit in Amore (Part 16)

Title : Aphrodite! Adhæsit in Amore

Author : Mr. Lim

Main Cast : Kwon Yu Ri, Kim Tae Yeon, Jessica Jung, Tiffany Hwang

Genre : Romance, Yuri

 

Yu Ri POV

 

Aku baru saja mengantar Tae Yeon keluar saat kembali dan mendapati Jessica sedang mengacak-acak rambutnya frustasi di ruang tamu. Kenapa lagi dengannya? Apa karena aku pura-pura pingsan tadi? Atau karena dia sedang datang bulan?

“Ada apa sayang?” Aku duduk di dekatnya. Aku membelai rambutnya, mencoba untuk merapikannya sedikit. Namun ia segera menepisnya dan menjaga jarak dariku.

“Mengapa kau melakukan itu?” Ia berdiri agar semakin jauh dariku. “Mengapa kau mengatakan pada Tae Yeon aku adalah kekasihmu? Kapan aku setuju untuk menjadi kekasihmu?”

Apa mungkin karena itu dia menangis? Hanya gara-gara aku belum memintanya secara resmi untuk menjadi kekasihku? Kalau begitu, ini memang salahku. Tapi aku sudah mengatakan perasaanku padanya. Kami juga sudah berciuman. Tidak salah jika aku mengenalkannya sebagai kekasihku pada orang-orang.

“Dia salah paham padaku.” Lanjutnya. “Dia tidak percaya padaku. Dia membenciku.”

“Hei..” Aku ikut berdiri. “Apa yang sedang kau bicarakan ini?”

“Kim Tae Yeon adalah tunanganku Yu Ri-ssi.” Ia mencoba bernafas agar lebih tenang.

Apa yang.. Maksudnya Kim Tae Yeon yang tadi? Aku terbengong beberapa saat. Mencoba berpikir. Mungkin aku salah dengar. Atau aku terlalu bodoh untuk langsung mengerti kata-katanya.

“Dan kau mengatakan padanya bahwa aku adalah kekasihmu. Dia akan berpikir bahwa aku menghianatinya.” Lanjut Jessica lagi.

Tapi sepertinya ini benar. Aku tidak salah dengar. Aku juga tidak salah paham. Kim Tae Yeon, sahabatku memang tunangannya. Itu artinya..

Astaga!! Untung saja aku belum tidur dengannya. Jika tidak, Tae Yeon pasti akan membunuhku.

“Kau tidak bercandakan?” Aku menatapnya tajam. Berharap ia akan tertawa atau semacamnya.

“Apa aku bisa bercanda untuk hal seperti ini?” Ia berbalik dan kembali mengacak rambutnya. “Oh Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?”

“Ayo!” Aku menariknya menggunakan tanganku yang sehat. “Aku harus mengembalikanmu pada Tae Yeon!”

Ia menepis tanganku dengan keras. “Mengembalikan? Apakah aku semacam barang bagimu?”

“Bukankah kau mengatakan kau adalah tunangan Kim Tae Yeon? Karena itu aku akan mengembalikanmu padanya.”

“Bukankah kau mengatakan kau menyukaiku?”

Aku tidak mengerti dengan gadis ini. Dia takut Tae Yeon berpikir ia menghianatinya. Dan disaat bersamaan ia masih mempermasalahkan aku yang pernah mengatakan menyukainya. Apa itu penting sekarang? Aku bahkan tidak serius saat mengatakannya. Aku hanya ingin tidur dengannya. Tidak lebih.

“Apa yang kau inginkan?” Aku balik bertanya padanya.

“Aku tidak tahu.” Ia kembali duduk. Ia menumpukan kepalanya pada kedua tangan. “Aku tidak tahu.”

Mengapa Tae Yeon tidak memberitahuku bahwa Jessica adalah tunangannya? Dia pasti tahu. Tae Yeon pasti mengenalinya. Aku harus bicara padanya.

Aku menelepon Tiffany karena ponsel Tae Yeon hilang dan aku tidak bisa menghubunginya langsung. Tidak dijawab. Aku mengirim pesan, menunggu beberapa menit dan tetap tidak ada jawaban. Aku menghubunginya sekali lagi namun ponselnya sudah tidak aktif. Gadis ini sepertinya sengaja.

“Sial!” Aku membanting ponselku. Membuat Jessica kaget. “Mengapa kau tidak mengatakannya saat ada Tae Yeon disini? Mengapa kau baru bicara sekarang saat dia sudah pergi? Dia pasti kecewa padamu. Pada kita!”

“Mengapa kau malah menyalahkanku?” Ia bicara dengan nada tinggi. “Kau yang lebih dulu mengatakan aku adalah kekasihmu padahal aku tidak pernah setuju menjadi kekasihmu.”

“Kapan aku menyalahkanmu?” Aku ikut meninggikan suaraku. Aku tidak terima disalahkan. Aku tidak tahu jika dia adalah tunangan Tae Yeon. Sementara dia yang mengetahuinya sejak awal memilih untuk diam. Jika ingin menyalahkan seseorang, maka itu adalah dirinya. Meski ia tidak tahu Tae Yeon adalah sahabatku, tapi ia tahu bahwa dirinya memiliki tunangan. Jika ia adalah orang yang setia, kenapa ia mau digoda olehku? Ia bahkan membalas ciumanku dengan penuh gairah. “Aku hanya bertanya mengapa diam saja saat ada Tae Yeon disini? Bukan berarti aku menyalahkanmu.”

“Kau tidak memberiku kesempatan.” Ia bicara dengan emosi yang meluap-luap. “Kalian tidak memberiku kesempatan.”

Jadi baginya ini semua adalah kesalahanku? Baiklah. Aku mengerti. Aku bisa melihat sifat asli gadis di depanku ini. Untung saja aku belum menjalin hubungan yang lebih jauh dengannya. Kasihan sekali Tae Yeon. Tujuh tahun lamanya menghabiskan waktu bersama rubah betina ini.

Daripada aku meladeninya berdebat, lebih baik aku mengejar Tae Yeon. Aku harus bicara padanya. Aku harus menjelaskan padanya bahwa aku sama sekali tidak bermaksud merebut tunangannya. Dia bisa mengambilnya kembali.

Aku memungut ponselku dari lantai kemudian mengambil kunci mobilku.

“Kau mau kemana?” Tanya Jessica ganas sambil menahan ujung bajuku.

“Tentu saja menemui Tae Yeon. Aku harus menjelaskan ini padanya.” Aku menjawab tak kalah sinis darinya.

“Aku ikut.” Lanjutnya.

Benar juga. Rubah betina ini harus ikut menjelaskannya pada Tae Yeon. Jika tadi dia langsung bicara, masalahnya tidak akan jadi seperti ini.

“Kalau begitu, kau yang menyetir!” Aku meletakkan kunci mobilku di tangannya.

Tapi kemana aku harus mencari Tae Yeon? Aku tidak bisa menghubungi Tae Yeon langsung, dan aku juga tidak bisa menghubungi Tiffany. Oh ya! Sunny. Mungkin dia tahu Tiffany dimana.

“Eoh! Tumben kau menghubungiku.” Sunny menjawab telepon dariku dengan nada tidak bersahabat. Kenapa semua orang tiba-tiba berubah menjadi menyebalkan?

“Apa kau tahu Tiffany dimana?” Tanyaku langsung.

“Aku tidak tahu. Mungkin dia di apartemennya karena pekerjaannya berakhir sore ini. Wae? Apa kau membuat masalah lagi?”

“Terima kasih.” Aku memutus sambungan telepon tanpa menjawab pertanyaannya. Aku harap Tae Yeon masih bersama Tiffany. Dan semoga saja mereka ada di apartemen gadis itu.

Aku menunjukkan jalan yang harus dilalui pada Jessica. Ia lebih banyak diam sekarang. Apa ia kehabisan kata-kata untuk menyalahkanku?

Kami tiba di apartemen Tiffany menjelang malam. Aku menekan bel, namun tidak ada jawaban. Sebenarnya aku bisa langsung masuk karena aku tahu kode apartemennya. Tapi mengingat hubungan kami sudah berakhir, tidak pantas rasanya jika aku masuk begitu saja ke dalam apartemennya.

“Sepertinya tidak ada orang.” Jessica yang bicara. “Apa yang akan kau lakukan?”

“Tentu saja menunggunya.” Aku menyandarkan punggungku di sebelah pintu apartemen Tiffany. Melihatku, Jessica pergi ke bagian lorong yang lain dan menunggu disana. Setelahnya kami kembali menghabiskan waktu tanpa bersuara.

Sunny mengatakan kalau Tiffany tidak memiliki jadwal lain hari ini, lalu mengapa dia belum kembali? Kemana mereka pergi? Apa mereka tidak pulang? Atau.. Apa mereka pergi ke Jeolla-do untuk mengantar Tae Yeon? Sepertinya tidak juga. Jika Tae Yeon bisa kembali ke rumahnya, ia bisa kembali sejak jauh-jauh hari. Dia tidak perlu tinggal bersama Tiffany dan mencari sepupunya.

“Jadi.. Bagaimana dia bisa disini?” Aku yang pertama kali membuka pembicaraan setelah beberapa waktu kami habiskan dalam keheningan. “Tae Yeon tidak pernah menyukai Seoul.”

Jessica mendongak untuk menatapku kemudian kembali menunduk dan berbicara dengan suara yang sangat pelan. Membuatku sulit untuk menangkap kalimatnya. Terlebih jarak kami cukup jauh. “Bukannya dia tidak menyukai Seoul. Tapi.. Aku yang tidak suka Seoul.”

Ck, apa yang ia katakan?

“Kau benar-benar tidak mengenaliku? Aku Kwon Yu Ri.” Sejak tadi aku sudah sangat penasaran dengan hal ini. Sungguh sulit dipercaya kebetulan seperti ini bisa terjadi. Dari semua gadis, mengapa aku harus bertemu dengan gadis di hadapanku ini? Tunangan Tae Yeon. “Aku bahkan sering berkunjung ke rumah Tae Yeon. Apa dia tidak pernah cerita?”

“Kau sering datang?” Ia tampak terkejut. Dahinya berkerut. “Tidak.. Tae Yeon tidak pernah cerita apapun tentangmu.”

“Bagaimana dengan seorang pemain bisbol hebat yang dikenalnya?” Aku bertanya lagi. Tidak terima jika Tae Yeon tidak menceritakan apapun tentangku.

“Aah..” Ia seperti ingat sesuatu. “Ia pernah menyebutmu sebagai pemain favoritnya.”

“Lalu?”

“Lalu?” Jessica kini tampak bingung.

“Apa lagi yang ia katakan tentangku?”

“Hanya itu.”

“Hanya itu?” Woaah.. Aku tidak percaya ini. Bertahun-tahun aku mengenalnya, tapi ia tidak pernah menceritakan tentangku pada tunangannya. “Lalu bagaimana dia bisa berada di Seoul?”

“Aku yang membawanya.” Ia merosot duduk di lantai lorong apartemen. “Orang-orang itu mengejarku, aku tidak bisa tinggal disana sementara aku tidak punya tempat lain. Selain orang-orang di Jeolla-do, aku tidak mengenal siapapun lagi. Aku dengar Tae Yeon memiliki sepupu di Seoul. Jadi kami datang kemari.”

“Orang-orang itu?”

Ia mengangguk. “Hm.. Orang-orang itu yang melukai tanganmu.”

“Apa kau mafia atau sejenisnya?” Karena orang-orang yang melukai tanganku tempo hari tidak terlihat seperti berandalan biasa. Oh ya, aku ingat aku belum melaporkan orang-orang itu ke polisi. Mereka harus mendapatkan ganjaran karena melukai seorang Kwon Yu Ri. Aku pasti akan membuat mereka mendekam di penjara untuk waktu yang lama. “Mereka bahkan mengejarmu sampai ke Seoul.”

“Sebenarnya… Ada sebuah perusahaan yang akan membangun pabrik besar di Jeolla-do.” Ia melanjutkan penjelasannya. “Aku dan beberapa orang disana menemukan bahwa proses pembangunan yang sedang berlangsung menyebabkan kerusakan lingkungan. Lalu kami berusaha menghentikan pembangunan. Tapi orang-orang itu malah mengancam kami satu persatu. Mereka juga mengejarku. Aku tidak tahu mereka akan terus mengejarku hingga Seoul.”

“Itulah akibatnya jika kau terlalu ikut campur urusan orang lain.” Sindirku.

“Mengapa kau menjadi begitu menyebalkan?” Ia memelototiku, membuatku bergidik.

“Kau yang lebih dulu bersikap menyebalkan.” Aku menggerutu sepelan mungkin hingga Jessica tidak bisa mendengarnya.

Gara-gara rubah betina ini, Tae Yeon-ku harus berada dalam kesulitan. Jika dia tidak membuat masalah seperti itu, aku tidak akan bertemu dengannya dan aku tidak perlu menjelaskan apapun pada Tae Yeon. Semoga Tae Yeon tidak membenciku. Aku bisa kehilangan tanganku, tapi aku tidak bisa kehilangan Tae Yeon.

Hal lain yang tidak aku mengerti adalah mengapa Tae Yeon tidak mengatakan apapun? Tidak mungkin dia tidak mengenali tunangannya sendiri. Tapi.. Apa mungkin dia tidak mengenalinya? Tidak! Tidak! Tae Yeon mengenalinya, tapi memilih untuk tidak bicara. Hanya saja.. Apa alasannya? Apa ia marah karena harus terusir dari rumahnya dan terombang-ambing di Seoul karena ulah tunangannya? Seperti yang ia katakan sendiri.

“Berapa lama kau mengenal Tae Yeon?” Jessica bicara lagi setelah emosinya reda. Lucu sekali. Biasanya ia tidak banyak bicara seperti hari ini.

Aku tertawa. “Biasanya mulutmu terkunci rapat meskipun aku sudah bertanya ini dan itu. Kau tidak akan bicara jika tidak ditanya. Kenapa? Kau sudah selesai datang bulannya?”

“Ya! Kau!” Jessica mengancamku dengan sebuah tinju. “Kau sendiri, tadinya bersikap begitu manis padaku. Setelah kau tahu aku tunangan Tae Yeon, kau jadi begitu menyebalkan!”

Benarkah? Aku tidak menyadari itu.

“Mengapa?” Lanjutnya. “Kau tidak jadi menyukaiku? Itu hanya omong kosong?”

“Itu tidak penting sekarang.” Aku menolak untuk menjawabnya.

“Bagaimana jika itu penting bagiku?” Ia menatapku. Tidak lagi bengis. Justru matanya kini berkaca-kaca. “Kau terluka karenaku. Benar kau menyukaiku atau tidak, tentu saja itu menjadi hal penting bagiku.”

Apa arti pertanyaan itu? Mengapa aku menyukainya menjadi penting baginya? Jangan katakan ia menyukaiku dan lebih memilihku. Lalu bagaimana dengan Tae Yeon? Kalau begitu harusnya ia tidak usah aku ajak menemui Tae Yeon.

“Bisa kita tidak usah membahasnya sekarang?” Ini bukanlah tempat dan waktu yang tepat untuk membahas mengenai hal ini.

“Tapi aku ingin membahasnya sekarang!” Ia bersikeras.

“Bagaimana dengan Tae Yeon?”

“Dia baik-baik saja.” Ujarnya. “Kau bertanya mengapa aku tiba-tiba menjadi banyak bicara. Baiklah, aku akan memberitahukan jawabannya padamu. Tadinya aku terus memikirkan Tae Yeon. Dia tidak bisa melihat dan dia sendirian tanpa memiliki apa-apa di Seoul. Aku begitu mengkhawatirkannya. Dan kini, ia muncul dan keadaannya baik-baik saja. Aku tidak perlu khawatir padanya lagi.”

“Apa kau tidak khawatir lagi pada Tae Yeon?” Ck, dia benar-benar rubah betina. Setelah mengetahui bahwa aku adala super star Kwon Yu Ri, ia kini lebih memilihku dibandingkan Tae Yeon yang cacat. “Kau juga tidak mengkhawatirkan perasaannya? Apa dia sedih, apa dia kecewa? Bagaimana jika ia tidak baik-baik saja? Bagaimana jika ia merasa begitu sedih hingga ingin mati? Ia bahkan pernah mencobanya sekali. Dan kau malah begitu yakin dia baik-baik saja.”

“Apa maksudmu?” Ia beranjak dari tempatnya. Mendekatiku. “Apa yang pernah dicobanya?”

“Mati.” Jawabku. Memang ini adalah masalah yang berbeda. Tae Yeon adalah orang yang kuat. Setidaknya dia menjadi lebih kuat. Dia tidak akan melakukan itu lagi hanya karena hal ini. “Dia pernah mencoba bunuh diri.”

“Tae Yeon?” Jessica tampak kaget. Biarku tebak. Dia tidak tahu. Jadi apa saja yang ia lakukan selama ini? Menjadi aktifis lingkungan dan tidak mempedulikan tentang tunangannya?

“Benar! Tae Yeon, tunanganmu.” Aku menekankan kata terakhir agar ia tidak lupa siapa Tae Yeon baginya. “Dia pernah mencoba bunuh diri saat kehilangan penglihatannya.”

Ia diam. Menungguku melanjutkan kalimatku. Sayangnya tidak ada lagi lanjutannya. Aku hanya memberitahu sejauh itu.

“Aku pikir…” Jessica bersandar di dinding tepat di sebelahku. “Aku pikir dia sudah begitu sejak lahir.”

“Jangan dekat-dekat!” Aku mengambil beberapa langkah menjauh darinya. “Jika Tae Yeon datang, dia akan salah paham. Mungkin dia tidak lihat, tapi Tiffany pasti akan mengadu.”

“Kau benar-benar menyebalkan!” Ia memukili bahuku tanpa ampun.

“Aah… Appo!” Aku merengek meski pukulannya tidak terasa menyakitkan. “Tanganku baru di operasi! Teganya kau memukuliku!”

“Mianhe.. Mianhe..” Jessica berubah panik. Ia meniup tanganku dari kejauhan. Seolah itu ada pengaruhnya saja. Kemudian ia kembali mendekat untuk memeriksa keadaan tanganku. “Apa sakit sekali?”

“Tidak usah menyentuhku!” Sekali lagi. Aku menjauh darinya. Dan ia bahkan sudah lancar menggunakan banmal denganku. “Sudah aku katakan Tae Yeon akan salah paham.”

“Tae Yeon..” Ia menatapku nanar. “Lagi-lagi Tae Yeon. Kau hanya peduli padanya. Kau hanya memikirkan perasaannya. Lalu bagaimana denganku? Kau juga menyakitiku dengan bersikap seperti ini!”

Sebenarnya apa yang ia harapkan dariku? Tentu saja peduli pada Tae Yeon. Aku akan selalu peduli padanya.

“Kau mengatakan kau menyukaiku. Kau bahkan melukai dirimu untuk menyelamatkanku. Mengapa kau berubah secepat ini?” Ia terus mendesakku dengan hal yang itu-itu lagi.

Tentang aku yang terluka. Perlu dicatat bahwa aku tidak melukai diriku untuknya. Itu terjadi karena kecelakaan. Bagaimana bisa aku tahu akan terluka saat menyelamatkannya?

“Sekarang, aku ingin kau mengatakan yang sejujurnya. Apa benar kau menyukaiku? Atau itu hanya omong kosong?” Ia bertanya untuk yang kesekian kalinya.

“Aku menyukaimu, Sica-ah.” Aku menatap matanya. Menjawab dengan jujur seperti yang ia inginkan. “Tapi aku mencintai Tae Yeon.”

 

***

 

Jessica POV

 

“Tapi aku mencintai Tae Yeon.”

Tae Yeon? Aku diam beberapa saat lamanya. Mencoba mencerna apa yang ia katakan. Aku yakin aku tidak salah dengar. Ia mencintai Tae Yeon.

“Wae?” Tanyaku. Bukan karena aku tidak mengerti melainkan aku mengharapkan sesuatu yang berbeda.

Aku tahu aku keterlaluan. Aku sadar akan hal itu. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku bisa seperti ini. Tadinya aku yakin mencintai Tae Yeon. Aku mengkhawatirkannya. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk saat aku tidak mendengar kabar apapun tentangnya. Tapi, setelah ia muncul di depanku, bersama seorang super model yang begitu cantik, dan ia bahkan terlihat begitu bahagia -sebelum ia menyadari aku berada disana- aku kehilangan keyakinanku.

Sedangkan Yu Ri berada tepat di hadapanku. Bayangan bagaimana ia terluka karena menyelamatkanku tak pernah hilang dari kepalaku. Ia menyukaiku. Tidak, aku yakin itu bukan hanya sekedar rasa suka belaka. Ia melukai tangannya yang begitu berharga hanya untuk menyelamatkanku. Ia mencintaiku.

Tapi Yu Ri mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa ia mencintai Tae Yeon. Dan ia tidak menyangkal ia menyukaiku. Bagaimana bisa ia mencintai dua orang di saat yang bersamaan? Apa mungkin.. Apa mungkin ia mencintai Tae Yeon hanya sebagai sahabat? Ya! Pasti begitu. Yu Ri pasti hanya mencintainya sebagai sahabat.

“Wae?” Yu Ri mengulangi pertanyaanku sambil tertawa sinis. “Apa itu sesuatu yang pantas ditanyakan?”

Sejak ia mengetahui siapa aku, sejak ia mengetahui aku adalah tunangan Tae Yeon, ia menjadi sinis terhadapku. Perubahan yang tiba-tiba ini begitu tidak masuk akal bagiku. Ia pasti memiliki alasan lain kan?

“Untuk apa aku peduli hanya untuk sekedar kepantasan?” Aku memberikan tatapan memohon padanya. Memohon agar ia berhenti memperlakukanku seperti ini. “Sedangkan aku mendapati diriku telah jatuh cinta padamu.”

Tadinya ia akan kembali mendebatku, namun ia terhenti mendengar kalimat terakhir yang aku katakan padanya. Ia menatapku dengan dahi mengernyit. Mencoba memikirkannya. Kemudian ia menoleh ke arah Lift. Ku rasa takut jika Tae Yeon tiba-tiba datang.

“Jatuh cinta padaku?” Yu Ri mencengkeram lengaku dengan keras. Membuatku meringis sakit. “Untuk sesuatu yang keji dan kotor, kau menyebutnya cinta?”

Keji dan kotor. Aku tidak bisa menahan cairan hangat jatuh ke pipiku setelah mendengar Yu Ri mengatakan dua kata itu. Memang apa yang aku lakukan terhadap Tae Yeon yang tulus mencintaiku tidak termaafkan. Aku berpaling pada sahabatnya disaat ia sangat membutuhkanku. Tapi mendengar Yu Ri mengatakan itu, benar-benar menyakitiku. Seolah menyatakan bahwa hanya aku yang bersalah atas semua ini padahal ia yang memulainya.

Tapi.. Tidakkah kalimat itu berlebihan untukku? Aku bukannya sengaja menelantarkan Tae Yeon. Dan bukannya aku sengaja berpaling dari Tae Yeon yang cacat. Semua terjadi di luar perhitunganku. Mana bisa aku menentukan kepada siapa aku akan jatuh cinta.

Yang terpenting adalah Tae Yeon baik-baik saja. Bahkan saat Yu Ri memperkenalkanku sebagai kekasihnya, Tae Yeon masih terlihat baik-baik saja. Dia cukup kuat menerimanya. Atau justru Tae Yeon telah lebih dulu melepasku karena aku meninggalkannya begitu lama. Dia bahkan tidak butuh penjelasanku. Dia lebih suka pergi dengan teman modelnya yang cantik daripada mendengarkanku, tunangannya.

“Meski itu keji dan kotor, bukankah itu tetap cinta?” Apa yang aku harapkan darinya? Apa yang membuatku jatuh cinta pada orang ini? Tae Yeon jauh lebih baik darinya.

“Apa kau sungguh tidak peduli pada Tae Yeon?” Ia balik bertanya.

“Lalu bagaimana denganku?” Aku tidak bisa menahan ini lagi. Pada akhirnya semua akan meledak dan menghancurkan kami berdua. “Mengapa kau hanya peduli pada Tae Yeon? Lalu bagaimana denganku?”

Ia menatapku lekat. Mencari sesuatu dalam mataku yang hanya penuh dengan air mata dan emosi. “Tidak cukupkah kau menyakiti Tae Yeon? Dan kini, haruskah kau membuatku bingung juga?”

Aku menyakiti Tae Yeon? Apakah ini hanya salahku seorang? Apakah hanya aku orang jahat disini?

“Yu Ri-ssi..” Aku menyebut namanya dan itu membuat dadaku terasa sesak. Mengapa aku jadi begini? “Siapa yang menyakiti Tae Yeon? Siapa yang mengatakan bahwa aku adalah kekasihmu? Itu kau, Yu Ri-ssi. Kau yang menyakitinya, bukan aku!”

“Jadi kau menyalahkanku?” Ia bergerak mundur kemudian berbalik dan memberikan punggungnya padaku. Saat ia kembali menatapku, ia terlihat marah. “Lalu apa yang kau lakukan saat aku mengatakan itu pada Tae Yeon? Kau tidak menyangkal. Kau mengatakan bahwa aku tidak memberimu kesempatan, tapi apa kau berusaha keras untuk meluruskannya? Tidak! Saat Tae Yeon menolak untuk mendengar penjelasanmu, apa yang kau lakukan? Apa kau berusaha keras untuk membuatnya mendengarmu? Tidak! Kau menyerah dengan mudah karena kau tidak lagi menginginkan Tae Yeon.”

Apa benar aku tidak lagi menginginkan Tae Yeon? Itukah alasannya aku menyerah atasnya? Aku tidak lagi mengkhawatirkannya. Aku tidak lagi peduli padanya. Aku tidak lagi mencintainya.

“Dengar, Sica-ah.” Ia bicara lagi. “Mungkin kau kurang jelas dengan apa yang aku katakan sebelumnya. Aku akan mengulanginya sekali lagi. Orang yang aku cintai adalah Tae Yeon. Orang yang aku pedulikan hanyalah Tae Yeon. Bukan kau! Kau terus menuntutku untuk juga peduli padamu. Tidakkah kau sadar? Tidakkah kau bisa berpikir dengan waras? Satu-satunya orang yang disakiti disini adalah Tae Yeon. Bukan aku, juga bukan kau! Jadi, bisakah kau berhenti memikirkan dirimu sendiri? Bisakah kau berhenti bersikap egois?”

“Bukannya aku bersikap egois. Aku hanya..” Aku terus membela diri. “Aku hanya ingin kau juga peduli padaku. Sebelum Tae Yeon datang, sebelum kita harus meminta maaf dan menjelaskan semua padanya, bisakah? Bisakah kau juga peduli pada perasaanku?”

Tae Yeon tidak mau mendengarkanku. Jika Yu Ri tidak peduli padaku, bagaimana denganku?

Yu Ri hanya menyalahkanku. Bukannya aku tidak menyadari kesalahanku. Aku sadar bahwa aku juga bersalah disini. Aku bersalah pada Tae Yeon. Namun itu bukan kesalahanku seorang. Yu Ri juga memegang andil yang besar. Kami sama-sama bersalah. Tidak bisakah kami melewati ini dengan saling mendukung satu sama lain? Bukannya saling menyalahkan seperti ini.

Dan mengapa ia begitu sinis terhadapku? Aku tidak meminta ia memilihku dan mengacuhkan Tae Yeon. Kami bahkan datang kemari untuk menjelaskan pada Tae Yeon, untuk minta maaf padanya. Aku mengerti posisinya sebagai sahabat Tae Yeon. Aku juga mengingat statusku yang masih menjadi tunangan Tae Yeon.

“Jadi apa sebenarnya yang kau inginkan?” Yu Ri bertanya setelah menarik nafas dalam untuk menenangkan diri. “Jika Tae Yeon datang, kemudian kita menjelaskan padanya apa yang terjadi dan juga meminta maaf padanya. Lalu ia memaafkan kau dan aku. Ia masih menginginkanku sebagai sahabatnya, dan kau sebagai tunangannya. Apa yang akan kau lakukan?”

Jadi itukah yang ia cemaskan selama ini? Apa yang akan terjadi nantinya. Aku sama sekali tidak memikirkannya. “Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika dia tidak memaafkan kita?”

“Sica-ah, jika Tae Yeon tidak memaafkanku, aku akan bersujud di bawah kakinya dan tidak akan pergi hingga ia memaafkanku.” Ia kembali terlihat frustrasi. “Tidak bisakah kau hanya menjawab pertanyaanku saja tanpa mengajukan pertanyaan lainnya?”

Jika Tae Yeon memaafkan kami.. Bagaimana bisa aku kembali padanya sementara hatiku terlanjur aku berikan pada Yu Ri? “Aku.. Aku tidak bisa bersama dengan Tae Yeon lagi, Yu Ri-ssi.”

“Itu yang akan kau katakan padanya?” Ia kembali melihat ke arah lift dengan khawatir. “Oh Tuhan! Harusnya aku tidak membawamu kemari.”

“Kau mau kemana?” Aku menahan tangannya saat ia akan beranjak pergi.

Yu Ri mengangkat tangannya untuk menyingkirkannya dariku. “Aku tidak mau berada disini bersamamu saat kau akan menghukum mati Tae Yeon seperti itu.”

Itu bukanlah hukuman mati melainkan kejujuran. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri dan juga Tae Yeon. Justru aku akan menyakiti kami berdua jika bertahan disisinya saat aku tidak lagi mencintainya.

Setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkanku. Siapa yang baru saja mengatakan tidak akan pergi hingga Tae Yeon memaafkannya? Dan teganya ia meninggalkanku sendirian disini. Tidakkah ia ingat bahwa tanpanya, aku terlantar di Seoul? Aku tidak punya apapun.

Dengan perasaan yang campur aduk, aku keluar dari gedung apartemen itu. Tae Yeon tidak ada dan Yu Ri benar-benar meninggalkanku. Kini aku tahu. Ia tak lebih dari seorang brengsek. Ia hanya menyelamatkan dirinya dan mengabaikanku.

“Hei!” Aku terkejur saat seseorang menyentuh bahuku dari belakang saat aku berjalan di trotoar seorang diri. Aku berbalik dan lebih terkejut lagi. “Oraemanieyo.”

Orang itu.. aku tidak akan pernah melupakan wajahnya. Memang penampilannya berbeda dengan saat itu. Pakaiannya lebih rapi dan bersih. Namun aku yakin mereka adalah orang yang sama. Pria tuna wisma itu. Orang yang membuat Seoul terasa begitu menakutkan. Orang yang telah menghancurkan hidupku. Orang yang telah mengambil sesuatu yang paling berharga dariku.

 

-TBC-